ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 93 TERKEJUT


__ADS_3

Di tempat lain, masih di tengah malam yang sama. Seorang pria paruh baya terlihat panik. Dia berjalan mondar mandir dengan hati yang gelisah. Sedari tadi ia juga mencoba menghubungi putra-putranya tapi tak ada yang mengangkat telfonnya.


"Ayah, bagaimana keadaan ibu?" Rico datang sendirian setelah ia memastikan bahwa Keyla sudah tidur dengan pulas.


Math tak menjawab, dia sibuk menelpon putra-putranya yang lain.


"Arrrgghhhh! Kemana mereka semua!" Math hampir saja membanting ponselnya tapi langsung dicegah oleh Rico.


"Ayah, tolong tenanglah!" Rico mencoba menenangkan ayahnya yang dipenuhi emosi. Dia menyuruhnya untuk duduk.


.


.


Sedangkan, putranya yang ketiga sedang sibuk membuat istrinya merasakan candu yang ke beberapa kali.


"Ponselmu bunyi terus. Siapa yang menghubungimu?" Sania sudah beberapa kali menyuruh suaminya untuk mengangkat telfonnya. Tapi pria itu masih saja melanjutkan aksinya.


"Nanti saja! Lagi pula siapa suruh mengganggu di tengah malam begini!" Son tak menghiraukannya, dia tetap bermain-main di tubuh istrinya.


"Aku tidak mau disentuh! Jika kau tak mau mengangkat telfon itu dulu," ancamnya kemudian. Karna Sania merasa terganggu dengan nada deringnya yang tak berhenti sedari tadi, takut jika itu sangat penting.


"Baiklah." Son mengalah, dia meraih ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya. "Ayah." Sania menyuruhnya untuk cepat mengangkat sebelum deringnya mati.


"Hallo, Yah. Ada apa?"


"Kau ini kemana saja? Apa kau tak dengar sedari tadi ayah menelfon mu? Ibu masuk rumah sakit. Dia kritis sekarang."


Son mengalihkan pandangannya pada istrinya yang penasaran. "Ayah kenapa?" tanya Sania dengan suara pelan.


"Ayah bicara apa? Kenapa menelpon mu tengah malam begini. Apa ada sesuatu yang terjadi pada ayah?" tanya Sania tak berhenti bertanya.


"Ayah tidak apa-apa. Juga tak ada yang terjadi padanya," jawabnya.


"Syukurlah." Sania bisa bernapas lega.

__ADS_1


"Tapi, istrinya masih rumah sakit dan sedang kritis."


Sania membelalakkan matanya, dia benar-benar terkejut. "Apa kau bilang? Ibu masuk rumah sakit?" Sania langsung bangkit, tak peduli dengan tubuh polosnya. Dia berlari masuk ke dalam kamar mandi.


"Hey! Apa yang kau lakukan?" Son menyusul istrinya, tapi pintunya dikunci dari dalam.


"Kita harus ke rumah sakit sekarang," katanya dari dalam kamar mandi.


"Untuk apa? Tidur saja, ini sudah malam."


CEKLEK!


Sania menyembulkan kepalanya ke luar. "Kita harus melihat keadaan Ibu."


"Tidak usah malam ini. Besok saja. Ayah juga tak menyuruh kita datang kesana tengah malam begini. Tidur lah." Son sebenarnya masih ingin melewati malam candu bersama istrinya, tapi berita yang disampaikan ayahnya barusan membuatnya tak berselera lagi. Ingin merasa tidak peduli, tapi entah kenapa hatinya begitu gelisah.


"Son, ini roti panggang kesukaanmu. Ibu buatkan khusus untukmu." Luzi memberikan roti panggang buatannya. Son kecil sangat kegirangan.


"Terima kasih, Bu." Mereka menghabiskan waktu bersama sehari-hari. Banyak hal yang Luzi ajarkan pada Son. Bahkan saat Son sakit, Luzi lah yang rajin merawatnya.


"Ibu pasti akan datang," jawabnya dan Son tiba-tiba memeluknya.


Bayangan tentang kenangan manis keduanya. Son tak bisa memungkiri bahwa kedekatan mereka dulu lebih banyak dari pada kedekatannya dengan Angela. Angela selalu sibuk dengan pekerjaannya. Sedangkan Luzi yang akan selalu di rumah setiap saat. Mengurusi putra-putra dari Math.


