
Koper-koper dimasukkan di bagasi mobil. Hari ini mereka telah tiba di negara tercinta. Setelah beberapa hari di luar negeri.
Hari semakin petang. Tubuh mereka sudah lelah, ingin segera beristirahat. Mereka memutuskan untuk pulang ke rumah putranya yang terakhir. Sekaligus memberi kejutan untuk mereka atas kepulangan kedua orang tuanya.
"Selama sore, Tuan, Nyonya," sapa Pak Satpam sambil mengembangkan senyumnya.
Mobil masuk ke halaman rumah. Matanya berpendar mengelilingi suasana rumah yang sepi. Dipanggil lah beberapa pelayan untuk membantu membawakan barang-barang yang mereka bawa.
Langkah mereka terhenti saat menangkap suara berisik yang memekakkan telinga.
"Suara apa itu?" tanya Luzi. Math segera mencari tahu dimana asalnya suara itu.
Di depan sebuah kamar, dia berhenti. Melihat putranya yang sedang melampiaskan emosinya. Siapa yang berani-beraninya membuatnya emosi? Emosi Son saat ini tidak terkontrol. Pelayan dibuat menangis karena Son tak kunjung menghentikan kegilaannya.
"Pergi kalian semua!!!!" usir Math. Percuma banyak pelayan, tapi satu pun tidak ada yang bisa menghentikannya.
Son terdiam, dia mengenali suara itu. "Kenapa berhenti? Apa kau menyadari aku ini siapa?" tanya Math membuat Son melemah. Dia berkali-kali ambruk di atas lantai. Dia kelelahan, tapi setelah diberi minum dia mulai melampiaskan amarahnya lagi.
"Son! Ayah benar-benar lelah. Ayah berusaha membuatmu menjadi putra Ayah yang dulu, tapi sepertinya kau lebih nyaman seperti ini. Kehadiran Sania, tidak merubah apa pun. Kau juga tidak bisa mencintainya, kan?" Math pasrah sekarang, dia benar-benar lelah. Bertahun-tahun Son seperti ini, tidak ada gunanya menjadi seorang manusia. Dia bahkan tidak bisa hidup dengan normal. Berpasangan dan memiliki keturunan. Son sepertinya akan terus menyendiri.
Son terdiam. Pernikahan yang dia lakukan dulu dengan seorang gadis muda, membuatnya tambah marah dengan keadaan. Seseorang yang asing tiba-tiba masuk ke dalam hidupnya yang menyedihkan. Dia datang membawa harapan, tapi Son mematahkannya.
"Apa kau ingin berpisah dengan Sania?" tawar Math. Iya, itu yang Son mau. Dia ingin gadis itu pergi dari kehidupannya. Tidak mau kehidupannya di usik oleh seseorang yang tidak ia kenal.
"Ayah akan urus semuanya," ucap Math lagi dan melangkah pergi meninggalkan Son yang hanya diam.
"Math, apa yang kau katakan barusan? Kau ingin memisahkan mereka? Pernikahan itu bukan ajang permainan, Math! Biarkan mereka bersatu dengan sendirinya. Aku yakin suatu saat—"
"Diam lah! Sudah berapa kali aku bilang padamu. Aku tidak pernah meminta persetujuan mu. Fokus urus anak-anak saja."
Matanya melemah, dia seperti tak dianggap. Math tak pernah bertukar pikir dengannya. Selalu memutuskan segala sesuatunya sendiri. Tidak pernah menanyakan pendapatnya.
"Baik lah," jawab Luzi. Dia berjalan menuju kamar Keyla. Dengan menantunya itu, dia bisa sedikit terhibur.
"Di mana Sania?" tanyanya pada seorang pelayan yang sedang di dapur.
__ADS_1
"Nona Sania pergi bersama tuan Darien sedari tadi." Jawaban pelayan membuatnya mengernyit heran. Kemana mereka berdua?
"Hanya berdua?"
"Iya, Tuan."
"Apa Son marah karena mengetahui mereka pergi berdua?"
Tak berapa lama, terdengar bunyi klakson mobil dari luar. Math segera berjalan menuju luar, semoga saja itu Darien dan Sania.
"Ayah ...." Darien terkejut karena Math tiba-tiba sudah pulang dari luar negeri. Dia memeluk ayahnya sebentar, lalu pandangan Math beralih pada Sania yang berada di belakang Darien.
"Sania, kemari lah." Math tak canggung untuk memeluk menantunya. Dia juga menyayangi menantunya itu.
