ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 134 SI KEMBAR (END)


__ADS_3

"Adik bayi ....." Suara Meysa menggema mengagetkan semua orang yang ada di ruangan itu. Gadis kecil itu menghampiri Sania yang sedang menggendong salah satu dari si kembar.


"Meysa, jangan keras-keras!" tutur Rico membuat Meysa akhirnya terdiam.


Rico dan Darien bersama-sama mengucapkan selamat atas kelahiran anak mereka.


"Si kembar yang cantik," puji Valencia. Dia ingin sekali menggendong salah satu dari mereka. Lalu ia meminta ijin pada Sania. Sania pun mengijinkan Valencia untuk menggendong si kembar.


"Yeayyyy Meysa punya teman," ucapnya bersorak riang karna bayi kembar berjenis kelamin perempuan.


Sania dan Son bersyukur bisa memiliki anak sekaligus dua. Tuhan begitu baik pada mereka. Setelah lebih dari lima tahun mereka menunggu diberikan keturunan.


"Diberi nama siapa si kembar, Son?" tanya Rico.


Son dan Sania saling pandang lalu tersenyum bersamaan.


"Namanya Alena dan Alessa," jawab Luzi yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar mereka.


"Nama yang cantik," ucap Keyla yang tiba-tiba mengeluarkan suara. Mereka langsung menolehkan kepalanya pada Keyla yang sedari tadi hanya berdiri di daun pintu. Kemudian wanita itu mendekat lalu menyentuh bayi dalam gendongan Valencia.


"Ibu .... Nama Meysa juga cantik, kan?" tanya Meysa merasa iri.


"Iya sayang. Namamu juga cantik." Dengan gemas Keyla mencubit hidung putrinya. Sejak kehilangan bayinya waktu itu, Keyla jadi berpikir kalau dia harus banyak-banyak bersyukur. Banyak pasangan suami istri diluar sana yang sangat mengharapkan keturunan tapi belum dikasih. Sedangkan dia sudah diberi malaikat kecil yang cantik. Kehilangan sesuatu yang berharga memang menyakitkan, tapi ia tak boleh terus menerus terperangkap dalam kesedihan. Walaupun ia tak bisa hamil lagi karna ada masalah dalam rahimnya, tapi ia terima dengan ikhlas. Adanya Meysa sudah cukup baginya.


Disaat mereka sedang berbincang sambil bersendau gurau, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat. Suara sepatu hak tinggi yang beradu dengan keramik terdengar menggema, sosok wanita dengan make up yang tebal namun masih terlihat cantik. Ditangannya menenteng bingkisan besar. Ia menganggukkan kepala seraya menyapa orang-orang yang berkumpul di kamar Sania.


"Bibi Crystal ...." Sania memeluk adik dari mendiang Ibu Angela. Sudah lama mereka tidak berjumpa.


Bibi Crystal baru saja pulang dari luar negeri setelah ia mendapat kabar bahwa istri dari keponakannya telah melahirkan sepasang bayi kembar.


Kehadiran Bibi Crystal menambah suasana menjadi hangat. Sania dan Son merasa beruntung dikelilingi orang-orang yang baik.


"Oh ya, dimana Zion?" Valencia baru menyadari bahwa putranya tak ada di ruangan.

__ADS_1


Darien juga kebingungan, ia tak mendapati putranya di sana. Mereka seakan sibuk dengan si kembar.


"Paman, tadi Zion ada di depan. Dia mengajakku bermain lalu Meysa tidak mau. Lalu Meysa tinggal saja," ujarnya polos.


Darien langsung pergi menuju halaman depan juga disusul Valencia setelah ia memberikan si kembar pada Bibi Crystal yang ingin menggendong.


"Pak, liat anak saya di sekitar sini?" tanyanya pada Pak Satpam yang berjaga.


Pak Satpam menggeleng seraya mengatakan tidak tahu.


"Gerbangnya sedari tadi ditutup, kan?" Pak Satpam mengangguk dan memastikan tak ada satu orang pun yang keluar.


Darien mencari Zion ke dalam. Ia menanyakan pada satu persatu pelayan.


"Tuan, Den Zion sedang bersama tuan Math di halaman belakang," kata pelayan memberitahu. Sejenak ia menghela napasnya lega, juga Valencia merasa tenang sekarang.


