ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 133 ADIK BAYI LAHIR


__ADS_3

Keyla berjalan sambil digandeng suaminya. Tapi tatapannya masih saja kosong.


"Ibu ....." Meysa berteriak memanggil ibunya tapi Keyla masih dengan ekspresi datar. Saat ibunya sudah dekat, ia lalu memajukan posisinya untuk memeluknya. Tapi Keyla berjalan melintasinya begitu saja. Padahal Rico sudah berhenti, tapi Keyla masih jalan terus melepaskan genggaman tangannya. "Ibu ....." Meysa kecewa dengan sikap Keyla.


"Meysa sayang ....." Rico berjongkok memeluk putrinya. Dia mengusap punggungnya dengan hati-hati. "Ibu masih harus banyak istirahat, sayang. Meysa jangan ganggu ibu dulu ya." Kedua mata gadis itu tak berhenti menatap punggung ibunya yang berjalan sudah jauh. Dia memendam kerinduan selama beberapa hari ini.


Di dalam kamarnya, Keyla menatap benda-benda yang sudah ia susun dengan rapi. Letaknya, warnanya, dan juga jumlah yang ia beli cukup banyak. Semuanya hanya tinggal kenangan.


Air matanya turun dengan dramatis. Kehilangan sesuatu yang sangat ia harapkan sangatlah menyakitkan.


"Aku benci! Aku benci! Aku benci semua ini!!!!!" Keyla membuang semuanya yang berkaitan dengan bayinya yang telah meninggal. Membuang seluruh baju-bajunya, mainannya, peralatan mandi, makan semuanya dibuang. Ia sebar di atas lantai hingga berserakan tak beraturan. Kakinya perlahan menuju sebuah ranjang bayi yang telah ia beli jauh-jauh hari. Warnanya sangat mencerminkan baby boy, ia memegangnya dengan tangan gemetaran. Lalu ia terisak dalam kesedihan yang dalam.


Suara gaduh yang berasal dari kamarnya, membuat Rico mempercepat langkahnya. Dia tak ingin terjadi apa-apa dengan istrinya.


"Tuan, nyonya mengamuk," kata salah satu pelayan yang melihat Keyla membanting dan membuang-buang barang.


Terlihat pemandangan yang menyedihkan. Rico langsung memeluk istrinya.


"Lepaskan! Lepaskan! Aku membenci semuanya!"


Memang yang Keyla harapkan dari dulu adalah kelahiran bayi laki-laki. Dia menginginkan bayi laki-laki. Karna keluarganya pun menginginkan cucu laki-laki. Agar nanti bisa menjadi penerus keluarganya.


"Sayang, tolong jangan seperti ini. Aku mohon." Rico tak melepaskan pelukannya, ia berusaha menenangkan istrinya. Dia juga sangat sedih, tapi ini semua sudah takdir.


Keluarganya tak memberikan warisan apa pun padanya. Karna yang mereka harapkan adalah penerus laki-laki. Dan Keyla tak bisa memberikan cucu laki-laki. Mungkin Meysa akan sama nasibnya dengannya, menjadi anak satu-satunya dalam keluarga ini dan berjenis kelamin perempuan.


.


.


.


.

__ADS_1


Beberapa bulan kemudian ....


Ini akan menjadi bulan kelahiran anak Sania. Perutnya sudah memasuki bulan kelahiran. Dokter telah memprediksi bahwa Sania akan melahirkan minggu depan. Tapi tampaknya prediksi dokter akan gagal. Karna belum sampai minggu depan, Sania sudah mengalami kontraksi.


Son dengan siap siaga membawa istrinya ke rumah sakit. Dokter pun langsung memutuskan untuk operasi. Son tak mau ambil resiko lalu menyetujui saran dokter. Sebelum operasi dimulai, Son tak hentinya mengecup kening istrinya. Memberikan dukungan lewat ucapan manisnya dan juga kata-kata cinta yang membuat Sania ingin mual mendengarnya.


"Sayang, aku sangat mencintaimu. Jika nanti anak-anak kita lahir, aku tak mau kau mengurangi rasa cintamu padaku."


Sania memutar bola matanya jengah sambil menahan rasa sakitnya. Son tak diperbolehkan untuk ikut masuk. Akhirnya Son hanya bisa menunggunya di luar.


Dari kejauhan ia melihat Math dan Luzi. Dengan Luzi yang mendorong kursi rodanya. Walaupun Math belum bisa berbicara dengan jelas juga pergerakannya yang terbatas, Son tahu apa yang ingin dikatakan ayahnya lewat matanya.


