
Uang yang cukup, kosmetik yang banyak, baju yang bagus serta semua fasilitas yang ada di rumah tak membuatnya bahagia. Dia masih merasa kesepian, masih merasa tak memiliki siapa pun di dunia ini. Hidupnya terasa hampa. Bahkan cinta yang terukir indah di hatinya yang suci tak pernah terbalaskan.
"Aku tidak butuh benda-benda ini!" ujarnya seraya membuangnya ke lantai. Bunyi gaduh yang ditimbulkan membuat para pelayan berbondong-bondong mencari sumber suara.
"Nyonya, apa yang terjadi?" Suara pelayan terdengar dari luar kamarnya. Luzi hanya diam sambil menatap nanar wajahnya yang katanya cantik. Percuma cantik jika tak ada yang menyukainya.
"Nyonya! Tolong buka." Tak biasanya Luzi mengunci pintu. Ini membuat pelayan khawatir. Wajahnya menoleh ke arah jam dinding. Sudah malam, tapi suaminya tak kunjung pulang.
KLEK!
Luzi membuka pintu dengan matanya yang kosong. Ia berjalan melewati pelayan yang berdiri di depan pintu.
"Nyonya ...." Mereka kebingungan melihat ekspresi wajah dari nyonyanya. Sepertinya ia sedang ada masalah pikirnya.
"Nyonya Luzi kenapa ya?" tanyanya pada pelayan lain. Mereka kemudian melongok ke dalam, betapa kagetnya melihat suasana di dalam kamar. Begitu berantakan, tidak mungkin Luzi mengamuk.
"Ibu, mau kemana? Belum tidur?" Keyla yang kebetulan melihat ibu mertuanya berjalan di sekitar kamarnya kemudian menyapanya. Tapi tak ada jawaban. Luzi tetap berjalan lurus ke depan, seperti tak mendengar suara dari Keyla.
"Ibu ...." Keyla bingung sendiri, dia yang sudah mengantuk akhirnya memilih untuk kembali ke kamar.
Langkah kakinya menuju ke sebuah kamar. Kamar yang kosong. Di sana dia membaringkan tubuh lelahnya. Bukan lelahnya atas segala aktivitas, lebih tepatnya lelah dalam menghadapi kehidupan.
Di tangannya sudah ia genggam sebuah botol kecil. Dia memandangnya ragu, tapi jika melihat ke belakang dia menjadi semakin yakin.
****
Malam ini, pikirannya tidak tenang. Sejak kejadian yang terjadi di rumah Son, Darien semakin membenci adiknya. Dia sudah berani menghajarnya, hingga dirinya terluka.
Darien yang tampan, seharusnya dia bisa bersenang-senang dengan wanita mana pun. Dia bisa menunjuk siapa pun, semua pasti menginginkannya. Tapi Darien hanya mencintai satu orang, tapi sayang dia telah dikhianati.
Dia meraih jaketnya dan pergi ke suatu tempat. Malam ini dia tidak bisa tidur, setidaknya dia butuh teman untuk menemani malamnya.
__ADS_1
Di sebuah jalanan yang sunyi, dia memberhentikan mobilnya. Tepat di depan rumah yang sederhana, dia berdiri dengan kaki tegaknya.
Tok!
Tok!
Tok!
Tiga kali ketokan pintu membuat tuan rumah yang saat itu belum juga tidur, ragu untuk membukanya. Dia takut jika ada seseorang yang jahat. Malam-malam begini siapa yang akan bertamu. Dia juga tidak terlalu akrab dengan orang-orang sekitar sini.
Tok!
Tok!
Tok!
Suara ketokan pintu kembali terdengar. Wanita itu semakin dibuat takut. Ingin memejamkan matanya saja agar lekas tidur tapi dirinya tidak bisa.
"Tuan Darien ...." Valencia begitu terkejut saat melihat bosnya datang ke rumahnya malam-malam.
"Kenapa lama sekali!" Darien tiba-tiba menyelonong masuk. Dia duduk di kursi tamu. Ditangannya sudah ada beberapa kantong plastik. Dia letakan di atas meja. Valencia masih terbengong sambil melihat penampilan Darien yang kusut.
"Tuan, Anda sedang ada masalah?" Valencia saat ini takut, karna mereka hanya berdua saja di sini. Takut jika ada warga sekitar yang memergoki mereka berduaan.
BRAKKK!
