
Matahari perlahan tenggelam. Awan berubah menjadi gelap. Sania sedang menutup jendela kamar dan juga menutup gordennya. Matanya melirik Son yang sedang duduk di ranjang.
"Apa dia tidak bosan seperti itu? Diam dengan mata yang kosong?"
Sania saat ini bingung, dia akan melakukan apa sekarang. Berdua dengan pria dingin sepertinya membuatnya mati kutu.
"Aku mau ke dapur sebentar," ujarnya sambil berlalu menuju dapur, dia berniat untuk mengambil cemilan.
"Sania."
DEG.
Sania terjingkat kaget. Dia terkejut ketika tiba-tiba pundaknya ditepuk oleh seseorang dari arah belakang. Rambutnya yang panjang berayun disertai gerakan kepalanya memutar.
"Kak Darien?" Pria tampan itu berdiri dengan wajah yang datar. Sania tidak tahu kalau Darien berada di rumah. Karna semenjak Son sakit dan dirawat di rumah sakit, Darien tak pernah kelihatan. Menjenguk Son pun tidak.
"Kau mau ke mana?" Tatapan matanya membuatnya melemah. Tak pernah ada yang menatapnya seperti itu sebelumnya. Seolah matanya berbicara.
"Ke dapur, Kak. Kakak dari mana?" Dilihatnya penampilan Darien yang berbeda. Dia memakai baju casual tidak seperti sehabis pulang bekerja. Bahkan rambutnya tak disisir dengan rapi. Tapi tak menutupi ketampanannya sejak lahir.
Suasana terasa sangat sunyi, hanya ada mereka berdua di sana. Padahal hari belum begitu gelap. Tetapi pelayan tak ada satu pun yang kelihatan.
"Kakak dari suatu tempat. Son ada di kamar?" Sania mengangguk tak berapa lama Darien pun melangkah pergi. Dia berjalan menuju kamar Son. Entah apa yang akan Darien lakukan di sana. Sania yang tadinya ingin ke dapur menjadi penasaran. Diam-diam dia mengikuti langkah Darien.
Pintu kamar terbuka, Darien melangkah masuk. Ada sebuah rasa bersalah sedikit di dalam hatinya. Hanya sedikit.
"Seperti ini dirimu sekarang?" Son yang sedang melamun terkejutkan dengan suara menyebalkan itu. Darien, kakaknya yang paling menyebalkan.
"Baru muncul sekarang? Aku kira ayah telah menghabisimu," ujarnya mengejek membuat tangan Darien mengepal. Dia memang anak kesayangan. Pantas dia berpikiran seperti itu.
__ADS_1
"Jika ayah menghabisiku berarti aku yang telah duluan menghabisimu," jawabnya dengan sarkas.
Son tidak takut, bahkan bibirnya menyunggingkan senyuman mengejek. "Habisi saja aku jika kau memang menginginkan aku tiada," tantangnya kemudian.
Sania tidak kuat mendengar perdebatan mereka. Entah apa yang membuat keduanya saling membenci. Bahkan tak tanggung-tanggung mereka melemparkan nada kebencian yang menyesakkan dada.
"Sayang sekali aku masih memiliki hati. Jadi, kau tidak perlu khawatir. Aku lah yang khawatir, jika suatu saat kau lah yang akan melenyapkan aku. Karna dirimu tak memiliki hati, kau hanya memiliki ego yang tinggi." Perkataan Darien membuat Son memanas. Dia mencengkeram erat sprei. Darien benar-benar mengejeknya.
"Apa? Kau mau apa? Melihat saja tidak bisa. Kau ingin memukuliku? Kemari lah!" Darien menantangnya dengan tawanya yang mengejek. Lalu dia berlalu pergi, meninggalkan Son yang menahan amarah.
"Sania!" Darien kaget melihatnya Sania di depan pintu. Mata gadis itu terlihat ketakutan. Sudah pasti Sania mendengar semua apa yang dia ucapkan pada Son barusan. "Kau sudah lama di sini?" tanyanya dengan tenang.
"Iya." Jawaban Sania membuatnya tidak enak hati. Sania memang tau hubungannya dengan Son tidak baik, tapi perlu diakui baru kali ini Darien mengatakan hal yang tidak sepantasnya dia ucapkan pada adiknya.
