ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 34 MENGINAP


__ADS_3

"Saya mau dibawa ke mana?" tanya Raul saat dirinya sudah berada di dalam mobil. Mobil yang ia tumpangi hanya ada tiga orang di dalam. Raul, sopir dan satu pria berpakaian hitam itu. Dan yang lainnya berada di dalam mobil yang berbeda.


"Ke suatu tempat, Tuan. Tuan tidak usah khawatir. Tuan Math telah mempersiapkan sesuatu untuk Anda." Raul pun hanya menurut. Dia tahu Math seperti apa. Dia tidak dapat menolaknya. Yang jelas, yang ia tahu bahwa Math adalah orang baik.


Cukup panjang perjalanan mereka ke tempat tersebut. Tak terasa Raul sampai ketiduran di dalam mobil. Saat mobil berhenti, Raul terbangun karna merasakan mobilnya bergoyang karna mengerem.


"Rumah ini?" Raul melihat suasana di luar jendela mobil. Mereka berhenti di sebuah rumah. Rumah yang ia rindukan. Semuanya masih sama. Halaman rumah yang banyak tanaman serta cat rumah yang masih utuh tak tergantikan oleh warna lain.


"Tuan, mulai sekarang tinggallah di sini lagi. Rumah ini telah tuan Math beli," ucap salah satu pria berpakaian hitam tersebut.


Math tak lantas percaya. Jelas-jelas rumah ini sudah dijual oleh istrinya.


"Ini sertifikat rumahnya, Tuan." Saat pria berpakaian hitam tersebut menyerahkan sertifikat, Raul perlahan membukanya. Benar saja, itu memang sertifikat rumah miliknya dulu.


"Math membeli rumah ini?" Raul tak menyangka bahwa besannya begitu baik. Dia menyesal telah memperlakukan Sania dengan buruk dahulu. Lihat lah sekarang, keluarga dari suami Sania lah yang membantunya disaat keterpurukan.


"Kami ijin pulang, Tuan. Semoga Anda senang atas pemberian tuan Math. Selamat beristirahat." Beberapa pria berpakaian hitam tersebut, satu persatu masuk ke dalam mobil lagi. Raul pun langsung merogoh sakunya, mencari ponsel ala kadarnya yang dia miliki sekarang. Sania meninggalkan nomer ponsel padanya kemarin, dengan gerak cepat Raul berusaha menghubungi Sania.


"Sania, apa kau sibuk? Tolong kemari, Sania. Ke rumah kita sekarang," ujarnya dibalik telepon. Raul menyuruh Sania mendatanginya di rumah.


***


Tangannya bergerak menegak minuman dingin disebuah gelas. Rasa hausnya tak kunjung hilang. Padahal sudah dua gelas ia menenggak minuman itu.


"Sayang, apa kau haus sekali? Padahal cuaca tidak terlalu panas," ujar sang istri tersenyum jahil. Sejak tadi di dalam mobil, Rico tak hentinya mengoceh. Dia ingin segera sampai rumah dan minum minuman dingin yang berada di lemari es. Tidak biasanya Rico bersikap aneh, tapi Keyla tak mempersalahkan.


Disaat sudah cukup dia minum, Rico perlahan menghembuskan napasnya perlahan. Ada suatu hal yang ia ingin katakan pada istrinya.


"Aku tidak suka dengan perkataan mu tadi terhadap Sania dan Son. Kau tidak sepantasnya berbicara seperti itu. Itu sama aja menyakiti hati mereka." Tak banyak basa-basi Rico langsung mengatakan hal yang mengganjal hatinya sedari tadi. Rico menatap Keyla yang berada di sampingnya. Sungguh tak berniat memarahi Keyla, tapi wanita itu malah memasang wajah bersedih seperti hampir ingin menangis.


"Apa aku salah?" Suaranya melemah, terlihat matanya sudah menganak sungai. "Aku hanya bertanya," ucapnya lagi. Wanita itu memalingkan wajahnya.

__ADS_1


Rico mendekat, dia membelai rambut istrinya. "Tidak. Cuma aku tak ingin terjadi kesalahpahaman antara istriku dan juga adikku. Tapi jika maksudmu itu hanya sebuah pertanyaan, ya sudah. Lain kali tidak perlu kau bertanya hal yang sensitif, Sayang."


Mereka saling tatap dan Keyla membenamkan dirinya pada pelukan Rico. Dia sungguh mencintainya.


***


Baru saja Sania sampai di rumah, dirinya sudah mendapat telfon dari Paman Raul yang menyuruhnya datang ke rumah lama.


"Nona, Anda mau ke mana?" Paman Leo yang kebetulan berada di rumah tak sengaja melihat Sania yang sedang berjalan menuju pintu.


"Paman, Sania ada urusan sebentar. Tolong temani Son terlebih dahulu," ujarnya gugup. Tak dapat dipungkiri Sania mengkhawatirkan Paman Raul, takut terjadi apa-apa.


