
Son juga merasa kesal, dia tidak mengajak istrinya tapi kenapa gadis itu tiba-tiba masuk. Bukankah tadi Sania sedang mandi? Kenapa secepat itu?
Napas Sania tersengal-sengal, dia mandi secepat kilat dan memakai baju asal. Lihat lah sekarang, dia memakai dress motif bunga-bunga. Sangat tidak pantas dipakai untuk mengunjungi makam.
Paman Leo diam-diam mengembangkan senyumnya, dia merasa lucu dengan tingkah konyol Sania.
Son yang duduk di tengah merasa tidak nyaman. Apalagi Sania terlalu dekat dengannya. Lengan tangannya sampai menempel ke lengannya juga. Dan saat mobil mengerem, tak sengaja Sania menyentuh tangannya serasa digenggam.
Perjalanan terasa begitu cepat. Mereka akhirnya sampai di tempat pemakaman. Sania yang merasa nyaman berdekatan dengan Son sedari tadi sedikit kecewa, karna mereka sudah tiba di tempat.
"Makam siapa ini? Ini bukan makam Vennie. Lalu Son mau mengunjungi makam siapa?"
"Tuan, sepertinya tuan Math ada di sini. Di sana ada mobil tuan Math sedang parkir," tunjuknya. Paman Leo menunjuk sebuah mobil yang terparkir agak jauh darinya. Meylin hanya mengangguk. Sania juga membenarkan bahwa itu memang mobil ayah mertuanya.
"Ayo jalan." Meylin menuntun langkah Son. Tak tanggung-tanggung wanita itu menggandeng Son.
"Nona, ayo. Kenapa diam?" Paman Leo melihat Sania yang masih berdiam diri. Wajah cantiknya yang polos seperti sedang bersedih. "Nona cemburu dengan nona Meylin?" tebaknya membuat Sania dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Cemburu untuk apa?" Sania mengelak. Walaupun jelas saja dia cemburu, suaminya lebih akrab dengan seorang wanita. Bahkan Sania yang istrinya dan terkadang menyentuhnya pun sering ditepis kasar olehnya. Sedangkan Meylin, wanita itu dengan leluasanya pegang-pegang, dekat-dekat dan juga menggandengnya.
"Tenang saja, Nona. Nona Meylin tidak akan berbuat lebih. Aku pastikan itu." Sania acuh, tidak peduli apa yang diucapkan Leo padanya. Baginya kedekatan seseorang yang sudah menikah dengan lawan jenisnya tidak lah masuk akal.
"Oh ya, Paman. Di sini ada makam siapa? Bukan kah makam Vennie bukan di sini?" tanya Sania. Matanya masih terus menatap Son yang sudah jalan menjauh. Ingin rasanya dia menggantikan posisi Meylin di sisi Son. Tapi dirinya tidak berani.
"Hari ini hari peringatan kematian ibunya tuan Son, Nona. Namanya mendiang nyonya Angela."
DEG.
"Ibu? Bukankah ibu Luzi itu ibunya Son?" Sania benar-benar bingung sekarang. Siapa Angela?
"Nyonya Angela adalah ibu kandung Son, Nona. Beliau meninggal saat usia tuan Son 8 tahun," jelasnya. Banyak yang mengira kalau Luzi adalah ibu dari putra-putra Math. Padahal itu tidak benar. Luzi hanya lah ibu sambung bagi mereka.
__ADS_1
"Jadi, ibu Luzi bukan lah ibu kandung Son? Ibu hanya memiliki anak kak Rico dan juga kak Darien?" tanya Sania menjadi penasaran.
Paman Leo menggeleng lalu tersenyum singkat. Ini sebuah rahasia keluarga. Leo memang mengetahui segalanya. Dan berhubung Sania adalah anggota keluarga dari Math, mungkin tidak masalah jika Sania mengetahui semuanya.
"Nyonya Luzi tidak memiliki anak, Nona."
Sania terperangah. Dia benar-benar tidak percaya. "Paman jangan membohongiku," ujarnya tidak percaya. Bagaimana mungkin ibu mertuanya tidak memiliki anak. Memangnya sudah menikah dengan Math berapa lama? Kenapa tidak memiliki anak.
"Saya tidak sedang membohongi Anda, Nona. Itu kenyataannya. Nyonya Luzi mandul."
Sania saat ini berada di dalam mobil bersama sopir. Dia memilih untuk tetap di dalam mobil. Di sisi lain dia masih merasa terkejut atas kenyataan yang dia dengar barusan dari Paman Leo dan juga Sania malas jika harus melihat kedekatan mereka berdua. Dan pada akhirnya dia memilih menunggu mereka di sini saja.
