
Suara motor terdengar berhenti di halaman rumah. Sania yang sedang berada di meja makan lantas berjalan menuju depan. Dia penasaran dengan siapa yang datang sepagi ini.
"Jeffry ...." Kedua matanya benar-benar tak salah melihat siapa sosok pria yang baru saja turun dari sepeda motor. Wajah pria itu juga tampak terkejut dengan kehadiran Sania. Tapi pria itu perlahan mengembangkan senyumnya membuat suasana sedikit cair.
"Sania, kau di sini?" tanya Jeffry berjalan mendekat.
Suara langkah kaki yang keras mengalihkan perhatian keduanya.
"Ayo berangkat! Aku sudah terlambat!" ujar Maria membuat Jeffry buru-buru menaiki sepeda motor. Sania yang ada di sana hanya bisa memandangi mereka dengan keheranan.
"Maria! Kau belum sarapan!" teriakan Raul tak didengar Maria. "Anak itu selalu meninggalkan sarapannya!" keluhnya.
"Paman, Maria dengan Jeffry sedang dekat?" Raul baru menyadari bahwa disitu ada Sania.
"Ah, mereka ya mereka bukankah berteman? Paman tidak tahu, Sania. Yang jelas saat keluarga kita sedang terpuruk, Jeffry sering mengunjungi Maria." Sania hanya mengangguk kecil. Jeffry memang pria yang baik. Dia mendukung jika Jeffry memiliki hubungan dengan sepupunya-Maria.
"Masuk lah, Sania. Kita sarapan bersama," ajak Paman Raul.
Di meja makan sudah ada Pak Mail di sana. Pria tua itu sedang menyusun piring-piring. Melihatnya hari ini, membuatnya bersemangat untuk terus hidup ke depan. Setidaknya dia harus bertahan demi keluarga yang ia sayangi. Walaupun tanpa Bibi Lotus, tapi Sania masih bersyukur bahwa sekarang dia masih memiliki anggota keluarga.
"Nona, makan lah. Ini makanan kesukaan Nona." Pak Mail dengan perhatian menuangkan lauk pauk ke dalam piringnya. Ini pertama kalinya Sania bisa makan bersama di meja makan dengan Pak Mail. Dulu, tak pernah sekalipun Pak Mail diajak makan bersama di meja makan.
"Sania, bagaimana keadaan Son? Paman dengar dia sedang sakit. Bodyguard dari Math kemarin memberitahu Paman." Sania menghentikan makannya, dia menatap Paman Raul.
"Son sudah pulang dari rumah sakit. Keadaannya sudah membaik," jawabnya dan melanjutkan makannya.
"Maafkan Paman, Sania. Seharusnya kau tetap lah di rumah untuk menemani Son. Maafkan Paman yang menyuruhmu ke sini. Paman hanya ingin mengucapkan terima kasih atas semua yang telah kamu berikan untuk Paman. Paman ingin kau juga merasakan kebahagiaan yang Paman rasakan. Tapi Paman juga mau meminta maaf atas kesalahan Paman yang begitu besar terhadapmu." Paman Raul tak dapat menahan rasa harunya. Dia mengerjabkan matanya berkali-kali, berusaha menghalau cairan bening yang siap menetes kapan saja.
Bunyi dentingan sendok tak lagi terdengar. Empat pasang mata sama-sama menatap Paman Raul yang berusaha menahan tangisnya. Pak Mail juga ikut bersedih tapi sekaligus bersyukur. Karna adanya musibah ini, sikap Paman Raul kepada Sania bisa berubah menjadi baik. Selayaknya seorang Paman yang menyayangi keponakannya.
__ADS_1
"Paman, Sania lah yang seharusnya berterimakasih kepada Paman. Karna Paman sudah mau mengurus Sania sampai sekarang. Terima kasih, Paman. Maaf juga kalau Sania belum bisa membahagiakan Paman." Ucapan tulus keluar dari bibirnya. Dia benar-benar mengucapkan apa yang ada di dalam hatinya. Seakan perlakuan yang dulu Raul lakukan terhadapnya, perlahan pudar. Semuanya sirna, seiring berjalannya waktu. Sania tidak mau mengingat yang sudah berlalu, untuk saat ini ya saat ini saja.
Saat ini Raul dan Sania sudah bersiap di dalam mobil. Raul rencananya hari ini mau menjenguk Son di rumah. Dia sudah menyiapkan sebuah bingkisan untuk suami keponakannya itu.
Kedatangan Sania dan Raul disambut oleh pelayan. Bahkan pelayan membantu membawakan barang bawaan Raul. Mereka seperti tamu yang memang ditunggu-tunggu.
