
Sesuai janji Son, hari ini dia akan memeriksakan istrinya. Apa yang terjadi pada masalah kewanitaannya. Sania sangat khawatir, dia memikirkan hal yang buruk-buruk.
"Semuanya akan baik-baik saja. Percaya denganku." Son tak hentinya menenangkan istrinya, menciumi tangannya terus menerus. Hingga seseorang yang duduk di sampingnya merasa iri melihat kemesraan mereka berdua.
Dan sekarang giliran Sania yang dipanggil. Son mengekori dari belakang. Dia juga tak hentinya berdoa untuk meminta hal yang baik-baik.
Dokter terlihat serius memeriksanya. Tak butuh waktu lama dan dokter menyuruhnya untuk segera turun dari ranjang. Son langsung menanyakan tentang keadaan istrinya.
Dokter itu malah tersenyum-senyum dan menatap Son tanpa henti.
"Tuan, ada kabar baik untuk Anda." Dokter semakin membuatnya penasaran.
"Apa, dok?" tanyanya tak sabar.
"Istri Anda sedang hamil. Apa yang terjadi pada istri Anda kemarin itu hanya flek. Itu terjadi pada masa awal-awal kehamilan," ujarnya menjelaskan.
Bagai diberi emas sekarung, rasa bahagianya bahkan melebihi itu. Son mengucapkan rasa syukur bertubi-tubi. Sania yang masih di atas ranjang, perlahan turun dan membuka tirainya. Menghampiri suaminya yang sedang tersenyum bahagia.
"Sayang, apa kau dengar?" Son memeluknya dengan erat, akhirnya setelah sekian lama Tuhan telah memberikannya keturunan lagi.
Sania meneteskan air matanya, merasa haru dengan kabar bahagia ini.
Selama perjalanan Sania terus mengelus perutnya. Sudah lama dia tidak merasa sebahagia ini.
"Kau mau apa, sayang? Hari ini akan aku turuti semua," ucapnya.
Tapi dengan cepat istrinya menggeleng. Dia tak ingin apa pun, yang ia inginkan adalah segera melihat anaknya yang ada di dalam kandungan.
"Makanan? Atau barang? Aku akan membelikannya semua. Katakan saja, sayang."
Selama menikah dengan Sania, Son tak pernah direpotkan dengan keinginan Sania yang aneh-aneh. Istrinya ini jarang sekali meminta apa pun terhadapnya.
Tak seperti wanita lainnya, yang selalu hobi membeli baju dan barang. Sania tidak seperti itu, dia hanya membeli yang ia butuhkan saja.
Setelah mengantarkan Sania pulang, Son langsung jalan ke kantor. Dia sangat sibuk hari ini, apalagi beberapa perusahaan dia yang pegang.
Sania langsung mencari keberadaan Luzi. Ingin memberitahukan segera tentang berita bahagia ini.
"Meysa ...." Luzi ternyata sedang bersama Meysa di halaman belakang. Entah dari kapan gadis kecil itu ada di sini. "Kau disini sayang? Kesini bersama siapa?" tanyanya seraya menciuminya.
"Dengan bibi pelayan," jawabnya.
"Sania, kau habis ke dokter? Lalu apa kata dokternya?" Luzi pun sama halnya merasa khawatir jika Sania kenapa-kenapa.
__ADS_1
"Hmm, ada kabar baik, Bu," jawabnya sambil tersenyum-senyum.
Meysa pun ikut menyimak, kupingnya ia pasang betul-betul. Ingin mendengar pembicaraan orang lain.
"Kata dokter, aku hamil, Bu."
Sontak Luzi terkejut, dia menutup mulutnya sambil matanya melotot.
"Benarkah, Sania?" Luzi reflek memeluk menantunya, dia begitu bahagia mendengarnya.
"Bibi, Bibi kenapa? Kenapa ke rumah sakit?" Meysa ternyata tidak paham.
"Sayang, sebentar lagi Meysa punya adik bayi. Bibi sedang mengandungnya seperti ibu Keyla." Sania menjelaskan sejelas-jelasnya, berharap gadis kecil itu mengerti.
"Adik bayi?" Meysa tiba-tiba pergi, dia berlari entah kemana. Sania segera menyusulnya, tak mengerti kenapa Meysa pergi tiba-tiba.
"Meysa kenapa, sayang? Kenapa meninggalkan Bibi dan nenek. Apa Meysa tidak senang kalau akan punya adik bayi dua sekaligus?"
Meysa menggeleng lalu ia menutup wajahnya. "Meysa, kau kenapa?" Sania bingung, gadis kecil ini kenapa.
