ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 51 MALAS BERTEMU


__ADS_3

Mengawali pagi harusnya dengan senyuman. Tapi berbeda dengan Sania. Gadis belasan tahun itu, menekuk wajahnya tampak tak bersemangat hari ini. Piringnya yang sudah diisi berbagai macam lauk pauk hanya buat mainan dia saja. Tak kunjung dia masukkan ke dalam mulut.


"Kau sudah di sini rupanya." Darien dengan pakaian rapi duduk di sebelahnya. Sania membenarkan posisi duduknya, dia memberikan senyuman pada kakak iparnya singkat. "Di mana, Son? Apa dia tak ikut sarapan bersama?" tanyanya lagi kemudian melirik Sania.


"Son sarapan di kamar, Kak. Pelayan sudah membawakan makanan ke dalam kamar," jawabnya dan Darien hanya mengangguk.


"Kak!"


"Sania!" ucap mereka bersamaan. Keduanya saling bertatapan.


"Kenapa, Sania?"


"Kakak mau bicara apa?" tanya Sania balik.


"Kamu saja dulu. Apa yang ingin kamu katakan?" Darien masih memandangi adik iparnya. Gadis itu begitu manis menurutnya. Membuat siapa pun tak bosan untuk memandanginya.


"Tidak, Kak. Tidak penting." Entah apa yang ingin dia katakan pada Darien, Sania memilih untuk tidak mengatakannya.


"Katakan saja. Jangan buat Kakak penasaran. Kakak akan susah tidur nanti," godanya membuat Sania terkekeh.


"Hmm, Sania hanya ingin—"


"Apa aku meminta bantuan Kak Darien saja ya ...."


Sania ragu-ragu untuk melanjutkan perkataannya. Sedangkan Darien sudah menunggunya dengan seksama.


"Ingin apa, Sania? Katakanlah. Kakak tidak suka jika kamu merasa tidak enak dengan Kakak. Kamu ini sudah menjadi bagian keluarga. Jadi, apa yang membuatmu gelisah atau jika kamu ada masalah, Kakak juga akan ikut cemas." Sebagai seorang kakak memang seharusnya seperti itu. Menjaga adik-adiknya.


"Sania, ingin meminta bantuan Kakak," ucap Sania setelah lama berpikir.

__ADS_1


"Bantuan apa? Masalah apa yang telah terjadi padamu?" Darien meletakkan sendoknya. Menggeser tubuhnya agar leluasa memandang adik iparnya. Jarak mereka begitu dekat, bahkan Sania merasa canggung. Matanya seperti berbicara, sangat indah. Hidungnya yang mancung serta alis tebal, pria itu tampak sempurna.


Sejenak mulutnya serasa kaku, ingin rasanya mengatakan semuanya tapi Sania merasa berat. Dia merasa tidak enak hati.


"Katakan, Sania. Kenapa kamu malah diam? Jangan ragu untuk meminta bantuan Kakak. Kakak pasti akan bantu. Percaya lah." Tangannya terulur menyentuh jari jemari Sania, dia menggenggamnya perlahan. "Kamu adalah adik Kakak," ucapnya lagi membuat Sania semakin merasakan hal yang aneh.


"Selamat pagi, Tuan, Nona!" Suara Paman Leo yang tiba-tiba datang mengagetkan mereka semua. Dengan cepat Darien menarik tangannya. Mereka berdua tampak kikuk dihadapan Paman Leo. Karna hanya ada mereka berdua saja di meja makan.


"Pagi, Paman. Paman datang pagi sekali. Duduk lah, Paman. Kita sarapan bersama," ajak Darien.


"Tidak, Tuan. Saya sudah sarapan. Saya ingin menemui tuan Son saja. Permisi." Paman Leo melemparkan senyum pada Sania, membuat gadis itu dibuat heran. Senyuman yang aneh menurutnya.


"Sania, katakan sekarang." Sania hampir saja lupa. Dia belum mengatakan tentang hal yang ingin dia sampaikan. Sania sudah memutuskan untuk meminta bantuan Darien untuk mencari keberadaan Bibi Lotus. Daripada dia harus terus-menerus merepotkan ayah mertuanya.


"Itu hal yang mudah, Sania. Kakak pasti akan kabarkan padamu secepatnya. Tunggu saja," janjinya. Darien menyanggupi membantu Sania untuk mencari keberadaan Bibinya. Dia punya banyak bawahan bahkan dia bisa membayar orang-orang yang ahli dalam bidangnya, itu hal yang mudah baginya.