"Nona, akhirnya Anda pulang." Paman Leo datang menghampiri mereka. Raul masih mengamati seisi rumah. Terlihat rapi juga bersih. Raul begitu takjub dengan isi rumah Sania. Ini benar-benar perabotan yang mahal-mahal. Sungguh Sania sangat beruntung.
"Iya, Paman. Di mana Son?" tanya Sania.
Setelah mendapat jawaban dari Paman Leo bahwa Son ada di kamar, Sania pun langsung mengajak Paman Raul ke kamar.
Dengan hati-hati Sania perlahan membuka pintu kamar. Saat dibuka, Sania langsung memusatkan matanya ke arah ranjang.
DEG.
Mata mereka bertemu. Tak sengaja mata mereka bertemu dalam hitungan detik. Sania nyengir bagaikan kuda. Dia menjadi canggung karna sudah bersikap seperti pencuri. Yang diam-diam mengendap tanpa suara.
"Dasar bodoh! Kenapa kau malah senyum dengannya! Bodoh dasar!!!"
Sania memukul kepalanya pelan merasa bodoh dan juga malu.
"Siapa itu?" Karna Son mendengar suara kaki melangkah, dia langsung menanyakan siapa yang datang.
"Ini aku, istrimu," jawabnya sambil menahan tawa. "Di sini ada Paman Raul. Dia ingin menjengukmu," ujarnya. Sania sebenarnya takut akan respon dari suaminya. Apakah dia juga akan bersikap tidak menyenangkan terhadapnya walaupun ada pamannya di sini? Apakah dia akan berpura-pura baik?
"Paman Raul?" Son terlihat berpikir. Dia mencoba mengingat siapa Paman Raul. Dan akhirnya dia mengingatnya. Raul adalah Paman dari istrinya.
"Iya, Son. Ini Paman, Pamannya Sania," jelasnya. "Bagaimana keadaanmu, Son?" tanyanya lagi. Raul perlahan mendekat, dia menyentuh lengannya dengan lembut seperti memberi sapaan hangat.
__ADS_1
"Baik. Saya sudah membaik. Terima kasih atas perhatiannya, Paman."
DEG.
Lagi-lagi Sania terkagetkan dengan sikap Son. Pria itu kenapa sangat sopan sekali dengan Paman Raul. Sikap cuek dan arogannya sama sekali tidak terlihat.
"Syukur lah. Cepat sembuh, Son. Kasian Sania dia merasa khawatir sekali." Tidak tahu mengapa Paman berkata seperti itu, tapi itu membuat Sania merasa malu. Tidak seharusnya Paman Raul mengatakan seperti itu.
"Terima kasih, Paman." Tak banyak bicara, Son pamit untuk beristirahat. Akhirnya Sania mengajak Paman untuk keluar kamar.
"Sania, apa setiap hari seperti ini?" Raul menahan langkah kaki Sania saat sudah agak jauh dari kamarnya.
"Maksud Paman?" tanya Sania tidak mengerti.
"Kalian tidak terlihat seperti pasangan suami istri. Kalian itu menikah atas dasar apa?" Itu pertanyaan yang pernah muncul dalam benak Raul. Tapi karna dulu Raul tidak peduli dengan keponakannya, membuatnya tidak pernah Raul tanyakan pada Sania.
"Paman, aku menikah dengan Son karna aku menyukainya." Sania mencoba meyakinkan Paman Raul. Padahal saat diminta untuk menikah, Sania belum sama sekali mengenal Son.
"Suka? Sebesar apa? Paman belum melihatnya di mata kamu. Sania, kau sudah besar bukan? Kau tahu mana yang salah dan yang benar. Dan tahu mana yang baik dan buruk. Paman tidak bisa mengatakan semua hal atau mengajari kamu banyak hal. Tapi yang perlu kamu pegang selalu adalah kejujuran. Jujur lah, Sania. Agar hidup kamu tenang tidak akan menambah kebohongan," tuturnya. Raul benar-benar memperhatikannya. Bahkan dia tahu apa yang Sania rasakan.
"Iya, Paman. Sania tahu dan akan selalu ingat perkataan Paman." Dia ingin sekali menangis, karna Tuhan benar-benar baik dengannya. Dipertemukan lagi dengan keluarganya dan keadaan yang berubah. Paman Raul jadi bersikap baik dengannya. Sania sangat bersyukur.
.
.
.
.
__ADS_1
Selamat membaca para readers ku tersayangggg....
Salam hangat untuk kalian semua.....