"Ibu sibuk dengan calon adik bayi. Dan sekarang Bibi juga akan punya adik bayi. Meysa tidak suka! Nanti tidak ada yang perhatian lagi dengan Meysa!"
Ah rupanya Meysa takut perhatian Sania terbagi. "Sayang, Bibi akan tetap sayang sama Meysa. Sini lihat Bibi." Sania memegang kedua pipinya, merapikan anak rambutnya sebentar. Wajah cantiknya mirip dengan Keyla hanya saja sifatnya banyak meniru dari ayahnya-Rico.
"Meysa, Bibi sayang banget sama Meysa. Meysa itu ibarat penyembuh lukanya Bibi. Kehadiran Meysa membuat hidup Bibi berwarna," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Teringat kembali saat Sania kehilangan bayinya. Hari-harinya ia penuhi untuk menjaga Meysa karna Keyla saat itu sibuk dengan butiknya sendiri.
Dan kini, dia sedang mengandung anak lagi. Walaupun begitu, rasa sayangnya pada Meysa takkan berkurang.
"Bibi janji?" Meysa mengacungkan jari kelingkingnya, meminta Sania untuk mengikat janjinya.
Lalu mereka berdua pun saling janji. Walaupun status Meysa hanya seorang keponakan, tapi Sania sudah menganggapnya seperti anak sendiri.
***
Semakin hari perutnya semakin membesar. Dia tampak kesusahan dalam berjalan dan melakukan aktivitas. Memandikan Meysa pun dia harus meminta tolong kepada pelayan.
Saat ini Keyla sedang berdiri di halaman depan. Dia menunggu putrinya pulang. Tadi ia mengijinkan putrinya main ke rumah Sania dengan syarat akan pulang sebelum waktu sore.
Dan tak berapa lama mobil yang Meysa tumpangi datang. Keyla dengan gaya angkuhnya menunggu Meysa keluar.
"Ibu ...." Meysa berteriak kegirangan.
__ADS_1
Keyla mengernyit heran, apa yang terjadi pada putrinya.
"Meysa sebentar lagi akan memiliki dua adik bayi," ucapnya dengan suara yang gemas.
"Dua adik bayi dari siapa?"
"Bibi Sania. Bibi akan memberikan aku adik bayi katanya."
Meysa masih saja bersorak riang. Dia bahagia sekali, walaupun rasa takutnya belum hilang. Jika sewaktu-waktu perhatian mereka akan terbagi.
"Dia sudah hamil?"
"Mandi sana dengan Bibi pelayan," suruhnya kemudian.
Dia sepertinya tak tertarik dengan apa yang diceritakan Meysa. Baginya itu tidak penting.
"Meysa ingin mandi dengan Ibu ...." rengeknya manja.
"Dengan Bibi pelayan dulu." Keyla sudah mandi, dia tak ingin basah-basahan lagi.
"Ibu ...."
"Meysa! Jangan membantah, sama Bibi pelayan dulu!"
Pelayan pun membawa Meysa untuk ke kamar mandi. Walaupun gadis itu meronta tak ingin dimandikan oleh pelayan. Yang dia inginkan adalah waktu bersama ibunya bukan dengan pelayan terus.
"Meysa mau dengan ibu ...." Sampai di dalam kamar mandi, Meysa masih memanggil nama ibunya. Hati pelayan begitu tersayat, anak sekecilnya harus mengemis meminta perhatian ibunya sendiri.
"Ibu ...." Dia menangis tanpa henti.
"Nona, jangan menangis." Pelayan berusaha menenangkan tapi Meysa tak kunjung menghentikan tangisannya.
"Meysa! Kenapa kau susah sekali diatur! Ini pasti karna kebanyakan main dengan bibi Sania. Kau jadi membangkang!" Keyla menghampiri putrinya yang sedang dimandikan, karna tak tahan mendengar suara tangisannya.
"Jangan salahkan bibi Sania," belanya.
Keyla menyuruh pelayan untuk pergi, dengan terpaksa ia yang meneruskan memandikan Meysa. Karna putrinya menangis terus.
Meysa merindukan Keyla yang perhatian. Dia mencoba membuat ibunya dekat lagi dengannya.
"Ibu .... Peluk aku," pintanya.
Sejenak Keyla terdiam, dan dia kemudian memeluk putrinya. Dekapan seorang ibu yang membuatnya nyaman. Meysa tak ingin melepaskan.
__ADS_1
"Ibu, aku menyayangimu," ujarnya dengan bibi bergetar.