ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 44 MENGGILA


__ADS_3

Son sebenarnya sudah tahu, dengan siapa Sania akan pergi tadi pagi.


"Tuan, ada yang ingin saya katakan pada Anda," ujar Paman Leo.


Saat ini mereka berdua ada di dalam kamar Son.


"Katakan saja, Paman," jawabnya.


"Kata salah satu pelayan di sini, dia mendengar bahwa tuan Darien akan mengajak nona Sania pergi menonton film weekend nanti," ucapnya hati-hati. Jelas sekali perubahan wajah Son yang semula tenang, kini menjadi dingin. Dia memicingkan matanya.


"Untuk apa kau mengatakan itu padaku?" tanyanya mencoba acuh.


"Nona Sania kan istri Anda, Tuan. Apa Anda tidak marah dia pergi dengan pria lain?"


Bagaimana mungkin seorang suami tidak akan marah melihat istrinya pergi dengan pria lain. Terlebih itu masih saudaranya, tapi Darien tetap lah pria lain.


"Hanya status! Aku tidak pernah menganggapnya sebagai istri sungguhan," ucapnya penuh penekanan.


Leo menggelengkan kepalanya. Apa mungkin tak ada rasa cinta di hatinya sedikit untuk Sania? Mereka sudah bersama-sama setiap hari, beberapa bulan ini. Tak ada kah rasa tertarik?


"Baik lah, Tuan. Saya hanya ingin menyampaikan itu saja." Percuma Leo mengatakan hal itu, tanggapannya masih saja acuh.


.


.


Kendaraan lalu lalang di sepanjang jalan. Bunyi klakson tak luput berbunyi setiap saat. Para pengendara yang tak sabar untuk segera sampai ditujuan. Padahal hari ini weekend tapi jalanan terlihat begitu ramai. Mungkin mereka ingin bertamasya ke suatu tempat.


Di sebuah tempat parkir, dia berdiri. Matanya tak hentinya memandang jam yang berada dipergelangan tangannya. Sudah sekitar hampir satu jam, dia menunggu di sini. Dia menunggu kedatangan seorang wanita.


"Hey, Darien! Kau di sini?" Pria bertubuh gempal menepuk pundaknya pelan. Tak percaya dia bertemu temannya di sini.


"Marshel! Kau mengagetkanku!" kesalnya dengan mata melotot. Marshel terkekeh, dia lalu meminta maaf sambil memohon.


"Kau sedang menunggu siapa di sini?" tanyanya ingin tahu.

__ADS_1


"Bukan urusanmu!" jawabnya ketus.


"Baik lah, aku duluan. Aku ada janji sama teman di dalam." Bersamaan Marshel yang berlalu pergi, satu pesan masuk ke ponselnya. Raut wajah Darien berubah, dia menghentakkan kakinya kesal.


"Marshel! Tunggu ...." teriak Darien memanggil temannya itu. Dia benar-benar kecewa hari ini, dia ingin melampiaskan kekesalannya hari ini.


.


.


Setelah mengirimkan pesan untuk Darien, Sania sedikit lega. Tapi saat dia melirik kembali ponselnya, tak ada balasan dari kakak iparnya tersebut. Walaupun pesannya sudah terbaca sedari tadi.


"Apa kak Darien marah denganku?" Ingin rasanya Sania mengetikkan kembali pesan untuknya, tapi ia urungkan. Dia malu jika harus terus-menerus mengirimkan pesan untuk kakak iparnya. Setidaknya dia sudah meminta maaf, tak mungkin Darien tidak mau memaafkannya.


.


.


Ada perasaan tak biasa yang hinggap di hatinya, tatkala mengetahui bahwa kakaknya diam-diam mulai mendekati istrinya.


"Iya, Tuan. Ada apa?" Salah seorang pelayan lari tergopoh-gopoh menuju kamar tuannya. Dia bergidik ngeri saat melihat wajah tuannya sedang merah padam.


"Di mana Sania? Apa dia diam-diam telah pergi?" Setelah tadi mengatakan dia tidak mengijinkan istrinya untuk pergi, dia masih saja tidak percaya bahwa wanita itu akan menuruti perkataannya.


Pelayan itu tampak bengong. Dia melirik ke sisi kirinya. "Nona Sania, Tuan? Dia ada di sini," ujarnya dengan suara pelan. Sania saat ini sedang duduk di sofa kecil. Dia tersenyum melihat tingkah konyol Son. Dia yang berkata bahwa dia tidak boleh kemana-mana, lalu sekarang dia menanyakan dirinya ada di mana?


