ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 103 MERESMIKAN HUBUNGAN


__ADS_3

Keduanya memandang lekat Paman Leo. Menunggu pria paruh baya itu meneruskan kalimatnya.


"Saya ditugaskan tuan Math untuk menjadi sekretaris Anda, Tuan. Jadi, saya yang akan mendampingi Anda mengurus beberapa perusahaan milik tuan Math. Dan juga saya ingin menyampaikan bahwa tuan Darien bulan depan akan melangsungkan pernikahan," ujarnya dengan wajah berseri-seri.


Kalimat terakhir membuat Sania menutup mulutnya merasa terkejut. Tidak menyangka bahwa kakak iparnya akan segera menikah. Tak terdengar ia dekat dengan wanita, tapi tiba-tiba pernikahan akan diadakan bulan depan.


"Tuan Darien menikahi sekretarisnya yang bernama Valencia," ujarnya lagi memberitahu. Son tak begitu menghiraukan berita tentang kakaknya yang akan menikah. Dia saat ini merasa bahagia, karna Paman Leo akan senantiasa di sampingnya. Itu akan mempermudah langkah Son ke depannya.


***


Ini yang ia takutkan, kehilangan waktu bersama anak-anaknya. Bukan merasa takut kehilangan, hanya waktu yang akan mereka lalui tak lagi soal dirinya saja. Akan ada seorang wanita lagi yang akan menjadi prioritasnya saat ini.


"Darien .... Ibu merasa bahagia." Luzi menangis dalam pelukan putra keduanya. Mendengarnya yang akan segera menikah, hatinya begitu menangis terharu.


"Ibu, Darien tak akan melupakan Ibu. Jangan menangis seperti ini." Dia tak memiliki seorang anak, tapi melihat putra dari madunya menikah, dia merasa berat menerima kenyataan. Waktu berjalan sangat cepat, mereka semua sudah tumbuh menjadi sosok pria dewasa.


Perlahan Luzi melepaskan pelukannya. Dia menatap Darien dalam-dalam, wajahnya benar-benar tampan. Perpaduan antara Yasmine dan Math.


Kini tugasnya telah usai, merawat anak-anak dari madunya. Hanya saja kehidupan percintaannya tak berakhir bahagia. Dia tak pernah merasakan rasanya dicintai.


"Apa yang kau pikirkan?" Math tiba-tiba menyentuh pundaknya. Lalu duduk di sebelahnya.


"Tidak. Aku tidak sedang memikirkan apa pun." Luzi menatap ke sembarang arah. Mungkin sampai tua nanti dia tak pernah bertemu cinta sejatinya.


"Anak-anak kita sudah punya kehidupan masing-masing. Hanya tinggal kita berdua," ujarnya sambil menggenggam erat tangan istrinya.


"Tugasku sudah selesai. Aku ingin berpisah darimu." Luzi menarik tangannya dan berjalan menuju jendela.

__ADS_1


"Apa maksudmu? Sudah ku bilang, kita tak akan pernah berpisah." Dia menatap istrinya dari belakang, istrinya sekarang memang menjadi keras kepala.


"Aku tidak bisa memberikanmu keturunan. Dan putra-putra dari istrimu yang lain sudah aku rawat dengan baik. Semuanya telah usai. Biarkan aku hidup dengan bebas." Ini menyakitkan, dia tak ingin pergi dari hidup Math. Dia adalah cinta pertamanya. Tapi sayang sekali, dia tak pernah bahagia dengan pernikahan ini.


"Aku menikah mu karna aku mencintaimu!"


"Bohong! Aku tidak percaya! Kau hanya mencintai Angela!" jawabnya cepat.


"Aku mencintai semua istri-istriku."


"Omong kosong!" Luzi menggelengkan kepalanya, tak percaya dengan ucapan suaminya. Jelas-jelas hanya Angela yang ada di hatinya.


Dia menahan sesak di dadanya. Terbayang saat dulu bagaimana perlakuan Math terhadap Angela. Dia berlari masuk ke dalam kamar mandi, di sana ia basuh wajahnya dengan air mengalir. Bertahun-tahun dia menghabiskan waktu dengan orang yang salah.


***


Sebuah motor berhenti tepat di hadapannya. Pria yang berada di motor lantas membuka kaca helmnya dan tersenyum ke arahnya. Gadis itu cuek, karna ia merasa kesal sudah terlalu lama menunggu.


