ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 33 INGIN PULANG


__ADS_3

Son tetap diam, dia tidak goyah sedikit pun mendengar perkataan Keyla. Dia memilih diam. Tidak tertarik sama sekali membahas hal tersebut.


"Son, Kakak pulang dulu. Semoga kamu cepat pulih dan bisa segera pulang." Setelah dirasa cukup menemani Son, Rico pun berniat untuk pulang saja. Lagi pula adiknya juga tak meresponnya dari tadi.


Pintu terbuka. Sania masuk dan tersenyum ke arah Rico.


"Sania, Kakak pulang dulu," pamitnya dan Sania mengangguk. Son yang sedang berbaring menggerakkan tubuhnya. Baru hari ini dia kedatangan Sania. Gadis itu kemana saja saat dirinya sedang terbaring sakit?


"Iya, Kak. Hati-hati."


Rico dan Keyla pun pergi. Di ruangan hanya ada dirinya dan Son.


"Untuk apa kau ke sini?" Baru saja Sania duduk, Son bertanya. Dilihat lah suaminya yang masih terlihat lemah.


"Aku yang akan menemani mu di sini," ucapnya pelan.


"Tidak usah. Ada suster di sini," jawabnya mengusir. Belum sempat menjawab, pintu ruangan dibuka oleh seseorang.


"Tuan, saatnya makan siang." Seorang suster membawa makanan serta obat untuk Son.


"Suster, tolong usir perempuan ini," perintah Son membuat sang suster dibuat kebingungan.


"Maaf, Tuan. Yang ada sebut siapa? Nona ini bukankah istri Anda?" tanya Suster memastikan.


"Bukan. Tolong usir dia." Sania pun mengalah, dia berjalan keluar meninggalkan Son dan seorang suster di sana. Dirinya lelah jika harus berpura-pura menjadi seorang suster kembali. Dia memilih pergi dan duduk di kursi tunggu. Rasanya dia ingin terbang saja, terbang jauh. Meninggalkan semua yang ada di sini.


"Tuan, kenapa Anda tidak mau ditemani istri Anda? Bukankah dari kemarin istri Anda lah yang menemani Anda di sini? Membersihkan tubuh Anda, menyuapi dan juga memberikan obat," jelasnya. Penjelasan dari Suster membuat Son membeku. Dia berhenti mengunyah disaat makanan telah masuk ke dalam mulutnya. Suster pun dibuat bingung, melihat Son yang tiba-tiba diam.


"Tuan, Anda tidak apa-apa?"


"Suster bilang apa tadi? Dia yang dari kemarin ada di sini?" Suasana di dalam ruangan mendadak menjadi dingin. Walaupun hatinya sekarang merasa panas karna merasa dibodohi.


"Iya, Tuan. Istri Anda lah yang dari kemarin menemani Anda. Apakah Anda tidak tahu?"

__ADS_1


Son kembali terdiam. Dia tidak menjawab pertanyaan dari sang suster. Suster yang bolak-balik ke ruangan rawat Son memang tidak setiap saat sama. Ada beberapa suster yang datang dan pergi bergantian.


"Tuan, minum lah obatnya dan kembali beristirahat."


Setelah memastikan bahwa obatnya benar-benar sudah diminum, Suster pun pamit pergi.


Di dalam ruangan yang sunyi, Son masih saja terdiam. Matanya terbuka dengan pikiran yang menerka-nerka. Banyak hal yang berkecamuk di dalam pikirannya.


"Dia benar-benar—" Son tak habis pikir dengan Sania. Gadis itu punya banyak cara untuk selalu dekat dengannya. Padahal Son sering memperlakukannya dengan kasar. Kata-kata kasar dan juga perlakuan yang tidak baik.


CRANGGGGG!!!!


Son tak sengaja menyenggol gelas yang terdapat di atas meja kecil. Membuat suara gaduh di dalam ruangan. Karna pintu tak ditutup rapat, suara gaduh itu tembus ke luar.


"Suara apa itu?" Sania langsung berdiri dan mengecek ke dalam.


Pecahan gelas berserakan. Disertai Son dengan wajah kebingungan.


"Jangan turun!" Sania mencegah Son yang ingin bergerak ke bawah. Sania berlari memanggil seorang office boy untuk segera membersihkan pecahan gelas tersebut.


Selagi office boy membersihkan lantai, Sania membeli air mineral di kantin. Setidaknya botol mineral itu tidak membahayakan jika Son menyenggolnya.