Langkah mereka menuju halaman belakang. Benar saja, mereka sedang bersenda gurau di sana dengan didampingi seorang pelayan. Zion tak hentinya mengajak berbicara kakeknya. Math hanya bisa merespon kecil, dengan sesekali menganggukkan kepalanya dan tertawa dengan suara lirih.


"Ayah, Ibu .... Zion sedang bermain dengan Kakek," ucapnya dengan tersenyum lebar.


.


.


.


Pada sore hari, dikediaman Son akan diadakan acara penyambutan kelahiran si kembar Alena dan Alessa. Mereka mengundang beberapa tetangga untuk datang ke rumahnya. Memberikan doa serta keselamatan untuk kedua putrinya.


Sania dan Son berharap kelak kedua putrinya akan tumbuh menjadi anak yang baik dan berguna bagi semuanya.


"Paman, Maria ...." Paman Raul datang bersama Maria. Kedatangan keluarga satu-satunya membuat bahagianya tak terkira. "Pak Mail ...." Belum selesai bahagianya, ternyata Pak Mail ikut dengan mereka. Wajah keriputnya membuatnya haru, tubuh ringkihnya begitu menyayat hati. Pelayan setia di rumahnya kini sudah lemah kondisinya. Paman Raul tak memecatnya, bahkan ia mempekerjakan pelayan lain untuk membantu Pak Mail.


"Sania, selamat atas kelahiran bayi kembar mu," ujar Maria sambil tersenyum. Sepupunya itu memeluknya dengan hangat. Wanita berambut pendek yang sebentar lagi akan melepas masa lajang kini sangat bersikap baik padanya. Akhirnya doanya selama ini terkabul, keluarganya kini sudah harmonis. Walaupun kesedihan sempat melanda keluarga mereka atas kepulangan Bibi Lotus pada Sang Pencipta.

__ADS_1


.


.


.


Malam hari yang tenang. Son duduk disebelah istrinya yang sedang menyusui Alena. Sedangkan Alessa sudah terlelap lebih dulu.


"Sayang, apa kau bahagia memiliki aku?" tanya Son tepat di telinganya. Sania menggeser tubuhnya, ingin leluasa memandangi suaminya.


"Kau ini bicara apa? Jelas aku sangat bahagia. Bahkan lebih dari bahagia," jawabnya.


"Maafkan aku atas sikapku yang dulu. Aku selalu bersikap buruk padamu dan terkadang menyakitimu dengan berbagai ucapan menyakitkan atau pun sikapku." Son merasa bersalah jika mengingat yang dulu pernah terjadi. Kecintaannya pada sosok Vennie membuatnya buta untuk semua hal. Dia seperti terjebak dalam kecintaan yang tak wajar. Jelas-jelas Vennie sudah tak ada, ia seharusnya tak mengharapkannya lagi.


"Aku mengerti, aku sangat mengerti. Tidak ada yang salah darimu. Kau memang pria yang setia. Mungkin aku akan bersikap yang sama jika ada orang asing yang tiba-tiba masuk dalam kehidupanku padahal aku belum bisa membuka hati kembali. Hmmm, lupakan yang dulu," ucapnya sambil tersenyum. "Minggu depan bagaimana kalau kita berkunjung ke makam Vennie," ajaknya kemudian.


Son terkejut mendengar permintaan Sania. "Apa kau serius?" tanya Son. Walaupun Vennie pernah menjadi satu-satunya dalam hatinya, tapi Sania mampu menggantikan posisinya di hatinya.


"Kita doakan Vennie agar tenang di sana. Aku juga ingin berterimakasih padanya."


"Berterimakasih untuk apa?" tanyanya.


"Ada deh ....." Sania dengan jahil mencubit suaminya. Hingga mereka tertawa bersama. Membuat Alena menangis karna merasa terganggu dengan tawa mereka.


"Cup cup, maafkan Ibu, Alena. Suara Ibu mengagetkan mu ya." Alena akhirnya bisa diam kembali setelah ditenangkan Sania.


"Sayang, kita akan nambah anak lagi kapan?" tanyanya dengan genit. Ia menciumi tengkuk istrinya membuat Sania geli dibuatnya.


"Alena dan Alessa saja belum bisa berbicara dan berjalan, kau ini malah menanyakan hal seperti itu! Dasar!" kesalnya.


"Jangan lama-lama ya, sayang. Aku ingin Son kecil," ucapnya tepat di telinga Sania.


------TAMAT-----

__ADS_1


__ADS_2