***


Darien mengerjapkan matanya saat cahaya matahari memenuhi kelopak matanya yang tertutup. Dia kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar.


"Dimana ini?" Darien merasa asing dengan tempatnya. Kepalanya mendadak pusing. Ingin rasanya tidur kembali.


Dia mencari-cari ponselnya ingin melihat jam. Karna di kamar ini tak ada jam dinding.


"Dimana ponselku? Argghhh!" Kepalanya mendadak sakit, tapi ia paksakan untuk berjalan keluar kamar. Dia ingin mencari ponselnya.


Seorang wanita tiba-tiba melintas di depannya. "Hey kau siapa?" Darien menunjuk seorang wanita yang sedang membelakanginya. Dia sedang menata makanan di atas meja.

__ADS_1


"Selamat pagi, Tuan." Valencia tampil tanpa make up juga pakaiannya yang terkesan santai sekali. Hanya memakai dress motif bunga-bunga yang sependek lutut.


"Kau Valencia?" tanyanya ragu.


"Iya, Tuan. Maaf Tuan, hari ini saya ijin tidak berangkat ke kantor. Apa boleh, Tuan? Badan saya sedang tidak enak. Saya ingin istirahat seharian ini," ujarnya. Darien tak mengalihkan tatapannya pada sosok Valencia. Dia terlihat cantik hari ini. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya.


"Terserah kau saja!" Darien berjalan menuju ruang tamu, barangkali ponselnya ada di sana.


Dan benar saja, ponselnya ada di atas meja. Bersamaan dengan botol-botol alkohol yang beberapa masih penuh. Dia menggelengkan kepalanya, melihat kelakuannya yang tak mencerminkan seorang Darien.


"Darien bodoh! Bisa-bisanya kau terlihat bodoh di depan sekretaris mu sendiri!" Darien merasa malu sekarang, Valencia sudah tahu sifat buruknya yang satu ini.


"Tuan, ayo kita sarapan dulu. Aku sudah memasak banyak makanan. Anda bisa memilihnya." Valencia tidak tahu selera makan dari Darien. Oleh karna itu dia memasak banyak lauk pagi ini.


Darien hanya mengangguk. Dia kemudian mengecek ponselnya. Dan dia benar-benar terkejut melihat puluhan panggilan dari Math yang tak terjawab. Juga beberapa pesan yang masuk.


Membaca isi pesan dari Math dan Rico, tanpa pikir panjang Darian langsung bergegas ke rumah sakit.


"Tuan ...." Valencia kebingungan karna Darien tiba-tiba pulang tanpa pamit.


"Maaf Valencia, aku harus segera ke rumah sakit," ucapnya dan melajukan mobilnya kencang.


Valencia seketika lemas, usahanya untuk memasak berharap Darien mau memakannya tapi ternyata masakannya tak disentuh dia sedikit pun.


Tapi mendengar Darien mau ke rumah sakit, dia juga merasa penasaran. Siapa yang dirawat di rumah sakit?


Pandangannya tak fokus, berkali-kali dia hampir saja menabrak mobil di depannya. Dia benar-benar tak sabar ingin segera sampai di rumah sakit.


"Ibu, apa yang terjadi?" Darien tak menyangka ibunya bisa bertindak bodoh seperti ini. Apa sebagai anak dia kurang bisa memahami keadaannya? Ibu adalah wanita yang kuat, tapi kali ini Ibu bisa melakukan hal yang ekstrim berarti dia banyak tekanan dalam hidupnya.


Darien keluar dari mobil, tak peduli penampilan kusutnya. Bahkan bau alkohol masih tercium menyengat di pakaiannya. Serta bau mulutnya yang belum juga gosok gigi.


"Darien ...." Math berdiri menatap Darien yang berjalan mendekatinya. Baju kusutnya, rambut berantakan, wajah yang kucel, Math dibuat geleng-geleng kepala melihat penampilan putra keduanya.


"Ayah, bagaimana keadaan Ibu?" Darien mengguncang tubuhnya, tak sabar ingin mendengar jawabannya.

__ADS_1


"Darien apa yang terjadi denganmu? Apa terjadi sesuatu hal tadi malam?" Math memicingkan matanya, dia sebenarnya ingin marah melihat putranya yang ke rumah sakit dengan penampilan urakan seperti ini. Tapi ini rumah sakit, dia sebisa mungkin menahan emosinya.


__ADS_2