
Karyawan salon menyambut dengan hangat kedatangan Son dan Sania. Mereka masih mengenali wajah tampan dan cantik pasangan tersebut.
"Nona, Anda kemari lagi. Anda semakin cantik saja, pujinya.
Karyawan tadi mempersilahkan Sania untuk duduk. Sedangkan Son masih berdiri dengan tangannya masih digandeng Sania.
"Dia pernah ke sini? Bersama siapa?"
"Nona, ini suami Anda, kan? Apa Tuan ini juga akan potong rambut?" tanyanya.
"Iya, suamiku juga akan potong rambut."
"Tidak!!!! Aku tidak mau!" tolaknya. Dia berteriak keras membuat Sania dibuat malu. Sania lantas mencubitnya merasa kesal. "Awwww!!!!" pekiknya. Cubitannya terasa panas di tangannya.
"Kau jangan mempermalukan aku!" Dia menyenggol lengannya dan berbicara lebih dekat pada telinganya. Seluruh mata memperhatikan keduanya dengan seksama. Sania dibuat canggung di suasana seperti ini.
"Aku tidak mau potong rambut!" Son masih menolaknya. Sania yang kesal duduk kembali dan meminta karyawan salon untuk memulai saja untuk potong rambut dirinya. Son yang tidak mau, ia biarkan berdiri di sampingnya terus.
"Nona, ini suami Anda tidak disuruh duduk dulu?" Karyawan salon merasa tidak enak hati pada Son yang berdiri terus. Dia ingin menuntunnya ke kursi tunggu, tapi dia tidak berani.
"Biarkan saja!" ujar Sania tak mau menghiraukan.
"Hey! Kakiku pegal! Aku mau duduk!" Son yang mendengar percakapan mereka lantas menjawabnya. Rasanya benar-benar lelah. Kenapa dia harus pura-pura buta seperti ini. Jadi, dia merasa sulit sendiri.
"Tolong antarkan suami saya untuk duduk di kursi tunggu." Sania menyuruh salah satu karyawan untuk menuntun suaminya.
Sania mengambil satu majalah untuk ia baca. Sambil menunggu rambutnya selesai dipotong.
"Model biasa, Nona?" Sania mengangguk. Dia mempercayakan kepada karyawan salon ini. Karna dulu saat pertama kali kesini, dia puas dengan hasilnya.
Setelah menunggu hampir satu jam lamanya, Sania akhirnya selesai. Son bisa bernapas lega, rasanya jenuh sekali menunggu wanita di salon.
Saat dia beranjak bangun, ponselnya berdering. Ada panggilan masuk dari ayah mertuanya.
"Hallo, Yah. Iya Sania dan Son segera kesana."
Ayah mertuanya sudah menyuruhnya untuk cepat datang ke rumah utama. Karna acara sebentar lagi akan dimulai.
.
.
.
__ADS_1
Semua pekerja di rumah utama sedang sibuk menyiapkan acara ulang tahun Nyonya Luzi. Mereka saling gotong royong menyiapkan semuanya. Mulai dari dekorasi, makanan dan juga tempatnya. Mereka akan merayakan di ruang tengah.
Luzi dengan pasrahnya duduk di kursi sambil didandani oleh seorang make up artist dan juga ada seseorang yang ahli sedang menata rambutnya. Math sengaja mendatangkan mereka semua, ingin penampilan istrinya sempurna di hari spesialnya.
Math memang selalu memberikan hadiah atau pun kejutan untuk istrinya. Sebagai bentuk perhatian dan juga agar anak-anaknya tidak mencurigai hubungan mereka sebenarnya. Math selalu berlaku baik pada istrinya di depan anak-anaknya.
"Aku membenci hari ini!"
Luzi tidak bahagia di hari ulang tahunnya. Menurutnya percuma saja, Math melakukan ini hanya untuk terlihat baik di depan anak-anaknya saja.
"Nyonya, lihatlah Anda cantik sekali," pujinya seorang make up artist yang terlihat kagum dengan Luzi. Ia wanita berumur tapi kulit wajahnya masih bagus.
"Tidak, aku sudah tua!" jawabnya. Dia lalu beranjak bangun dan memilih untuk ke kamarnya.
"Nyonya, Anda mau kemana!" teriakan mereka tak diindahkan. Luzi tidak mau berada di sana karna membuatnya bosan.
"Kau mau kemana?" Baru saja berjalan, ia bertemu dengan Math.
