
Beberapa kali matanya tak henti menatap sebuah ruangan. Ia menatap pintu yang tak kunjung dibuka. Hatinya harap cemas menanti kabar dari istrinya yang dikabarkan jatuh terpeleset di lantai. Dia benar-benar murka pada orang rumah. Bisa-bisanya tak ada yang menjaga Keyla dengan benar.
Sania yang menemani Rico di rumah sakit, sedari tadi tidak saling tegur sapa. Rico sibuk dengan kecemasannya sendiri. Berjalan mondar-mandir menunggu dokter selesai menangani istrinya. Rico benar-benar takut, jika kabar buruk yang akan dia dapat.
"Tidak!!! Apa yang kau pikirkan, Rico! Pasti semuanya baik-baik saja!"
Pintu ruangan terbuka. Dokter dan para perawat pun keluar.
"Dok, bagaimana keadaan istri saya? Bayinya baik-baik saja, kan?" Rico tak sabar menunggu jawaban sang dokter.
"Tenang, Tuan. Semuanya baik-baik saja. Istri dan bayi Anda baik-baik saja. Tapi saya harap kejadian ini tidak akan terulang kembali. Tolong jaga istri Anda dengan hati-hati lagi," tuturnya dan Rico mengangguk.
Sania yang berdiri tak jauh darinya akhirnya bisa bernapas lega. Dia benar-benar tidak menyangka akan jadi seperti ini.
"Sania, pulang lah! Kakak yang akan menemani Keyla di sini." Rico yang sudah mulai tenang, akhirnya mau membuka pembicaraan. Dia menyuruh adik iparnya untuk pulang saja.
"Baik, Kak. Salam untuk kak Keyla. Dan maaf jika Sania lalai dalam menjaga kak Keyla," ujar Sania sambil menunduk.
Setelah kepergian Sania, Rico pun masuk. Ia melihat istrinya yang terbaring. Perlahan menyentuh puncak kepalanya dengan lembut, hingga matanya mengerjab.
"Sayang ...." panggilnya dengan lembut. Dia sangat mencintai istrinya.
"Kau di sini?" Keyla membuka matanya. Dia lihat wajah suaminya yang tampan. Perlahan ia menyentuh perutnya. "Apa bayiku baik-baik saja?" Rico mengangguk dan menjawab bahwa bayi mereka baik-baik saja.
***
Hari semakin gelap. Perjalanan yang sunyi hanya ditemani bulan dan bintang di langit. Hari ini, ia sangat lelah. Banyak kerjaan yang menguras tenaga dan pikirannya.
BIM!
__ADS_1
BIM!
Gerbang dengan segera dibuka oleh satpam. Math yang lelah, langsung turun dari mobil dan menuju kamarnya. Melemparkan tas dan juga jasnya sembarangan. Itu kebiasaannya. Lalu ia masuk ke dalam kamar mandi. Membersihkan tubuhnya sebelum ia beranjak tidur.
Saat ia keluar dari kamar mandi, ia menatap ranjang yang kosong. Tak ada istrinya di sana. Yang biasanya sudah tidur dalam keadaan cantik. Tak ada siapa pun di sana. Bahkan ranjangnya masih rapi seperti belum tersentuh oleh siapa pun.
"Tidur di mana dia?" Math membuka lemari dan mengambil baju tidur. Tak ingin peduli dimana istrinya, ia memilih untuk segera beristirahat. Mungkin istrinya tidur di kamar lain.
Tapi hatinya seakan tidak tenang. Dia keluar dan berjalan mengecek beberapa ruangan. Mencari dimana istrinya tidur. Tapi hasilnya nihil. Sedangkan para pelayan sudah beristirahat semua. Kepada siapa dia akan bertanya?
Math pun kembali ke kamar, dia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Hallo, Darien. Apa ibumu menginap disitu?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Ibu? Tidak tahu, Ayah. Darien masih di kantor."
"Apa!!! Jam segini masih di kantor? Pulang lah, Darien! Jaga kesehatanmu!" Bukannya mendapat informasi, emosi Math malah membuncah tatkala mengetahui putranya masih di kantor. Padahal hari sudah semakin gelap. Darien memang gila bekerja.
Math lantas menutup telfonnya. Dia beralih untuk menelpon Sania-menantunya. Tapi panggilannya tak kunjung diangkat, mungkin saja Sania sudah terlelap.
