ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 64 OPERASI?


__ADS_3

"Lalu soal hubungan Ibu dan Son kenapa terlihat tidak baik?" Sania sangat berhati-hati dalam memberikan pertanyaan, takut jika Luzi merasa tersinggung.


"Itu hanya soal kesalahpahaman. Dulu—"


"Ibu, ternyata di sini!" Keyla tiba-tiba datang, dia berjalan sambil memegangi perutnya yang sudah mulai kelihatan buncit. Dia duduk di sebelah ibu mertuanya. Kini Luzi diapit kedua menantunya yang cantik-cantik.


"Iya, Keyla. Apa yang kau butuhkan? Apa kau lapar kembali?" Menghadapi orang yang sedang hamil memang harus ekstra sabar. Moodnya sering berubah juga perilakunya sedikit bermanja. Luzi paham itu, karna dulu dia satu atap dengan madunya yang hamil.


"Aku ingin es krim, Bu. Kita ke supermarket bentar yuk," ajaknya dengan suara khasnya.


"Kita suruh pelayan saja. Kau tetep di rumah istirahat." Sebagai seorang ibu, dia harus memperhatikan sekali keselamatan menantunya dan calon cucunya.


Sania yang masih ada disitu, seperti tak dianggap. Dia hanya menjadi pendengar keduanya. Matanya tak hentinya menatap Keyla dengan sengit. Gara-gara wanita hamil itu, pembicaraan dirinya dengan Luzi terganggu. Bahkan terputus sudah pembicaraan mereka. Luzi tidak melanjutkan lagi perkataannya yang terpotong tadi.


"Tidak mau, Bu. Aku ingin ke supermarket saja," rengeknya manja membuat Luzi akhirnya menyetujui. Dia menemani menantunya untuk membeli es krim.


"Sania, apa kau mau ikut?" tawar Luzi. Keyla memelototinya, seakan memintanya untuk menolak.


"Tidak, Bu. Aku mau menemani Son saja," jawabnya. Dia juga tak ingin ikut, untuk apa. Lagi pula dia lebih senang di rumah.


Keyla menggandeng Luzi dan berjalan bersama. Saat mereka sudah berjalan jauh, dia menolehkan kepalanya ke belakang. Tersenyum miring pada Sania yang terus memandangi keduanya. Keyla seakan mengejek dirinya yang bisa lebih dekat dengan Luzi.


"Menyebalkan! Kenapa kak Keyla sekarang begitu menyebalkan!"


"Selamat pagi, Nona Sania!"

__ADS_1


Paman Leo yang entah datangnya darimana tiba-tiba menyapanya. Sania sampai terjingkat kaget begitu terkejutnya.


"Paman! Paman mengagetkanku!" Sania mengelus dadanya, jantungnya masih berdebar-debar.


"Maaf, Nona. Maaf jika saya mengagetkan Anda. Bagaimana kabar Nona hari ini?" Paman Leo datang depan pakaian rapinya. Dia selalu berpakaian rapi dengan rambut yang selalu disisir. Penampilannya mirip seperti pejabat-pejabat daerah.


"Baik, Paman. Kenapa kemarin tidak datang kemari, Paman?"


Paman Leo menjelaskan bahwa kemarin ada tugas lain dari Math, dia pun tidak datang kemari. Karna dia hanya menjalankan perintah dari majikannya saja. Jika Math menugaskan hal yang lain, iya pun menurut saja.


"Son ada di kamar. Apa Paman mau menemuinya?" Sania memberitahu.


"Apa Nona Sania juga ingin menemui tuan Son?" tanyanya balik.


"Tidak, Paman. Sania ingin ke halaman belakang saja. Melihat bunga-bunga yang bermekaran, sepertinya seru juga." Sania lantas pamit pergi, dia melangkah dengan hati yang berbunga. Sejenak melupakan tentang cerita silsilah keluarga ini juga tentang perpisahannya dengan Son. Entah diwaktu kapan mereka akan benar-benar berpisah, Sania hanya mengikuti alurnya saja. Bukan dia yang menginginkan pernikahan ini juga bukan dia yang menginginkan perpisahan ini. Dia memang pernah mengatakan menyerah tentang pernikahan ini, tapi selalu ditolak. Dan saat dia tidak mengatakan kembali, perpisahan sepertinya sudah di depan mata. Tinggal tunggu waktunya saja.


