ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 29 BERTEMU RAUL


__ADS_3

"Makanannya masih utuh, Tuan. Tuan Son tidak menyentuhnya sama sekali," ucap seorang pelayan senior memberitahu pada Darien. Pria itu berdecak kesal. Tak habis pikir dengan sosok adiknya yang keras kepala dan selalu menyusahkan menurutnya.


"Apa yang dia inginkan?" tanyanya kesal. Ditatap pelayan senior tadi, jika harus memarahinya itu tidak lah pantas. Pelayan itu tidak bersalah. Kalau pun mereka harus menanyakan itu, pasti Son tidak mau menjawab dan bahkan mengusirnya.


Pelayan itu hanya bisa menunduk pasrah. Menghadapi Son memang tidak ada yang bisa. Bi Mar yang sebagai pelayan paling senior di rumah utama pun sering merasa kewalahan menghadapi sikap Son.


"Pergi lah dan istirahat. Son saya yang urus." Darien mau tidak mau menghampiri adiknya lagi. Dia berjalan dengan langkah yang malas. Kenapa harus dia? Dia yang selalu disuruh Math menjaga adiknya.


"Sampai kapan kau tidak mau makan!" Sesampainya di dalam kamar, Darien langsung berkata lantang. Emosinya sudah sampai di ubun-ubun.


CRANGGGGG!!!!!


Darien yang kesal menumpahkan semuanya yang berada di atas nampan. Son yang sedang berbaring lekas bangun karena terkejut.


"Jangan membuat masalah di rumahku!" Son ikut kesal. Tak merasa takut sedikit pun mendengar kekacauan yang dilakukan Darien.


"Apa kau bilang? Rumahmu? Ini rumahmu? Jangan sombong!" Dengan amarah yang masih menggebu, Darien menyeret Son keluar kamar. Dia menariknya dengan paksa. Son yang tidak tahu dengan perlakuan kasar Darien yang tiba-tiba, dia hanya bisa pasrah. Dirinya belum siap melakukan perlawanan disaat Darien sudah menariknya paksa. Kakinya terseret-seret bersamaan dengan langkah tegas dari Darien. Dia tampak tak peduli pada Son yang berjalan terseok-seok.


"Tuan, Tuan, tolong hentikan!" Pelayan senior yang baru saja tadi bertemu Darien, mencoba menghentikan perlakuan kasar Darien pada Son.


"Pergi! Saya bilang pergi!" Darien tak segan mengusir pelayan senior tadi. Walaupun pelayan tadi berusaha melepaskan cengkraman erat Darien pada tangan Son.


"Lepas!" Kini Son dengan kuat melepaskan cengkraman tangannya. "Kau mau membawaku ke mana? Jika kau menginginkan aku pergi, tidak begini caranya. Aku bisa melakukannya sendiri!" ucapnya dengan menantang.


"Aku sudah muak denganmu! Kau penyebab semua kehancuran yang ada di hidupku! Aku tidak mau mengurus adik sepertimu. Yang tidak tahu terima kasih!" Sekali lagi Darien menyeretnya ke sebuah ruangan kosong. Ruangan yang sengaja tidak ditempati. Letaknya ada di bawah. Darien membawanya masuk dan menguncinya dari luar.


"Membusuk lah kau di dalam sana!" geramnya.

__ADS_1


"Tuan, apa yang Tuan lakukan? Tuan Math pasti akan marah. Tuan Son juga belum makan dan minum obat. Tuan tolong berikan kuncinya pada saya." Pelayan senior itu memohon dengan sangat, dia benar-benar mengkhawatirkan keadaan putra majikannya. Apa lagi Tuan Math telah menitipkan amanah padanya. Jika terjadi sesuatu pada Son, dia lah orang pertama yang akan kena amarahnya.


"Saya bilang pergi! Dia adalah adikku. Aku berhak atasnya. Kembali ke kamar dan beristirahat lah." Darien pun berlalu pergi meninggalkan pelayan senior tadi yang masih diam mematung di depan pintu ruangan kosong itu.


"Jangan coba-coba hubungi ayah." Darien memeringati pelayan senior tadi sebelum benar-benar pergi.


