ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 69 SANIA DAN LUZI


__ADS_3

Sania mengangguk, memangnya siapa lagi kalau bukan Ibu Luzi.


Mendengar itu, Keyla menjadi cemburu. Kenapa Ibu mertuanya hanya mengajak Sania, padahal di rumah ini ada dua menantu. Ada urusan apa mereka berdua? Apa mereka memang sedekat itu? Hingga ingin bertemu pun harus di luar rumah.


"Sania pergi dulu, Kak." Tak mau membuat Luzi lama menunggu, Sania bergegas pergi dengan sopir.


Keyla menatap Sania yang sudah berjalan jauh meninggalkannya, ada perasaan tak rela di dalam hatinya.


.


.


Kursi-kursi yang tersusun rapi memutari meja masih terlihat kosong. Hari masih tergolong pagi, belum banyak pengunjung yang datang. Hanya ada seorang wanita paruh baya duduk di meja paling pojok sedang menunggu kedatangan seseorang. Secangkir kopi yang masih mengebulkan uap panas, ia biarkan begitu saja. Dia tak terlalu suka dengan minuman itu.


Alunan musik yang tersedia di cafe itu menemani kesendiriannya di sana. Sejenak membuat pikirannya tenang. Pintu dibuka oleh seorang gadis cantik, kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri mencari seseorang yang ternyata telah duduk di meja pojok sana. Dia mengembangkan senyumannya, dan menyapa dengan lembut seseorang yang sangat ia hormati.


"Maaf, jika Ibu menungguku lama." Sania duduk di hadapannya. Dia melihat wajah ibu mertuanya yang seperti sedang tidak baik-baik saja.


"Tidak apa-apa, Sania. Pesanlah dulu. Kau mau apa?" Luzi menyodorkan buku menu padanya. Sania sebenarnya tidak berminat untuk pesan karna perutnya sudah kenyang karna sarapan tadi yang diberikan pelayan ke kamarnya. Tapi untuk menghargai ibu mertuanya, ia pun memesan satu minuman dingin.


"Sania, maaf jika Ibu mengganggu waktumu." Luzi tak ingin membuang waktu, dia ingin bertanya tentang banyak hal pada menantunya ini.


"Tidak, Bu. Sania tidak merasa diganggu, malah Sania senang bisa bertemu Ibu," ujarnya sambil tersenyum tulus. Sudah lama ia merindukan sosok seorang ibu. Tapi ia sadar, bahwa kedekatannya dengan Luzi tidak sedekat ibu mertuanya dengan Keyla. Sania bisa melihat dan merasakan itu.

__ADS_1


"Sania, apa kau tahu kemana Son pergi?" Luzi begitu penasaran, dia ingin menggali informasi tentang Son. Tapi ia bingung dengan siapa ia akan bertanya. Sedangkan semua orang yang bekerja di rumahnya, sudah pasti sangat memihak suaminya. Dia tak punya andil di sana.


"Sania tidak tahu, Bu. Saat Sania bangun, Son sudah pergi. Saat Sania bertanya pada paman Leo, beliau mengatakan akan pulang setelah satu minggu di sana. Tapi Sania tidak tahu, mereka ada di mana sekarang dan sedang melakukan apa. Apa Ibu tidak tahu? Sania pikir, ayah dan Ibu yang tahu." Sania terkejut, kenapa Ibu Luzi sampai tidak tahu. Bukankah ia juga orang tuanya, walaupun bukan kandung.


"Math pasti tahu, tapi Ibu tidak diberitahu." Luzi menelan kekecewaannya. Dari Sania dia tidak mendapatkan informasi apa pun. Dia bingung sekarang, seakan dirinya di rumah seperti tak dianggap. "Oh ya, Sania. Bagaimana kalau kau coba bertanya pada Math. Siapa tahu kalau kau yang bertanya, ia akan menjawab. Kau kan istrinya Son, kau juga harus berhak tahu. Sania, Ibu hanya khawatir terjadi sesuatu dengan Son. Jadi, setidaknya Ibu tahu, putra Ibu ada di mana. Baru Ibu akan tenang."


Hati Sania seketika merasa iba, dia paham akan perasaan Luzi saat ini. Mengapa ayah mertuanya begitu tertutup dengan istrinya sendiri. Padahal dilihat-lihat, Luzi adalah wanita yang cantik. Di usianya yang sudah senja, dia masih merawat tubuhnya. Bahkan wajahnya tak terlihat keriput di sana, dia pandai berhias. Penampilannya juga tidak mengikuti jamannya, bahkan dia mengikuti jaman sekarang. Dia seperti wanita sosialita tapi tidak angkuh.