"Sania, temani Son di kamar." Sania merasa tidak enak hati, sudah pasti Math tahu kalau Son tadi mengamuk di rumah. Entah kegilaannya memang sudah berhenti sebelum Math datang, atau mungkin Math melihatnya semua. Disaat seperti ini, Sania tidak ada di sisinya. Dia malah pergi bersama kakak iparnya.
PLAKKKKK!!!!!
Baru saja Math dan Darien berbaikan. Math sudah dibuat kesal lagi dengan putra keduanya itu. Di sebuah ruangan yang sempit dan terletak di lantai paling atas, mereka berdiri di sana berdua saja.
"Kemana saja kalian berdua? Apa kau masih punya hati? Meninggalkan adikmu sendirian di rumah? Kau kan tahu, hari ini paman Leo tidak datang. Kenapa membiarkan Son sendirian di dalam kamar? Apa tujuanmu mengajak Sania pergi?" tanyanya beruntun. Dipandang lah lekat kedua bola mata Darien. Pria itu menundukkan kepalanya merasa bersalah.
"Darien mengajak Sania ke sebuah rumah sakit untuk bertemu dengan bibinya," jawab Darien jujur.
"Apa tidak bisa kamu meminta bantuan sopir? Sedangkan kamu masih tetap di rumah saja? Apa kata orang melihat kalian pergi berdua?" Math benar-benar marah. Dia sudah lama tidak datang ke rumah ini, tidak tahu apa saja yang telah terjadi.
"Maaf, Yah." Darien meminta maaf, walaupun ini semua hanya lah masalah yang tidak besar. Tapi dia juga lelah jika harus terus membela dirinya sendiri. Membela pun percuma, tetap Ayahnya lah yang merasa paling benar.
Jantungnya berdegup cepat. Terlihat beberapa pelayan keluar masuk ke dalam kamarnya. Mereka sedang membersihkan kegilaan yang diciptakan suaminya tadi.
Saat ia masuk, Son sedang duduk di kursi roda. Pandangannya mengarah ke luar jendela. Padahal hari sudah petang. Dia melangkahkan kakinya pelan-pelan dan berniat menutup jendelanya.
"Kau sudah pulang?" Sania menoleh. Apa dia menyadari kehadiran Sania?
"Aku? Iya aku sudah pulang. Oh ya, maaf tadi aku tidak ijin padamu. Aku tadi bertemu dengan bibi Lotus di sebuah rumah sakit," jawab Sania.
__ADS_1
"Bukan kah kalian bersenang-senang?" tanyanya menyindir.
"Maksudmu? Aku tidak mengerti."
"Kalian pergi untuk bersenang-senang. Kalian saling menyukai, kan?" Son menyunggingkan senyumannya. Dia berusaha menebaknya.
"Tidak. Aku dengan kak Darien ke rumah sakit bersama Maria juga. Aku tidak bersenang-senang. Menyukai bagaimana? Aku tidak merasakan apa-apa."
Son berdecak. Dia tidak mempercayai perkataan Sania. "Kau ingin berpisah denganku, kan? Kau pasti lelah kan? Menikah dengan pria sepertiku? Tenang saja, ayah sedang mengurus perpisahan kita."
DEG.
"Ayah sedang mengurus perpisahan aku dengan Son?"
Ada rasa sakit di dada. Dia benar-benar terkejut. Memang benar, dia sudah lelah. Dia ingin kembali tinggal bersama Paman Raul. Ingin menikmati masa muda yang dia tinggalkan begitu saja. Ingin merasakan kebebasan di luar sana tanpa harus punya tanggung jawab sebagai seorang istri. Tapi berpisah???
"Aku menjadi seorang janda???? Aaaaaa ..... tidak tidak," teriaknya dalam hati. Sania harus menjadi janda di usia muda?
"Benarkah ayah sedang mengurus perpisahan kita?" tanya Sania memastikan.
"Iya," jawabnya singkat.
Tidak ada jawaban lagi dari Sania. Dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Son terdiam di sana.
"Dia benar-benar menginginkan perpisahan ini!"
Son mengepalkan tangannya erat-erat dan memukulnya pada kursi roda. Dia tidak menyangka bahwa respon Sania akan setenang ini. Dia pikir, Sania akan menepati janjinya. Bahwa dia akan tetap di sisinya sampai Son bisa melihat.
"Dasar pembohong!!!!!"
.
.
.
__ADS_1