"Selamat pagi, Tuan Math." Terlihat Math sedang berdoa di depan pusara mendiang istrinya. Wajah tuanya sedang bersedih. Mengingat momen indah kebersamaannya dulu. Tidak dapat dipungkiri, rasa sedihnya kehilangan orang yang teramat dicintai masih lah membekas sampai sekarang. Angela meninggalkan karna kecelakaan. Kabar duka itu tiba-tiba terdengar disaat Math sedang melakukan bisnis di luar kota. Bagaikan disambar petir, Math langsung pulang ke rumah dengan keadaan badan yang lemas. Dia masih ingin menghabiskan waktu dengannya, tapi Tuhan mengambilnya dengan cepat. Rasa cinta yang begitu besar tak pernah hilang sedikit. Bahkan rasa itu semakin tumbuh setiap dia mengingat sosok Angela.
"Meylin?" Math berdiri. Dia melihat Son yang berada di sisi Meylin. "Son kau datang dengan Meylin?" Math menengok ke kanan dan ke kiri seperti mencari seseorang.
"Iya, Yah. Ayah di sini sudah lama?"
"Leo, di mana Sania?" Dia beralih menanyakannya pada Leo.
"Ada di dalam mobil, Tuan," jawabnya.
"Oh, baik lah. Ayah mau menemui Sania terlebih dahulu." Math pun berlalu pergi.
***
Tumpukan buku-buku yang sudah usang dan berdebu dia raih satu persatu. Dengan telaten dia membersihkan debu-debu itu dari bukunya.
"Aku merindukan masa itu."
Lembar demi lembar dia buka perlahan. Goresan tinta berwarna hitam masih terbaca dengan indah. Ada sebuah rasa yang menyesakkan. Dulu cintanya bertepuk sebelah tangan. Pria yang sudah lama dia dambakan, malah memilih menikahi sahabatnya.
__ADS_1
"Jika aku tiada. Aku ingin kau yang menggantikan aku," ucap wanita yang beruntung itu.
Dan takdir pun berpihak padanya. Dia bisa memiliki pria idamannya itu, tapi di sisi lain dia kehilangan sahabat terbaiknya.
Air matanya mengalir. Kebahagiaan yang sudah di depan mata karna akhirnya bisa menikah dengan pria idamannya ternyata kenyataannya tidak sesuai ekspektasi. Pria itu tidak benar-benar mencintainya. Tak ada namanya di hatinya. Dia sudah mencintai wanita lain.
"Sesuai permintaan Renata, aku akan menikahimu," ujar pria itu. Rasa bahagia menghinggap di hatinya. Tapi saat mereka menjalin rumah tangga ternyata kabar buruk menghantuinya. Dia dinyatakan mandul oleh dokter. Hatinya hancur berkeping-keping, tak merasa berguna sebagai seorang wanita.
"Aku ingin memiliki keturunan lagi. Aku akan menikahi seorang wanita lagi." Pria dambaannya itu sering bergonta-ganti pasangan, dan pilihannya jatuh pada sosok Yasmine. Wanita cantik yang beruntung itu berhasil memikat hati Math.
"Iya aku mendukungmu." Satu kata mengikhlaskan yang menyesakkan dada. Math memilih untuk menikah kembali. Menggoreskan luka di dalam hatinya.
Di dalam satu atap, mereka tinggal bersama. Sosok Yasmine sangat lah baik, dia wanita yang teramat baik. Bahkan Yasmine menganggap Luzi seperti kakaknya sendiri. Hingga suatu ketika, musibah datang kembali.
"Nyonya Yasmine meninggal."
Pelayan berteriak histeris. Mereka tidak menyangka bahwa Yasmine akan menghembuskan napasnya yang terakhir karna sakit yang dideritanya.
"Yasmine, bangun lah. Jangan seperti ini! Aku mohon." Luzi menangis tersedu-sedu. Dia tidak ingin kehilangan sosok Yasmine. Walaupun dulu kehadirannya membuatnya cemburu, tapi dia sosok yang baik. Dia sering menghibur dirinya yang sering bersedih. "Yasmine ...." Tubuhnya merosot ke bawah. Dia tak berhenti menangis. Tangannya dengan kuat menggenggam tangan dinginnya Yasmine. Dua kali dia kehilangan sosok sahabat yang dekat dengannya.
.
.
.
.
Satu persatu rahasia terbongkar ya.. Masih penasaran kan?
Ikutin terussss... hehee
__ADS_1
Like, like kalau kalian suka....