ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 126 MATH DAN LUZI


__ADS_3

Mereka pulang saat hari sudah gelap. Son dan Sania merasa ada yang aneh dengan Luzi sedari tadi. Ibunya itu terlihat diam sepulang dari makam. Ingin bertanya, tapi dia ragu. Dan saat mobil berhenti di halaman rumah, Luzi langsung turun dan berjalan mendahului.


"Ibu kenapa ya?" Sania bingung, tak biasanya Ibu bersikap seperti itu. "Apa ada hubungannya dengan bertemu ayah tadi di makam?" tebaknya.


Son berpikir juga begitu. "Apa ibu Luzi cemburu melihat ayah mengunjungi makam ibu?"


"Aku mau menemui ibu dulu. Kau ke kamar dulu ya sayang."


Son berjalan menuju kamar Luzi, baru saja wanita paruh baya itu ingin masuk tapi Son langsung memanggilnya membuatnya menoleh.


"Ada apa, Son?" tanyanya.


"Ibu kenapa? Kenapa sedari tadi di jalan diam saja." Son menggandengnya untuk duduk di atas ranjang. Ia pandangi lamat-lamat wajahnya.


"Ibu tidak apa-apa, Son," jawabnya.


Tapi Son tak bisa dibohongi, dia ingin Luzi menceritakan apa yang sebenarnya ada di hatinya.


"Apa Ibu cemburu?"


Dahinya mengernyit, tidak maksud dengan arah pembicaraan Son. "Cemburu? Dengan siapa?" tangannya pura-pura bingung.


"Karna ayah mengunjungi makam ibu Angela. Ibu cemburu, kan?" godanya diselingi tawa.


"Tidak. Untuk apa cemburu," elaknya kemudian.


Padahal yang dikatakan Son ada benarnya juga. Tapi Luzi tak mau mengaku.


"Baiklah kalau Ibu tidak cemburu. Sekarang Ibu istirahat saja. Ibu pasti lelah." Son berlalu pergi dan tak lupa menutup pintunya.


Setelah kepergian Son, Luzi mengingat kejadian tadi di makam.


"Masih saja mengunjungi makam cinta sejatinya!" kesalnya sambil menghentakkan kaki. Ia cemburu, bukannya marah tapi dia kesal saja. Math begitu mencintai orang yang telah tiada. Padahal dia yang jelas-jelas ada di depan mata tak pernah dihiraukan.


***


Jalanan raya di pagi hari terlihat lengah. Matahari sudah bersinar dengan terangnya. Pedagang-pedagang penjual makanan sudah banyak yang mangkal di pinggir jalan. Mobilnya melewati beberapa penjual makanan. Dia ingin membelikan sesuatu, tapi dia bingung apa kesukaan wanita itu.


"Berhenti! Tolong belikan itu!" suruhnya sambil menunjuk seorang pedagang roti tradisional.


Bodyguard turun dan membelikan apa yang disuruh bosnya. Hari ini dia ingin berkunjung ke rumah putranya yang ketiga.

__ADS_1


Di sebuah rumah yang mewah, dia menatap rumah itu dengan tatapan sendu. Rumah yang ia pilih sendiri dan diberikan untuk putra ketiganya.


"Ayah ...." Sania yang sedang menyirami tanaman di halaman depan terkejut melihat ayah mertuanya pagi-pagi sekali sudah berkunjung ke rumahnya.


"Sania, ayo masuk," ajak Math. Dia menyuruh menantunya untuk masuk ke dalam. Baru sampai di ruang tamu, terlihat Son yang sedang berjalan.


"Ayah!" Son sama terkejutnya dengan istrinya. Tumben sekali Math datang pagi-pagi ke rumahnya.


Sania yang takut dimarahi suaminya karna sudah melanggar perintahnya, dengan diam-diam berjalan menuju dapur. Son sudah mengatakan tak mengijinkan dia untuk melakukan aktivitas lain selain hanya memasak. Yang harus dia lakukan hanyalah istirahat yang cukup dan makan makanan yang bergizi.


"Son, maaf Ayah mengganggu waktumu pagi-pagi."


Son merasa senang, Ayahnya yang datang ke rumahnya. Dia mengajak ayahnya untuk sarapan bersama.


Pemandangan yang sebenarnya selalu ia lihat dari dulu. Luzi selalu membantu pelayan menyiapkan makanan di atas meja makan.


Mulutnya ingin sekali menyapanya tapi ia malu. "Ayah, ayo makan."