"Tapi Nona mau ke mana?"


"Sania mau ke rumah paman. Sebentar saja. Tidak akan lama," janjinya yakin.


Sania bergegas menuju rumah pamannya. Tempat di mana dulu ia pernah datangi tapi rumah itu telah di jual.


"Tuan, apakah Anda ingin makan buah-buahan? Biar saya ambilkan. Atau Anda ingin makan yang lain?" tawar seorang pelayan memberi perhatian. Son hanya menggeleng pelan. Kepalanya masih sedikit pusing, dia memilih untuk memejamkan matanya.


Paman Leo datang dan menyuruh pelayan untuk pergi. Dilihat lah putra dari majikannya yang sedang terbaring. Dirinya iba melihat Son.


Dalam hatinya bertanya, kapan Son akan membuka mata hatinya untuk mau di operasi. Di luar sana banyak orang-orang yang ingin fisik yang sempurna, tapi Son malah mencacatkan dirinya sendiri.


Jam dinding menunjukkan pukul 8 malam. Son sudah terlelap setelah tadi diberikan obat. Paman Leo belum juga pulang ke rumah utama, dia masih menunggu kepulangan Sania. Berkali-kali dirinya mencoba menghubungi Sania, tapi tidak diangkat juga.


"Hallo, Nona. Anda sekarang di mana?" tanyanya tak sabar saat panggilannya baru saja diangkat setelah panggilan yang sekian kalinya.


"Paman, malam ini Sania menginap di rumah paman Raul. Sania sudah ijin dengan ayah," jawabnya membuat Leo kebingungan.


"Lalu bagaimana dengan tuan Son, Nona? Mana mungkin saya meninggalkan tuan Son sendirian."

__ADS_1


"Paman Leo menginap saja, besok pagi Sania langsung pulang kok." Kini Paman Leo dilanda kebingungan, mengapa Math tidak memberitahunya bahwa menantunya akan menginap di rumah pamannya.


Baru saja panggilan dengan Sania terputus, satu pesan baru masuk ke ponselnya.


"Tidak usah pulang. Tetap lah di situ."


Setelah mengetikkan balasan, Leo pun langsung mencari kamar yang kosong. Karna di sini dia tak memiliki kamar khusus untuk dirinya. Masih banyak kamar kosong yang tak berpenghuni. Darien yang awalnya tinggal di sini untuk menemani Son, sekarang dia sudah pergi.


Langkah kakinya menuju sebuah kamar kosong yang terletak di atas. Kamar itu terlihat luas tapi dalamnya kosong, tak banyak perabotan di sana.


***


"Math, di mana putraku? Kau apakan dia?" Luzi mengguncang tubuh suaminya ingin meminta penjelasan. Darien tidak ada kabar beberapa hari ini, itu membuatnya cemas. Nomer ponselnya tak dapat dihubungi, dia merasa sangat khawatir. Darien tidak datang ke kantor hari ini, juga di Apartemennya kosong.


"Dia sudah besar. Dia sedang berada di tempat temannya mungkin," jawabnya acuh. Dia kembali mengecek berkas-berkas yang berserakan di atas meja kerjanya. Hari ini dia benar-benar sibuk, apa lagi mendengar Darien tidak masuk ke perusahaan hari ini.


"Tapi kau kan tahu putraku yang satu itu sangat tertutup sekali. Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengannya? Kau tidak seharusnya sekeras itu pada Darien." Diantara putra-putranya yang lainnya, hanya Darien lah yang cenderung tertutup. Selain tertutup juga dia sangat mandiri. Berbeda dengan Rico yang selalu mengaitkan dirinya ke semua hal yang akan dilakukannya, sedangkan Darien dia selalu melakukannya sendiri. Dan Son, sebenarnya dia yang paling manja di antara kakak-kakaknya tapi sekarang dia yang paling cuek.


"Jika kau mengkhawatirkannya lebih dari mengkhawatirkan keadaan Son, pergi lah! Bawa semua bodyguard yang aku miliki, dan pergi lah! Cari lah Darien dengan bantuan mereka," ujarnya dengan tatapan tajamnya. Kekecewaannya pada Darien begitu besar karna sampai membahayakan keadaan Son. Dia juga tidak menduga bahwa Darien akan pergi, tapi di sisi lain dia tidak pernah menyesal telah memarahinya habis-habisan.


"Aku mengkhawatirkan dua-duanya!" ucapnya dan berlalu pergi. Air matanya menetes jatuh mengenai kedua pipinya. Hatinya sangat pilu.


.


.


.


Terima kasih untuk para pembaca setiaku dan juga pembaca baruku.. Selamat membaca karyaku yang masih remahan biskuit ini .hehhe


Aku doain, semoga kita selalu diberi kesehatan dan juga rezeki yang berlimpah. Aamiin ...

__ADS_1


Tinggalkan like dan koment kalau kalian berkenan...


__ADS_2