
Masih terngiang bagaimana menakutkannya seorang Son. Apa yang akan dilakukan pria itu sungguh di luar dugaan. Tak dapat ditebak. Bagaimana Son akan bersikap dengan matanya yang buta.
Sania sudah memakai bajunya yang lain. Baju yang telah tersedia di lemari kamarnya. Baju yang terlihat bagus-bagus. Bahkan baju lamanya sekarang entah dimana. Semuanya telah berganti menjadi baru juga barang-barang yang dia miliki sebelumnya. Seperti tas, sepatu dan accecories.
Tok!
Tok!
Tok!
Sania menyahut dari dalam, dia merasa malas jika harus membuka pintu. Dia masih dalam keadaan shock atas apa yang telah terjadi barusan. Walaupun Son buta, dan dia tidak melihat tubuhnya yang tadi terbuka, tapi Sania tetap lah merasa sangat malu.
"Nona, saya mohon ijin untuk membersihkan semuanya." Seorang pelayan datang sambil membawa beberapa alat kebersihan. Son seperti biasa, dia sedang duduk bersender di ranjang.
"Kau siapa?" tanya Son saat merasa ada seseorang di sekitarnya.
"Saya seorang pelayan, Tuan," jawab pelayan itu dengan pelan.
***
"Sudah ku bilang, jangan ikut campur lagi! Kerjaan mu sudah tidak mengurusi putraku lagi!"
BRAKKK!!!
Math begitu marah saat ada yang melapor bahwa Bi Mar masih ikut campur dengan masalah Son.
"Tuan, saya hanya takut jika tuan Son menyakiti nona Sania," jawab Bi Mar gemetar.
__ADS_1
"Apa putraku sejahat itu? Sehingga berani menyakiti istrinya sendiri? Dia masih punya akal yang sehat. Kau menghina putraku?" Mata Math melotot seakan ingin membunuh, "dengar lah, apa pun yang terjadi itu menjadi urusan Son dan istrinya. Kau tidak perlu khawatir atau pun memperdulikannya lagi. Apa kau dengar?"
"Ba-baik, Tuan." Bi Mar keluar dari ruangan kerja Math dengan keringat dingin bercucuran. Sudah biasa dia menghadapi kemarahan Math, tapi kali ini kemarahan Math begitu menakutkan.
Sudah bertahun-tahun dia bekerja di rumah ini. Banyak yang dia ketahui tentang keluarga ini. Bahkan jauh sebelum adanya Son lahir.
"Bi Mar, apa yang terjadi?" Seorang pelayan menghampiri Bi Mar yang baru saja keluar dari ruang kerja Math.
"Tidak apa-apa, sudah biasa," jawab Bi Mar seraya tersenyum. Bibirnya tersenyum tapi hatinya sungguh sakit. Saat apa yang dia lakukan selama ini nyatanya tidak pernah dianggap benar oleh Math.
***
Seorang pria paruh baya sedang terduduk di atas kursi dengan wajah yang sulit ditebak setelah melihat sebuah pesan masuk di ponselnya. Ia mengusap wajahnya berkali-kali. Merasa ini sebuah mimpi.
"Apa yang kau cemaskan, Raul? Bukankah ini berita yang baik?" Lotus meletakkan secangkir kopi panas di atas meja. Istrinya itu tampak tersenyum bahagia saat mengetahui bahwa ada transferan masuk sejumlah uang yang nominalnya sangat besar.
"Berita baik? Ini bukan masalah uang, Lotus!" Raul berdiri, matanya menatap ke sembarang arah. Entah siapa yang mengirimkan sejumlah uang pada rekeningnya, tapi dia yakin bahwa itu dari Son atau Sania.
"Baru beberapa hari Sania menikah, bagaimana mungkin anak itu melupakan kita? Lihatlah, ini nominalnya sangat besar. Apa suaminya sekaya itu?" Raul sulit untuk percaya, "bahkan nominalnya lebih banyak dari apa yang kita ambil dulu dari ayahnya," sambungnya.
"Lupakan masa lalu!" Lotus beranjak pergi menuju kamar putrinya. Dia merasa kesal saat Raul masih membahas hal yang membuatnya marah.
"Kenapa Ibu tidak ketok pintu dulu!" Maria yang sedang berbaring di ranjang merasa kaget saat ibunya tiba-tiba datang.