"Lupakan apa yang barusan kau dengar. Aku tidak akan menyakiti Son. Dia adikku. Aku hanya menggertaknya saja." Sania mengangguk, dia tahu bahwa Darien adalah orang yang baik. "Istirahat lah. Sudah malam."
***
"Aku kesiangan!" Sania langsung turun dari ranjang. Dia melihat kamar mandi terbuka. Ada Son di dalam sana. Pria itu sedang cuci muka.
Son memang sudah terbiasa jalan ke dalam kamar mandi dengan sendiri. Tak meminta bantuan. Son sudah hapal dengan letak benda di sekitarnya.
"Kau mau mandi? Kenapa pintunya tidak ditutup?" Karna tak ada jawaban darinya, Sania pun akhirnya menutup pintu.
Sania bergegas ke dapur. Dia ingin memastikan bahwa makanan sudah siap.
"Nona, Anda baru bangun?" Sania menguap pertanda dia masih mengantuk. Itu karna dia semalaman tidak bisa tidur. Dia kepikiran dengan ucapan Darien semalam. Sania sedang mencari cara untuk memperbaiki hubungan keduanya.
"Iya. Ini makanan sudah siap ya? Tolong siapkan untuk Son agar aku yang membawanya ke kamar."
__ADS_1
Sambil menunggu pelayan menyiapkan makanan untuk Son, Sania berkeliling sebentar. Saat langkahnya hampir mencapai pintu utama, terlihat ada sebuah mobil mewah masuk ke halaman rumahnya. Pelayan datang dan memberitahu bahwa ada seorang wanita yang bertamu.
Sania menunggu sosok wanita itu turun dari mobil. Matanya tak berkedip disertai jantungnya yang berdebar-debar. Wanita siapa? Apakah Son memiliki teman wanita?
"Meylin." Satu nama lolos dari bibirnya. Sedetik kemudian, bibirnya langsung terkatup rapat. Dia tidak menyangka bahwa Meylin akan datang ke rumah. Dia pasti ingin menemui suaminya.
"Hai, Sania," sapanya sambil melambaikan tangan. Wanita itu semakin mendekat. Sania pun terpaksa mengembangkan senyumannya. Jujur saja, Sania tidak terlalu menyukai Meylin. Karna awal pertemuan dengannya, sosok Meylin seperti tak menganggapnya.
"Aku ingin bertemu dengan Son. Di mana dia? Bisakah kau panggilkan dia sekarang?" suruhnya. Dia mendudukkan tubuhnya di sofa. Sejenak dia menatap Sania yang masih diam berdiri. "Hei! Kenapa diam, Sania?" Meylin membuyarkan lamunannya. Setelah tersadar, Sania langsung jalan ke arah kamarnya.
"Iya, Paman. Son akan ke makam sekarang." Saat Sania sampai di depan pintu kamar, ternyata sudah ada Paman Leo di sana. Paman Leo sedang membantu Son mengancingkan kemeja yang dipakainya. Hari ini dia memilih memakai kemeja hitam dan celana hitam. Semuanya serba hitam. Dia tampak sangat gagah hari ini.
"Makam? Ke makam siapa?" tanyanya dalam hati. Meylin itu kan sepupunya Vennie, tapi bukankah waktu itu Son sudah mengunjungi makam Vennie? Lalu sekarang ingin ke sana lagi kah?
"Di depan sudah ada Meylin. Apakah kau mau pergi dengannya?" Dadanya mendadak sesak, dia jadi tahu mengapa Son bangun pagi dan bersiap-siap sepagi ini itu karna dirinya sudah ada janji dengan wanita itu.
"Meylin? Dia datang?" lirihnya. Suaranya sangat lirih, tapi Sania masih bisa mendengarnya. Tak mau berlama-lama memandangi Son yang sedang bersiap, Sania memilih untuk membersihkan diri. Dia masuk ke dalam kamar mandi.
Di sana Sania termenung. Bayangan keduanya menghantui pikirannya.
"Tunggu!" Sania teriak sekencang-kencangnya. Mobil yang ditumpangi Son dan Meylin hendak jalan. Dengan cepat Sania menahannya. Dia tidak rela jika mereka pergi berduaan. Walaupun ada Paman Leo, dia tidak rela.
Sania membuka pintu mobil belakang, dan duduk di sana. Dia duduk disebelah Son, membuat pria itu berada ditengah-tengah antara istrinya dan juga Meylin.
"Aku kira kau tidak ikut!" ujar Meylin sedikit sebal.
.
.
__ADS_1
.
.