
Saat Son bisa melihat lagi, dia yang akan menentukan pilihan hidupnya sendiri. Son tidak mau diatur lagi oleh Math. Hidupnya harus berjalan dengan apa yang telah dia tentukan. Baik buruknya hanya dia yang akan merasakan.
"Tuan, semoga setelah Anda bisa melihat lagi, Anda akan hidup lebih baik lagi nanti. Dan rasa penasaran Anda akan terbayar semua nantinya."
"Penasaran tentang apa?" tanyanya tidak mengerti akan maksud Leo.
"Penasaran akan sosok nona Sania," jawabnya. Son menggeleng cepat, dia mengelak akan penasarannya tentang gadis ingusan itu.
"Tidak. Aku tidak penasaran dengannya. Aku tetap akan berpisah!" ucapnya yakin. Son tidak bisa mencintai wanita lain. Jika hidupnya akan selamanya menyendiri itu tak masalah baginya.
"Jangan terlalu menggebu-gebu, Tuan. Nanti Anda akan terpeleset ucapan Anda sendiri." Leo mencoba memeringatinya, tapi Son tampak acuh. Tapi tiba-tiba dia teringat akan Sania. Ucapan Sania yang penuh percaya diri.
"Apa kau tidak penasaran dengan ku? Dengan wajahku? Apa kau tidak ingin melihatnya?"
"Ya maksudku, apa kau tidak penasaran dengan wajahku yang cantik?"
"Tidak, tidak. Aku tidak cantik. Kau pasti akan menyesal jika melihat wajahku."
Dia mengulas senyum tipisnya. Mengingat perkataan gadis ingusan yang masih belasan tahun itu, mulutnya tak berhenti berbicara. Dia bisa berbicara sangat panjang tanpa jeda.
***
Pagi berganti siang. Panas terik matahari begitu menyengat di kulitnya. Di bawah pohon yang tak begitu rindang, dia berdiri di sana. Hatinya begitu cemas, saat Son belum juga pulang bersama Paman Leo.
"Apa mereka masih lama?"
Seharusnya Sania tidak sekhawatir ini, Son pergi bersama orang kepercayaan. Pasti keadaannya akan baik-baik saja.
"Nona, saatnya makan siang. Nona Keyla sudah di meja makan," ujarnya memberitahu. Sania hanya mengangguk. Dia masih memandangi gerbang, barangkali ada mobil datang.
"Apa aku telfon saja paman Leo?"
Sania pun bergegas ke kamarnya lagi, untuk mengambil ponsel. Dia berniat menghubungi Paman Leo.
"Hallo, Paman. Paman pergi bersama Son?" tanyanya saat panggilannya terjawab.
__ADS_1
"Iya, Nona. Sepertinya kita akan pulang setelah satu minggu di sini." Sania tambah heran, memang mereka ada dimana?
"Paman dan Son ada dimana sekarang? Kenapa lama sekali?" Keningnya berkerut, tak biasanya mereka pergi tanpa pamit dan akan selama itu. Satu minggu? Waktu yang begitu lama menurutnya.
"Kami ada urusan sebentar, Nona. Anda jaga diri baik-baik." Tentang operasi mata yang akan dilakukan Son, memang sengaja dirahasiakan. Yang tau hanyalah Math dan Leo. Bahkan Luzi tak diberitahu. Ini akan menjadi sebuah kejutan.
"Urusan apa, Paman? Kenapa—"
"Nona, sudah dulu ya. Saya harus menyiapkan segala keperluan tuan Son. Anda baik-baik di rumah."
Panggilan terputus, Sania masih penasaran. Sebenarnya mereka ada dimana? Ada urusan apa? Apa Son sedang melakukan suatu hal?
Tok!
Tok!
Tok!
Sania berdecak sebal. Ada saja yang mengganggunya disaat dirinya sedang kepikiran tentang suatu hal.
Saat ia membuka pintu, ternyata si monster. Sania berusaha sabar dan menanyainya baik-baik.
"Kakiku pegal. Bolehkah aku memintamu untuk memijitnya?" ucap Keyla dengan manja. Dia mengaduh pegal akan kakinya sambil badannya membungkuk.
"Hah? Memijit?" Sania seperti pembantunya. Kenapa harus dia?
"Kak, bukankah pelayan di sini banyak. Kenapa Kakak harus memintaku untuk memijat? Aku bukan ahli pijat," jawab Sania merasa keberatan. Bukan berarti dia tidak mau, hanya saja itu bukan pekerjaannya dia. Dia juga takut jika pijatannya salah atau mungkin takut akan terjadi sesuatu hal padanya.