Melihat kedua orang tuanya yang sudah membaik hubungannya, ia merasa sangat bahagia.


Setelah berjam-jam menunggu akhirnya operasi telah selesai. Dokter pun tersenyum saat keluar dari ruangan.


"Selamat, Tuan Son. Anda sudah menjadi seorang ayah. Istri Anda belum sadarkan diri sedangkan kedua bayi Anda—" Dokter menjeda kalimatnya, lalu tak berapa lama perawat keluar membawa troli bayi yang isinya adalah bayi kembar milik Son.


Math dan Luzi ikut terharu, tapi jauh dalam lubuk hati Luzi dia merasakan sakit yang teramat sangat. Melihat perempuan di dunia ini merasa beruntung dibanding dirinya yang mandul. Math ingin menyentuh tangan istrinya, tapi tangannya sulit untuk digerakkan. Ia tahu apa yang sedang dirasakan istrinya saat ini.


.


.


Berita tentang Sania yang telah melahirkan bayi kembar telah sampai di telinga Darien dan Rico. Kedua kakak beradik itu berniat akan menjenguk kelahiran bayi kembar Son hari ini. Mereka akan membawa istri dan anaknya sekalian untuk melihat bayi kembar Son.


"Adik bayi? Meysa punya adik bayi?" Meysa kecil sangat antusias mendengar bahwa ia akan diajak melihat adik bayi dari Paman Son dan Bibi Sansan.


"Iya, sayang. Meysa akan punya adik bayi dua sekaligus," ucap Rico.


Keyla pun hanya menanggapi dengan senyuman. Dia sudah ikhlas sekarang perihal kehilangan bayinya waktu itu.


"Sayang, apa kau baik-baik saja?" tanya Rico memastikan. Ini akan menjadi pengingat Keyla tentang bayinya, ia takut di sana Keyla merasa tak nyaman.

__ADS_1


"Iya, sayang. Aku tidak apa-apa. Oh ya, jenis kelamin bayi kembarnya apa? Kita harus membawakan apa nanti?" tanyanya.


Rico tak diberi tahu jenis kelamin anaknya, Son seperti sengaja menutupinya.


.


.


Ternyata Darien baru saja sampai di rumah Son, baru saja keluar dari mobil lalu ia melihat mobil kakaknya yang baru datang.


Zion kecil memandangi Meysa yang akan turun dari mobil. Sudah lama mereka tak berjumpa. Zion yang menyebalkan kata Meysa, anak laki-laki itu berjalan menghampiri Meysa.


"Hai, Kak Meysa," sapanya dengan senyuman.


Meysa tak menyahuti sapaannya. Dia bersembunyi dibalik kaki ayahnya.


"Meysa, Zion menyapamu. Kenapa kau bersembunyi!" tegurnya membuat Meysa akhirnya keluar dari persembunyiannya.


Mereka yang orang dewasa hanya mampu geleng-geleng kepala melihat kelakuan keduanya.


Rico, Keyla, Darien dan Valencia jalan lebih dulu masuk ke dalam. Sedangkan Meysa dan Zion masih dalam posisi berdiri saling menatap satu sama lain.


"Awas! Aku mau masuk!" Meysa mendorong tubuh Zion, tapi anak laki-laki itu tak mau berpindah posisi.


"Kita main yuk, Meysa!" ajaknya sambil menarik tangannya tiba-tiba.


"Tidak mau! Lepaskan!" Meysa memberontak, ia pasti suka dipaksa oleh Zion membuatnya sangat membenci sepupunya itu.


"Ayo, sebentar saja," paksanya.


"Aku mau bertemu adik bayi kembar! Aku mau main dengannya saja!" Meysa berlari meninggalkan Zion. Tak peduli dengan Zion yang memanggilnya berkali-kali.


Sania dan Son tak menyadari akan kehadiran Rico dan Darien beserta istrinya. Mereka sibuk mengajak berbicara si kembar. Hari-hari mereka disibukkan hanya untuk merawat si kembar. Luzi tak bisa setiap waktu menemani si kembar karna ia juga punya bayi besar yang harus setiap waktu dicek kondisinya. Math juga tak bisa apapun tanpa bantuannya. Luzi hanya sesekali membantu Sania jika menantunya itu akan mandi atau melakukan aktivitas lain.

__ADS_1


__ADS_2