
Makanan telah tersaji dengan rapi di atas meja makan. Sania bangun sedari pagi untuk membantu Pak Mail memasak. Itu adalah kebiasaannya dari dulu, selalu membantu Pak Mail. Maria yang duduk di sebelah Raul tak hentinya menatap Son. Dia baru kali ini bisa melihatnya dari dekat. Suami dari sepupunya ini memang sangat tampan.
Suara motor berhenti di pelataran rumah menyita perhatian Maria. Dia menebak bahwa itu adalah Jeffry.
"Ayah, Maria pamit berangkat dulu." Sarapannya sudah selesai, dia lekas bergegas berangkat.
"Suara motor siapa itu?" tanya Son.
"Jeffry, temannya Maria," jawab Sania.
"Oh ya, teman? Kekasih mungkin," tebaknya.
"Tidak, Son. Jeffry juga temannya Sania. Mereka bahkan kenal lebih dulu." Paman Raul ikut menimpali.
Son langsung menoleh ke arah Sania, tapi matanya dibuat seakan tak memandangnya pasti.
"Hati-hati, Sania, Son. Salam untuk ibumu, Son." Paman Raul melambaikan tangan sesaat setelah mobil mereka melaju pergi.
"Pak, kita jalan ke mall," perintah Sania pada Pak Sopir.
"Jangan! Kita pulang saja ke rumah." Son masih saja keras kepala.
"Kita jalan ke mall, Pak. Ini perintah ayah!" ujar Sania membuat Pak Sopir akhirnya mengangguk patuh.
"Aku ingin pulang! Jika kau ingin ke mall, biar aku turun di sini saja!" ancamnya kemudian.
"Baiklah. Pak, berhenti!" Sania mengiyakan permintaan Son, membuat pria itu mengernyitkan dahinya heran. "Turunlah," suruhnya saat mobilnya sudah berhenti.
"Hey apa kau tidak lihat! Aku buta! Kenapa—"
"Ya sudah, ikut saja!" potongnya cepat.
Sebenarnya Son bisa saja pulang sendiri karna dia bisa melihat, tapi itu akan mencurigakan.
__ADS_1
Mereka berhenti di sebuah mall yang besar. Sania berjalan sambil menggandeng Son. Semua mata tertuju pada pasangan suami istri tersebut. Mereka awalnya memuji ketampanan dan kecantikan pasangan itu, tapi setelahnya malah merasa kasian dengan pria yang buta itu.
"Ibu suka apa? Aku bingung mau membelikan apa." Mereka menuju sebuah store pakaian. Tapi sepertinya Sania tidak jadi membelikan Luzi sebuah pakaian. Takut jika tidak sesuai dengan seleranya.
Dia kemudian beralih pada store yang menjual tas-tas branded. "Mungkin membelikan tas lebih cocok." Baru kali ini Sania masuk ke dalam store tas yang bermerk. Walaupun dia merasa canggung, tapi dia berusaha menutupi. Jangan terlihat seperti kampungan sekali. Lihatlah Sania sekarang merasa percaya diri, karna dia mempunyai beberapa atm yang isinya tak terhingga. Bukan berarti dia sombong, hanya saja dia merasa beruntung. Toh, tak pernah ia belanjakan untuk dirinya sendiri.
"Warna ungu atau merah?" Dia menemukan tas yang cocok untuk Luzi, tapi dia bingung menentukan warnanya.
"Hitam," jawab Son membuat Sania menghela napas. Merasa kesal karna jawabannya tak ada dipilihannya.
"Tidak ada hitam! Ini adanya ungu dan merah. Kenapa pria suka warna hitam. Hitam itu kan gelap, jelek!" ejeknya.
"Bagus bagi orang yang menyukai," selanya kemudian.
Pilihan Sania akhirnya jatuh pada tas berwarna ungu. Dia lantas membayar ke kasir dengan atm miliknya.
"Kau memiliki uang?" tanya Son.
"Punya, banyak!" jawabnya sombong.
"Uangmu? Apa kau kerja?"
"Intinya itu pasti uangku!" ucapnya tak mau kalah.
Sania memutar bola matanya jengah. Selama di sini mereka selalu berdebat. Hingga para karyawan store dibuat geleng-geleng kepala dengan tingkah mereka berdua.
