
Hanya bisa menikmati angin tanpa melihat keindahan alam yang tepat di depan matanya. Sesuatu yang indah tak lagi bisa dia lihat. Ini adalah sebuah kebodohan, menyulitkan kehidupannya sendiri dengan rasa sakit yang tak kunjung bisa hilang.
"Vennie ...." Hatinya memanggil. Sebuah nama indah yang selalu akan terukir di hati tulusnya sampai kapan pun.
"Tuan, sebaiknya kita kembali." Sudah lebih dari dua jam mereka duduk di sebuah taman dekat rumah. Paman Leo memang sengaja membawa jalan-jalan tuannya yang terpuruk.
"Aku masih ingin di sini." Son sedikit merasa tenang di sini. Walaupun dia hanya bisa menikmati angin yang berhembus. Tapi ada ketenangan tersendiri.
"Paman, aku ingin bertanya." Sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang muncul di otaknya. Tapi Son tidak pernah menanyakan segala hal yang membuatnya penasaran.
"Iya, Tuan. Silahkan." Paman Leo bersiap menerima pertanyaan. Dia mengenal betul sikap Son. Jika dia sudah menanyakan suatu hal, berarti itu merupakan hal yang penting.
"Paman, tau apa saja tentang gadis itu?" Dahinya mengernyit heran, sejenak Paman Leo berpikir.
"Gadis itu? Siapa maksud, Tuan?" Satu nama tiba-tiba muncul di pikirannya. "Nona Sania?" tanyanya memastikan.
"Iya," jawab Son singkat.
"Tuan, saya tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian. Tapi saya hanya mengingatkan bahwa kalian adalah pasangan suami istri. Mau tidak mau, kalian sudah terikat." Tidak mengetahui lebih jelas tentang awal mula pernikahan antara Son dan Sania, Paman Leo hanya bisa mengatakan yang semestinya.
"Aku tidak mencintainya, Paman. Tidak tahu apa tujuan ayah menikahkan ku dengannya. Sampai kapan pun aku tidak bisa membuka hati untuk siapa pun," kata Son yakin. Dia mengerjabkan matanya yang basah. Dia tidak tahu mau dibawa kemana jalan kehidupannya, semuanya seakan tak ada arti.
"Tuan, mencintai itu bukan hal yang utama dalam sebuah pernikahan. Menerima itu yang merupakan hal yang utama. Menerima takdir hidup, menerima kekurangan serta kelebihan. Mencintai itu seiring berjalannya waktu juga akan tumbuh," tuturnya.
****
"Pelayan! Pelayan!" Suara menggelegar membuat riuh seisi rumah. Tak terkecuali Sania yang sedang berada di dapur bersama satu pelayan.
"Nona, itu suara tuan Son. Kenapa tuan teriak-teriak ya, Nona." Pelayan wanita yang berumur sama dengannya nampak ketakutan. Dia adalah pelayan baru, belum terlalu mengenal siapa itu majikannya.
"Kamu tetap lah memasak, aku yang akan menghampirinya." Saat Sania sedang berjalan, terlihat beberapa pelayan sudah datang mendahului berjejer rapi di depan kamar Son.
Wajah-wajah tak berdosa terlihat ketakutan. Mereka pasti sedang merapalkan doa dalam hati masing-masing.
"Tuan, ada apa memanggil kami?" Salah satu pelayan senior memberanikan diri bertanya. Tapi setelah melihat kedatangan Sania, dia langsung memundurkan langkahnya.
"Dimana kunci pintu kamarku? Kalian membuangnya? Jawab!" Son yang hanya duduk di kursi roda nampak wajahnya yang sangat marah. Dia beberapa kali mendengus kesal. Dia tahu, dia tak ada artinya sekarang. Nampak seperti manusia tidak berguna.
"Untuk apa kamu mencari kunci?" Sania datang mendekat. Gerak tubuhnya berbicara seolah dia sedang menantangnya.
"Kau! Kau yang membuang kunci kamarku?" Suaranya bergetar dipenuhi amarah yang siap untuk meluap kapan pun.
"Iya, aku. Aku—"
__ADS_1
BRAKKKKK!!!!!
Tiba-tiba Son bangkit dan melempar kursi rodanya ke sembarang arah. Dan untung saja tidak mengenai pelayan atau pun Sania.
"Pergi lah!" Sania memberi isyarat untuk para pelayan agar cepat pergi. "Pergi!" Suaranya pelan tapi penuh penekanan membuat mereka akhirnya mengerti.
"Tapi, Nona—"
"Tidak, tidak apa-apa." Sania paham kalau para pelayan merasa khawatir padanya. Tapi Sania meyakinkan bahwa tidak akan terjadi hal yang membahayakannya.
"AAAAARRRRRGHHHHHHH!!!"
Son menjerit layaknya kesakitan. Tapi bukan karna sakit, tapi karna dia sedang sangat marah. Dia benar-benar muak dengan gadis yang berstatuskan istrinya.
"Pergi! Pergi kau dari sini!!!!!"
Sania lantas menutup pintu. Dia berpura-pura kalau sudah keluar dari kamar. Padahal dia masih di dalam kamar.
Son meraba-raba sekelilingnya, dia ingin ke ranjangnya. Bersama Paman Leo dia sudah belajar menghapal seisi kamar. Tentang letak benda di sekitarnya.
