
BRAKKKKK!!!!
Son menutup pintu dengan membantingnya kesal. Son dan Darien memang sedari kecil tidak pernah akur.
"Selalu menyebalkan!!!!" gerutunya.
Darien segera merogoh sakunya, mengambil ponsel untuk menelpon seseorang.
"Ayah, tolong jujur pada Darien. Son sudah bisa melihat, kan? Dia pergi untuk operasi mata?" Saat panggilannya diangkat, Darien langsung menghujani Math dengan beberapa pertanyaan.
"Jawab, Ayah!" sergahnya.
"Iya, Darien. Son sudah bisa melihat."
DEG.
Tangannya seketika melemas, dia menoleh pada pintu kamar adiknya.
"Apa semua ini gara-gara Sania?"
Ini seperti mimpi, adiknya bertahun-tahun memilih untuk buta sekarang sudah bisa melihat kembali. Dia seharusnya merasa senang, tapi mengapa ada rasa tak terima di hatinya.
Son yang sudah terlanjur bangun gara-gara ulah kakaknya akhirnya dia memilih untuk segera mandi. Entah apa yang akan dia lakukan hari ini. Dia bingung sekarang. Dulu dia hanya menghabiskan waktunya dengan duduk dan tidur saja, sekarang saat matanya sudah kembali seperti semula harusnya dia memiliki satu kesibukan. Bekerja? Iya, dia harusnya bekerja di perusahaan kembali. Walaupun perusahaan itu masih milik ayahnya. Dia dulu bercita-cita ingin mendirikan perusahaan sendiri, tapi kecelakaan itu mengubah semuanya. Mengubah kehidupannya yang semula indah menjadi gelap tak bercahaya.
TOK!
TOK!
TOK!
Saat Son sedang melamun, terdengar ketokan pintu kamarnya yang lagi-lagi membuatnya berdecak sebal. Dengan langkah yang malas dia membuka pintu.
"Paman ...." Mulutnya yang ingin memarahi orang yang ada di depan pintu seketika ia urungkan. Dia melihat Paman Leo yang tersenyum ke arahnya. Beliau begitu bahagia melihat tuannya bisa melihat kembali.
"Selamat pagi, Tuan Son. Hari ini saya akan antarkan Anda bertemu dengan nona Sania. Anda harus menyapanya dan tentunya Anda harus melihat nona Sania untuk pertama kalinya," ujar Leo tanpa melunturkan senyumannya.
"Untuk apa! Aku sebentar lagi akan berpisah! Antarkan Son mengurus surat perpisahan saja!" Son yang keras kepala masih saja menginginkan untuk berpisah. Entah apa yang ada di otaknya saat ini.
"Tuan—"
"Son mau mandi dulu, Paman." Son berlalu pergi, dia masuk ke dalam kamar mandi dengan hati yang gundah. Dia tak pernah menginginkan pernikahan ini, tapi mengapa orang terdekatnya menginginkan hubungan mereka terus berlanjut.
Di depan cermin dia berkaca. Sudah lama sekali dia tak melihat wajah tampannya. Kemeja polos berwarna coklat muda dengan perpaduan celana hitam. Dia tampak gagah hari ini. Rambutnya yang ia sisir rapi menambah kesan seksi. Lihat saja, badannya masih sebagus dulu. Dada bidangnya dan otot-ototnya seakan saling berpadu.
Hari ini, dia benar-benar ingin mengurus surat perpisahan mereka. Tapi tanpa diketahui Son, Leo diam-diam melajukan mobilnya ke suatu tempat. Hingga Son akhirnya perlahan sadar, bahwa jalan yang ia lewati adalah area perumahan.
"Paman, di mana ini?" Mobil masih melaju di sebuah jalanan yang lengah. Kanan kiri berdiri rumah-rumah yang mewah.
"Tuan, lihatlah." Mobil berhenti tepat di sebuah rumah yang asri. Banyak tanaman tumbuh subur di halaman depan rumah itu. Seorang gadis cantik yang memakai dress pendek dengan rambut diikat ke atas, terlihat sedang menyirami tanaman-tanaman itu. Ia ditemani oleh seorang pria tua yang sudah beruban lebat.
"Lihat apa? Apa yang Paman tunjuk?" Son masih tidak mengerti. Arah telunjuknya menunjuk ke sebuah pohon membuat Son tidak mengerti apa maksudnya. "Itu pohon. Paman mengetesku? Aku ini buta beberapa tahun saja, aku tahu mana pohon dan mana langit!" ucapnya kesal.