"Terima kasih, Kak. Sania tidak tahu harus membalas kebaikan Kakak dengan apa," ucapnya. Sania menundukkan kepalanya, dia tidak memiliki apa-apa yang merupakan hartanya sendiri. Semua yang ia miliki adalah pemberian dari ayah mertuanya. Math memberikan beberapa kartu atm atas namanya sendiri. Tapi Sania tak menjadi manusia yang tamak, dia pergunakan hanya untuk membeli kebutuhannya saja bukan sebuah keinginan untuk bermewah-mewah.


"Bahagia satu hari saja? Bagaimana itu, Kak?" tanyanya bingung.


"Nanti Kakak kasih tahu. Habiskan sarapan mu. Kakak berangkat ke kantor dulu." Tiba-tiba Darien mengacak rambutnya dengan gemas. Membuat pipi Sania merah merona. Tidak menyangka jika dirinya bisa lebih dekat layaknya teman dengan kakak iparnya. Darien begitu baik, walaupun dia sering berdebat dengan Son.


"Nona, ini pekerjaan kami. Nona, silahkan istirahat." Pelayan memberhentikan Sania yang sedang membereskan meja makan. Berkali-kali pelayan itu mengatakan bahwa tidak seharusnya Sania yang melakukan. Dia tidak mau Sania kelelahan.


"Tidak apa-apa. Aku bosan tidak melakukan apa-apa. Bisakah kau kasih aku kerjaan satu saja?" pintanya. Pelayan muda itu melirik pada pelayan senior, bingung ingin menjawabnya bagaimana.


"Nona, Anda sebaiknya menemani tuan Son saja." Kini pelayan senior yang akhirnya turun tangan menghadapi Sania yang terus menerus membujuk pelayan agar memberikannya suatu pekerjaan.


"Malas!" jawab Sania cuek. Dia malas bertemu dengan suaminya. Malas melihat wajahnya. Malas berdekatan dengannya. Intinya Sania sedang malas jika harus berinteraksi dengannya.

__ADS_1


Para pelayan hanya bisa saling pandang sambil menaikkan alisnya. Mereka tidak tahu apa yang telah terjadi pada keduanya.


"Ya sudah. Aku ingin jalan-jalan keluar!" Sania akhirnya berlalu pergi karna pelayan tidak ada yang memberikannya satu kesibukan. Langkah kakinya berjalan menuju pos satpam. Di mana di sana sudah ada satu satpam yang sedang jaga.


"Nona, ingin ke mana?" Untuk kali ini Pak Satpam harus hati-hati sekali. Tidak akan membiarkan nona mudanya pergi tanpa sopir. Tidak mau kejadian yang dulu terulang kembali. Dia yang akhirnya kena amarah majikannya.


"Tidak kemana-mana. Aku hanya ingin duduk di sini." Sania mendudukkan tubuhnya disebuah kursi yang ada di dalam pos satpam. Melihat-lihat isi ruangan kecil itu. Secangkir kopi yang masih penuh menjadi pusat perhatiannya. Letaknya di meja pojok, bahkan di sisinya sudah terdapat sebungkus rokok dengan merk yang terkenal.


Pak Satpam masih setia berdiri, dia menjadi cemas sekarang. Takut jika kedatangan nona mudanya untuk melihat kesehariannya bekerja. Takut jika Pak Satpam melakukan sebuah kesalahan, bisa jadi dia akan dipecat langsung hari itu juga.


"Jangan tegang, Pak. Saya tidak akan melakukan apa pun di sini. Saya hanya bosan saja di dalam rumah. Ingin keluar rumah sebentar," ucap Sania yang bisa membaca raut wajah Pak Satpamnya yang tegang. Dia tertawa dalam hati.


"Baik lah, Nona." Pak Satpam pun berdiri agak jauh dari pos. Dia berjalan-jalan disekitar halaman depan rumah.


BIM!


BIM!


Sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan gerbang rumah. Pak Satpam dengan sigap membuka gerbangnya.


"Kak Rico!" Kaca mobil diturunkan, dan Sania bisa melihat wajah kakak tampan yang pertama itu.


"Sania, kenapa kamu di sini? Masuk lah." Di sebelahnya ada istri cantiknya. Dia hanya meliriknya sebentar.


"Ada apa ini. Kenapa Kak Rico dan Kak Keyla ke sini pagi-pagi?"


Rico menjadi sosok suami yang idaman, dia memperlakukan istrinya layaknya seorang ratu. Membukakan pintu mobil dan menggandengnya dengan mesra.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2