ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 102 CALON ISTRI DARIEN


__ADS_3

Upaya dokter untuk menyelamatkan nyawa pasien sudah semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkehendak lain. Renata meninggal, bahkan ia belum sempat menyentuh putranya.


Math benar-benar terpukul, tak menyangka takdirnya harus seperti ini. Kehilangan istri untuk pertama kalinya. Dia tak sanggup, siapa yang akan mengurus bayinya nanti? Sedangkan ibunya juga sudah meninggal sebelum Renata melahirkan. Berkali-kali dia kehilangan sosok orang tercintanya. Dia benar-benar tak sanggup. Hingga sosok Luzi membuatnya bisa berdiri tegak.


"Biar saya saja yang urus putra Anda. Renata adalah sahabat terbaik saya, saya dengan sepenuh hati mau merawat putranya." Begitulah ucapan Luzi pada saat itu.


"Rico, kau mau pulang atau ikut ke makam ibu Yasmine?" tanya Math.


Dulu Rico juga sempat membenci Ibu Yasmine, tapi Luzi selalu mengajarinya untuk tidak membenci siapapun. Luzi yang tak bisa hamil, itulah yang membuat Math akhirnya menikah kembali.


"Rico ikut, Yah," jawabnya.


"Kemana Darien, kenapa dihubungi susah sekali!" Sudah sedari tadi Math mencoba menghubungi putranya yang kedua tapi tak ada jawaban.


***


Berbekal dari sebuah alamat yang ia dapat dari seseorang. Dia melajukan mobilnya ke suatu pedesaan yang sangat pelosok. Mobilnya mengalami kendala saat jalanan penuh kerikil menjadi jalan satu-satunya yang harus ia lewati.


"Sial!!!!" Ban mobilnya bocor. Dia turun dari mobil dan mencoba mencari pertolongan.


"Mobilnya kenapa, Nak?" Seorang pria paruh baya yang sedang menaiki sepeda berhenti tepat di hadapannya.


"Bocor, Pak," jawabnya. Suasana disini sangat sepi. Hanya ada hamparan sawah yang luas. Bahkan pemukiman penduduk masih terlihat jauh dari sini.


"Aduh, bengkelnya masih jauh, Nak. Saya panggilkan dulu tukang bengkelnya." Melihatnya yang hanya mengayuh sepeda dia tidak yakin. Mungkin akan membutuhkan waktu yang sangat lama.


"Pak, bagaimana kalau saya ikut pinjam sepeda Bapak untuk mencari alamat ini." Darien menunjukkan sebuah alamat, barangkali Bapak ini mengetahui.


"Oh, ini sebentar lagi." Pria paruh baya itu mengangguk-angguk dan menunjuk ke arah sana.


Akhirnya keputusan Darien adalah untuk mengayuh sepeda bersama pria paruh baya itu. Darien yang sudah lama tidak menaiki sepeda terlihat kesusahan. Tapi dia sekuat tenaga harus bisa, dia harus segera sampai ditempat tujuan.


"Terima kasih, Pak." Tepat di depan sebuah rumah yang berukuran kecil itu dia berdiri di sana cukup lama. Matanya berpendar mengelilingi keadaan disekitar rumah itu. Pintunya terbuka, pertanda ada seseorang didalam sana.


"Tu-tuan ...." Seorang wanita yang ia cari selama ini. Sudah beberapa hari ini dia mencari keberadaan wanita yang sudah membuatnya gelisah setiap malam. Wanita itu keluar dengan pakaian sederhana, membawa sebuah keranjang yang berisi makanan. Tampaknya dia akan berjualan.


"Tuan Darien, Anda kenapa—" Darien menutup mulutnya dan membawanya masuk ke dalam rumah. Menutup pintunya dan mendudukkan wanita itu di sebuah kursi.


Pandangannya tak berhenti, dia masih memandangi penampilan sederhananya. "Kenapa kau pergi? Kenapa kau keluar dari perusahaan ku?" tanya beruntun.


Valencia tak menyangka bahwa bosnya akan menemukannya disini. Ini adalah kampung halaman orang tuanya dulu, dia kesini untuk menyambung hidupnya. Dia tak mau pergi ke kota lagi.


"Tuan, saya tidak nyaman tinggal di kota. Saya ingin tinggal di kampung saja," jawabnya tanpa mau menatap bosnya.


"Cantik." Satu pujian yang keluar dari mulutnya tiba-tiba membuat Valencia mengangkat kepalanya dan menatap bosnya.