"Kau selalu membangkang! Kau ini tidak mau membantu sesama ipar? Kau ini benar-benar! Terlalu perhitungan!" Ucapan Keyla benar-benar menusuk hatinya. Monster itu benar-benar keterlaluan.
"Kak, bukannya Sania tidak mau. Hanya saja Sania takut, takut memijitnya salah. Kakak kan sedang hamil, jadi—"
"Hanya memijat kaki! Apa yang akan salah? Bilang saja kau tidak mau! Dasar tidak mau membantu!" Keyla pun berlalu pergi, merasa kesal.
Sania menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kenapa semuanya jadi seperti ini?"
__ADS_1
Dia merenungi nasibnya sendiri. Dia jadi teringat akan Maria. Maria yang beruntung, bisa menikmati masa mudanya. Sedangkan dia, harus melewati berbagai macam rintangan hidup sebelum menikah dan bahkan sesudah menikah.
Siang berganti sore. Sania masih berharap kalau Son akan pulang hari ini, walaupun Paman Leo mengatakan setelah satu minggu baru akan pulang. Dan hari ini Sania belum melihat kakak iparnya yang kedua. Sepertinya saat Darien berangkat ke kantor, dirinya belum terbangun. Juga Rico yang tak kunjung pulang, istrinya yang menyebalkan itu menjadi semena-mena dengannya. Tidak mungkin jika ada Rico, dia akan menyuruh-nyuruhnya seperti hari ini.
BIM!
BIM!
Suara klakson mobil terdengar dari luar. Sania berlari, berharap itu mobil suaminya. Tapi saat mencapai pintu, di sana sudah ada Keyla. Wanita hamil itu melebarkan senyumannya, menyambut ayah dari calon bayinya.
"Sayang ...." Mereka berpelukan, Rico mengecup keningnya dengan mesra. Dia juga tersenyum ke arah Sania.
"Hai, Sania. Terima kasih ya, selama Kakak tidak ada kau sudah mau membantu menjaga Keyla," ujarnya berterima kasih.
Sania mengangguk dan tersenyum. "Kakak ada oleh-oleh untukmu dan Son." Rico pun mengambilkan oleh-oleh yang sudah ia persiapkan untuk Sania dan Son. Dua bingkisan kecil dan besar. Keduanya untuk mereka semua. "Terima lah. Semoga kalian menyukainya."
"Terima kasih, Kak. Tapi Son sedang tidak ada di rumah. Son pergi bersama paman Leo sedari pagi. Dan kata Paman Leo akan pulang satu minggu lagi," ujarnya memberitahu.
"Oh ya? Urusan apa?" tanyanya penasaran. Ada urusan apa Son? Dia tak memiliki kesibukan seperti dirinya yang mengurus perusahaan. Hidupnya hanya dihabiskan di rumah karna buta. Lalu pergi untuk apa? Dan kemana? Kenapa harus selama itu?
"Tidak tahu, Kak."
Mereka pun berjalan masuk ke dalam rumah. Keyla mengajak Rico ke kamar, untuk mengistirahatkan tubuhnya sebelum nanti keluar untuk makan malam.
Sania berjalan menuju kamar suaminya, dia penasaran dengan isi di dalam paper bag itu. "Aku buka saja lah. Lagi pula ini juga buat aku."
Paper bag yang kecil yang menjadi tujuannya saat ini. Ada kotak kecil di dalam sana. "Gelang?" Gelang tali berwarna hitam dengan inisial SS yang menyatu.
"Cantik sekali?" Terlihat elegan walaupun sangat simple. Gelangnya ada dua, dengan desain yang sama persis. "Dia pasti menyukainya."
Sania mencoba memakai gelang itu, dia tersenyum senang atas pemberian dari kakak iparnya. Dan tinggal paper bag yang besar.
"Kira-kira apa ya?" Sania membukanya perlahan dan ternyata di dalamnya pakaian. "Baju couple?" Satu kemeja untuk pria dan dress untuk wanita dengan warna dan motif yang senada. "Lucu. Apa dia mau memakainya? Oh ya, dia kan buta." Sania punya ide nanti saat suaminya pulang, dia tinggal memberikan baju ini saja untuk dipakainya. Dia pasti tak menyadari jika bajunya akan senada dengan dirinya.
.
__ADS_1
.
.