"Apa pintu mu Ibu lepas saja? Jadi tidak perlu repot-repot untuk mengetoknya?" Lotus masih saja kebawa emosi. Melihat ibunya yang dalam keadaan tidak ramah, Maria akhirnya mengalah. Dia menarik tangan ibunya untuk mendekat.
"Ibu ada masalah?" Seorang anak pasti merasa khawatir dengan orang tuanya. Apalagi jika ada sesuatu hal yang terjadi pada mereka.
__ADS_1
"Ayahmu mendapat transferan sejumlah uang dari anak itu. Bukannya senang, ayahmu malah merasa gelisah sendiri," sebalnya.
"Sania sudah mengirimkan uang? Uang dari mana dia? Apa suaminya yang buta itu dapat diandalkan?"
"Ibu tidak tahu, juga Ibu tidak peduli."
Mendengar pernyataan dari ibunya bahwa Sania mengirimkan uang pada orang tuanya, membuat Maria lantas berpikir. Bagaimana mungkin Sania secepat itu mendapatkan kehidupan yang lebih baik? Yang dia pikir Sania hanyalah menjadi seorang budak di keluarga kaya untuk mengurus seorang pria yang buta, tapi nyatanya tidak seperti yang dipikirkannya.
"Apa kehidupan Sania benar-benar membaik sekarang?" Maria bertanya dalam hati. Sebuah rasa iri tak pernah hilang dalam hatinya.
"Pak Mail!" panggil Maria pada Pak Mail yang kebetulan melintas di depan kamarnya.
"Iya, Nona Maria." Selain menyayangi Sania, Pak Mail juga sangat menyayangi Maria. Walaupun gadis itu sering berlaku tidak menyenangkan terhadap dirinya. Tapi Pak Mail tahu bahwa Maria sebenarnya gadis yang baik.
"Saya ingin bertanya sesuatu hal pada Pak Mail. Tanpa basa-basi. Pak Mail pasti tahu kan tentang suami Sania yang buta itu? Memangnya dari kapan Sania mengenal pria buta itu?" Pertanyaan yang sama yang pernah Raul tanyakan pada dirinya sehari sebelum Sania menikah. Paman Sania menemuinya di belakang dan bertanya tentang calon suami keponakannya. Tapi jawaban yang dilontarkan Pak Mail tetap sama.
"Saya tidak tahu apa-apa, Nona. Nona Sania tidak pernah menceritakan tentang pria yang sedang dekat dengan dirinya. Walaupun terlihat kami sangat dekat, tapi sepertinya banyak rahasia yang nona Sania simpan sendiri," jawab Pak Mail. Maria tak lantas langsung percaya, setidaknya pasti Pak Mail tahu sesuatu.
"Pak Mail, tidak mungkin Sania tidak mengatakan apa pun dengan Pak Mail. Pasti ada sesuatu yang Sania katakan, kenapa Sania bisa mau menikah dengan pria buta itu? Apa karna dia putra dari orang kaya? Apa Sania hanya ingin mengincar kekayaan keluarga itu saja?" Pak Mail langsung menggelengkan kepala. Sungguh sangat rendah pikiran Maria menilai saudaranya sendiri.
"Nona Maria, Anda pasti tahu betul tentang saudara Anda sendiri. Tidak mungkin nona Sania ada pikiran jahat seperti itu. Harusnya Nona tahu apa yang menyebabkan nona Sania akhirnya memutuskan untuk menikah dan meninggalkan rumah ini. Jika satu-satunya tempat untuk berteduhnya tidak membuatnya nyaman, tak ada pilihan lagi untuk mencari tempat berteduh yang lainnya," cerocosnya.
Maria hanya bisa diam. Dan segera memalingkan wajahnya. "Jangan menyudutkan saya, Pak Mail. Dia tidak nyaman berada di sini karena ini memang bukan rumahnya. Jadi baguslah dia mencari tempat berteduh yang lain." Maria mengusir Pak Mail untuk segera keluar dari kamarnya. Dia tidak mau pelayan tua itu tambah mengeluarkan suaranya yang membuatnya muak.
"Nona, saya yakin Anda sangat menyayangi nona Sania. Hanya saja ada sebuah masalah di masa lalu yang belum selesai. Anda terlalu gengsi untuk mengakuinya." Perkataan Pak Mail masih bisa terdengar jelas walaupun pintu kamar Maria sudah tertutup rapat. Maria terduduk lemas di lantai, menekuk kedua kakinya dengan kepala dia jatuhkan di kedua lututnya.
.
__ADS_1
.
.