ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 83 SON KHAWATIR


__ADS_3

Tangannya yang kokoh mengetok pintu dengan tidak sabarnya. Hari belum gelap, tapi jiwanya seakan sudah gelap. Tak ada cahaya di dalam sana, hanya ada kegelapan yang mendominasi ketakutan. Tangannya melemah saat kesekian kalinya ia mengetok pintu tapi tak ada yang membukanya.


KLEKKK!


Matanya terbuka lebar saat mendengar pintu akan dibuka oleh seseorang.


"Paman ...." panggilnya cepat tanpa mengedipkan matanya. "Aku ingin bertemu dengan Sania," ujarnya tak sabar. Kakinya ingin sekali segera masuk ke dalam rumah.


Paman Raul yang baru saja selesai mandi, masih dengan rambut yang basah terheran-heran melihat Son tiba-tiba datang dan ingin bertemu dengan Sania. Dia baru saja pulang bekerja dan keponakannya itu tidak berkunjung ke rumahnya.


"Sania?" Menunggu respon dari Raul lama sekali. Dia memaksakan masuk ke dalam rumah.


"Maaf, Paman. Aku harus segera bertemu dengan Sania." Son menyelonong masuk, bahkan bahunya bersenggolan dengan Raul yang berdiri di depan pintu.


"Sania!" teriaknya dan berjalan cepat menuju kamar.


Raul menarik tubuhnya yang hampir mencapai pintu. "Son! Berhenti!! Sania tidak ada di sini. Apa Sania meninggalkan rumah? Sejak kapan?" Kini raut wajah Raul berubah, dia menjadi cemas sekarang.


"Paman—"


"Kenapa Sania bisa meninggalkan rumah? Kau apakan dia?" Nada suara Raul berubah meninggi membuat Son membeku. Tak dapat menjawab, Son hanya mampu menundukkan kepala. "Son! Jawab Paman!" Raul mengguncang tubuhnya hebat, meminta penjelasan.


"Son tidak tahu apa yang menyebabkan Sania pergi dari rumah. Tadi pagi Son menerima surat permohonan perpisahan dari Sania."


Raul seketika memegangi dadanya. Dia begitu shock mendengarnya. "Paman ...." Son memegangi tubuhnya dan menuntunnya untuk duduk di kursi.


"Sa-sania .... Kenapa keponakanku ingin berpisah denganmu? Ada masalah apa kalian berdua?" Son menggeleng, tidak mungkin dia menceritakan semuanya.


"Paman, jika Sania tidak ada di sini. Lalu dia ada dimana? Apa ada saudara lain?" tanyanya. Ia kira mencari Sania mudah, ternyata gadis itu tidak ada di sini.


"Coba kamu tanya Maria. Barangkali dia memiliki teman yang dekat. Paman tidak tahu soal teman-teman Sania. Tapi yang jelas Sania tak memiliki saudara selain kami."


Nihil, Son juga tak mendapatkan informasi apa pun dari Maria. Sepupu dari Sania itu mengatakan bahwa Sania selama bersekolah tidak memiliki teman. Dia selalu sendiri, itu karna ulah dari Maria yang membuat semua orang membenci Sania.

__ADS_1


Kini Son melangkahkan kakinya menuju mobil dengan perasaan kacau. Dimana dia akan mencari Sania?


Di sepanjang jalanan yang sepi, dia menelusuri satu persatu jalanan yang ada di kotanya. Berharap menemukan Sania di jalan. Berharap semua yang tidak mungkin menjadi mungkin.


Disaat perasaannya sedang kacau, ponselnya berdering. Paman Leo menelponnya. Dia segera mengangkatnya.


"Tuan, ada masalah apa di rumah? Nona Sania pergi?" Entah kabar darimana hingga Paman Leo mengetahuinya. Son ingin merahasiakannya takut jika Math mengetahuinya, tapi sepertinya tidak bisa.


"Paman, Sania ada dimana?" tanyanya dengan suara lirih.


"Tuan, sekarang ada dimana?"


Tak mau menjawab, Son menutup telfonnya sepihak. Dia tak ingin diganggu, dia ingin sendirian mencari Sania.


Tiba-tiba bayangan Darien terlintas di pikirannya. Pria itu pasti tahu sesuatu.


Son berdiri di sebuah ruangan yang tak pernah ia kunjungi sebelumnya. Tak pernah sekali pun dia menginjakkan kakinya di sana.