"Sania, tolong Ibu ya. Coba bujuk Math agar mau memberitahu." Luzi memohon, hanya dengan Sania dia bisa meminta tolong. Mungkin saja Math akan luluh jika Sania yang meminta.


"Iya, Bu. Nanti Sania akan coba tanya ke ayah." Luzi tersenyum senang dan menggenggam tangannya berterima kasih. "Tapi, ada hal lain yang ingin Sania tanyakan. Yang pada saat itu belum sempat dijawab oleh Ibu." Luzi meletakkan cangkir kopi yang baru saja ia teguk. Mengalihkan perhatiannya pada Sania yang tampak serius. Dia mencoba mengingat apa yang belum sempat ia jawab saat Sania menanyakan suatu hal.


"Memangnya kamu pernah bertanya apa, Sania?" Hari memasuki waktu siang. Banyak pengunjung datang, membuat berisik di dalam ruangan. Suara tawa dari pengunjung lain, suara langkah tergesa-gesa dari pelayan, hingga suara teriakan di dapur cafe yang tak jauh dari tempat mereka duduk.


"Kita bicarakan di dalam mobil saja," ajak Luzi. Mereka pun berjalan keluar. Di dalam mobil seraya jalan arah pulang, Luzi menceritakan semuanya. Apa yang terjadi dahulu.


Luzi dan Son memang dulu sangat dekat. Mereka tinggal satu atap bersama ibu kandung Son. Awalnya mereka bahagia, Son kecil hanya tahu ia memiliki dua orang ibu. Tanpa tahu perasaan dari masing-masing ibunya. Angela yang sibuk sangat jarang berada di rumah. Itu membuat Son lebih dekat dengan Luzi. Luzi dengan kelembutannya menemani Son di rumah. Dan saat Angela meninggal, Son sangat terpukul. Tapi dia bersyukur masih memiliki Luzi. Dan suatu ketika, saat Son sudah beranjak dewasa. Dia menemukan buku diary milik ibunya, dia membacanya sampai selesai. Hingga timbul lah kebencian pada Luzi.


"Ibu, kenapa tidak mencoba menjelaskan pada Son? Bahwa Ibu juga korban di sini? Bukan Ibunya Son saja yang merasa tersakiti. Bahkan Ibu yang paling tersakiti di sini. Son harus tahu bahwa kak Rico dan kak Darien bukan anak Ibu. Ibu juga menderita selama ini. Dan—"


Sania menghentikan kata-katanya. Dia berbicara tanpa jeda. Bahkan dia seperti menghakimi Son, dia terlalu ikut campur. Padahal ia hanya ingin bertanya alasan keduanya menjalin hubungan yang tidak baik. Tapi kenapa seolah-olah Sania ikut kesal. Tak seharusnya dia seperti itu.


"Maaf, Bu. Jika Sania terkesan lancang." Sania meminta maaf, takut jika Luzi merasa kurang nyaman dengan perkataannya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Sania. Tapi tolong kamu diam saja ya. Biar ini menjadi rahasia kita berdua." Luzi menggenggam tangannya erat, dia berharap Sania mau menutup mulutnya. Biarlah, Son hingga saat ini masih salah paham dengannya. Luzi tidak apa-apa, lagi pula apa gunanya berterus terang jika Son sudah menganggapnya buruk. Sebaik apa pun manusia, jika dari awal sudah dinilai buruk, maka kebaikan itu tidak ada gunanya. Manusia hanya cenderung melihat kesalahan orang, walaupun itu hanya sedikit.


CRANGGGGG .....


Baru memasuki rumah, Sania menangkap suara berisik di dapur. Langkahnya dipercepat agar sampai ke sumber suara.


"Kak, ada apa ini?" Sania melihat makanan berceceran di atas lantai. Begitu kotor, juga tumpahan minuman yang bercampur pada makanan itu. Semuanya terlihat mubazir, makanan seenak itu harus tumpah berserakan sebelum sempat dimakan.


"Oh kau baru pulang? Bersihkan ini semua!" perintah Keyla dengan lantang.


"Kenapa harus Sania, Kak?" tanyanya merasa tidak terima. Kenapa Keyla menyuruhnya selayaknya seorang pelayan.


"Oh kau tidak mau???" Wajah Keyla mulai merah padam mendengar penolakannya.


"Awwwww ...."


Keyla ingin berjalan mendekati Sania. Tapi karna dia tidak hati-hati dia jadi terpeleset. Tubuhnya menjatuhi minuman yang tumpah, untung saja pecahan gelasnya sudah dibersihkan pelayan. Hanya sisa makanan dan minuman saja.


"Ahhhhhh .... Sakit!" Keyla memegangi perutnya. Sania dengan segera memanggil para pelayan untuk membantu Keyla.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2