
Setelah beberapa jam menunggu, akhirnya operasi berjalan dengan lancar. Bayi perempuan yang Keyla kandung akhirnya bisa dikeluarkan dengan selamat. Rico mengucap puji syukur tak hentinya pada Sang Maha Kuasa.
Bayi mungil yang saat ini berada di dekapan seorang perawat, ia tatap lamat-lamat. Perawat itu perlahan memberikan bayi mungil itu pada ayah kandungnya.
Istrinya masih terbaring lemah, dia masih pingsan. Rico memandangi wajah istrinya dan putri kecilnya bergantian, mereka sangat mirip. "Sayang, terima kasih," bisiknya tepat di telinga sang istri.
Dan tiba-tiba mata Keyla mengerjab, Rico tak menyadari karna masih sibuk memandangi putri kecilnya.
"Sa-sayang ...." panggilnya lirih. Rico langsung menoleh, matanya berkaca-kaca melihat istrinya sudah sadar. "Itu anak kita?" tanyanya.
"Iya sayang. Ini putri kita. Cantik, bukan?" Rico mengecup kening istrinya, berkali-kali ia mengucapkan terima kasih atas perjuangannya.
.
.
.
Berita tentang Keyla yang sudah melahirkan akhirnya sampai juga pada Math. Pria itu menangis merasa sangat bahagia.
"Tuan, apa Anda sangat bahagia sampai mengeluarkan air mata?" Math mengangguk, dia sungguh bahagia.
"Tuan minum obat dulu ya agar cepat sembuh. Nanti bisa secepatnya melihat wajahnya cucu Anda yang cantik," ujar Bi Mar membujuk Math yang terkadang susah sekali untuk minum obat.
Math akhirnya perlahan mau membuka mulutnya. Menelan obat demi obat yang diberikan Bi Mar untuknya.
Sejak kepulangannya dari rumah sakit, Math tambah jatuh sakit. Seakan banyak penyakit yang tiba-tiba hinggap di tubuhnya. Bahkan saat ini tangan dan kakinya sulit untuk ia gerakan. Gerakannya tak sebebas dulu. Juga mulutnya yang kaku, tak dapat berbicara leluasa seperti sedia kala.
Bi Mar menatap haru keadaan Math saat ini. Hanya dia yang senantiasa merawat Math. Luzi tidak pernah menampakkan batang hidungnya sampai saat ini. Entah mereka sudah benar-benar berpisah atau belum, dia tidak tahu. Bi Mar tak mau menanyakan hal yang bersifat privasi.
"Tuan, saya ke belakang dulu. Jika Anda butuh sesuatu, tinggal pencet bel ini." Sebuah bel yang dipasang dipinggir ranjangnya, ini atas usul dari Darien. Walaupun ada seorang pelayan yang setiap waktu mengecek keadaan Math di dalam kamar. Itu hanya untuk berjaga-jaga saja.
"Is-is-tri .... Ku," ujarnya terbata. Setiap hari dia memanggil istrinya. Tapi Bi Mar tak dapat menjawab.
"Tuan, saya pamit ke belakang dulu." Tak mau terus menerus mendengarkan perkataannya yang menyedihkan, Bi Mar memilih keluar dari kamar. Hatinya begitu sesak, melihat tuan besarnya dengan keadaan seperti ini. Walaupun dulu Math selalu saja memarahinya, itu lebih baik daripada melihat Math seperti ini.
__ADS_1
"Hallo, Tuan."
Bi Mar menghubungi salah satu dari putra Math. Dia disuruh melaporkan setiap hari tentang kondisi ayahnya.
"Tuan Math tidak ada perubahan, Tuan. Beliau tetap saja susah untuk minum obat dan dia selalu mencari nyonya Luzi."
Seseorang di sana menghela napasnya panjang, entah sampai kapan ayahnya akan seperti ini.
***
Hari ini akan ada pertemuan semua keluarga. Rico dan Keyla akan mengadakan perayaan kecil-kecilan untuk menyambut kelahiran putri kecilnya.
"Kak, apa kita bawa ayah saja untuk berobat ke luar negeri?" usul Darien.