Mata mereka saling bertemu, dalam hatinya Math mengagumi kecantikan istrinya. Walaupun ia terlihat cantik, tapi hati Math belum terpikat.
"Aku mau ke kamar. Putra-putraku belum datang, kan?" Semenjak kaburnya Luzi kemarin, Math menjadi takut jika istrinya tiba-tiba pergi lagi. Entah kenapa, hatinya merasa gundah saat Luzi tidak ada di sampingnya. Bertahun-tahun mereka bersama, satu hari tanpa melihat istrinya rasanya sangat berbeda. Dia seperti kehilangan sesuatu yang ada di dalam hidupnya. Walaupun hatinya belum terikat pada Luzi sepenuhnya.
"Ayo kita ke depan saja." Math tiba-tiba meraih tangannya, ia menggandengnya. Luzi terkejut dengan perlakuan Math yang tiba-tiba. Dia bisa bersikap manis padahal tidak di hadapan putra-putranya.
Mereka berjalan bersama dengan bergandengan. Waktu terasa begitu lama. Luzi mendadak grogi saat jari jemarinya digenggam erat oleh suaminya. Cinta yang tumbuh dari pertama kali melihat Math hingga saat ini tak berubah. Luzi masih mencintainya jauh sebelum mereka saling kenal.
"Ibu, selamat ulang tahun ...." Rico putranya yang pertama ternyata sudah datang, ia menggandeng Keyla. Mereka saling berpelukan, tak lupa juga dengan menantunya yang hamil.
"Rico, Keyla ... ternyata kalian sudah datang." Luzi tersenyum bahagia melihat Rico dengan istrinya. Dia berandai jika pernikahannya dengan Math seperti Rico dan Keyla, diberikan keturunan cepat setelah menikah pasti bahagia sekali. Sayang sekali, dirinya mandul. Itu membuatnya sedih setiap mengingatnya.
"Ibu .... Aku berdoa semoga Ibu panjang umur, selalu diberikan kesehatan, juga semoga Ibu tidak akan pernah berubah sampai kapan pun. Akan tetap selalu menyayangi aku ...." ucapnya dengan mata berkaca. Walaupun Rico tahu bahwa Luzi bukan ibu kandungnya. Tapi ia sangat menyayanginya.
"Rico, putra Ibu yang baik. Ibu juga berharap kalian sehat selalu dan pernikahan kalian selalu diberkahi." Luzi merasa sedih, melihat putra-putranya sudah beranjak dewasa dan kedua putranya sudah menikah. Waktu terasa begitu cepat, mereka sudah memiliki hidup masing-masing.
Suara langkah kaki terdengar semakin mendekat, mereka mengalihkan perhatiannya pada pintu. Tak berapa lama munculnya pasangan suami istri yang sangat serasi itu.
"Sania, Son ...." Luzi merindukan mereka berdua.
Ini pertama kalinya Son melihat wajah-wajah dari keluarganya. Rico, dia melihat kakak pertamanya yang terlihat gagah di usianya yang sudah matang. Tak banyak berubah dari sebelum dia kehilangan penglihatannya.
Keyla, dia melihat istri dari kakaknya itu. Juga tak banyak berubah darinya. Masih dengan penampilan stylishnya. Masih cantik dengan fashion terkini, karna dia juga seorang designer.
Lalu matanya beralih pada sosok Luzi. Wanita paruh baya yang dulu sempat ia anggap sebagai ibunya. Dia juga tak banyak berubah, bahkan wajahnya terlihat lebih awet muda dari usianya. Melihat wajah Luzi, hati Son merasa sakit. Dia terbayang bagaimana sakitnya hati ibu kandungnya karna ulah Luzi.
__ADS_1
"Aku tidak akan melupakan itu!"
"Son ...." Luzi melihat Son yang hanya diam.
"Son! Beri ucapan selamat ulang tahun untuk ibumu." Math tiba-tiba menyuruh Son untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Tapi pria itu tidak membuka mulutnya sama sekali, padahal Sania menyenggol lengannya beberapa kali.
"Ibu, selamat ulang tahun. Doa yang terbaik untuk Ibu. Sania dan Son selalu mendoakan Ibu yang baik-baik. Oh ya, ini kado dari aku dan Son." Sania memberikan paper bag yang berisi tas branded itu, Luzi menerimanya dengan senang hati. Tapi matanya melirik pada Son, ingin rasanya memeluknya sebentar. Tapi itu hal yang mustahil.