"Tuan, Anda tidak apa-apa? Maafkan saya, Tuan." Walaupun Son sering membuatnya ketakutan dengan kegilaannya, tapi dia merasa kasihan dengan Son yang buta. Dengan berat hati dan mata yang basah, pelayan senior berjalan menjauh dari ruangan tersebut. Hatinya begitu tersayat melihat kejadian tadi. Tapi dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.


***


Kedua kakinya berhenti di depan sebuah rumah kecil yang terlihat berumur. Dinding-dindingnya sudah mengelupas termakan usia. Atapnya bahkan berlumut selama bertahun-tahun. Halaman depan yang tak begitu luas ia pijaki pelan-pelan karna tanah yang basah akibat hujan yang baru saja reda.


Pintu yang usang dia ketuk beberapa kali. Tampak tak ada suara di dalam rumah. Dia beralih menatap rumah yang berada di sebelah. Seorang penghuni rumah sebelah keluar dan memandangi dirinya.


"Anda mencari siapa, Nona?" tanyanya dengan ramah. Sania berjalan mendekat.


"Oh, Raul. Dia sudah berangkat kerja tadi pagi. Mungkin akan pulang malam nanti." Tetangga itu menatap Sania lamat-lamat. Seorang gadis cantik berpenampilan anggun mau mendatangi pedesaan yang sangat terpelosok demi mencari pamannya yang hidup di rumah tua yang usang.


"Kira-kira jam berapa paman Raul pulang biasanya?" tanyanya lagi ingin tahu.


"Tidak mesti, Nona. Terkadang sampai jam 9," jawabnya mengira.


"Di rumah tidak ada orang? Lalu bibinya saya di mana? Apa ikut bekerja dengan paman?" Sania menanyakan keberadaan bibinya tetapi tetangga itu malah menautkan alisnya, merasa bingung.


"Bibi? Raul ini tinggal sendirian. Tidak ada siapa-siapa di sini selain Raul," jawabnya dengan jelas.


"Sendirian? Lalu Maria? Sepupu saya juga tidak tinggal di sini?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Aduh, siapa lagi Maria. Raul itu datang ke sini sendirian, Nona. Dia tinggal di sini sendirian. Tidak pernah membawa siapa-siapa."


Penjelasan dari tetangga tadi, sudah cukup membuat Sania terpukul. Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa Pamannya menjauhkan diri darinya dan memilih tinggal sendirian di desa terpencil seperti ini. Sebenarnya apa yang terjadi pada keluarganya? Mengapa menjadi terpecah belah seperti ini?


Sambil menunggu kepulangan pamannya yang entah bekerja di mana, Sania memilih untuk ke pasar. Dia berbelanja keperluan untuknya dan juga pamannya nanti saat pulang. Membeli pakaian dan juga makanan untuk di bawa pulang. Dan tak lupa membelikan untuk sopirnya.


"Nona, kita akan di sini berapa lama lagi? Bukan kah tuan Math mengijinkan kita sehari saja di sini? Seharusnya malam ini kita sudah perjalanan pulang, Nona," ucap Pak Sopir merasa ketakutan. Dia takut jika pulang nanti, dirinya yang akan kena amarah.


"Sania belum bertemu dengan paman, Pak. Sebentar lagi paman pasti pulang."


Terdengar suara sepeda motor mendekat. Lampu dari motor itu menyilaukan matanya. Tak dapat melihat dengan jelas siapa yang mengendarainya. Saat motornya berhenti tepat di depan rumah, Sania pun berdiri menyambut kedatangan seseorang yang sudah lama tak ia jumpai.


Di dalam ruangan yang sederhana. Mereka duduk berhadapan. Raul menggeser satu cangkir teh yang baru saja dia buat untuk Sania. Dia tak berani menatap Sania, dia merasa malu sekarang.


"Paman ...." Suara Sania yang dia rindukan. Keponakan satu-satunya yang dia miliki. Tingkah cerianya yang sudah lama tak dia lihat.


"Sania, pulang lah. Paman tidak apa-apa. Paman baik-baik saja di sini. Suami mu pasti mencari mu." Raul memalingkan wajahnya. Dia menutupi kesedihannya. Keadaannya sekarang, tidak mencerminkan Raul yang sebenarnya. Dia merasa rendah di hadapan keponakannya.


"Paman, Sania mencari Paman. Sania ke rumah tapi kenapa rumahnya sudah dijual?" Sania mencoba membujuk pamannya agar mau bercerita. Tapi Raul masih tak mau membuka suara.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2