
Pagi hari menunjukkan pukul 9 pagi. Setelah sarapan, Son dan Sania diinterogasi oleh Math. Terlihat dua pasang muka yang berbeda dalam menghadapi situasi tegang ini.
"Son ... Ayah akan bertanya kepadamu terlebih dahulu selaku kepala rumah tangga. Apa benar selama tinggal di sini kalian pisah kamar?" Waktu malam hari kemarin, Math memergoki Sania yang memasuki kamar yang berbeda. Dan Math membiarkannya begitu saja, hingga pagi menjelang.
"Ayah—"
"Diam, Sania!" Math lekas memotong ucapan Sania.
"Sudah berapa kali Son bilang. Son tidak bisa mencintai perempuan lain selain Vennie. Son tidak akan melupa—"
"Bukan melupakan!!!" potong Math cepat. "Sudah berapa kali juga Ayah bilang! Ayah tidak menyuruhmu untuk melupakan Vennie. Tetap lah dia cinta sejatimu. Tapi sekarang kau berhak menjalani hidup seperti yang lainnya. Setidaknya kau hargai Sania sebagai istrimu, Son. Jangan seperti pria yang kekanakan. Kau sudah dewasa, menikah itu adalah perjanjian yang sakral," tutur Math panjang lebar.
Sorot mata Math begitu tajam. Sania memperhatikan Ayah mertuanya dengan seksama. Terlihat sekali Math begitu tegas dan berwibawa. Tapi Sania tidak nyaman dalam situasi seperti ini.
"Sania, tolong jawab pertanyaan Ayah dengan jujur. Apa Son yang menyuruhmu untuk tidur di kamar yang terpisah?" Sekarang gantian Sania yang menerima pertanyaan dari Ayah mertuanya. Gadis belia itu hanya mengangguk lemah.
"Son, ini terakhir kalinya Ayah memberitahumu. Hargai Sania sebagai istrimu," ucap Math penuh penekanan. "Sebelum Ayah pulang, apa yang ingin kau ucapkan atau tanyakan pada Ayah?" Math menatap mereka bergantian.
"Jika Ayah menginginkan Son untuk menjalani kehidupan seperti yang lainnya. Maka ijinkan Son memilih sendiri pendamping hidup. Son tidak mau dipilihkan." Sania terkejut mendengar ucapan suaminya. Pria buta itu akan membuangnya?
"Kau ingin memilih sendiri pendamping hidupmu?" tanya Math berusaha tenang. Jelas sekali ada kekecewaan di sorot matanya. Math sudah memilihkan seorang wanita yang pantas untuk putra kesayangannya, tapi Son tidak bisa menerimanya.
"Iya, Ayah." Son begitu tega mengucapkan kata-kata yang menyakitkan itu. Tak peduli ada wanita yang tersakiti mendengar permintaannya itu. Pernikahan yang sudah terjalin beberapa bulan ini, seperti sia-sia.
"Baiklah. Ayah akan kabulkan. Tapi, selama satu bulan ini. Ijinkan juga Sania merawatmu selayaknya istri yang patuh terhadap suaminya. Dan setelah satu bulan, kau belum juga membuka hatimu untuknya. Maka keputusan penuh ada di tanganmu."
****
__ADS_1
"Ayah, tunggu!" Sania mengejar Math yang akan segera masuk ke dalam mobil. Setelah semalam menginap di sini.
"Ada apa, Sania? Apa kau kepikiran dengan permintaan Son tadi? Tenang lah, Sania. Ayah yakin suatu saat Son akan bisa membuka hatinya untukmu. Dan tak akan ada yang bisa memisahkan kalian," ucapnya begitu yakin.
"Bukan itu, Ayah. Sania ingin meminta bantuan Ayah." Math mengernyitkan dahinya. Tak biasanya menantunya yang gadis ini meminta bantuannya.
"Katakan. Apa yang bisa Ayah tolong. Kenapa sedari tadi, kau hanya diam." Math mengajaknya masuk ke dalam mobil. Setidaknya itu bisa membuat Sania leluasa mengatakan keinginannya.
"Kemarin Sania ke rumah paman dan bibi. Tapi ternyata rumah paman sudah dijual. Sania juga tidak bisa menghubungi mereka." Sania sangat sedih. Mereka adalah keluarga satu-satunya. Sania ingin tahu sebenarnya apa yang sudah terjadi kepada keluarganya.
"Dijual? Untuk apa? Apa keluarga pamanmu membutuhkan uang banyak? Tapi Ayah sudah rutin mengirimkan sejumlah uang ke rekening pamanmu," ujar Math serius.
