
"Kita pulang saja." Dengan hati yang tegar, ia memutuskan untuk mudur saja. Rasanya percuma saja, dia tak dihiraukan lagi.
Tepat saat bodyguard mendorong kursi rodanya, tiba-tiba Math merintih kesakitan.
"Tuan! Tuan!" Math tak sadarkan diri. Para bodyguard berlari mendekat untuk menolong majikannya. Semua orang yang melihat kejadian itu langsung berbondong-bondong menghampiri untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Begitu pun Luzi yang tak menyadari kalau ia sudah lama berbincang dengan teman lamanya.
"Itu .... Itu Math!" teriaknya dengan wajah khawatir. Dia bergegas menyusul dan meninggalkan begitu saja teman lamanya.
"Saya ikut!" Luzi masuk ke dalam mobil, ia menumpu kepala Math di pangkuannya. "Kenapa Math bisa pingsan? Apa yang terjadi?" Dia menatap wajah Math dari dekat, tak banyak berubah darinya. Bahkan bibir tebalnya selalu menjadi daya tariknya tersendiri.
"Setelah melihat Nyonya berbincang mesra dengan seorang pria, tuan langsung pingsan," jawab salah satu bodyguard.
"Mesra apanya! Dia hanya teman lamaku!" serunya tidak terima. "Math bangun lah!" Melihatnya diam seperti ini, tak membuka matanya ia sangat khawatir.
Sampai juga di rumah sakit, seorang dokter langsung memeriksanya. Di luar ruangan Luzi menghubungi semua putra-putranya.
"Nyonya ...." Dokter keluar dan memanggilnya. Luzi langsung berjalan mendekat. "Kondisi tuan Math untuk saat ini sangat drop. Dipicu dari kurangnya istirahat dan stress. Sepertinya tuan Math banyak yang dipikirkan hari-hari ini. Membuat tubuhnya lemah dan cepat kelelahan."
Math memang seharusnya banyak istirahat di rumah. Tapi dia akhir-akhir ini malah sering pergi keluar rumah. Terutama untuk menemui dirinya.
Sebenarnya tadi ia ingin menemui Math, walaupun dia tidak tahu akan menerima cintanya lagi atau tidak. Yang dia pikirkan adalah tidak membuatnya kelelahan hanya untuk menunggunya.
Math masih dalam keadaan pingsan. Dalam keadaan seperti ini, Luzi jadi ada waktu untuk terus memandangnya. Walaupun dia tak segagah dulu, tapi rasa cintanya tak pernah hilang.
Di jari manisnya sebelah kanan, ia melihat sebuah cincin melingkar. Persis seperti yang ia pakai sekarang. Itu artinya Math benar-benar menginginkannya kembali.
"Math .... Apa kau benar-benar sudah jatuh hati padaku?" tanyanya ragu.
"Kenapa dulu kau tidak suka padaku?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Padahal aku selalu memberikanmu pelayanan yang baik. Dan aku selalu siap siaga dalam hal apa pun. Aku juga pandai merawat diri. Lalu kurang ku dimana?"
Tak ingin larut dalam kesedihan, ia memilih keluar dari ruangan. Ia ingin menunggu putra-putranya datang.
***
Saat mendapat kabar bahwa ayahnya masuk rumah sakit lagi, dia lalu bergegas menuju rumah sakit. Segala meeting ia batalkan semua hari ini. Tak peduli apa pun resiko yang ia terima nantinya.
"Paman, ayo antarkan aku ke rumah sakit." Paman Leo dengan sigap mengantarkan bosnya ke rumah sakit. Terlihat begitu sayangnya ia pada ayahnya.
Kondisi Math memang sebenarnya belum terlalu pulih. Math setidaknya harus menjalani operasi lagi di luar negeri. Tapi Math menolak dan menginginkan operasi di rumah sakit sini saja.
Ponselnya tak berhenti berdering, karna istrinya menelponnya terus menerus.
"Hallo, sayang. Aku mau ke rumah sakit."
"Tidak usah, kau istirahat saja di rumah."
"Iya iya, calon anakmu juga."
Begitu lah jawaban yang diutarakan Son. Dengan sabar ia memberi pengertian untuk istrinya yang cerewet. Dia tak mau jika Sania merasa kelelahan. Juga tak mau ia banyak pikiran.