Darien langsung memalingkan wajahnya, dia keceplosan telah memuji wanita di hadapannya yang memang terlihat cantik dengan penampilan apa adanya. Rambutnya ia ikat ke atas dan wajahnya bersih tanpa polesan make up.

__ADS_1


Tok!


Tok!


Tok!


Suara gedoran pintu yang keras membuat mereka berdua merasa heran.


"Hey! Keluar kalian! Jangan berbuat yang tidak-tidak di kampung kami!"


Ternyata ada salah satu warga yang melihat Darien memasuki rumah itu dan menutup pintunya. Padahal yang mereka tahu di rumah itu hanya ada seorang gadis yang tinggal sendirian. Akhirnya dipanggil lah beberapa warga yang lainnya untuk melabrak mereka.


Darien lantas segera membuka pintu. Dia baru saja dari kamar mandi, membasuh mukanya agar tidak kering. Beberapa warga langsung menghakiminya dengan berbagai tuduhan. Bahkan Darien hampir saja ditarik warga untuk mendatangi kantor kelurahan.


"Lepaskan! Saya ini adalah suami dari Valencia. Kenapa saya harus melapor dulu untuk datang kesini?" jawabnya membuat Valencia membulatkan matanya.


"Mana buku nikah kalian?" tanyanya pada seorang warga.


Darien berusaha menjelaskan, bahwa dia kemari untuk menjemput Valencia. Karna mereka baru saja menikah, karna ada satu kesalahpahaman membuat Valencia pergi dari rumah. Dan untuk buku nikah mereka itu ada di rumah.


Cukup lama terjadi perdebatan antara Darien dan antar warga. Darien yang cerdas, selalu saja memiliki banyak jawaban.


"Jangan takut." Darien tiba-tiba memeluk Valencia, dia memberi ketenangan untuk wanita itu.


"Tuan, kenapa Anda berbicara seperti itu?" Kedua mata mereka bertemu. Disini mereka hanya berdua, Darien menatap lekat kedua matanya yang indah. Sekretaris barunya ini memang punya sejuta pesona. Banyak karyawan di kantornya yang terpikat dengannya. Tapi Valencia tak pernah merespon.


"Tuan, Anda jangan membual."


Wanita itu pergi menuju dapur. Tak ingin membuat detak jantungnya bermasalah. Berdekatan dengan mantan bosnya itu membuatnya tersiksa.


"Valencia .... Maukah kau menikah denganku?" Darien tiba-tiba berlutut sambil memegang sebuah kotak cincin. Ini sudah ia persiapkan matang-matang. Sosok Valencia lah yang berhasil merebut hatinya.


Ini bagai sebuah mimpi. Mimpi indah yang menjadi kenyataan. Valencia terlalu malu untuk mengakui perasaannya yang sudah tumbuh sejak pertama kali melihat Darien. Menjadi sekretarisnya itu sudah menjadi sebuah keberuntungan untuknya.


***


Hari sudah semakin petang. Tak membuat rencana yang sudah mereka susun menjadi gagal. Kini giliran mengunjungi makam orang tua Sania. Baru saja sampai di depan pemakaman, Sania sudah tak bisa menahan harunya. Karna disini juga Bibi Lotus dimakamkan.


"Ayah, Ibu .... Maaf Sania baru mengunjungi makam ayah dan ibu sekarang. Sania rindu dengan ayah dan ibu. Banyak cerita yang belum sempat Sania ceritakan pada ayah dan ibu. Oh ya, hari ini Sania datang bersama Son. Suami dari Sania. Dia lelaki yang baik. Sania beruntung memilikinya," ucapnya dengan suara bergetar. Tak bisa menahan rasa harunya. Son merangkulnya dan membawanya dalam pelukan. Menepuk pelan punggungnya dan menghapus air matanya.


"Ayah, Ibu .... Ini aku Son. Maafkan anak ayah dan ibu yang cengeng ini ya. Dia sebenarnya gadis yang kuat, hanya saja Sania terlalu merindukan kalian," ujarnya sambil menahan tawanya. Membuat Sania melayangkan pukulan pada lengannya.


"Aku tidak cengeng!" elaknya kemudian.


"Dasar cengeng!" Son masih terus menggodanya.


Sania memilih diam, dia berdoa dalam hati untuk Ayah dan Ibunya. Tak lupa ia juga mendoakan mendiang Bibi Lotus.

