
Matanya menatap ke luar jendela terus. Dia merasa gelisah sekarang. Apa yang ia lakukan kali ini, sepertinya salah. Ini akan jadi masalah besar. Tapi dia sudah ditengah perjalanan, tidak mungkin meminta untuk kembali lagi.
"Sania, apa yang kau pikirkan? Bukankah harusnya kau bahagia hari ini? Sebentar lagi kau akan bertemu dengan bibimu. Kakak sudah membantumu mencarikan bibimu, jadi jangan membuat Kakak merasa bingung sekarang."
Benar kata Darien. Seharusnya dia bahagia hari ini. Bukannya memikirkan hal yang lain.
"Iya, Kak. Sania sudah tidak sabar ingin bertemu dengan bibi. Kita sudah lama tidak berjumpa. Sania merindukan bibi." Sesuai janji Darien waktu itu, saat weekend Darien akan memberitahu Sania dimana keberadaan bibinya berada. Tapi sebelum itu, mereka akan menjemput Maria terlebih dahulu tanpa sepengetahuan Paman Raul.
"Di mana sepupumu?" Saat ini mereka ada di depan halte. Di mana Maria mengatakan bahwa dia akan menunggunya di sini. Seorang gadis manis berambut pendek terlihat berlari. Sania melambaikan tangan dari dalam mobil, membuat Maria semakin bersemangat untuk menghampirinya.
"Sania, maaf aku terlambat." Maria yang sombong sudah menjadi Maria yang tau artinya meminta maaf. Dia tak segan mengatupkan kedua tangannya, karna merasa tidak enak hati sudah membuat Sania dan Darien menunggu lama.
"Tidak apa-apa, Maria. Masuk lah." Dengan canggung, Maria membuka pintu mobil. Dia tersenyum pada Darien yang tampan. Sesaat dia terpesona dengan ketampanan kakak ipar Sania itu. Tapi hatinya tidak terpikat padanya, karna hatinya sudah dimiliki oleh seseorang di sana.
Di sepanjang jalan, mereka terdiam. Maria tak hentinya mengembangkan senyumannya. Sebentar lagi, dia akan bertemu dengan ibunya.
"Apa perjalanannya masih lama?" Maria memberanikan diri bertanya, memecah kesunyian di dalam mobil.
"Tidak, Maria. Sebentar lagi," jawab Darien.
Mobil mereka berbelok ke sebuah bangunan menjulang tinggi. Di mana banyak kendaraan terparkir di sana. Maria menjadi bingung sekarang.
"Kenapa kita berhenti di sini?" Maria bertanya lagi. Sania sudah lebih dulu diberitahu oleh Darien, dia sudah tidak kaget lagi jika mereka di sini.
"Ayo kita masuk saja, Maria," ajak Sania. Gadis itu awalnya menolak, dia ingin meminta penjelasan terlebih dahulu. Tapi Darien dan Sania sepakat tidak memberitahukan terlebih dahulu. Biar Maria melihat dengan sendirinya.
.
.
.
.
__ADS_1
"Aku tadi melihat Sania dan kak Darien pergi berdua. Apa Sania sudah meminta ijin padamu?"
Perkataan Keyla yang mengatakan bahwa istrinya pergi dengan kakaknya, membuatnya seketika marah.
"Dia menyukai pria itu! Tapi kenapa mau menikah denganku!" teriaknya dalam hati.
Dia melempar barang-barang yang ada di kamarnya. Membuat semua berantakan. Pelayan berbondong-bondong menghampiri Son yang kala itu di dalam kamar. Di pinggir pintu mereka berhenti, mereka mengintip ke dalam.
BRAKKKK!!!!
Meja kecil dia lemparkan ke udara begitu saja. Untung saja tidak mengenai para pelayan. Son sangat marah. Dia tidak terima dengan semua ini.
"Hey, kenapa kalian diam saja di sini! Cepat hentikan kegilaan Son!" Keyla datang menyuruh para pelayan menghentikan kegilaan adik iparnya. Dengan kasarnya dia mendorong para pelayan-pelayan lemah itu. "Cepat!" ujarnya lagi.
"Tu-tuan, tolong berhenti!" Mereka berdiri agak jauh darinya berdiri. Meminta berhenti dengan suara lemah mereka. Kaki mereka bergetar hebat, takut jika Son menyakiti mereka dengan melemparkan apa saja.