"Bukan itu, Tuan. Lihatlah dibalik pohon itu. Itu nona Sania." Leo memberitahukan tentang sosok Sania. Kebetulan sekali Sania bergerak mendekat ke arah gerbang, membuat pandangan Son tidak terhalang. Lama dia menatap gadis itu, hingga tak sadar sudah beberapa menit Son tak berhenti menatapnya.
"Dia Sania? Gadis ingusan? Dia benar-benar gadis ingusan!"
__ADS_1
Son melihat Sania yang seperti anak remaja pada umumnya. Tingkahnya masih seperti anak kecil. Lihatlah, dia berlari-lari mengejar seekor kucing sambil tertawa terbahak-bahak. Gadis sepertinya yang menjadi pilihan ayahnya? Dia sepertinya hanya ingin hidup enak makanya mau menikah dengannya.
"Paman, Son tidak percaya." Leo yang ikut tertawa melihat tingkah Sania tiba-tiba terkejut dengan perkataannya. Ia pikir Son akan terpesona, tapi malah tuannya ini tidak percaya.
"Tuan tidak percaya bahwa itu nona Sania? Ayo kita turun," ajaknya. Dan sayang sekali Sania sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah. "Tuan, ayo kita temui nona Sania." Son menggeleng pelan, dia tidak mau.
"Tuan, dia masih istri Anda. Nona Sania harus tahu kalau Anda sudah bisa melihat. Dia pasti ikut senang." Leo berusaha membujuknya agar mau masuk ke dalam rumah.
Paman Raul yang hari ini tidak masuk kerja merasa familiar dengan mobil yang terparkir di depan rumahnya. Dia berniat menghampiri, tapi ternyata seseorang telah keluar dari mobil itu. Dua pria yang tak asing menurutnya. Dia mengenalinya yaitu Leo dan seorang pria berkacamata hitam.
"Selamat pagi, Tuan Raul," sapa Leo.
"Selamat pagi, Paman," sapa pria berkacamata hitam itu dan seketika membuka kacamata hitamnya, membuat Raul melongo. Pria itu tersenyum ke arahnya. Dia menyadari itu Son dari awal, tapi penampilannya hari ini yang terlihat berbeda. Dia semakin gagah saja.
"Son! Apa ini kau?" Dia mengguncang tubuh suami dari keponakannya. Merasa terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba. "Kau? Kau apa bisa melihatku?" Melihat tatapannya seperti menatapnya dengan sungguhan. Ia tahu, mata itu tak buta lagi. Dia bisa membedakannya.
"Iya, Paman. Son sudah operasi mata." Son yang punya sopan santun sangat menghormati Paman Raul. Sebisa mungkin dia bertingkah baik di depannya.
"Syukurlah. Paman ikut senang. Ayo masuk." Paman Raul mengajaknya untuk masuk. Mereka berbincang ringan. Dan tak lupa Son juga mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya Bibi Lotus. Dia mendapatkan kabar dari ayahnya.
"Bentar ya, Paman panggilkan Sania."
Paman Raul tak sabar ingin memberitahukan Sania tentang operasi mata yang telah dilakukan Son. Son yang menghilang beberapa hari ini, ternyata untuk melakukan operasi. Sania harus segera tahu ini. Bahwa dia tak lagi mempunyai suami yang buta. Suaminya telah menjadi manusia yang sempurna.
TOK!
TOK!
TOK!
TOK!
TOK!
TOK!
Raul sudah berdiri lama, tapi tak ada sahutan di dalam.
"Sania ...." panggilnya kembali. Dan terdengar suara sahutan dari dalam.
"Sania sedang berganti pakaian. Ada apa, Paman?"
"Son ada di luar, Sania. Cepat temui dia."
Sania menghentikan aktivitasnya sejenak, dia seperti mendengar nama Son disebut. "Apa, Paman?" tanya Sania ingin Pamannya mengulang kembali perkataannya.
"Temui Son cepat! Dia sudah menunggumu sedari tadi," jawab Paman Leo lagi.
"Son? Dia sudah pulang? Apa dia kemari ingin memberikan surat perpisahan?"
"Paman, Sania tidak mau bertemu! Tolong terima saja surat yang dia berikan." Sania menolak untuk menemuinya. Untuk apa? Sebentar lagi mereka akan berpisah. Jadi, tak perlu bertemu. Lagi pula dia pergi juga tanpa pamit, lalu sekarang pulang tanpa mengabari? Sania tidak pernah dianggap.
