ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 107 PENGANTIN BARU


__ADS_3

Suasana kamar pengantin baru terasa berbeda. Wanita berparas cantik terlihat canggung duduk di atas ranjang. Dia sudah membersihkan diri, begitupun suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi. Istrinya memalingkan wajahnya saat tak sengaja melihat dada bidang suaminya tanpa penutup. Dia malu sendiri melihat tubuh suaminya yang nyaris sempurna. Rasanya ini seperti mimpi, bersuamikan pria kaya raya yang tampan. Dia menatap dirinya di cermin, dia hanyalah gadis yatim piatu dan dari keluarga yang sederhana tapi pria yang berada dalam satu kamar dengannya saat ini menerima apa adanya dia.


"Valencia ...." Suara gagah dari suaminya membuat dirinya menoleh. Menggerakkan kepalanya menghadap suaminya yang berdiri.


"Iya," jawabnya lembut sambil tersenyum.


"Kau sudah sah menjadi istriku. Jadi, jangan batasi dirimu denganku." Wanita itu mengangguk patuh. Dia memberanikan diri menatap suaminya. "Jangan merasa takut seperti itu. Aku ini bukan hantu!" Darien mencolek hidungnya lalu tertawa pelan.


Valencia memanyunkan bibirnya merasa sebal. "Aku boleh bertanya sesuatu?" Ragu-ragu Valencia ingin bertanya, takut jika Darien tidak nyaman dengan pertanyaan.


"Tanyakan saja apa yang membuatmu ingin tahu. Aku akan menjawabnya."


Darien mendudukkan diri di sebelah istrinya saat ia sudah selesai memakai baju dan menyisir rambutnya. Dipandang lamat-lamat wajah cantik istrinya, dia seharusnya menyadari itu dari awal. Sekretarisnya kali ini memang wanita cantik yang langka.


"Nanti kita akan tinggal dimana? Di rumah orang tuamu atau dimana?"


Darien sudah sangat serius mendengarkan, ternyata perihal tempat tinggal. Dia kira ada hal serius yang ingin istrinya tanyakan.


"Kenapa kau bertanya seperti itu? Aku kan sudah punya apartemen, untuk apa tinggal di rumah orang tuaku? Bukankah kau sudah tau aku punya apartemen? Kau lupa?"


Valencia menggaruk kepalanya, dia kenapa jadi pelupa begini. Apa mungkin efek baru menikah? Dia grogi sekarang.


"Ah iya, aku lupa. Hm, maaf."


"Tapi jika tinggal di rumah orang tuaku, kau juga tidak keberatan, kan?"


Ekspresi Valencia mendadak berubah, dia terkejut lalu terdiam.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, kan? Kapan-kapan kita akan menginap di rumah orang tuaku. Karna aku juga sering pulang ke rumah jika bosan di apartemen," ucapnya lagi.


"Hm, terserah kamu saja." Dalam hatinya dia belum siap masuk ke dalam keluarga suaminya. Dia tidak pandai beradaptasi. Takut jika dia malah mempermalukan suaminya.


"Hmm, lalu bagaimana dengan malam ini?" Matanya ia kedip kan sebelah, membuat Valencia mengerti akan maksudnya. Wanita itu menggeser bokongnya, merasa malu akan kode dari suaminya.


Malam pertama, malam yang membuat siapa pun akan merasakan deg-degan juga getaran yang dahsyat.


"Ayo lah, kita habiskan malam ini," godanya lagi membuat Valencia tak mampu memperlihatkan wajahnya yang sudah memerah seperti tomat matang.


Tiba-tiba tangannya merangkul pinggang istrinya, membuat tubuhnya dalam dekapannya saat ini. Valencia tak dapat menolak setiap sentuhan yang diberikan Darien. Tubuhnya seperti magnet yang terus menerus mendekatkan diri.


Malam ini, mereka habiskan untuk bercinta. Meluapkan dan mengungkapkan rasa cinta mereka masing-masing. Ini hal yang baru bagi Darien, mencintai seseorang dengan waktu yang sebentar. Baru ia sadari bahwa Valencia adalah sosok yang ia cari selama ini. Selama wanita itu menjadi sekretarisnya, Valencia selalu sabar dan bertanggung jawab atas segala tugas dan pekerjaannya. Dia wanita yang tangguh dan pekerja keras.


Tubuh mereka berdua dipenuhi oleh keringat, Darien mengusap tetes demi tetes keringat yang mengucur di dahi istrinya. Mata wanita itu terpejam karna merasakan kelelahan.


