
"Sania, kenapa kamu ingin berpisah dengan Son? Apa kamu sudah memikirkannya matang-matang? Juga dampak untuk hidup kamu selanjutnya. Sania, menikah itu hal yang sakral. Jika kamu ada masalah dengan suami kamu, jangan langsung menginginkan perpisahan," tutur Paman Raul.
Wajah manis Sania ditekuk. Dia menatap sendu lantai-lantai keramik yang tersusun rata itu. Mengharapkan mendapatkan jawaban dari pertanyaan pamannya.
"Sania, lihat Paman," pintanya. Melihat Sania seperti ini, dia merasa gagal menjadi sosok pengganti orang tuanya. Andai dulu dia tidak jahat pada Sania, mungkin gadis ini tidak akan mengalami kehidupan seperti ini.
Sania perlahan mengangkat kepalanya, menatap kedua mata pamannya yang serasa menyejukkan hati. Ini benar-benar tatapan yang ia harapkan. Tatapan kasih sayang orang tua kepada anaknya.
"Coba ceritakan bagaimana kamu bisa menikah dengan Son. Kalian bertemu dimana? Dan apa yang menyebabkan kamu mau menikah dengannya?" Hingga saat ini pertanyaan yang selalu muncul dibenaknya, belum mendapatkan jawaban. Dia berharap Sania mau menjawabnya.
Ini sebuah rahasia, dimana Sania harus menjadi seorang istri dari pria buta untuk membuatnya perlahan menerima operasi mata. Dia harus berjuang membuat Son jatuh hati dan kemudian membuat hidupnya lebih berarti. Math memakai cara itu karena tak ada cara lain. Dia ingin seseorang masuk ke dalam kehidupan putranya dan mengubah pemikiran Son untuk menghukum dirinya sendiri. Pilihannya tepat pada Sania. Si gadis lugu yang penurut.
"Kita pernah bertemu di suatu tempat. Dan ayah Math menyuruh kita untuk segera menikah." Jawaban dari Sania tidak membuatnya puas.
"Lalu kenapa Son tidak operasi mata saja dari dulu. Dia bahkan tidak melihatmu dari awal menikah. Apa Son tidak merasa penasaran?" tanyanya bertubi.
"Ada sesuatu hal yang membuat Son belum mau operasi mata, Paman."
Sampai kapan pun Sania tidak mau membongkar rahasia ini. Tetaplah menjadi sebuah rahasia yang kekal. Tak mau semuanya tahu apa yang terjadi sebenarnya dari pernikahan mereka. Son yang selalu bertindak kasar, tak pernah ia ceritakan pada siapa pun juga.
"Sania—"
"Paman, Sania sudah memikirkan tentang hal ini matang-matang. Tolong hargai keputusan Sania."
Raul menatap punggung keponakannya yang sudah berlalu pergi, Sania lelah dan ingin segera beristirahat. Tangan kirinya merogoh sakunya untuk menghubungi seseorang.
.
.
.
Tak ada kata lelah untuk dirinya sendiri. Satu senyuman ia ukir di bibirnya yang pucat. Dia melajukan mobilnya cepat untuk menuju kediaman seseorang. Tak sabar ingin segera sampai.
Baru saja memarkirkan mobil, seseorang telah menunggunya di depan pintu.
"Paman—"
__ADS_1
"Masuk lah. Sania ada di dalam kamar."
Raul tak menepati janjinya untuk merahasiakan keberadaan Sania dari Son. Tak peduli jika keponakannya ini akan marah dengannya. Yang dia inginkan pernikahan mereka bisa selamat. Semoga saja Son bisa memperbaiki hubungan mereka.
"Son ...." panggilnya sebelum Son mengetok pintu kamar Sania. Dia menurunkan tangannya dari daun pintu dan menatap Raul.
"Iya, Paman," sahutnya.
"Paham tidak mau kalian berpisah. Apa pun masalah yang kalian hadapi, Paman tidak mau adanya perpisahan." Raul berlalu pergi, tak butuh jawaban dari Son. Dia bahkan tak ingin mendengarkan suaranya.
Son hampir membuka mulutnya, ingin menjawabnya tapi dia juga bingung.
TOK!
TOK!
TOK!