Son dengan antusias mengambil piring untuk ayahnya. Dan tak lupa mengisinya dengan lauk pauk.


Luzi tak menghiraukan Math yang ada dalam satu meja dengannya. Menyapa atau pun bertanya sama sekali tidak.


"Luzi ...." Akhirnya setelah sekian lama, mulutnya memanggil seseorang yang berhasil mengambil hatinya.


Wanita paruh baya itu melanjutkan sarapannya kembali. Ia tak mengeluarkan suara apa pun.


Son menatap orang tuanya bergantian. Sepertinya Son tahu apa maksud ayahnya.


"Ayah, apa hari ini Ayah mau ikut Son ke kantor?" tawarnya.


Math dengan cepat menggeleng, dia tak mau ke kantor dengan keadaan menyedihkan seperti ini.


Luzi telah selesai sarapan. Dia beranjak bangun dan ingin kembali ke kamar.


"Ayah .... Apa Ayah sedang ingin mendekati ibu?" tebaknya membuat Math terdiam.


"Ayah ...." Dia menggoyangkan lengannya, menyuruhnya untuk secepatnya berbicara.


Tapi Math tak mengatakan yang sejujurnya. Dia sedang memikirkan bagaimana caranya untuk membuat luluh hatinya kembali.


"Kenapa dia kesini sih! Bikin mood buruk saja!" Luzi merasa kesal dengan Math karna kedatangannya saat ini. Untuk apa dia kemari jika hanya membuatnya semakin tersiksa. Rasa cinta dan sukanya tak pernah hilang sedikit pun untuknya.

__ADS_1


Luzi tak bisa membohongi perasaannya, jika dia masih tertarik dengan sosok Math. Math adalah cinta sejati Luzi. Sampai kapan pun tak pernah ia lupakan.


Tok!


Tok!


Tok!


"Buka saja!" teriaknya dari dalam. Pelayan pun membuka pintunya tapi di salah satu tangannya menenteng sesuatu.


"Nyonya, ini dari tuan Math. Katanya ini untuk Nyonya." Math menyuruh pelayan untuk memberikan kepada Luzi apa yang ia beli tadi.


"Untukku?" Luzi yang penasaran perlahan membuka bingkisan itu. Dan ternyata sebuah roti. Ini kesukaannya, Math ternyata tahu apa yang ia sukai.


Luzi tersenyum-senyum menerima pemberian Math. Lelaki itu seperti memberi perhatian untuknya.


"Katakan pada Math, terima kasih." Pelayan itu mengangguk dan pamit pergi.


Pelayan menghampiri Math kembali.


"Sudah saya berikan pada nyonya Luzi, Tuan," ucapnya.


"Iya terima kasih, Bi."


"Dan nyonya mengatakan terima kasih. Katanya itu roti kesukaannya." Ini juga sebuah kebetulan, Math ternyata tak salah pilih untuk membelikan roti itu. Ternyata Luzi menyukainya. Sedikit demi sedikit dia tahu apa yang menjadi kesukaan wanita pujaannya.


Son sudah berangkat ke kantor bersama Sania. Kini hanya ada Math dan Luzi di rumah. Son sebenarnya tak tega meninggalkan Math, tapi dia harus bekerja dan juga Sania yang lebih nyaman bila dekat dengannya. Maka dari itu dia ingin selalu ada di sampingnya.


"Sayang, apa aku terkesan jahat tidak menemani ayah mertua?" tanyanya.


"Sudah lah, tidak apa-apa. Di rumah juga ada ibu, aku ingin mereka berdua dekat kembali."


Ah iya bagus, Sania juga sempat berpikiran seperti itu. Dia mengerti bahwa Luzi masih sangat menyayangi Math. Dan disini hanya perlu perjuangan Math yang mampu membuatnya luluh.


"Ibu itu masih sayang dengan ayah. Tapi dulu ayah tidak ada usaha semaksimal mungkin untuk membuat ibu kembali."


Perkataan Sania ada benarnya juga. Ini hanya soal waktu, Math sekarang masih punya banyak waktu untuk meluluhkan hati Luzi.


"Kau masih disini?" Tiba-tiba Luzi datang, membuat senyum Math merekah.


"Iya, aku masih disini. Tolong temani aku disini," ujarnya dengan wajah malu-malu.

__ADS_1


"Baiklah." Luzi menurut, dia menemani suaminya di ruang tamu. Rasa canggung sangat terasa. Apalagi mereka tak ada yang berani mengeluarkan suara.


__ADS_2