"Maaf, kau pasti sudah menungguku lama ya?" Gadis itu diam saja, dia dengan segera memakai helm dan naik ke atas motor.


Selama perjalanan, tak ada obrolan apa pun dari mereka. Kalau sudah begini, jalan satu-satunya adalah memberikannya sesuatu yang bisa membuat moodnya baik.


"Ayo turun." Motornya berhenti tepat di depan kedai es krim. Tak dapat menolak, gadis itu dengan semangat turun. Ini kedai es krim favorit mereka.


"Pesan saja yang kau mau. Mau pesan dua atau tiga, terserah." Gadis itu langsung berlari dan mengantri. Tak sabar menunggu giliran untuk memesan. Hari ini banyak pengunjung yang datang. Dia mesti harus bersabar.


Hari ini dia memesan satu cup es krim mix. Rasa strawberry dengan perpaduan coklat. Melihatnya yang lahap memakan es krim, membuatnya bahagia. Sudah lama mereka berteman dekat. Bahkan banyak yang mengira mereka adalah pasangan kekasih.

__ADS_1


"Maria ...." Jeffry memanggil lembut namanya. Gadis itu mendongakkan kepalanya, menatap Jeffry yang malah memandangi cup es krim miliknya sendiri.


"Ada apa?" tanyanya.


"Hmm ...." Jeffry menggosokkan tangannya, dia terlihat gugup sekarang. "Aku ingin hubungan kita lebih dari ini," ucapnya memberanikan diri.


"Maksudmu?" Maria meletakkan sendok es krimnya, menunggu Jeffry melanjutkan perkataannya.


"Aku ingin kau menjadi kekasihku." Jeffry langsung memalingkan wajahnya, begitu pun Maria. Mereka tampak canggung bersamaan. "Bagaimana, Maria? Apa kau mau?" Kini Jeffry memberanikan diri menatap gadis di depannya. Mungkin ini saatnya mereka meresmikan hubungan mereka. Mereka juga sudah dewasa.


Hatinya berbunga-bunga, ini yang Maria tunggu-tunggu. Sudah lama ia memendam perasaan terhadap Jeffry. Pria itu selalu ada dalam suka duka kehidupannya. Dia juga yang selalu menemaninya. Jeffry adalah pria yang baik dan pengertian. Selalu punya seribu cara untuk membuatnya tersenyum.


Gadis itu perlahan mengangguk dan tersenyum. Dia mau menjadi kekasihnya. Jeffry kegirangan, hingga tak sadar meraih tangannya dan menciumnya tiba-tiba.


"Ah maaf." Jeffry yang sadar langsung meminta maaf, takut jika Maria tidak nyaman dengan sikapnya tadi.


***


Pekerjaan tetaplah pekerjaan, Darien masih harus tetap bekerja di samping dia sedang mengurus pernikahannya yang akan diadakan sebentar lagi. Semuanya serba dadakan, bahkan dia tak banyak memilih untuk dimana acara pernikahannya berlangsung. Dia mempercayakan pada bawahan yang ia tunjuk untuk mengurus semuanya. Valencia juga menurut saja atas apa yang menjadi keputusan calon suaminya.


"Kau jenuh, sayang? Kau mau pulang saja?" Valencia sudah beberapa hari ini menemani Darien di kantor. Dia tak lagi menjadi sekretarisnya, dia hanya sebagai penyemangatnya saja kali ini.


Darien menghampiri Valencia yang sedang duduk bermalas-malasan di sofa ruangannya. Menyentuh lembut puncak kepalanya dan mencium keningnya.


"Jika aku pulang, aku akan tambah bosan sendirian di rumah," ucapnya dengan bibir berkerucut. Sungguh membosankan, karna dia tak diperbolehkan membantu Darien bekerja. Seharusnya dia tetap saja menjadi seorang sekretaris dan akan pensiun nanti saat sudah sah menjadi istrinya. Tapi Darien yang keras kepala, beralasan tak mau Valencia kelelahan.


"Ya sudah, kita cari makan yuk di luar," ajaknya seraya melihat jam dipergelangan tangannya. Masih satu jam lagi sebenarnya menuju makan siang, tapi tak mau membuat Valencia tambah jenuh ia mengajaknya keluar saja.

__ADS_1


__ADS_2