ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 73 SON KEMBALI


__ADS_3

"Son ...." Math menghampiri putranya dan memeluknya dengan erat. Dia sampai meneteskan air matanya. Begitu bersyukur atas nikmat yang diberikan hingga saat ini.


"Ayah, aku bisa melihat kembali." Son mengerjabkan matanya beberapa kali. Rasanya tak percaya, dia bisa melihat indahnya dunia. Wajah-wajah orang yang sangat berperan penting atas operasinya, Son sangat berterimakasih pada mereka semua. Dan juga kepada Paman Leo yang telah setia menemaninya.


"Son, tugas ayah sudah selesai." Kata-kata sang Ayah membuat dahinya berkerut.


"Maksud Ayah apa?"


"Maafkan Ayah yang telah memaksamu untuk menikahi seorang perempuan. Maaf jika Ayah terlalu memaksakan kehidupan percintaan mu. Maaf jika Ayah terkesan mengatur hidupmu. Sekarang Ayah telah lega, kau bisa melihat kembali. Kau bisa memilih kehidupan mu sendiri dan juga pasanganmu sendiri." Son tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Ini yang Son harapkan, bahwa Ayahnya tak lagi ikut campur dalam kehidupan pribadinya lagi.


"Aku mau ke makam Vennie." Sesuai dengan permintaannya dia ingin melihat makam Vennie setelah ia bisa melihat. Walaupun bukan yang pertama kali, karna tak memungkinkan membuka perban disebuah pemakaman.


Hujan tiba-tiba turun dengan deras. Membasahi bumi yang menjadi pijakannya saat ini. Dia menatap lurus ke depan. Pandangannya tidak terlalu jelas karna hujan begitu deras membuat pandangannya terhalang.


"Tuan, apa sebaiknya kita pulang saja. Besok saja kita datang kesini lagi." Paman Leo berdiri sambil memegangi payung. Agar Son tidak basah kuyup karna hujan.


Son meraih payung dari tangan Paman Leo. Dia kemudian berjalan sambil membuang payung itu ke tanah. Tak peduli tubuhnya basah kuyup. Tak peduli badannya kedinginan. Dia hanya ingin menemui Vennie. Saat matanya sudah bisa melihat. Dia ingin memeluknya sebentar walaupun hanya batu nisannya saja. Kerinduannya tak pernah hilang sampai kapan pun.


"Sayang, maafkan aku. Aku terlalu egois kali ini. Aku membiarkan mataku untuk tetap melihat padahal aku telah kehilangan kamu. Harusnya kamu masih tetap di sisiku, jika waktu itu aku lebih berhati-hati dalam menyetir. Aku sangat menyesal." Air matanya turun perlahan bersamaan dengan derasnya air hujan.


Langit seakan menjadi saksi betapa sedihnya ia saat ini. Langit seakan ikut menangis bersamanya. Apa mungkin Vennie juga ikut menangis?


Tiba-tiba Son tak merasakan hujan membasahi tubuhnya, ternyata Paman Leo memayungi dari arah belakang. Rasanya Son tak ingin pergi, dia ingin tetap disitu. Bersama Vennie, hatinya sedikit tenang.


"Tuan, mari kita pulang. Anda bisa sakit." Tangannya terulur menyentuh pundaknya, dia membujuknya perlahan.


Son akhirnya mau bangkit, dia kemudian berjalan dengan langkahnya yang gontai. Sejenak menghentikan langkahnya dan menengadahkan wajahnya ke langit, melihat betapa gelapnya awan itu. Matanya benar-benar bisa melihat seperti sedia kala. Rasa syukur tak henti terucap di dalam hatinya.


Son dan Paman Leo tiba di rumah saat malam menjelang. Tak ada pelayan yang tahu akan kepulangan Son. Hanya Pak Satpam yang mengetahui. Darien yang berada di rumah pun tidak tahu. Dia sudah terlelap dalam tidurnya.


Matanya berpendar mengelilingi halaman rumahnya dari depan. Ini rumah barunya. Dia baru bisa melihatnya sekarang. Rumah yang mewah dan tertata dengan baik. Saat memasuki rumahnya, dia begitu takjub melihat isi di dalamnya. Benar-benar seperti apa yang ia bayangkan selama ini. Ayahnya memang memberikan rumah sesuai impiannya.