Dia pun pasrah, dia menggenggam erat ponselnya bingung untuk menghubungi siapa lagi. Tak mungkin dia menghubungi Rico yang jelas-jelas masih berada di rumah sakit. Dan tak mungkin juga dia menghubungi istrinya, dia terlalu malu. Tak mau ia terlihat begitu khawatir.
Hingga pagi menjelang. Matahari bersinar terang di awan yang cerah. Dia terbangun dalam posisi tidur sambil duduk bersender di ranjang. Malam tadi, dia kepikiran dimana istrinya berada. Sampai ia terbangun pun, sang istri tak terlihat di kamarnya.
"Pelayan! Pelayan!" teriaknya menggema.
Bi Mar yang mendengar teriakan Math langsung berlari menghampiri. "Iya, Tuan."
Math memandangi Bi Mar, matanya layaknya elang yang siap memangsa musuhnya.
__ADS_1
"Di mana istriku? Kenapa dia tidak ada di kamar? Kenapa kau tidak memberitahuku?" Bi Mar adalah orang kepercayaan Math di rumah, tapi untuk kali ini Bi Mar bingung. Dia akan menjawab apa. Karna dia juga tidak tahu dimana Luzi berada.
"Yang saya tahu kemarin siang nyonya Luzi pergi, Tuan. Dan sepertinya belum kembali. Saya tidak tahu kemana nyonya Luzi pergi," jawabnya.
"Kenapa tidak bertanya saat dia pergi? Apa pekerjaanmu di rumah?" Math melempar bantalnya ke sembarang arah, dia begitu kesal.
Bi Mar hanya bisa mengelus dadanya. Padahal Math adalah suaminya, seharusnya dia yang lebih tahu. Kenapa selalu pelayan yang disalahkan.
***
Pintu kamar Sania terbuka, pelayan masuk untuk membuka gorden serta membersihkan kamarnya. Pelayan tidak berniat membangunkannya, karna hari masih pagi. Malam tadi, Sania memang tidak mengunci pintu kamarnya entah lupa atau sengaja.
Tubuh mungilnya menggeliat, dia merasakan sinar matahari memenuhi kelopak matanya. Dia perlahan membuka mata, menyesuaikan dengan keadaan sekitar. Di dalam kamarnya ada satu pelayan. Ia sedang membersihkan area sudut kamarnya.
"Jam berapa ini?" Sania bertanya. Dia masih dalam keadaan lemas.
Pelayan melirik jam dinding lalu menjawab, "Jam setengah 7, Nona."
"Baiklah. Aku tidur kembali." Sania yang masih mengantuk pun merebahkan tubuhnya kembali. Tapi baru saja memejamkan matanya, ponselnya berbunyi. Ada satu pesan masuk ke dalam ponselnya. Dengan mata terpejam, dia meraba-raba mencari ponselnya berada.
"Ibu ...." Satu pesan masuk dari Luzi. Sania segera membuka dan membacanya.
"Sania, sudahkah kamu bertanya pada ayah mertuamu? Tentang keberadaan Son?" Sania menepuk jidatnya pelan. Dia hampir saja lupa soal itu.
"Iya, Bu. Sania akan ke rumah sekarang." Sania lekas turun dari ranjang dan menuju kamar mandi. Pagi ini dia akan menemui Math. Barangkali ayah mertuanya itu mau memberitahunya tentang keberadaan Son.
"Apakah Nona mau pergi?" Pelayan tadi belum juga keluar dari kamarnya. Bahkan sampai Sania selesai mandi.
"Ya, aku mau ke rumah utama." Sania memilih-milih baju yang pantas untuk dipakainya menemui Math. Sampai sekarang dia masih beranggapan bahwa ini mimpi, setiap dia membuka lemari banyak baju berjejeran dengan model yang cantik-cantik. Dulu Sania hampir tak pernah membeli baju baru. Baju yang ia miliki sebagian besar milik ibunya dan juga pemberian dari Maria apabila ia sudah bosan untuk memakainya. Sania tak pernah dikasih uang lebih hanya sekedar untuk belanja baju atau fashion yang lain.
__ADS_1
Sania saat ini sudah berdiri di pelataran rumah utama. Kepalanya mendongak, menatap balkon di lantai paling atas. Ruang kerja Math yang terletak di lantai paling atas. Berharap hari ini adalah hari keberuntungannya.