***


Jam telah menunjukkan pukul 12 malam. Son masih berada di jalanan. Dia menepikan mobil di jalanan yang kosong. Mata lelahnya tak dapat disembunyikan juga tubuhnya yang letih. Sudah ia cari istrinya di tempat ia meninggalkannya tadi, tapi istrinya tak ada. Lalu ia telusuri jalanan di sekitar gedung, juga ia tak menemukannya.


Rasa sesalnya begitu besar. Sebenarnya yang masih kekanakan siapa? Son menyadari sikapnya terlalu berlebihan. Apa dia mengalami trauma takut kehilangan orang ia sayangi lagi? Berkali-kali dia kehilangan orang terdekatnya, ia kali ini tak mau kehilangan Sania.


Tangannya masih menggenggam erat ponselnya. Panggilannya tak kunjung tak diangkat setelah tadi sempat tidak dapat dihubungi. Tapi kali ini nomernya sudah bisa dihubungi kembali. Son tak hentinya menghubungi istrinya terus menerus.


Dia tersentak, saat panggilannya diangkat tapi tak ada suara yang terdengar.


"Hallo .... Sania, kau dimana?" Raut wajahnya berubah, dia tak sabar ingin mendengar jawaban istrinya. Bahkan tangannya gemetar karna ia sudah terlalu lelah.

__ADS_1


"Aku .... Hm, aku disini."


"Dimana? Aku akan menjemputmu." Tak ingin hubungan mereka semakin buruk, Son berjanji tidak akan membuat Sania merasa kesal lagi dan membuatnya pergi lagi.


Sania menyebutkan sebuah alamat dimana dia berada. Setelah ia berpikir dan mencerna perkataan dari ibu mertuanya, dia lantas mengaktifkan ponselnya kembali. Dan benar saja baru beberapa detik mengaktifkan ponsel, Son menghubunginya. Suaminya itu tampak khawatir sekali. Beberapa pesan juga sempat ia kirimkan padanya.


"Kau mau pulang, Sania?" Luzi terbangun, ia melihat menantunya duduk di pinggir ranjang.


"Hm, iya Bu. Apa Ibu tidak apa-apa aku tinggal? Son mengatakan akan menjemput ku sekarang," jawabnya.


Luzi tersenyum. "Lihatlah betapa pedulinya Son terhadapmu. Jangan selalu menganggap satu kesalahan itu masalah yang besar. Salah satu dari kalian harus ada yang mengalah, kalian baru menjalani kehidupan rumah tangga jadi jaga baik-baik hubungan kalian," tuturnya lagi.


"Iya, Bu. Dan Ibu sebenarnya ada masalah apa dengan ayah? Apa Ibu mau ikut Sania aja pulang ke rumah?" tanyanya.


Luzi menggeleng, mana mungkin dia ikut ke rumah Son. Putranya itu pasti tidak ingin melihatnya. Itu akan jadi masalah baru.


"Tidak, Sania. Ibu disini saja. Tapi jangan katakan pada siapapun kalau Ibu ada disini. Juga jangan katakan pada Son."


Dengan berat hati Sania mengangguk, sebenarnya dia ingin sekali membuat hubungan Son dan Luzi membaik. Tapi dia tak tahu bagaimana caranya. Masalah yang mereka hadapi juga ia tak tahu. Salah paham tentang apa yang membuat keduanya jadi seperti ini.


Son mengatakan bahwa ia sudah ada di depan penginapan. Sania melihat dari jendela, dan benar saja mobil suaminya ada di pinggir jalan.


Sania lekas turun dan menghampiri suaminya. Son langsung keluar mobil dan memeluk istrinya dengan erat. Rasanya tak ingin melepaskannya lagi.


"Maafkan aku. Jangan pergi lagi." Sania mengangguk dalam dekapannya.


Memang membangun rumah tangga di usianya yang masih belia penuh tantangan. Terkadang ada orang yang menyikapi sebuah masalah kecil dengan tenang, tapi berbeda dengan mereka yang menganggap satu masalah itu adalah masalah yang besar. Anak remaja sering tak bisa mengontrol perasaan emosinya. Lalu bagaimana dengan Son? Son bukanlah anak remaja lagi, tapi dia memiliki trauma akan masa lalunya. Jadi, Son seperti kembali pada awalnya ia menemukan seseorang dan tak ingin merasa kehilangan lagi.

__ADS_1


__ADS_2