"Oh, bagus lah. Pergi lah!" usirnya kemudian. Wajah Son menahan malu. Dia tidak tahu bahwa Sania masih ada di dalam kamarnya. Dia pikir, wanita itu sudah keluar sedari tadi. Karna tak ada suara yang ditimbulkan darinya.


"Kenapa? Mencari ku? Merindukanku?" tanyanya dengan nada mengejek. Dia berjalan sambil bertolak pinggang. Dia menjulurkan lidah sambil menggodanya. Tapi percuma saja, dia tidak dapat melihat. Lalu dia tertawa terbahak-bahak.


"Diam!!!!!" Son berteriak kencang. Seketika suara tawa Sania terhenti. "Berhenti mengejekku. Jika kau ingin pergi, pergi lah! Aku tidak peduli!" Son menjadi kesal. Ditambah dia malu karna tidak bisa menyadari bahwa sedari tadi Sania ada di sini. "Pergi lah! Kau ada janji dengan kakakku, kan? Pergi lah! Kalian memang cocok!" ucapnya seraya menggebu-gebu.


Sania terdiam terpaku. Tidak menyangka bahwa Son ternyata mengetahui semuanya.


"Dia tahu dari mana?"

__ADS_1


"Kenapa diam? Apa kau kaget aku mengetahui semuanya? Kau jangan bodoh! Ini rumahku, semua yang ada di sini milikku!" ucapnya bangga.


Merasa sakit hati dengan ucapan suaminya. Dia lantas berkata, "Baik lah. Aku akan pergi!" Sania yang merasa telah diusir, dia pun melangkah pergi. Tapi saat baru saja mencapai ruang tamu, ternyata di sana ada Paman Leo. Pria paruh baya itu memandangnya dengan heran dan lekas mencegah jalannya.


"Nona, Anda mau ke mana? Bukan kah tuan Son tidak mengijinkan Anda pergi?" Sania mengalihkan pandangannya pada Leo yang seketika berdiri dari tempatnya duduk. Dia berjalan mendekat.


"Son menyuruhku pergi. Jadi ya sudah, aku akan pergi," jawabnya dengan napas yang berat. Rasanya Sania ingin pergi saja dari rumah ini, dia juga ingin bebas.


"Nona!" Leo ingin mengejar Sania, tapi telinganya menangkap suara yang membuatnya khawatir.


Sania menoleh ke belakang, dia tak mendapati Leo di belakangnya. Dia kira, Leo akan mengejarnya tapi ternyata tidak. Tak ingin berlama-lama di sini, Sania berjalan keluar. Di depan gerbang, seorang satpam tersenyum ke arahnya.


"Nona, mau ke mana?" tanyanya sopan.


"Buka cepat!" Sania yang masih diselimuti emosi, tak bisa mengontrol ucapannya. Dia berkata keras membuat satpam itu terkejut karna Sania dikenal sebagai majikan yang lemah lembut dan ramah.


"Tapi Nona—"


"Buka!" perintahnya diulangi lagi. Dengan tangan gemetar satpam itu lantas membuka gerbangnya. Memang ini sudah takdir, tak lama dia berjalan ke tepi jalan, dari kejauhan dia melihat ada taxi. Tak butuh lama dia pun naik ke dalam taxi. Meninggalkan satpam yang berdiri dengan kebingungan.


"Nona Sania pergi. Mampus deh aku! Aku pasti kena marah." Satpam tadi merutuki kebodohannya sendiri. Dia berlari ke dalam, berniat ingin mengadukan pada majikannya bahwa Nona Sania pergi.


Suara gaduh terdengar sangat jelas. Leo mempercepat langkahnya. Sampai di sebuah kamar, dirinya sudah mendapati beberapa pelayan berdiri berjejer di dalam kamar dengan ketakutan.


"Kenapa diam saja!" Leo memarahi pelayan yang hanya bisa diam, tak mau mencegah atau pun memberhentikan Son. Pria buta itu membuat kacau kamar. Dia menarik sprei, membuang bantal-bantal, menjatuhkan meja, dia mulai menggila.


"Tuan, tolong tenang lah!" Dia menggeram, dia tak berhenti mengamuk. Leo berusaha membuatnya tenang, dia memegangi kedua tangannya.


"Lepas!!!!" Son yang kuat berhasil lepas dari kekuatan Paman Leo. Tak segan-segan dia juga membuang semua pakaian-pakaiannya yang ada di dalam lemari. Hingga pakaian yang sudah bersih dan tersusun rapi, kini berserakan di atas lantai.


"Pekerjaan kita hari ini sangat berat," ucap salah satu pelayan yang melihat amukan dari Son. Mereka hanya mampu menghela napasnya berat.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2