Dilihat-lihat Sania cukup manis. Matanya yang polos menjadi daya tarik tersendiri oleh Son. Bulu matanya yang lentik bergerak kesana kemari mengikuti arah matanya yang tak henti memandangi kasir yang sedang menota belanjaannya.
Hari ini gadis itu memakai dress cantik bermotif bunga matahari. Kekanakan sih, tapi pas dengan umurnya yang masih muda. Dia terlihat seperti remaja seusianya.
"Ayo kita ke rumah utama," ajaknya dan menggandeng lagi Son.
Son dengan sengaja membuat Sania susah berjalan. Kakinya dia sengaja injak-injakkan ke kaki Sania.
__ADS_1
"Aww sakit! Jangan menginjak kakiku!" Beberapa kali Son menginjak kakinya. Padahal dia sudah menuntunnya betul-betul. Tapi tetap saja Son seperti kesusahan berjalan.
"Aku takut menabrak orang!"
"Tidak, aku kan bisa melihat. Aku menuntun mu dengan benar. Tidak ada orang. Ini masih sepi. Karna hari masih pagi." Tepat di depan lift mereka berhenti, menunggu lift itu terbuka.
"Ayo masuk," ajaknya. Di dalam lift tidak ada orang, hanya ada mereka berdua. Son bersender di belakang, sengaja memandangi Sania dari belakang. Sedangkan Sania sibuk mengecek tas yang tadi dia beli. Dia sebenarnya menginginkan tas model lain untuk dirinya sendiri, tapi dia tidak mau memakai uang itu. Nanti dikira dia senang menghambur-hamburkan uang yang bukan miliknya.
Lift terbuka, Sania meraih tangan Son kembali. Tepat di halaman parkir mereka berhenti. Sania tidak melihat mobil milik mereka.
"Di mana pak sopir?" Matanya berpendar mengelilingi tempatnya parkir. Dia benar-benar tidak menemukan mobilnya.
"Dilihat benar-benar! Masa tidak lihat mobil mewah milikku!" ucap Son yang angkuh. Sania ini memang tidak melihat atau dia tidak bisa mengenali mobil miliknya. Sayang sekali Son sedang berpura-pura tidak bisa melihat, jika tidak dia sudah berjalan menuju mobilnya yang terletak tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Hey, dimana mobilku!" Son merasa kesal sendiri, dia melihat wajah Sania yang lucu. Dia merasa bingung sendiri sampai-sampai dia akhirnya menelepon Pak Sopir.
"Hallo, Pak. Bapak parkir di mana mobilnya?" tanyanya karna menyerah tak menemukan dimana mobil mereka.
"Di sini, Nona." Pak Sopir keluar dari mobil dan matanya berpendar mencari nonanya. Dia lantas melambaikan tangan berharap Sania melihatnya.
"Ah ya itu!" Sania kemudian menutup teleponnya. Dia menarik tangan suaminya kembali.
"Aku yang pura-pura buta kenapa jadi dia yang buta beneran!"
"Hey kau ini tidak melihat mobil mewahku ini?" Tak mau memperdulikan ucapan suaminya, dia memilih untuk diam. Sania sekarang sedang berpikir jika ke rumah utama dia harus bagaimana. Dia merasa malu jika harus berkumpul dengan keluarga suaminya. Apalagi melihat Keyla yang tampak tak suka dengannya. Takut jika wanita cantik itu berkata yang tidak mengenakkan hati.
"Kita ke salon dulu, Pak," ucapnya kemudian. Dia ingin memotong rambutnya agar terlihat lebih rapi dan cantik. Juga melihat rambut suaminya yang sudah agak panjang.
"Untuk apa? Aku tidak mau ikut!"
Sania tak memperdulikan suaminya, dia memilih memandangi pemandangan di luar jendela.
"Hey, aku bilang aku tidak mau ikut!" Son sama saja menjadi seperti dirinya, menjadi cerewet banyak bicara.
__ADS_1
"Terus kau mau apa? Kamu tinggal diam dan duduk manis saja!" jawab Sania dengan lantang. Kini dia berani dengan suaminya sendiri.
Pak Sopir diam-diam menyembunyikan senyumannya. Mendengar mereka berdebat ternyata lucu juga.