
Bab 30 SON SAKIT
"Nona, tuan Son masuk rumah sakit."
Mendengar kabar bahwa suaminya masuk rumah sakit. Sania bergegas pulang. Di dalam perjalanan hatinya tidak tenang. Bagaimana mungkin baru saja ditinggal sehari, Son sudah jatuh sakit. Apa orang di rumah tidak ada yang menjaganya? Dia begitu khawatir sekarang, bisa-bisanya dia tak ada di sisinya saat Son sakit.
Beberapa mobil terlihat berdatangan di sebuah rumah sakit ternama. Semuanya keluar dari dalam mobil dengan tergesa, tak sabar melihat keadaan seseorang yang sangat mereka cintai.
"Math, kenapa Son bisa masuk ke rumah sakit? Apa dia tidak minum obat secara rutin?" Luzi mengikuti langkah Math yang juga berjalan tergesa, tapi mulutnya tak berhenti berbicara.
"Math! Aku kan bilang, seharusnya Son tetap lah tinggal bersama kita di rumah. Biar Son banyak yang mengawasi." Luzi tak berhenti berbicara, tapi kali ini Math hanya diam. Biasanya dia akan membentaknya tapi kali ini Math mendengar semua ocehan istrinya.
"Ruangan Son di mana?" tanyanya pada Leo yang sudah lebih dulu sampai di rumah sakit.
"Sebelah sana, Tuan. Tapi tuan Son sedang diperiksa oleh seorang dokter. Tunggu saja sebentar."
Math tak kalah cemas dari Luzi. Dia beberapa kali mengusap wajahnya dengan kasar. Dia begitu terkejut saat Leo memberi tahu bahwa Son tak sadarkan diri.
Rico dan Keyla terlihat berjalan mendekat. Rico menggandeng istrinya.
"Ayah, di mana Son?" Rico menanyakan keberadaan Son. Tapi sosok pria yang membuatnya kecewa berdiri di belakang ayahnya. "Darien!" panggilnya dengan suara menahan amarah.
"Sudah, diam!" Math menahan Rico yang akan menghampiri adiknya. Math tahu bahwa apa yang menimpa Son sekarang adalah ulah dari Darien. Tapi ini adalah rumah sakit, sebisa mungkin mereka menjaga nama baik keluarga.
"Ayah, tapi dia—"
"Sssttttt. Diam lah, Rico." Math mencoba menenangkan Rico.
"Darien, hari ini kau ke perusahaan saja. Nanti siang Ayah akan menemui mu di sana," ucap Math tanpa menatap putranya. Dia juga memendam kekecewaan yang teramat besar padanya.
"Ibu, Darien berangkat ke perusahaan dulu," pamitnya dan mencium tangan Luzi. Dia sangat menyayangi Luzi.
__ADS_1
"Hati-hati, Darien." Seorang Ibu pasti akan selalu menyayangi anak-anaknya, tak terkecuali sebesar apapun kesalahan yang telah dilakukan oleh anaknya.
"Keyla, duduk lah. Kau harus banyak istirahat." Luzi mengajaknya untuk duduk di kursi. Sedangkan Rico dibawa Math menjauh. Math ingin mengatakan sesuatu padanya.
"Rico, Ayah tahu kau kesal dengan Darien. Tapi jangan membencinya. Darien pasti punya alasan kenapa dia tega berbuat seperti itu. Ayah tidak mau hubungan kalian merenggang karna masalah salah paham ini. Tolong jaga hubungan baik sesama saudara, Rico."
"Ayah, dia sudah membahayakan nyawa Son. Rico tidak habis pikir dengannya."
"Sudah. Sudah. Darien juga pasti tidak akan menyangka kalau akan seperti ini. Jangan memusuhi adikmu."
Pintu ruangan terbuka. Seorang dokter dan beberapa perawat pun keluar. Math langsung menghampiri dan menanyakan keadaan putranya.
"Tuan Son saat ini sedang beristirahat. Tolong jangan di ganggu dulu. Tidak ada masalah serius terkait dengan keadaannya. Dia hanya mengalami dehidrasi dan juga nutrisi yang kurang. Selebihnya dia tidak boleh kelelahan dan juga jangan membuatnya stress," kata Dokter.
"Terima kasih, Dok."