"Ini minum lah." Sania menyodorkan botol air mineral padanya. Tapi Son tak kunjung menerimanya. "Aku taruh sini saja ya. Kau bisa mencari di sisi kananmu. Di atas meja kecil ini hanya ada botol mineral. Tak ada benda lain. Jangan khawatir kau akan menyenggol benda lagi." Sania memberitahu dengan jelas. Setidaknya Son bisa tahu letak benda di sebelahnya.


"Aku ingin pulang. Katakan pada Dokter, aku mau pulang hari ini," kata Son membuat Sania seketika memandangnya.


"Pulang hari ini? Apakah boleh?" tanya Sania. Terakhir dokter datang untuk memeriksanya juga tak memberitahu bisa pulang kapan. Dokter hanya bilang kalau Son masih harus banyak beristirahat.


"Apakah kau bisu? Kau bisa katakan sekarang pada dokter. Aku ingin pulang hari ini."


Tak ingin membuat Son semakin kesal, Sania pun segera mencari dokter yang menangani Son. Bagaimana pun caranya, Son harus bisa pulang hari ini.


***

__ADS_1


Bangunan tua yang terlihat tidak layak huni masih berdiri kokoh di atas tanah. Bangunan tua yang disebut rumah itu hanya ditinggali oleh satu orang saja. Betapa sunyinya suasana di dalam rumah.


Sang tuan rumah sedang berjibaku di dapur yang sederhana. Tangannya yang kokoh sedang menuangkan air panas ke dalam sebuah gelas yang sudah berisikan serbuk kopi hitam. Aromanya sangat menyengat, harum dan menggugah selera. Malam ini, malam yang sunyi hanya kopi yang menjadi temannya sekarang. Tanpa ada seseorang yang bisa mendengarkan dia bercerita.


Sesaat pikirannya melayang, membayangkan seorang wanita yang dulu setia di sampingnya. Tapi lagi-lagi pikiran itu ia tepiskan jauh-jauh. Tak ingin mengingat hal yang menyakitkan.


Perlahan Raul menyeruput kopi yang dibuatnya sendiri. Pahit. Rasanya memang pahit, tapi dia menikmatinya. Seperti hidupnya yang terasa pahit, tapi Raul menjalaninya dengan penuh semangat. Dia harus berdiri dengan kokoh demi seseorang yang masih menjadi tanggung jawabnya.


Jam menunjukkan pukul 9 malam. Hari ini dia pulang awal. Tidak mau terlalu lelah bekerja, dia juga harus memikirkan kesehatannya. Tak sengaja matanya menangkap beberapa kantong plastik yang berjejer di pinggir tembok. Beberapa belanjaan yang sengaja dibeli Sania untuk dirinya. Tapi dia belum mau menyentuhnya, seakan ada rasa malu tersendiri di dalam dirinya. Sania adalah anak yang baik, tapi kehidupannya seakan tak berpihak padanya. Ditinggalkan orang tua sedari kecil dan harus hidup dengan Paman dan Bibinya dengan segala kesengsaraan. Perlakuan buruk setiap hari ia terima.


"Sania." Satu-satunya keponakan yang ia miliki.


Hari menjelang pagi. Raul tak sadar jika ia ternyata ketiduran di meja makan. Punggungnya terasa sakit karna tidur dengan posisi membungkuk. Ketokan pintu berkali-kali membuatnya terbangun. Jarang sekali ada yang bertamu ke rumahnya pagi-pagi seperti ini. Apalagi Raul adalah orang baru di sini, tak banyak orang yang mengenal dirinya.


"Selamat pagi, Tuan Raul." Beberapa pria berpakaian serba hitam dengan badan yang tinggi dan tegap berdiri di depan rumahnya. Mereka terlihat menyeramkan tapi senyuman mereka seakan menunjukkan bahwa mereka adalah orang baik.


"Pagi. Kalian semua siapa?" tanya Raul. Dia masih berdiri di depan pintu.


"Kami adalah utusan dari tuan Math. Kami ke sini untuk membawa Anda ke suatu tempat. Segeralah bersiap-siap, Tuan. Kita akan berangkat sekarang."


Raul bingung harus mempercayai mereka semua atau tidak. Tapi dilihat dari perkataannya, terdengar sangat serius.


"Tuan, biar kami bantu untuk Anda bersiap-siap. Bawalah semua barang yang Anda miliki di sini." Pria bertubuh besar itu ingin masuk ke dalam rumahnya tapi dengan cepat Raul menahannya.


"Jangan masuk. Tolong kalian tunggu di sini saja." Raul dengan cepat masuk ke dalam rumah. Dia berganti pakaian dan membawa barang yang sekiranya penting.


.


.


.


Tinggalkan Like dan Koment jika kalian suka dengan ceritaku ini....

__ADS_1


hehehe


__ADS_2