Darien menutup pintunya dan segera menguncinya. Valencia benar-benar takut sekarang. Dia tahu Darien adalah bos yang baik tapi kali ini sepertinya tidak seperti itu. Tingkahnya mencurigakan. Darien membuka plastik yang ia bawa dan mengeluarkan isinya. Berjejer minuman-minuman beralkohol yang belum pernah Valencia lihat sebelumnya.
"Tuan, kenapa Anda membeli sebanyak ini? Jika ada masalah, bercerita saja kepada saya, barangkali saya bisa bantu." Valencia berusaha bersikap tenang, walau hatinya ketar ketir. Wajah Darien sulit ditebak, dia sepertinya sedang banyak beban pikiran.
"Temani aku malam ini." Darien mulai meneguk satu persatu minuman itu. Hingga pandangannya mulai kabur.
__ADS_1
"Tuan, tolong berhenti!" Valencia tidak berani mendekat, dia masih berdiri di tempat yang agak jauh dari posisinya.
"Aku membenci adikku! Juga membenci wanita yang sudah membuat ibuku meninggal. Dan aku juga membenci wanita itu!" Suaranya rancau tak jelas. Tiba-tiba sorot mata tajamnya mengarah pada Valencia.
"Kau ...." Darien bangkit, dan berjalan sempoyongan. Tangannya menunjuk ke arahnya. "Kau meninggalkanku! Demi pria br*ngs*k itu!" Tangannya menarik rambut Valencia tapi dengan kelembutan. "Rambutmu jelek! Dia tak pernah membawamu ke salon?" Tawa Darien meledak, Valencia hanya bisa diam saja.
"Tuan, istirahat saja di kamar." Wanita itu menuntun Darien menuju kamarnya yang lain. Dia memaklumi keadaan Darien malam ini. Mungkin pria itu memang sedang banyak masalah.
"Adikku sangat beruntung, apa kau tahu? Dia mendapatkan perhatian dari ayah yang tak terhingga juga sekarang dia memiliki seorang istri yang sabar. Dia sangat beruntung. Padahal aku—" Tiba-tiba tubuhnya ambruk, tepat saat baru saja mencapai ranjang. Valencia hanya perlu menggeser tubuhnya sedikit dan melepaskan sepatunya.
"Istirahatlah, Tuan."
SREETTT....
Tangan Valencia tiba-tiba ditarik, membuat tubuhnya ambruk di atasnya. Darien memeluknya erat. Valencia berusaha bangkit, tapi pelukan Darien begitu erat. Tangannya mulai menjalar ke pinggangnya, membuatnya tidak nyaman.
Dengan satu gerakan, Darien membalikkan tubuhnya. Kini Valencia yang berada di bawah tubuhnya. Matanya yang sayu menatap seorang wanita yang saat ini berada di kungkungannya.
"Cantik." Pujian yang benar-benar tulus atau ini pengaruh dari alkohol.
"Tuan, tolong hentikan. Ini aku Va—" Belum selesai bicara, bibirnya sudah dilahap habis olehnya. Membuat Valencia tak bisa berkata-kata. Ciuman panas itu berlangsung lama, Valencia seakan terlena olehnya. Sudah lama ia mengagumi sosok bosnya. Tapi dia hanyalah seorang karyawan, sangat mustahil bisa bersanding dengan bos besarnya.
Ciuman mereka berhenti, Darien ambruk lagi tepat di atas tubuhnya. Valencia merasa berat, karna tubuhnya yang kekar.
"Ya ampun, Tuan. Anda berat sekali!" Valencia berusaha menggeser tubuh bosnya, tapi ia kesusahan.
Darien tiba-tiba membuka matanya kembali. "Jangan pergi!" ujarnya dan memindahkan posisinya di sebelahnya. Memeluk Valencia dari samping, membuat wanita itu tak bisa lari.
"Temani aku malam ini." Hembusan napasnya terasa menggelitik karna mengenai lehernya yang jenjang. Darien memainkan bibirnya di sana. Hingga Valencia dibuat merem melek karnanya.
"Tuan, tolong sadarlah. Jangan lakukan ini disaat Anda tidak sadar. Tolong bangun!"
__ADS_1
Valencia menangis di tengah malam yang sunyi. Tak ada yang bisa mendengarnya. Juga tak akan ada yang bisa membantunya. Dia menatap langit-langit kamar, dia pasrah dengan semua yang terjadi kali ini.