__ADS_1


Paman Leo memberitahukan kamar Son yang terletak di lantai bawah. Karna tidak memungkinkan meletakkan kamar Son di lantai atas. Itu sangat membahayakan Son jika ia ingin pergi keluar.


"Nona Sania saat ini sedang menginap di rumah pamannya, Tuan." Leo memberitahu sebelum Son bertanya.


Dia pun melangkah masuk. Melihat isi kamarnya yang tak banyak perabotan di sana.


"Tuan, silahkan beristirahat." Paman Leo pamit pergi. Son masih tidak menyangka dengan hari ini.


"Ini kamarku?" Dia menyentuh sprei yang membalut ranjangnya. Membayangkan dia dan Sania tidur bersama di sana. "Tidak masuk akal!" Son menggelengkan kepalanya, tidak mungkin selama dia tidur bersama gadis itu tidak merasakan hasratnya sebagai seorang lelaki. Son bisa menahannya karna dia tidak bisa melihat pada saat itu, tapi sekarang saat dia sudah bisa melihat, Son tidak tahu.


Di kamarnya ini, dia membayangkan sosok Sania. Pandangannya tertuju pada laci lemari kecilnya. Dia mencari-cari sebuah foto yang bisa membuatnya tidak penasaran lagi. Tapi hasilnya nihil. Bahkan foto pernikahan mereka tidak dipajang di sini. Apa mungkin tidak ada foto mereka berdua?


Dia membuka lemari, terlihat baju-baju milik Sania. Lebih tepatnya baju-baju wanita yang modelnya cantik-cantik. Dia membayangkan seorang wanita memakai salah satu dari baju ini, pasti sangat anggun.


Son menutup pintu lemarinya dengan keras, dia membantingnya sambil menggelengkan kepalanya cepat. Apa yang dia pikirkan saat ini. Kenapa dia begitu penasaran dengan sosok Sania? Dia menyetujui operasi mata karna dia tak ingin hidupnya diatur lagi oleh Math. Dia ingin menentukan pilihannya sendiri.


"Aku tetap ingin berpisah! Dia bukan wanita baik! Pasti ada tujuan tertentu mengapa dia mau menikah dengan pria sepertiku."


"Sial! Kenapa aku sulit tidur!"


Berbagai macam cara Son lakukan. Mulai dengan push up malam hari agar badannya lelah dan bisa langsung tertidur. Dan ternyata cara itu efektif, hingga membuat Son lelah dan bisa lekas tidur.


.


.


.


Suara bisik-bisik para pelayan di area belakang, terdengar sampai telinga Darien yang saat itu sudah bangun.


"Tuan Son sudah pulang tadi malam."

__ADS_1


"Apa kau melihatnya? Dia pulang bersama siapa?"


"Siapa lagi kalau bukan Leo." Mereka membicarakan Son yang ternyata sudah pulang, setelah sekian lama menghilang tanpa kabar.


"Siapa yang kalian bicarakan?" Darien tiba-tiba berdiri di belakang mereka. Satu persatu mereka membubarkan diri, tapi Darien tak membiarkan mereka pergi begitu saja. "Jawab!" Darien memandangi mereka bergantian.


"Tuan Son sudah pulang, Tuan Darien," jawab salah satu dari mereka.


Tanpa pikir panjang Darien langsung berlalu pergi. Tujuannya saat ini adalah ke kamar Son.


Darien berusaha membuka pintu kamar adiknya tapi sayang sekali pintunya dikunci.


DORR!


DORR!


DORR!!!!


"Buka!!!!" Darien berteriak membuat Son yang masih dalam keadaan mengantuk berdecak kesal. "Aku bilang buka!!!!!!" teriaknya kembali.


Son tahu siapa orang yang menggedor kamarnya pagi ini, dia begitu kesal saat waktu tidurnya diganggu.


KLEKK!!!


Son membuka pintu dengan wajah yang menahan kesal. Tepat di depan pintu mereka saling menatap. Son dengan matanya yang tajam menatap kakaknya dengan penuh kekesalan.


Darien merasakan ada yang aneh dengan kedua mata Son. Mata itu seakan menatapnya sungguh-sungguh, seakan matanya berbicara.


"Son—"


"Bisakah kau tidak mengganggu waktu tidurku!" Son mendorong tubuh Darien karna kesal, hingga Darien hampir saja terjatuh. Darien begitu terkesiap karna adiknya sepertinya sudah bisa melihat kembali.

__ADS_1


__ADS_2