Paman Raul menghampiri Son dan Leo di ruang tamu lagi. "Sebentar lagi Sania akan kesini. Dia habis mandi." Sayang sekali perkataan Sania yang terakhir tidak terdengar olehnya, karna Raul sudah lebih dulu beranjak pergi.
Hingga sudah beberapa menit mereka menunggu kedatangan Sania. Tapi gadis itu tak muncul juga. Raul jadi bingung sendiri.
__ADS_1
"Paman tadi mengatakan bahwa suaminya kesini. Apa mungkin Sania sedang berdandan dulu? Ah anak itu memang suka mengulur-ulur waktu." Raul yang tidak enak hati akhirnya memilih untuk memanggilnya kembali.
"Paman tunggu!" Son berdiri, dia menyuruh Raul untuk duduk saja. Son lah yang akan menemui Sania di kamarnya.
TOK!
TOK!
TOK!
TOK!
TOK!
Son mengetok pintu dengan cara maraton, menimbulkan berisik. Dan suara ketokan pintu beberapa kali dengan suara yang keras, membuat Sania yang sedang membersihkan kamar merasa kesal dibuatnya.
"Paman, Sania bilang tidak mau bertemu dengan Son! Dia hanya ingin memberikan surat perpisahan, terima saja!"
KLEKK!!!
Sania membuka pintu dengan kesalnya. Sudah ia katakan berulang kali, tapi kenapa Pamannya tidak mengerti juga pikirnya. Dan ternyata yang ada di depan kamarnya adalah Son. Suaminya sendiri. Dia memandangi wajah Son yang semakin tampan. Dengan penampilan berbeda hari ini.
"Kau ...."
"Apa kau pantas disebut seorang istri? Yang mengacuhkan suaminya! Yang berteriak lantang tak ingin menemui suaminya! Kau ini istri tidak tahu diri! Suamimu dibiarkan menunggu lama!" cerocosnya panjang lebar.
"Ka-kau, sudah pulang?" Sania gugup sekarang. Dia seakan mati kutu dibuatnya.
"Aku ingin istirahat!" Kedua tangannya dia acungkan sambil meraba-raba sekitarnya. Sania dengan sigap menuntun langkahnya. "Kau tadi kesini dengan siapa?" tanyanya karna ia tak menggunakan kursi roda atau pun ada orang yang menemaninya sampai di depan pintu kamar Sania.
"Apa itu penting dibahas?" tanyanya dengan nada tinggi.
"Tidak. Tidak penting." Sudah seminggu lebih mereka tidak bertemu. Harusnya Sania merasa rindu, tapi kenapa dia merasa kesal saat bertemu dengannya. Suaminya ini tak pernah membuatnya tertawa satu hari saja. Sukanya bikin kesal saja.
"Apa maksudmu tentang surat perpisahan?" Son saat ini sudah di atas ranjang. Dia bersender di ranjang dengan kacamata hitam masih bertengger di hidungnya. Di balik kacamata hitamnya dia bisa leluasa memandangi wajah polos istrinya.
"Iya kau kan menginginkan perpisahan kita. Kau menghilang selama beberapa hari ini untuk mengurus semuanya, kan? Aku tahu itu," ucapnya menebak dengan percaya diri.
Tawa Son meledak. Dia benar-benar menertawai pikiran pendek dari gadis polos di hadapannya. Dia benar-benar bisa memikirkan sampai kesitu.
"Kenapa tertawa!" Sania memukul lengannya pelan. Tidak terima dengan Son yang menertawainya.
"Tidak semudah itu jika ingin berpisah. Kau harus memberikan sesuatu yang berharga untukku dulu," ucapnya menyeringai.
Dahi Sania mengernyit. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lagi-lagi Son dibuat tertawa, tapi tertawa dalam hati.
"Berharga apa? Barang mahal?" tanyanya dengan polos.
"Kau harus menghabiskan satu malam denganku!" ucapnya membuat bulu kuduk Sania merinding. Untuk soal ini Sania langsung paham.
"Apa maksudmu! Dasar! Kau yang ingin perpisahan ini. Kenapa malah aku yang jadi korbannya! Berpisah berpisah saja, jangan malah merugikan orang lain!" Sania yang kesal mengutarakan kekesalannya bertubi-tubi. Kepulangan Son malah membuat masalah hidupnya bertambah saja. Harusnya dia tak usah pulang saja, Sania bisa tenang setiap saat.
.
.
__ADS_1
.