"Dimana Darien? Putramu yang mandiri itu dimana?" Semuanya telah berkumpul, hanya tinggal menunggu Darien saja.
"Sayang, mana kata kamu Son sudah bisa melihat? Dia masih buta, lihatlah itu!" bisiknya didekat telinga suaminya. Keyla tak hentinya memandangi Son. Pria buta itu tampak menyedihkan dengan keadaannya sekarang, tapi Keyla menatapnya dengan sinis. Walaupun merasa kasihan, tapi Keyla masih tetap tidak menyukai.
"Untuk itu kita bicarakan nanti. Hari ini khusus acara perayaan ulang tahun Ibu." Rico mendapat kabar baru lagi dari Math. Ayahnya menyuruhnya untuk merahasiakan tentang operasi mata Son. Rico bingung, tapi dia menurut saja. Tapi yang ia lihat sekarang, memang Son seperti sedang pura-pura buta. Lihatlah, dia seperti sedang mencuri-curi pandang pada istrinya sendiri.
Cukup lama menunggu hingga Darien datang. Membuat Son merasa jenuh dan meminta pulang. Sania jadi merasa tidak enak dengan Luzi. Wanita paruh baya itu tampak sedih, terlihat dari kedua matanya yang sendu.
"Darien! Kau ini kemana saja!" Rico memarahi adiknya. Merasa kesal dengan adiknya yang tidak tepat waktu.
"Maaf Bu, Darien terlambat." Arah matanya melirik pada Son yang juga sedang memandang kearahnya.
"Apa yang sedang kau rencanakan?" tanyanya dalam hati.
Saat sedang di dalam perjalanan, Darien mendapat pesan dari ayahnya.
"Darien, hari ini acara di rumah hanya untuk merayakan ulang tahun Ibumu. Untuk perayaan Son yang sudah operasi mata nanti saja. Dan soal Son yang sudah bisa melihat, tolong rahasiakan dari Sania. Itu atas permintaan Son. Darien, tolong kerjasamanya. Adikmu sedang butuh bantuan mu kali ini saja."
Tak hentinya dia menatap Son yang tetap menyebalkan. Tapi perhatiannya teralihkan pada sosok Sania yang duduk berhimpitan dengan Son. Mereka duduk tanpa jarak. Padahal sofanya panjang.
Acara pun dimulai. Tidak seperti acara anak-anak. Luzi hanya diberi waktu untuk berdoa didalam hatinya. Dan setelah itu, ia mulai potong kue. Satu potongan kue, ia berikan pada Math. Dan potongan kedua dan ketiga untuk Rico dan Darien. Dan potongan ke empat untuk Son. Tapi Luzi sengaja memotong kuenya besar hanya untuk Son. Karna ia tahu, Son kecil selalu iri dengan kakak-kakaknya.
"Son, ini untukmu. Ibu potongkan kue yang besar. Kakakmu susah ibu berikan potongan kue yang lebih kecil. Mereka sudah besar, mereka pasti mau mengalah untukmu," ujarnya dengan senyuman.
Sania yang mengambil kue pemberian ibu mertuanya. Dia mengucapkan terima kasih. Sania lantas memberikan kue itu untuk Son. Tapi Son tidak mau menerimanya. Dia menggelengkan kepala.
"Untuk apa aku diberikan potongan yang lebih besar. Itu tidak akan adil, karna aku bukan putra kandungmu. Berikan potongan yang besar untuk putra kandungmu saja!" Sania terkejut mendengar perkataan Son. Luzi langsung melunturkan senyumannya. Dia merasa sakit hati dengan perkataan Son.
"Son! Jaga bicaramu!" seru Math.
"Son! Kenapa kamu bicara seperti itu. Son kamu tidak tahu apa-apa!" Rico ikut berbicara.
"Kau selalu saja membuat masalah! Kau ini benar-benar selalu—"
"Diam semuanya!" Math berteriak, membuat kedua putranya itu serentak diam. Mereka seperti menghakimi Son.
__ADS_1
"Ayah! Dia keterlaluan, dia—"
"Diam semuanya!!!!!!!" Kini Luzi yang sudah sangat hancur hatinya tak bisa menahan tangisnya. Dia menangis sambil terduduk lemas. Sania dan Keyla mencoba menenangkan Luzi.