"Kau—"


"Dimana Sania! Kau pasti yang menyembunyikannya!" Tanpa basa-basi Son langsung menarik kerah kaosnya, menuduhnya dengan berbagai tuduhan.


"Hey! Lepas! Kau ini tidak sopan!" Darien berusaha melepaskan cengkraman erat di kaosnya, dia tidak bisa bergerak.


"Aku tidak akan melepaskan mu sebelum kau memberitahu dimana istriku!" Son tidak menghiraukan Darien yang merasa terancam. Dia tidak bebas bergerak. Lehernya seakan tercekik, sangat sakit.


"Aku tidak tahu! Kau cari saja sendiri!!!!"


Bugh!!!


Darien menghantam wajah Son dengan pukulan tangannya. Hingga Son merasa kesakitan.


Bughh!!!

__ADS_1


Son membalas pukulan kakaknya. Di apartemen Darien, terjadi lah perkelahian antara kakak beradik itu. Suara berisik yang ditimbulkannya, membuat penghuni apartemen lainnya berbondong-bondong menghampiri sumber suara. Mereka berusaha memisahkan perkelahian itu, karna mereka berkelahi di dekat pintu yang terbuka.


"Lepaskan! Dia adik yang kurang ajar!" Darien tak terima dengan tuduhan Son, juga perlakuan Son yang menurutnya sudah kurang ajar.


"Dia laki-laki tidak tahu malu! Menyembunyikan istriku!" seru Son membuat mereka bingung harus mempercayai yang mana.


"Dia menuduhku!" Darien ingin menghabisi adiknya, dia benar-benar kesal.


"Tuan, tolong jangan membuat kegaduhan. Atau saya akan panggilkan security," ancamnya. Darien dan Son saling pandang, tak ingin mempermalukan diri sendiri mereka akhirnya terdiam.


"Pergi lah! Sania tidak ada di sini. Dan aku tidak menyembunyikannya," ucap Darien untuk yang sekian kali bahwa Sania memang tidak ada di sini atau pun Darien berusaha menyembunyikannya. Dia tidak mungkin menyembunyikan istri orang lain.


.


.


.


Son akhirnya pulang, dia kembali ke rumah. Sebenarnya dia tak ingin pulang, tapi seseorang sedang menunggunya di sana. Dia berjalan dengan sempoyongan karna tubuhnya yang lemas akibat tak mengisi perut sedari siang. Tak ada asupan gizi dan cairan yang masuk ke dalam tubuhnya.


"Tuan!" Leo dengan sigap menahan tubuh Son yang akan ambruk. Kepalanya pusing dan kesadaran hampir saja hilang, tapi saat dia melihat wajah ayahnya dia langsung berdiri tegak. Tak ingin terlihat lemah di hadapannya ayahnya.


"Son, apa yang terjadi!" Math tak menghiraukan Son yang lemah. Dia benar-benar marah karna Sania pergi dari rumah. Masalah sebesar apa pun yang terjadi di dalam rumah tangga, seharusnya tidak harus pergi. Mereka sudah besar seharusnya bisa menyelesaikan dengan kepala dingin. Tapi Math seperti tak bercermin dengan kehidupan rumah tangganya sendiri dengan Luzi. Mereka berdua pun sama.


"Ayah ...." Son terduduk lemas dengan matanya yang sendu. Dia sangat khawatir dengan istrinya. Dia gadis ingusan, apa dia bisa menjaga diri?


"Dimana Sania? Kenapa gadis muda sepertinya bisa pergi dari rumah? Kemana dia akan berteduh? Dia tidak punya siapa-siapa selain pamannya." Math benar-benar khawatir, seperti Son. Tanpa Son ketahui dia telah mengerahkan bawahannya untuk mencari Sania, tapi belum ada kabar dari mereka.


"Lalu surat apa ini? Kenapa Sania yang menginginkan perpisahan ini? Bukannya kau?" Kini Math mulai mengintrogasi.


"Dia memang dari dulu menginginkan perpisahan, Yah," jawab Son.


"Ayah memang menyerahkan segala keputusan padamu. Tapi sebagai seorang Ayah, tidak mau pernikahan anaknya mengalami kegagalan. Kau sudah cukup dewasa, Ayah sangat mempercayaimu. Ayah kira, kau bisa berfikir setelah Ayah memberikan kepercayaan penuh padamu." Math kira setelah Son bisa melihat, dia bisa mengurungkan niatnya untuk berpisah dengan Sania. Baginya, Sania ini adalah gadis yang manis, tak mungkin Son tidak merasa tertarik dengannya.

__ADS_1


__ADS_2