ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 122 GAGAL DEH


__ADS_3

Darien kini paham, Math sebenarnya masih cinta dengan Luzi.


"Ayah ingin bersatu dengan ibu, kan?" tebaknya.


Math hanya bisa menunduk sambil memainkan jari jemarinya. Banyak kesalahan yang ia buat, apa yang terjadi padanya selama ini belum cukup mengobati rasa sakit Luzi bertahun-tahun.


Bayangan Luzi yang selalu melayaninya tentang segala hal, membuatnya membenci dirinya sendiri. Segala bentuk perhatian dan pengertian Luzi, tak pernah ia hargai sedikit pun. Hingga akhirnya wanita itu lelah dan memilih meninggalkannya.


"Darien pulanglah." Math menggerakkan kursi rodanya sendiri menuju kamar, ia menolak untuk dibantu.


Dalam hatinya ia sudah ikhlas, jika Luzi tak ingin bersamanya lagi. Biar ia mencari kebahagiaannya sendiri.


***


Langit di pagi hari yang cerah. Walaupun semalam bumi ini diguyur hujan yang lebat. Tampak jalanan masih basah akibat hujan semalam. Karna cuaca dingin semalaman, ia tak dapat jatah dari istrinya. Sania memilih tidur awal dengan ditemani selimut tebal.


Son yang sudah terbangun melihat istrinya yang masih tertidur pulas. Dengan jahil, dia mencolek-colek istrinya. Seharusnya wanita itu merasa geli, tapi Sania tak kunjung bangun.


"Sayang, bangun lah ...." Son menggoyangkan tubuhnya. Sampai pada akhirnya Sania mengerjabkan matanya.


"Hoaaammm ...." Rasa kantuknya belum hilang. Tangannya mengusap ujung bibirnya siapa tahu ada noda air liur di sana "Kau sudah bangun rupanya." Sania dengan malasnya bangun dan berniat ingin turun dari ranjang. Tapi tiba-tiba tangannya ditarik oleh suaminya.


"Apa?" Sania bertanya dengan mimik muka heran.


"Mau itu ...." Son bersikap seperti anak kecil, dia memasang wajah memelasnya.


Tak ingin lama-lama, Son langsung mendekapnya dan menciuminya dengan brutal. Hasratnya dari semalam ingin ia lampiaskan sekarang.


Tubuh hangat istrinya membuatnya semakin bersemangat dalam melancarkan aksinya. Tapi tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang tak biasa.


"Apa ini?" Son melihat noda kemerahan di underware istrinya.


"Hmm, aku ternyata—" Sania langsung berlari menuju kamar mandi. Sedangkan suaminya masih terbengong. Dengan kesalnya dia membuang bantal ke lantai. Gagal lagi!


Di dalam kamar mandi Sania menatap wajah kecewanya lagi. Dia sudah datang bulan. Padahal ia berharap akan segera diberi momongan.

__ADS_1


Tak mau bersedih, Sania memilih untuk sekalian mandi. Dan setelah itu dia akan menyiapkan keperluan suaminya untuk berangkat ke kantor.


Di meja makan sudah ada Luzi di sana. Wanita paruh baya itu berpakaian rapi tak seperti biasanya.


"Ibu mau kemana?" tanya Sania yang tak biasa melihat Luzi berpakaian seperti itu di rumah.


"Ibu mau mengajak kamu jalan-jalan ke luar sebentar. Bagaimana, apa kau mau?" Ia lalu melirik Son meminta persetujuan dan suaminya langsung mengangguk.


Sania sebenarnya juga butuh refreshing, karna pikirannya jika di rumah akan selalu mengarah ke hal keturunan.


Hari ini, Luzi akan mengajak Sania ke pusat perbelanjaan yang ada di sudut kota. Jaraknya cukup jauh dari rumahnya, tapi ia yakin Sania akan senang. Walaupun tempatnya tak sebagus pusat perbelanjaan di sini tapi di sana tempatnya sangat tertata. Dan yang menariknya di sana ada banyak penjual makanan dari berbagai jenis makanan beberapa negara.


Seperti, kebab, burger, sushi, ramen, dan juga makanan yang lain. Melihat begitu banyak penjual makanan, Sania langsung gila makanan. Dia hampir membeli semua yang dijual di sini.