Sania diam-diam mengikutinya, dia berusaha tidak mengeluarkan suara. Saat Son sudah berhasil menjangkau kasur, Sania pun merasa lega.
"Kenapa kau menyiksa diri sendiri?" Sania merasa kasihan dengan suaminya. Tapi dia juga merasa kagum dengan pria sepertinya, dia pria yang sangat setia dan juga penyayang. Buktinya dia mau mengorbankan tidak melihat dunia untuk menebus kesalahannya pada tunangannya.
Son merebahkan dirinya di atas ranjang. Dia berpikir dalam diam. Terkadang dia memikirkan masa depannya. Tapi dia bisa sedikit tenang jika seperti ini, tak bisa melihat apa pun baginya sudah cukup.
Di dalam ruangan yang terasa gelap ini, mereka sama-sama hanyut dalam pikiran masing-masing.
Pagi hari menjelang, tak terasa pagi cepat sekali menyambut kedua pasangan suami istri itu. Pemandangan yang membuat semua orang merasa heran. Sania terpaksa tidur di lantai beralasan sebuah karpet kecil tanpa selimut dan bantal. Sedangkan Son, pria itu tidur terlelap di ranjang yang empuk.
PYARRRRRRRR!!!!
Sania terbangun akibat bunyi yang dihasilkan oleh sebuah gelas yang jatuh ke lantai. Jantungnya berdegup kencang karna merasa terkejut. Dia merasa baru saja terlelap tapi tiba-tiba ada yang membuatnya terbangun. Ternyata Son tak sengaja menjatuhkan gelas yang berada di atas nakas saat dia sehabis minum.
"Pelayan! Pelayan!" Son berteriak sangat lantang. Pelayan yang mendengar teriakan itu langsung lari tergopoh-gopoh.
"Tuan Son memanggil!" Pelayan yang lain memberitahu. Mereka berlari bersama.
TOK!
TOK!
TOK!
__ADS_1
Pelayan berusaha membuka pintu tapi ternyata dikunci.
"Pelayan! Cepat kemari!" Suara Son kembali terdengar. Mereka yang berada di luar kamar menjadi kebingungan sendiri.
"Kunci cadangannya di nona Sania," ucap salah satu pelayan.
"Cepat ambil!" perintah pelayan senior.
Tak butuh lama, pelayan tadi kembali. "Nona Sania tidak ada di kamarnya. Kenapa kamar tuan bisa terkunci, bukannya kuncinya sudah disimpan nona Sania?" Para pelayan nampak bingung.
"Pelayan! Cepat kemari!" Son juga bingung ingin melangkah turun dari ranjang tapi takut terkena pecahan gelas. Pecahan gelas tidak tahu berada dimana saja. Jika dia turun untuk berjalan, itu sangat membahayakannya.
"Tuan, pintunya di kunci. Kami tidak punya kunci cadangan." Mendengar penjelasan pelayan, Son memberanikan diri untuk turun dari ranjang.
Sania masih berdiri melihat apa yang ada di depan matanya. Melihat Son yang terlihat kebingungan saat akan melangkah. Rasanya ingin sekali membantu suaminya, tapi ini akan membuat Sania dalam bahaya. Son bisa marah besar jika mengetahui Sania berada di dalam kamarnya.
"Awas!" Hatinya menjerit. Sania menutup mulutnya berusaha tidak mengeluarkan suara. Sania menyesal telah mengunci pintunya dari dalam. Pelayan tidak bisa datang untuk membantu.
"Awwwwww!!!!!!!" Kakinya salah melangkah. Kaki Son menginjak pecahan gelas membuat telapak kakinya berdarah.
"Tuan! Tuan kenapa?" Pelayan masih setia berada di luar kamar.
Son meringis kesakitan. Dia menahan sakit yang luar biasa. Sania bingung, dia ingin melangkah maju membantu suaminya tapi dia juga takut.
"Awwwwwww!!!!!!!! Sial!" Kedua kalinya kaki Son menginjak pecahan gelas itu. Sania tak tahan, semakin lama dia diam dan bersembunyi, itu semakin membuatnya semakin merasa bersalah.
"Tuan! Sebentar, kami akan mendobraknya." Para pelayan merasa khawatir. Mereka lari kesana kemari mencari bantuan. Keadaan yang sangat riuh berada di luar kamar. Sedangkan di dalam kamar, keadaan terasa menegangkan.
"Hentikan! Tolong diam!" Sania yang tak kuat bersembunyi terus menerus, dia akhirnya angkat suara. Entah Son akan memarahinya habis-habisan, dia tak peduli. Sekarang yang terpenting adalah menolong suaminya.
"Kau?" Telinganya menangkap suara dari gadis yang sangat ia benci. "Kau di sini?" tanyanya menekankan. Terdengar suaranya yang benar-benar kesal.
.
.
.
Selamat malam semua. Terima kasih yang masih setia sama aku..
Like ya kalau kalian suka. Maaf updatenya lamaaa bangettttt.. Karna kesibukan aku di luar menulis yang benar-benar tidak bisa aku tinggal... Hehe
Semoga kalian tetap setia ya sama aku dan sabar.
__ADS_1
Semoga kalian selalu diberi kesehatan dan rejeki yang berlimpah.
Aamiin...