"Tuan, sepertinya benda-benda di kamar ini berubah. Baru sehari saya tidak ke sini, sudah banyak sekali perubahan." Dia berjalan santai, mengecek sampai sudut-sudut kamar. Semua letak bendanya sama, tidak bergeser. Hanya saja pergantian perabotan.


"Paman, kenapa kemarin tidak datang. Paman kemana?" Dia tak menghiraukan pertanyaan dari Paman Leo. Tidak mungkin dia mengatakan apa yang terjadi kemarin. Hari ini Son merasa senang, akhirnya Paman Leo kembali. Dia merasa tidak kesepian lagi.


"Tuan Math memberikan saya tugas yang lain. Jadi terpaksa saya tidak ke sini," jawabnya memberi penjelasan. "Oh ya, Tuan. Apa Anda tidak mau menyusul nona Sania? Istri Anda sekarang ada di halaman belakang. Sepertinya dia sendirian."


Mendengar nama gadis itu, dia teringat kembali akan kebersamaannya bersama Sania. Mulutnya yang selalu berbicara panjang lebar, perilakunya yang sulit ditebak, juga kesabarannya dalam menghadapi dirinya. Bahkan saat dia sedang mengamuk, Sania tidak takut untuk dekat dengannya.


Dan ada satu kejadian yang membuatnya takkan pernah lupa. Saat diam-diam Sania tidur di kamarnya, dan pagi itu Son tidak sengaja memecahkan gelas. Sedangkan pintu kamarnya dikunci, dia takut melangkah. Hingga pelayan mencoba ingin mendobrak pintunya, tapi suara Sania tiba-tiba menghentikan pergerakannya.

__ADS_1


"Iya aku di sini. Aku di sini semalaman. Aku memang tidak tahu diri."


"Tolong diam lah. Aku akan mengobati lukamu terlebih dahulu sebelum dokter datang."


Benar-benar wanita yang memiliki seribu kali ide jenius. Bisa-bisanya dia tidur di dalam kamarnya tanpa ada sedikit pun dia mendengar suara darinya. Son memang buta, tapi bukankah indera penciumannya dan indera pendengarannya masih normal?


"Tuan, bagaimana?" Paman Leo menyentuh pundaknya. Son tampak sedang memikirkan sesuatu.


"Aku sebentar lagi akan pisah dengannya," ucap Son. Paman Leo memasang telinganya betul-betul. Takut salah mendengar.


"Apa Tuan bilang? Anda akan berpisah dengan nona? Memangnya kalian ada masalah apa, Tuan?" Leo benar-benar tidak percaya. Mereka sebenarnya pasangan yang serasi. Yang satu tampan dan yang satu cantik. Son yang diam, Sania yang banyak bicara. Mereka saling melengkapi.


"Jangan dibahas, Paman." Son tidak tertarik membahasnya, menurutnya jika perpisahan lebih baik untuk hidupnya dan juga hidup Sania, itu mungkin yang seharusnya terjadi. "Oh ya, Paman ingat tidak danau yang sering Son kunjungi bersama Vennie dulu? Apa sekarang Danaunya masih seperti dulu?" Sebuah Danau yang ada di pinggir kota menjadi tempat favorit dirinya dengan Vennie. Mereka sering pergi di sana. Selain tempatnya sejuk di sana juga sangat nyaman.


"Tuan, ingin ke sana? Sepertinya sekarang jauh lebih indah," jawabnya.


"Aku ingin bisa melihat kembali, Paman." Perkataan Son membuatnya menoleh cepat. Kali ini semoga saja pendengarannya tidak salah.


"Tuan ingin operasi mata? Tuan Math sudah mempersiapkan untuk Anda, Tuan. Tuan Math pasti sangat senang mendengar ini." Hati Leo berbungah, semoga saja hati Son dibukakan untuk bisa menerima operasi mata itu.


"Tapi Paman—" Son masih ragu. Akan kah dia menerima operasi mata itu? Atau dia tetap seperti ini.


"Kenapa, Tuan?" Dia sudah berbahagia, tapi melihat Son yang nampaknya berpikir lagi, membuatnya sedikit khawatir. "Tuan, bahagiakan lah tuan Math. Ayah Anda setiap hari sedih melihat Anda seperti ini." Seharusnya Leo tidak menceritakan ini, tapi dia juga tidak tega melihat majikan besarnya bersedih terus menerus.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2