__ADS_1


***


"Dimana Darien? Kenapa dia tidak ke kantor beberapa hari ini? Dimana dia?" Math saat ini berada di ruang kerja Darien. Setelah tadi dia datang ke apartemennya dan dia tak ada di sana. Dan disini juga dia tak ada. Lalu kemana putranya yang kedua? Ponselnya juga sangat sulit dihubungi.


"Saya tidak tahu, Tuan." Karyawan Darien ketakutan melihat Math yang marah-marah. Dia benar-benar tak tahu dimana bosnya sekarang. Sekretarisnya yang menjadi orang terdekatnya di kantor juga sudah mengundurkan diri.


"Aku disini, Yah." Tiba-tiba Darien datang membawa seorang wanita di sampingnya. Mereka berpegangan tangan sangat erat. Math menatap keduanya bergantian.


"Apa maksudnya ini, Darien? Apalagi yang telah kau lakukan?" Math sudah dibuat khawatir olehnya beberapa hari ini. Lalu putranya datang tanpa wajah bersalahnya sama sekali. Dia memasang wajah sesantai mungkin. Berbeda dengan wanita di sebelahnya, dia nampak ketakutan.


"Ayah, perkenalkan ini calon istri Darien namanya Valencia."


Darien tersenyum kearah Valencia, bahkan tak tanggung-tanggung dia mencium punggung tangan calon istrinya tepat dihadapan sang ayah. Valencia yang tidak nyaman langsung menarik tangannya dan memelototinya.


"Hah." Math menghela napas. Dia memilih duduk sembari memijit kepalanya yang mendadak sakit. Benar-benar tak pernah diduga apa yang akan dilakukan putra keduanya. Dia memang selalu membuatnya terkejut dengan berbagai tingkahnya yang tak pernah ia duga sebelumnya.


"Darien sebentar lagi akan menikah," ucapnya lagi. Kini Math menatap putranya dengan seksama. Dia jadi teringat sosok Yasmine, wanita yang ia nikahi karna terpikat oleh pesonanya yang penuh dengan teka-teki. Membuatnya penasaran dan ingin mendekatinya lebih jauh.


"Bukankah ini sekretaris mu?" Wanita yang berada di sebelahnya adalah Valencia. Math mengenali wanita itu.


"Iya, tapi sekarang sudah menjadi calon istri Darien," ucapnya penuh bangga.


***


Pagi hari, Sania sudah disibukkan dengan berbagai macam bahan masakan di dapur. Dia mau memasak banyak makanan hari ini. Pagi buta, dia sudah terbangun. Tanpa membangunkan Son yang masih terlelap. Celemek dengan motif polkadot telah menempel di tubuhnya.


Sayuran hijau ia potongi dengan dibantu oleh para pelayan. Tapi khusus untuk bumbunya, hanya dia yang membuatnya.


"Aku cari-cari ternyata kau disini!" Son dengan muka khas bangun tidur menghampiri Sania di dapur. Para pelayan serentak minggir, memberi tempat untuk Son.


"Kau sudah bangun? Aku belum selesai memasak. Kamu mandi terlebih dahulu," suruhnya kemudian.


Son menggeleng, dia malah melingkarkan tangannya ke pinggang sang istri. Sania tersipu malu, apalagi dilihat oleh para pelayan. Tapi sesaat Son menatap mereka bergantian, dan mereka akhirnya mengerti dan memilih pergi.


"Jangan seperti ini!" keluhnya.


"Kenapa? Pelayan sudah pergi." Son mempererat pelukannya dari arah belakang. Mengelus-elus perutnya yang masih rata.


"Hmm ...." Sania jadi tak bebas melakukan pergerakan. Setiap bergerak, Son mengikuti tanpa melepaskan pelukannya.


"Tenanglah dulu beberapa menit, aku ingin merasakan aroma tubuhmu yang lama," ujarnya sambil meniupkan hembusan napasnya di leher jenjangnya. Sania dibuat merinding. Tak terasa dia memejamkan matanya sejenak. Merasakan Son yang mulai nakal menggerakkan tangannya kesana kemari.


Disaat mereka sedang terbuai, mereka mendengar suara dentuman sepatu yang mendekat. Mereka bersamaan menoleh ke sumber suara.


"Paman ...." Ternyata Paman Leo yang datang. Dia tersenyum ke arah mereka. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu.


"Maaf mengganggu Anda, Tuan, Nona. Saya kemari hanya ingin menyampaikan sesuatu," ucapnya dengan wajah serius.

__ADS_1


__ADS_2