"Pergi!" Suaranya meninggi. Dia belum puas sekarang. Dia berjalan menuju lemari.
Tubuh Son seketika lemah. Dia terduduk lesu di atas lantai. Tangannya masih memegangi gagang lemari. Dia menghembuskan napas kasar.
"Haus!" ucapnya. Salah satu pelayan bergerak mengambil minum.
.
.
.
Di tempat yang tidak seharusnya mereka di sini, Maria menatap seorang wanita paruh baya yang sedang memejamkan matanya. Tubuhnya terlihat lemah. Terlihat infus juga terpasang di tangannya yang mulai keriput.
"Ibu ...." Dia menggelengkan kepala, tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Ibunya terbaring di rumah sakit.
"Sania, kenapa ibu di sini?" tanyanya. Sania tidak menjawab, dia menyuruhnya untuk masuk saja. Sedang Darien dan Sania menunggu di luar.
__ADS_1
Bibi Lotus memilih pergi dari rumah dengan membawa harta yang dimiliki suaminya. Serta diam-diam menjual rumahnya. Kini terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit. Tak berapa lama sejak kepergiannya dari rumah, Bibi Lotus mengidap penyakit yang mematikan. Uang yang dia bawa kabur, kini habis sudah untuk pengobatannya.
Dan beruntung takdir baik masih berpihak padanya. Anak buah Darien yang menemukannya di sebuah kontrakan kecil menawarkan untuk membawanya ke rumah sakit. Dia hidup sendiri, makan pun menunggu uluran tangan dari tetangganya.
"Ibu, ini aku Maria. Ibu apa kabar?" Maria mencium tangan ibunya. Tak berapa lama matanya mengerjab, dia merasakan sentuhan hangat di tangannya yang dingin.
Matanya menatap langit-langit kamar, dan beralih pada sosok gadis muda di hadapannya. Wajahnya tak berubah, masih cantik menurutnya. Dia mengembangkan senyumannya lalu mengelus puncak kepalanya dengan lembut. Dia sudah tahu akan kedatangan putrinya.
"Ma-maria ..." ucapnya terbata. Ada rasa malu di hatinya, tapi itu mengalahkan rasa rindunya pada putrinya. "Ma-maafkan, Ibu ...." Lotus meneteskan air matanya. Merasa menyesal telah meninggalkan keluarganya.
"Ibu .... Maria sayang Ibu," ucapnya ikut menangis. Mereka berpelukan dengan erat. Menumpahkan kerinduan yang selama ini mereka pendam. Maria menangis dalam dekapan Lotus. Hangatnya pelukan dari seorang ibu. "Ibu, ayo ikut pulang. Aku ingin kita berkumpul lagi."
Lotus menggelengkan kepalanya. Dia tidak mungkin kembali atas semua hal yang sudah ia lakukan. Biarkan lah dia di sini sekarang, hidup sendirian.
"Tidak, Nak. Ibu akan tetap di sini. Umur Ibu tidak akan lama lagi," ucapnya membuat Maria tidak percaya.
"Ibu, hentikan omong kosong itu! Maria tidak suka." Maria yang manja, terus memeluk ibunya. Tak ingin melepaskan.
"Maria, jadi lah anak yang baik. Anak yang jujur dan juga anak yang patuh. Maaf jika selama ini Ibu belum bisa menjadi Ibu yang baik untukmu."
Sania hanya bisa melihat keharuan mereka dari kaca ruangan. Dia tahu betapa sakitnya Maria mengetahui semuanya. Ibunya ternyata sedang menderita sakit yang tidak sepele, nyawanya terancam. Maria harus siap jika suatu saat kehilangan ibunya. Darien sudah membantu membiayai pengobatan Lotus, tapi kembali lagi pada Sang Pencipta. Semua atas kehendak-Nya.
"Sania, apa kau ingin pulang sekarang?" Darien yang baru saja mendapat telfon dari pelayan rumah langsung menghampiri Sania yang kala itu sedang serius menatap keharuan ibu dan anak.
"Sania belum bertemu bibi, Kak. Bagaimana mungkin Sania pulang sekarang." Dia menolak untuk pulang, sebelum bertemu bibinya.
"Son sedang mengamuk di rumah," ucap Darien memberitahu.
.
.
.
__ADS_1