Rico merasa setuju dengan usulnya. "Kakak setuju saja. Tapi nanti siapa yang akan menemani ayah di sana. Kau tahu sendiri Kakak sibuk mengurus perusahaan juga Keyla yang habis melahirkan. Lalu kau? Kau juga ada Valencia yang sedang hamil muda. Dan Son? Sania perutnya sudah besar."
Betul juga, Darien merasa bingung sekarang. Lalu matanya menatap Luzi yang sedang asyik menggendong cucu pertamanya.
"Bagaimana kalau kita minta tolong ibu? Kita juga harus membuat mereka berdua bersatu kembali, Kak," usulnya lagi Darien.
"Tidak mungkin! Jangan membuat Ibu marah dan pergi lagi!" Rico tidak setuju, biarlah masalah mereka dia tidak ikut campur. Walaupun kini keluarga dia tak seutuh dulu.
"Ayah kenapa tidak datang, Bi?" Rico menelepon Bi Mar.
"Tuan menolak untuk datang, Tuan. Katanya beliau malu jika bertemu dengan keluarga nona Keyla."
Mendengar jawaban dari Bi Mar, membuat hatinya tercabik-cabik. Sejauh itu pikiran ayahnya. Padahal tak ada yang salah dengan kondisi Math saat ini.
"Baiklah, Bi. Katakan pada ayah, besok aku dan keyla akan datang ke rumah."
Suasana dalam acara perayaan kelahiran putrinya berjalan dengan lancar. Putri kecilnya dia beri nama Meysa.
"Meysa cantik, Bibi Valencia dan Paman Darien pamit pulang dulu ya. Ini hadiah untukmu." Valencia memberikan sebuah bingkisan. Ia berikan pada Keyla.
Lalu kini giliran Son dan Sania. Son lah yang memberikan bingkisan pada Rico. Sedangkan Sania hanya membuntuti suaminya.
__ADS_1
"Sebentar lagi kau juga akan menjadi seorang ayah, Son!" tepuknya pada pundak adiknya. Son tersenyum canggung, dia juga merasa deg-degan. Perut Sania semakin membuncit, walaupun baru beberapa bulan.
"Iya, Kak." Son dan Sania pun pamit pulang. Sedangkan Luzi memang berencana akan tinggal bersama mereka. Beliau akan menemani Keyla mengurus putri kecilnya.
Di halaman rumah Rico, kedua pasangan suami istri itu saling lempar pandangan.
"Jangan memelototinya!" Sania mencubit lengan suaminya. "Kak Darien dan Kak Valencia apa kalian tidak mau main ke rumah kita dulu? Kita sudah lama tidak saling bertukar cerita," ajaknya memecah keheningan.
Valencia menoleh pada suaminya. "Tidak, Sania. Sepertinya suamimu sudah lelah. Kakak pulang dulu," jawab Darien seraya melemparkan tatapan tajamnya pada Son yang juga tak hentinya memandanginya.
"Son! Berbaikan lah dengan kak Darien! Sebenarnya apa yang membuatmu benci?"
"Benci? Aku tidak membencinya," elaknya kemudian.
"Jika tidak membenci kenapa kau tidak pernah bertegur sapa. Selalu saja melemparkan kata-kata yang tajam!"
Son menggandengnya menuju mobil, tak mau mendengarkan celotehannya terus menerus.
"Hey! Kenapa tidak jawab!" Sudah dengan posisi duduk, istrinya ini masih saja berbicara.
"Nanti deh kapan-kapan!" jawabnya dengan gampang.
"Kau aneh!"
"Jika aku aneh. Berarti kau apa?"
"Hey! Kenapa jadi aku?"
"Siapa orang yang mau dengan orang aneh jika orang itu tidak lebih dari aneh."
Ah Sania pusing. Berdebat dengan suaminya memang tak ada habisnya. Untuk kali ini, dia kalah. Karna dia sudah lelah akan aktivitas hari ini. Akhirnya Sania memilih diam dan memejamkan matanya sambil bersender.
"Nah gitu dong diam. Kan kupingku tidak sakit."
Son tertawa dalam hati. Merasa gemas dengan istrinya sendiri.
__ADS_1
"Ihhh chubbynya istriku!" cubitnya gemas pada pipinya yang berisi.
"Ahh sakit!" Sania membuka matanya dan memelototinya.