Math perlahan masuk ke dalam ruangan di mana Son di rawat. Dia melihat Son yang sedang berbaring. Bibirnya pucat serta tubuhnya terlihat lemah. Dilihat-lihat tubuhnya semakin kurus.
"Son, apa kamu tidak bahagia?" Math bertanya dalam hati. Dia tidak kuasa melihat keadaan putranya yang seperti ini.
"Sania sedang berada di rumah pamannya. Sebentar lagi sepertinya akan datang. Katanya masih di dalam perjalanan." Keyla pun mengangguk. Sudah lama dirinya tidak bertemu dengan Sania. Sosok gadis remaja yang tiba-tiba masuk ke dalam keluarga kaya raya dan menjadi istri dari seorang pria buta. Sungguh takdir yang beruntung.
"Itu sepertinya, Sania." Keyla menunjuk seorang gadis yang sedang berjalan tergesa. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sesuatu.
Luzi melambaikan tangan berharap Sania melihatnya. Dan untung saja Sania langsung melihat ke arah Luzi.
"Ibu, maaf Sania baru datang. Ruangan Son di mana?" Luzi menunjukkan ruangan Son, tapi dia bilang bahwa di dalam sedang ada Math.
"Masuk lah, tidak apa-apa," ucap Luzi.
Sania pun akhirnya masuk. Benar saja, sudah ada Math di dalam sana. Sania melihat pemandangan langka di hadapannya. Math terlihat menyeka air matanya yang hampir menetes. Saat melihat Sania datang, dia langsung membalikkan tubuhnya.
__ADS_1
"Sania kau sudah pulang." Math menggeser tempatnya berdiri. Dia menyuruhnya untuk mendekat ke arah Son. "Temani Son sampai dia membuka mata." Math pun melangkah keluar ruangan. Kehadiran Sania sudah membuatnya tenang untuk meninggalkan Son.
Kedua mata Sania tak berhenti menatap sosok pria yang ada di hadapannya sekarang. Wajahnya yang pucat tak mengurangi ketampanannya sedikit pun. Matanya beralih pada jari jemarinya. Dia menatapnya dengan perasaan campur aduk. Tangan itu yang sering ia gunakan untuk melukainya. Membuatnya kesakitan dan ketakutan. Tapi di sisi lain, dia membayangkan andai saja tangan itu ia gunakan untuk menggenggam erat jari jemarinya.
"Ah, Sania hentikan khayalan konyolmu!"
Saat masih memandangi matanya yang terpejam, tiba-tiba kelopak matanya bergerak seakan ingin terbuka. Sania langsung kelabakan, dia ingin pergi tapi dia baru ingat bahwa Son buta.
"Bodoh! Diam lah di sini saja, Sania. Dia kan buta."
Dan benar saja, Son perlahan membuka matanya. Matanya yang kosong. Tangan satunya yang tidak diinfus, dia gunakan untuk memegangi kepalanya yang saat itu terasa sakit. Sania bisa melihat jelas bahwa Son merasa kesakitan. Sania langsung memencet tombol yang berada di sampingnya, untuk memanggil seorang perawat.
Tak lama kemudian, ada seseorang yang datang. Seorang perawat wanita langsung mengecek keadaan Son yang sudah sadar. Sania memberi isyarat untuk perawat tadi agar tidak memberitahukan keberadaannya di dalam ruangan.
"Tuan, Anda kan sudah sadar. Saya akan mengambilkan makanan dan setelah makan Anda harus segera minum obat," kata perawat dengan ramah. Sania mengikuti langkah perawat, dia menghentikan langkahnya saat sudah di luar ruangan.
***
"Ke perusahaan Darien, sekarang!" suruhnya pada sang sopir. Math yang sedari tadi memendam amarahnya, kini tak akan dibiarkan begitu saja. Darien harus menerima hukuman darinya.
Sesampainya di perusahaan putranya. Math dengan emosi yang menggebu, membuka pintu ruangan putranya dengan kasar.
PLAK!
PLAK!
Dua tamparan keras mengenai pipinya. Darien seakan pasrah, saat Math menamparnya dengan tiba-tiba. Dia tertunduk dengan air mata yang berlinang. Sungguh memang Son adalah anak kesayangan ayahnya.
.
.
__ADS_1
.
.