"Ayah mengirimkan uang kepada paman?" Sania begitu terkesiap. Rencananya kemarin mendatangi rumah Paman dan Bibinya adalah untuk memberikan uang. Uang itu dia peroleh dari kartu rekening yang Math berikan untuk kebutuhannya. Tapi tak disangka, Math rupanya telah diam-diam mengirimkan uang untuk keluarganya.
"Iya, Sania. Kamu sudah menjadi bagian keluarga kami. Dan juga mereka adalah keluargamu satu-satunya. Ayah ingin mereka tahu, bahwa kamu disini baik-baik saja." Tak menyangka bahwa Ayah mertuanya begitu sangat peduli terhadapnya.
Sania memang gadis beruntung, dipertemukan tidak sengaja dengan Math kala itu. Walaupun dirinya menjalani pernikahan dengan rasa yang berat. Tapi setidaknya dia tahu, bahwa banyak orang-orang baik yang mengelilinginya.
Setelah mendengar jawaban Math yang mau membantunya, Sania merasa lega. Dia kembali ke dalam rumah dengan hati yang tenang.
"Nona, tuan Son ada di halaman belakang sendirian." Pelayan memberitahu. Dia segera bergegas menuju halaman belakang. Karna hari ini Paman Leo tidak akan datang. Jadi, Sania yang akan menghabiskan waktu bersama Son seharian.
Son sedang berpikir. Hembusan angin dan wangi bunga yang menyeruak, membuat Son merasa damai. Walaupun tidak bisa melihat, setidaknya indera penciumannya masih berfungsi dengan baik.
Bayangan wajah Vennie tiba-tiba melintas.
"Son, aku tidak menyangka pria dingin sepertimu bisa memberikan kejutan untukku." Vennie gadis berwajah manis dengan lesung pipi yang membuat siapa pun merasa tergoda ingin menciumnya. Dia adalah gadis pertama yang bisa merebut hati Son. Cinta pertama dan juga cinta sejatinya.
__ADS_1
"Aku tidak dingin. Karakterku memang seperti ini. Tapi, yang harus kau tahu. Aku hanya mencintaimu seorang." Vennie memeluknya dengan erat. Memiliki Son adalah sebuah keberuntungan. Bagaimana tidak beruntung, banyak gadis di kampus yang menyukainya. Tapi hanya Vennie lah yang berhasil memiliki hatinya.
"Sejuk ya?" Suara dari seseorang yang tak asing membuat Son mendengus kesal.
Son memajukan kursi rodanya. Tidak peduli dia akan terjatuh atau kursi rodanya akan terbentur dengan suatu benda.
"Jangan cepat-cepat! Kau bisa jatuh!" Sania berusaha menahan laju kursi rodanya. Di depan sana ada sebuah pohon, itu bisa membahayakan suaminya.
"Hey, diam lah! Satu bulan. Ingat lah satu bulan. Kau jangan mencoba mengingkarinya," ujar Sania. Tidak berharap lebih nantinya. Sania hanya berusaha menjadi seorang istri yang patuh. Walaupun nantinya, Son akan memilih perempuan lain tak masalah. Tak ada yang tahu kehidupan mereka ke depan seperti apa.
"Kita berteman saja. Bagaimana? Jadi lah temanku," tawar Sania kemudian.
"Diam lah! Aku tidak pernah menganggapmu sebagai siapa pun! Jadi lah dirimu sendiri," jawab Son dingin. Sania hanya bisa mengangguk.
"Baik lah. Aku paham. Aku tunggu kau di sana. Jika kau ingin kembali ke kamar. Panggil lah aku." Sania memundurkan langkahnya. Dia duduk di sebuah kursi yang terletak tak jauh dari tempat berdiri Son. Hati kecilnya sebenarnya sakit, saat penolakan bertubi-tubi diucapkan oleh Son. Dia berusaha mendekati Son, tapi pria itu selalu menolaknya dengan berbagai alasan.
Tak hentinya Sania memandangi Son dari belakang. Tubuhnya yang tegap, membuat siapa pun terpana. Son memiliki tubuh yang bagus, juga wajah yang tampan.
Cukup lama Son berdiam diri di kursi roda. Sania sudah tidak betah duduk lama-lama. Dia merasa bosan juga jenuh.
"Itu manusia ketiduran apa sih! Kenapa lama sekali tidak gerak-gerak!" gerutunya. Langkah Sania yang tegas bergerak mendekati Son.
"Ayo kita ke dalam. Lama-lama kamu kenyang makan angin!" Sania lantas mendorong kursi rodanya tanpa menunggu jawaban dari Son.
.
.
__ADS_1
.
.