Tiba-tiba di tengah perjalanan hujan turun dengan derasnya. Mengguyur kota ini di siang hari yang cukup terik. Langit yang cerah seketika berubah menjadi hitam gulita. Suara petir terdengar sahut-sahutan. Suaranya begitu menggelar memekikkan telinga. Son tiba-tiba teringat dengan Sania di rumah. Istrinya pasti sedang ketakutan. Tapi saat ia mencoba menelponnya, ponselnya tidak aktif. Lalu ia beralih menelpon nomer rumah. Tapi tak kunjung diangkat
Hingga akhirnya mereka tiba di rumah sakit. Hatinya begitu tak tenang kali ini. Apalagi cuacanya yang tak begitu mendukung. Rasa ketakutan dan kecemasan kini beradu menjadi satu.
"Son, akhirnya kau datang." Luzi dengan wajah khawatirnya memegang lengan Son, dia berkata bahwa keadaan Math sangat drop.
Son menarik napasnya dalam, semua pikiran buruknya ia tepis dengan cepat. Kakinya melangkah perlahan menuju sisi ranjang. Dipandang lekat-lekat wajah senjanya sang ayah. "Ayah ...." panggilnya lirih di dekat daun telinganya. Berharap sang ayah cepat sadar. Dia ingin mendengar suara tegasnya lagi.
Tiba-tiba Son meruntuhkan kedua kakinya ke lantai. Hatinya benar-benar hancur melihat kondisi ayahnya yang seperti ini. "Ayah, tolong bangun ....". Entah apa yang sedang ia pikirkan, tapi hari ini terasa sangat berbeda. Dia merasakan ada sesuatu hal yang akan terjadi.
__ADS_1
Sekitar 15 menit ia di sana, Darien dan Rico akhirnya datang. Kedua kakaknya juga merasakan khawatir. Sekuat tenaga Son menahan air matanya, tapi akhirnya luluh juga. Air matanya berjatuhan di atas lantai. Membasahi lantai yang berwarna putih itu.
Tiba-tiba dokter dan perawat datang. Ia membawa Math ke ruangan lain. Son tak bisa berbuat banyak, jika itu adalah hal yang terbaik maka ia terima saja.
"Kakak ...." Son yang sangat sedih di antara mereka berempat. Luzi juga sedih, tapi ia terlihat tenang.
Rico yang memahami isi hati Son lantas menghampiri dan memeluknya. Mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Luzi yang melihat Math dibawa suatu ruangan, dia hanya bisa pasrah. Semoga saja Math bisa cepat pulih dengan segala macam cara dokter untuk menyembuhkannya.
"Ibu, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa ayah bisa seperti ini?"
Son mendapatkan info dari bodyguard ayahnya. Juga tentang Luzi yang bisa membawa Son ke rumah sakit.
"Son, tadinya Ibu dan ayah akan bertemu. Tapi tiba-tiba kejadian ini terjadi begitu saja."
Luzi menceritakan awal mula melihat Math jatuh pingsan. Ia kala itu sedang berbincang dengan teman lama. Tak menyangka kalau mereka akan bertemu di sini. Hingga usianya mencapai kepala 5, ia tak pernah sekalipun bertemu dengan temannya. Baru kali ia bertemu seorang teman sekolah. Memang bukan Sania yang memanggilnya, tapi pria itu. Tak tahu bagaimana teman lamanya ini bisa mengenali dirinya.
Sedangkan Darien sedari tadi sibuk dengan ponselnya.
"Darien, kau sedang apa?" tegur Rico pada Darien.
"Hmm ini." Darien tak bisa mengatakan yang sejujurnya.
"Ini apa? Kau mau pulang saja menemani Valencia?" tebaknya.
" Valencia di apartemen sendirian. Pelayan di apartemen sedang ijin pulang kampung."
Rico dan Son mengerti, lalu mereka menyuruh Darien untuk pulang saja. Untuk menjaga istrinya.
"Pulanglah. Biar Kakak dan son yang menjaga ayah di sini." Sebenarnya ia tak ingin pulang, tapi tak tega melihat istrinya sendirian.
__ADS_1