ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 57 HAK SON


__ADS_3

Ponselnya ia taruh kembali ke dalam sakunya. Dia terdiam sejenak. Sesekali melirik pada Son. Haruskah dia mengatakan apa yang barusan dia lihat? Tapi jika itu akan menjadi sebuah masalah, bagaimana?


"Tuan, saya permisi sebentar." Dia harus cari tahu, apa yang terjadi sebenarnya.


Saat hati Sania sudah merasa tenang, Darien mengajaknya pulang karna hari sudah petang. Di jalanan yang sunyi, mereka jalan kaki berdua. Keduanya saling diam, sibuk dengan pikiran masing-masing.


Pak Satpam dengan sigap membuka gerbang saat dua majikan ini ingin masuk. Ternyata di depan pintu utama sudah ada Paman Leo. Beliau berdiri di sana. Matanya lurus ke depan memandangi keduanya yang berjalan mendekat.


"Tuan Darien, Nona Sania .... Kalian habis dari mana? Nona, kenapa Anda meninggalkan tuan Son sendirian di dalam kamar?" Kini pandangannya tertuju pada Sania. Gadis itu melirik pada Darien.


"Paman, tadi Darien mengajak Sania ke taman sebentar," jawab Darien.


"Ke taman untuk apa, Tuan? Kenapa Anda hanya berdua saja?" Paman Leo seakan mengintrogasi keduanya. Perilaku keduanya sungguh tidak pantas. Apa kata orang jika melihat kakak ipar berduaan dengan istri adiknya.


"Maaf, Paman. Aku yang memaksa Sania. Karna jenuh saja di rumah." Darien terus yang menjawab. Sania tidak dapat menjawabnya. Jika dia berterus terang soal perkataan Son yang menyakitkan hati, dia tidak mau membuatnya menjadi sebuah masalah. Biar lah semuanya dia pendam sendiri. Dia juga tidak menceritakannya pada Darien. Dia tadi menceritakan hal yang lain.


Karna hari sudah sore, Paman Leo pamit untuk pulang. Tapi sebelum pulang dia mengajak Darien untuk berbicara empat mata.


"Ada apa, Paman? Apa hal yang ingin Paman sampaikan pada Darien?" Mereka duduk berdua di teras. Leo mengambil ponselnya dan menyodorkannya pada Darien. Memperlihatkan beberapa foto yang dikirimkan seseorang padanya.


"Tuan, tolong jelaskan ini."


Foto-foto yang diambil saat Sania dan Darien duduk berdua di taman. Saat Darien sedang mendekap Sania dalam pelukan. Terlihat sangat mesra.


"Siapa yang mengirimkan ini? Apa Paman punya mata-mata? Ini tidak yang seperti Paman pikirkan. Aku hanya mencoba menenangkannya. Sania tadi menangis. Aku tidak tega," ujar Darien membela diri.


"Tuan, saya percaya pada Anda. Tapi tidak sepantasnya Anda berbuat seperti ini. Apalagi dengan istri dari adik Anda sendiri. Ini tidak lah baik. Jika orang-orang tahu, apa kata mereka. Nama baik keluarga ini akan tercemar," tutur Paman Leo.


Memang Darien sadari tidak sepantasnya mereka berpelukan di tempat umum. Sangat rawan jika ada orang-orang yang mengenali mereka berdua.


"Iya, Paman. Darien mengerti."

__ADS_1


.


.


Jam dinding sudah menunjukkan pukul 12 malam. Tapi kedua mata Son masih terjaga. Dia tidak bisa tidur. Entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini. Dia merasakan adanya pergerakan di sebelahnya. Lalu terdengar bunyi pintu dibuka. Sepertinya Sania yang bangun dan pergi ke kamar mandi.


Son duduk dengan kaki berselonjor. Hidupnya terkesan monoton. Tak ada perubahan atau pun kemajuan. Dia masih terikat dalam masa lalu dan dengan penyesalan yang teramat besar.


"Kau kenapa belum tidur?" Setelah selesai dari kamar mandi, Sania kembali. Dia melihat suaminya masih terjaga.


Lama Sania menunggu jawaban, tapi sepertinya Son tidak mau menjawab. Ia memilih membaringkan tubuhnya kembali dan memejamkan matanya. Berusaha tidak peduli dengan suaminya. Dia masih mengantuk.


