
Kakinya melangkah memutari isi rumah. Rumah mewah yang di dalamnya tak terhitung ada berapa ruang di sana. Matanya berpendar mencari seseorang. Rumah ini memang luas, pantas saja ada banyak pelayan di sini. Math memperkerjakan puluhan pelayan di rumah ini. Ada yang bertugas di bagian belakang, depan juga ruang-ruang yang ada di dalam rumah.
"Apa kau melihat Ranih?" tanya Leo pada pelayan muda yang sedang berada di dapur. Aroma masakan tercium harum, membuat Leo sejenak mengelus perutnya yang sedikit merasakan lapar. Sebentar lagi memang waktunya jam makan siang.
"Bi Ranih ada di halaman belakang. Sepertinya sedang membersihkan rumput," jawab pelayan muda tadi. Tugas membersihkan rumput sebenar tugas pelayan pria, tapi di rumah ini para pelayan saling bahu membahu membantu pekerjaan yang lain. Mereka saling bekerja sama.
Ada hal yang ingin dia tanyakan pada Ranih. Pelayan senior itu belum menjawab tentang sesuatu hal yang ingin dia katakan padanya waktu itu. Ini kesempatan, dimana Son tidak bersamanya.
"Ranih, kemari lah," panggilnya pada Ranih yang sedang membungkuk. Pisau rumput yang berada di tangannya langsung ia letakan di atas tanah. Dia berjalan menuju Leo yang memanggilnya.
"Iya Leo. Ada apa?" tanyanya. Dia mengelap keringat di dahinya sejenak. Hari semakin siang, cuaca pun semakin panas.
"Katakan apa yang ingin kau katakan waktu itu? Kau belum mengatakannya padaku." Tanpa basa basi Leo menagih soal Ranih yang ingin mengatakan suatu hal padanya. Ranih berpikir sebentar, mengingat-ngingat hal apa yang ingin dia katakan pada Leo. Dan ia pun teringat.
"Soal tuan Darien. Apa aku katakan saja sekarang? Tapi, aku takut ini akan jadi masalah. Lagi pula, belum tentu mereka akan betulan pergi bersama. Tapi, jika mereka benar-benar pergi bersama bagaimana? Ini akan jadi masalah."
"Hey, kenapa diam!" Leo mengagetkannya. Ranih tergagap. Dia benar-benar bingung sekarang. "Katakan. Ada apa? Jika aku suatu saat mengetahui tentang hal itu dengan sendirinya. Kau orang pertama yang akan aku datangi!" ancamnya kemudian.
Mata Ranih melotot, dia ketakutan. Juga dia baru menyadari bahwa Leo adalah orang yang sangat berpengaruh di rumah ini. "Iya, Maaf Leo. Aku hanya ingin mengatakan bahwa waktu itu aku mendengar percakapan antara tuan Darien dan nona Sania."
Saat mendengar kedua nama itu, Leo semakin penasaran. "Lalu, hal apa yang mereka bicarakan?" tanyanya tidak sabar.
"Tuan Darien bilang kalau dia ingin mengajak nona Sania pergi menonton film."
"Hah!!!" Leo benar-benar terkejut. Tak percaya bahwa sebenarnya keduanya begitu dekat. "Lalu kapan mereka akan pergi?"
Ranih menggeleng. Dia tidak mendengar kelanjutannya. Waktu itu dia langsung pergi mencari Leo dan ingin mengatakan soal itu. Bodohnya dia, kenapa tidak dia dengarkan dulu kelanjutannya. Dia bahkan belum mendengar apa jawaban Sania waktu itu.
.
__ADS_1
.
Rasa kantuk yang tiba-tiba datang, membuatnya beberapa kali mengerjabkan mata. Dia meraba-raba benda di depannya. Sudah tentu di depannya ada ranjang. Son berdiri dan duduk di atas ranjang dan tak sengaja menyentuh kaki Sania, membuat gadis itu terbangun.
Sania yang sedang tidur akhirnya pun bangun. Dia melihat suaminya sedang meregangkan otot-ototnya, dia mungkin pegal terus menerus duduk di kursi roda.