"Sania, apa kau sanggup menghabiskannya?" Luzi melihat kantong belanjaan yang Sania bawa, jumlahnya sangat banyak. Bahkan Pak Sopir ikut membawakan.


"Tidak tahu, Bu. Tapi Sania ingin beli semuanya." Matanya menjelajahi makanan-makanan yang terpajang. Tak mau memikirkan bagaimana caranya menghabiskan, yang ia pikirkan sekarang hanya membeli apa yang ia inginkan.


"Sania, sudah cukup. Ini banyak sekali." Luzi mengajaknya kesini untuk jalan-jalan tapi sepertinya ini hanya lah berpetualang mencari makanan.


Setelah dirasa cukup, Sania memilih duduk di sebuah kursi panjang yang ada di sana.


Sania mengunyahnya dengan semangat, sosisnya sangat lezat. Bahkan sampai sosisnya tinggal sedikit, dia merasa kecewa.


"Enak sekali." Sania memandangi tusuknya yang sudah bersih, tak ada lagi sosisnya.


"Kau mau lagi, Sania?" Luzi menawarkan lagi tapi Sania menggeleng. Masih ada banyak makanan yang belum ia makan.


Hari pun berganti sore, Sania dan Luzi memutuskan untuk pulang. Tapi karna perjalanan cukup panjang dan sempat beberapa kali terjebak macet pada akhirnya mereka sampai rumah menjelang malam.


Sania yang sudah mengantuk ingin sekali tidur di dalam mobil.


"Ibu, aku mengantuk." Sania menyenderkan kepalanya pada bahu Luzi. Wanita paruh baya itu tidak merasa keberatan, bahkan dia mengelus-elus kepalanya agar Sania merasa nyaman.


Tepat di pintu masuk, Son berdiri. Dia menunggu istri dan ibunya pulang.

__ADS_1


Pak Sopir memberitahu bahwa Sania tidur di dalam mobil. Son dengan segera mengangkat tubuhnya dan membawanya masuk ke dalam kamar.


Ia tahu istrinya belum mandi, jadi dia hanya mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur. Setidaknya Sania tidak menggunakan baju kotor untuk tidur. Dan disaat dia mengganti pakaian dalam istrinya, Son tak menemukan bercak darah lagi di sana.


Dia seketika bingung, sebenarnya istrinya ini datang bulan atau tidak? Istrinya memakai pembalut, tapi masih bersih tanpa ada tetesan darah sedikit pun.


Sania menggeliat saat merasa ada yang menyentuh tubuhnya.


"Hmmm ...." Sania perlahan membuka matanya, dia menangkap sosok orang yang ia cintai. Son dengan cekatan mengganti bajunya.


"Apa-apaan ini?" Sania bangun dan pura-pura marah. Wajahnya ia pasang seseram mungkin.


"Aku sedang mengganti bajumu, sayang," jawabnya santai.


"Pelecehan ini namanya!" seru Sania.


Son beralih menatapnya, dia mencubit hidung istrinya dengan gemas. "Cerewet sekali, istriku ...."


CUP.


Dia tiba-tiba mencium bibirnya sekilas. "Aku mau sekarang!" Son tiba-tiba memberikan isyarat.


"Apa kau lupa tadi pagi?" Sania bermalas-malasan, ia ingin lanjut tidur.


"Kau tidak sedang datang bulan! Lihat sendiri!" Son menyuruhnya untuk mengecek sendiri.


Sania yang masih mengantuk tak begitu menghiraukan. Sampai-sampai Son terpaksa menarik underwarenya dan memperlihatkannya.


"Ahhh ...." Sania terkejut dengan perlakuan suaminya.


Ia mengucek matanya, melihatnya dengan seksama. "Bagaimana mungkin?"


Sania bingung, jelas-jelas tadi pagi dia melihat noda darah di underwarenya. Kenapa seharian ini tidak keluar darah sama sekali?


"Ayo lah, sayang. Kau tidak sedang datang bulan. Ayo ...." Son sudah tak tahan, ingin segera melahap istrinya ini.

__ADS_1


"Sayang, aku jadi takut." Sania takut terjadi apa-apa dengannya. Apa lagi ini menyangkut datang bulan. Sangat sensitif untuk seorang wanita.


"Besok kita ke dokter." Son berusaha menenangkan istrinya, tapi tangan nakalnya tak berhenti menjalar kemana-mana. Membuat Sania sama saja tak bisa menahan hasratnya.


__ADS_2