Ketokan pintu dari luar membuat Sania yang sedang berbaring akhirnya bangkit. Dia pikir mungkin saja Pak Mail. Senyumannya sudah terukir indah di bibir manisnya. Tapi saat melihat orang yang ternyata ada dibalik pintu, sesaat dia melunturkan senyumannya. Sania tak dapat bergerak, seakan tubuhnya terkunci. Wajah tampan itu memenuhi seluruh penglihatannya. Dia kesal karna hatinya masih memuji suaminya yang tampan.
Son menyelonong masuk bahkan dengan sengaja menabrak tubuh Sania hingga gadis itu hampir terjatuh. Sania yang kesal, dia berjalan keluar kamar tapi tangannya tiba-tiba ditarik masuk. Dan ....
Pintu ditutup dengan kencangnya. Son menyenderkan Sania di belakang pintu. Menatap kedua matanya yang berusaha menghindari tatapannya.
"Apa kau lupa tugas sebagai istri?" Suara Son yang berat membuat hati Sania bergetar. Kenapa dia harus bertemu dengannya. Harusnya dia tidak usah pulang saja kemari, jika ujung-ujungnya akan bertemu dengan dia lagi.
"Aku bukan istrimu lagi," jawabnya masih memalingkan wajahnya.
"Aku masih sah sebagai suamimu. Dan kau juga masih sah sebagai istriku."
"Aku sudah—"
"Tapi aku belum tanda tangan!" jawabnya membentak. "Dan tak akan pernah," jawabnya dengan suara lirih. Kini mata Sania menatapnya, mencari kebohongan di kedua matanya yang tajam.
"Kenapa? Bukannya ini yang kau mau?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
"A-ku, a—" Bibirnya tiba-tiba mengecup mesra bibir milik istrinya yang menggoda. Dia terhanyut suasana. Semakin lama, semakin dalam esapan bibirnya yang membuat candu. Son merasakan kenyamanan di dalam sana. Juga Sania yang mengikuti cara main Son yang terkesan ahli.
__ADS_1
Setelah cukup puas, Son melepaskan ciuman tiba-tibanya itu. Bahkan dia lupa apa yang akan dia katakan tadi.
Jantung Sania masih berdebar-debar. Ini kedua kalinya Son menciumnya. Terasa aneh baginya, pria setampan dirinya mau mencium gadis ingusan seperti dirinya.
"Jantung! Tolong jangan seperti ini!"
Sania tak ingin bunyi debaran jantungnya sampai ke telinga Son.
Perlahan Son mengendurkan sentuhan pada pinggang Sania. Selalu saja dia tak bisa mengontrol napsunya. Dia sudah bisa melihat, wajah manis Sania seakan menggodanya sekarang.
Dia berjalan menuju ranjang sembari mengambil sesuatu yang berada di dalam sakunya.
SRETTT!!! SREETT!!!!
Sebuah kertas berukuran panjang itu ia robek hingga kecil-kecil dan ia hamburkan. Dia berbalik, menatap Sania yang dibuat heran olehnya.
"Aku sudah merobeknya. Kita tidak akan berpisah."
Sania semakin tidak mengerti. Dia sudah susah payah mengajukan perpisahan itu, tapi Son dengan mudahnya merobek segala usahanya tanpa belas kasih.
"A-aku ...." Sania tak bisa berkata-kata.
"Aku tidak ingin berpisah," ucap Son membuat Sania menggenggam erat ujung dressnya.
"Kenapa? Bukannya kau menginginkan aku pergi dari dulu?" Keinginannya untuk hidup bebas nyatanya tak akan pernah terjadi. Son seakan telah memperangkapnya di kehidupannya.
"Aku lelah!" Kepala Son mendadak pusing. Sepertinya dia dehidrasi, karna tak memasukan cairan sedari pagi. Membuat tubuhnya lemas. "Air. Tolong ambilkan air," pintanya. Son memegangi kepalanya yang semakin pusing.
Sania tak lekas bergerak, dia masih dalam keadaan shock.
"Sania! Apa kau tuli?" seru Son membuat Sania akhirnya pergi mengambilkan air minum. Di dapur dia bertemu dengan Pak Mail.
"Nona, mau apa?" tanyanya.
"Hanya mau ambil ini," jawabnya dengan membawa segelas air putih.
"Nona, jangan gegabah." Entah apa yang membuat Pak Mail tiba-tiba mengatakan itu. Sania yang tak maksud memilih segera berlalu.
__ADS_1
"Ini." Sania menyodorkan gelas berisi air itu. Son langsung meneguk airnya hingga tak tersisa di gelas.