"Apa kau lelah?" Sania menggeser posisinya, dia memberikan ruang untuk Son bersender. "Kemari lah dan bersender," ajaknya. Sania perlahan menyentuh lengannya, menariknya dengan lembut. Son tidak menolak, dia mengikuti arah gerak tangan Sania. Perlahan dia bersender dengan Sania di sampingnya. "Maaf, jika aku merepotkan mu. Aku sudah baikan. Badanku tidak demam lagi. Pegang lah." Sania menarik tangannya untuk menyentuh dahinya, tapi Son segera menepis.
"Tidak peduli!" jawabnya acuh. Dia memilih memejamkan matanya.
"Selamat siang, Tuan, Nona. Saatnya makan siang." Beberapa pelayan masuk sambil membawa beberapa makanan. Makanan untuk dirinya dan suaminya. Son mendengar suara itu, tapi dia tidak berniat membuka mata. Yang dia rasakan sekarang hanya kantuk.
"Nona, Anda mau disuapi atau—"
"Saya makan sendiri saja. Aku bisa sendiri. Terima kasih. Kalian kembali saja ke belakangnya."
Hidangan di depannya sangat menggugah seleranya. Dia makan dengan lahap. Tak peduli dengan suaminya, dia bahkan tidak menawarinya makan. Son sudah punya jatah sendiri, Sania juga. Dia memakan jatahnya sendiri. Sedangkan Son, piringnya masih penuh.
"Aku rindu masak lagi." Bersamaan dia mengunyah, mulutnya juga berbicara. Dia merindukan masak kembali, dulu dia sering sekali memasak untuk Son. Pria itu selalu lahap jika memakan masakannya.
"Besok saja aku mulai masak kembali." Sayup-sayup Son mendengar suara istrinya. Dia terlelap sebentar, lalu mendengar suara wanita berbicara juga dentingan sendok yang menganggu.
"Habis." Sania mengelap mulutnya dan juga minum setelah acara makannya selesai. Tak lupa juga dia minum obat.
"Saatnya tidur ...." ujarnya lagi membuat Son tambah menautkan alisnya.
"Kau seperti orang gila!" katanya tapi Sania tidak peduli. Dia memilih berbaring di ranjang. Son mendengar istrinya yang berbicara sendiri dan menurutnya itu sangat aneh.
Sania tak mengeluarkan suara apa pun membuat Son bingung. Apakah wanita itu benar-benar tidur? Perut Son tiba-tiba lapar, tapi dia bingung sekarang.
__ADS_1
"Di mana makanannya?" Son tidak tahu di mana pelayan meletakkan makanan. Dia meminta bantuan Sania tapi wanita itu tampak acuh.
"Apa kau tuli?" Son meraba-raba di sekelilingnya. Dan dia tak sengaja menyentuh sesuatu yang sangat berharga menurut Sania.
"Hey! Kau menyentuh sesuatu yang sangat berharga!" teriaknya dalam hati.
Son tak menyadari, Sania akhirnya beranjak bangun.
"Ini! Ini makanan mu." Sania menyodorkan piring untuk Son. Melihat Son yang seperti ini, tak bisa melakukan apa pun rasanya kasihan sekali. Tapi jika mengingat perlakuan Son terhadapnya, Sania sangat kesal.
"Hey, aku ingin bertanya pada mu. Tolong jawab ya." Son tidak menggubris, dia tetap melanjutkan makannya. "Apa kau tidak penasaran dengan ku? Dengan wajahku? Apa kau tidak ingin melihatnya?" cerocosnya.
Son tiba-tiba meletakkan sendoknya. Dia mengangkat kepalanya, bergerak ke kanan di mana Sania berada di sampingnya. "Ya maksudku, apa kau tidak penasaran dengan wajahku yang cantik?" Sania dengan sombongnya memuji dirinya sendiri. Tapi dia juga akhirnya tertawa. "Tidak, tidak. Aku tidak cantik. Kau pasti akan menyesal jika melihat wajahku," ujarnya terkekeh.
"Tidak ada yang lebih cantik dari pada Vennie," jawab Son.
DEG.
Ini pertama kalinya Son menyebut nama itu dengan jelas di hadapannya. Son tidak akan pernah melupakan bahkan menggantikan nama itu di hatinya. Hatinya begitu perih saat mendengar nama itu disebut oleh Son. Suaminya itu takkan pernah menganggapnya.
"Ah iya, kau benar. Tapi aku belum pernah melihat wajahnya. Bolehkah aku meminta fotonya?" Sania dengan mata berkaca terpaksa menjawab ucapannya.
.
.
.
.
__ADS_1
.