"Son, apa yang kau lakukan. Lepaskan!" Tiba-tiba Son menarik sisi bajunya. Di bawah selimut yang sama tangannya meraba. Piyama yang ia kenakan akhirnya terlepas beberapa kancingnya.


"Apa yang aku lakukan adalah hal yang sepantasnya aku lakukan. Kau bilang aku adalah suamimu. Jadi aku berhak atas semua yang ada pada dirimu." Suaranya menakutkan, Sania berusaha menghindar. Dia memang buta, tapi kekuatan seorang pria membuatnya kalah.


Naluri kelakiannya seakan muncul. Di tengah malam ini, hasratnya sebagai lelaki seperti diuji. Berdua dengan seorang wanita walaupun tidak bisa melihat, dia merasakan hal yang aneh. Apalagi di atas ranjang yang sama.


"Jangan coba-coba melarikan diri!" Baru saja terlintas di pikirannya, Son sudah bisa menebaknya.


"Apa setelah buta dia punya indera ke enam?"


Kedua tangannya merangkul pinggang istrinya. Membuat Sania semakin dekat, ia merasakan kehangatan pada tubuh suaminya. Sania menatap lekat kedua bola mata Son yang indah. Walaupun mata itu seakan kosong.


Son menenggelamkan wajahnya pada dada Sania yang masih tertutup piyama sebagian. Dia memeluknya erat, merasakan kenyamanan yang tiada tara. Napas Sania memburu, debaran dadanya kencang. Saat wajah Son menyentuh seluruh dadanya yang berukuran sedang itu.


Pria itu mengangkat kepalanya setelah puas berada di area sensitifnya. Tangannya bergerak membuka seluruh kancing piyamanya. Membuat terpampang jelas kedua dadanya yang hanya dibalut dalaman. Sania merasa malu, tapi tersadarkan akan Son yang buta.


"Tenang saja. Dia tidak bisa melihat."


"Apa yang ingin kau lakukan? Ini dingin," keluhnya memecah keheningan. Son menjatuhkannya ke ranjang, membuatnya berbaring di sana dan menarik selimut. Memeluknya di bawah selimut yang hangat. Entah apa yang dia pikirkan sekarang. Bibirnya ia tempelkan pada ceruk lehernya lama. Sania merasa geli. Tapi dia tidak bisa menolak. Perlakuan Son kali ini sungguh di luar dugaan. Tapi dia merasa nyaman dengan ini.

__ADS_1


Tangannya bergerilya ke perutnya yang rata. Dia mengelus lembut di area itu. Sania berkali-kali memejamkan mata, merasakan hal yang aneh. Lalu tangannya lanjut ke arah atas. Di mana dadanya masih dibungkus oleh sebuah bra. Tangannya berhenti di sana, ragu untuk membukanya atau tidak.


"Tidur lah!" Son tiba-tiba menjauhkan tubuhnya dan tidur membelakanginya. Padahal Sania sudah siap untuk hal yang akan terjadi tadi. Dia berpikir kalau dirinya sudah menjadi hak Son seutuhnya.


"Hey dasar aneh!"


Sania menggerutu kesal dalam hati. Memicingkan matanya merasa heran dengan sikap suaminya itu.


Malam berganti pagi. Awan gelap berubah menjadi terang. Bulan berganti Matahari. Semuanya seakan sudah diatur. Takdir baik dan buruk seakan seimbang dalam satu kehidupan. Keduanya berjalan bersama-sama. Kita hanya harus mensyukurinya saja. Semua masalah pasti ada jalannya. Semua musibah pasti ada hikmahnya.


Sania terbangun duluan. Menatap suaminya yang masih tertidur. Dia ingin segera mandi, tapi hatinya bergerak ingin melihatnya tidur. Walaupun dia sering melihatnya.


"Tampan sekali."


Ingin rasanya dia menyentuh wajah tampan itu, tapi dia tidak berani.


"Vennie ...." Mulutnya terbuka sedikit. Dia mengigau nama mantan tunangannya itu. Membuat hatinya yang sudah berbunga, seakan layu kembali.


"Apa dia sedang bermimpi dengan Vennie?"


Dia tersenyum getir. Betapa berharganya wanita itu. Dia sangat beruntung.


"Son, bangun lah." Sania terpaksa membangunkannya. Tidak mau suaminya terlalu larut dalam mimpinya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2