
Sudah sekian lama ia menunggu. Tak ada kata lelah untuknya. Dia berdiri tanpa mengalihkan sedikit pun perhatiannya pada sebuah pintu yang masih tertutup. Terdengar decitan pintu yang sebentar lagi akan dibuka. Hatinya berbunga, usahanya takkan sia-sia.
"Maria ...." Jeffry senang akhirnya Maria mau menemuinya.
"Ada apa? Ini sudah malam," kata wanita itu. Tatapannya sangat acuh.
Ia melihat langit sudah gelap, bahkan hawa dingin menusuk kulitnya. Kedua mata mereka bertemu sekian detik. Dan tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara langkah seseorang.
"Maria! Masuk!" Raul menyuruh putrinya untuk segera masuk.
Kini hanya ada Jeffry dan Raul di sana. Membuat Jeffry membeku, dia ketakutan.
"Pa-paman ...." panggilnya dengan suara terbata.
"Mau apa kau menemui putriku lagi. Apa tidak ada wanita lain di luar sana?"
Jeffry mengangkat kepalanya, dia menggeleng. "Paman, saya hanya mencintai putri Anda."
"Cinta? Aku tak mau putriku hanya menerima cinta darimu!"
"Paman, aku serius dengan Maria. Aku ingin melamarnya." Ucapan dari seorang lelaki sejati. Ini memang yang dia harapkan dari dulu, bisa hidup selamanya dengan Maria. Wanita itu telah membuat hidupnya berwarna, sosoknya tak ia temukan di wanita lain. Hanya ada Maria di hatinya.
Raul sejenak diam, melihat keseriusan di kedua bola matanya.
"Temui lagi aku besok pagi." Tak banyak menjawab, Raul langsung masuk ke dalam. Jeffry termenung, menatap punggung laki-laki yang sangat ia hormati perlahan menghilang dari pandangannya.
"Maria, aku mencintaimu."
Jeffry berharap besok pagi akan menjadi hari keberuntungannya. Dia ingin Raul menerimanya sebagai calon menantu.
***
Sejak dokter mengatakan bahwa istrinya sedang hamil, Son sekarang jadi overprotektif sekali. Sania tidak boleh melakukan aktivitas yang tidak diijinkannya. Dan juga tak boleh berlama-lama di dalam kamar mandi. Tapi untuk memasak Sania tidak mau dilarang.
"Ada banyak pelayan di sini. Untuk apa aku menggaji mereka kalau kau sama saja melakukan pekerjaan mereka." Son tak ingin istrinya kelelahan. Dia ingin Sania duduk manis saja.
"Aku suka memasak. Kau akan makan dengan lahap jika memakan masakan ku," ucapnya.
__ADS_1
"Tapi untuk saat ini, lebih baik kau diam saja. Menonton televisi bukankah lebih menyenangkan?"
Istrinya menggeleng dan beberapa saat kemudian dia terdiam. Jika sudah diam, Son tak bisa melakukan apa pun selain menuruti permintaannya.
"Baiklah. Kau boleh memasak. Tapi jangan kelelahan. Dan jangan memasak banyak makanan. Dan—"
"Berisik sekali!" seru Sania membuat Son akhirnya terdiam.
Pagi ini seperti biasa Sania sudah menyiapkan segala keperluan suaminya.
"Kapan-kapan aku ingin ke kantormu, apakah boleh?" tanyanya dengan antusias.
"Menemaniku bekerja? Dengan senang hati, sayang."
"Baiklah. Hari ini aku ingin ikut kau berangkat ke kantor," jawabnya bersemangat.
Sania dengan wajah sumringah mengganti bajunya dengan baju yang lebih pantas untuk ke kantor. Dia memakai dress warna putih dengan blazer hitam. Penampilannya saat ini sangat berbeda, perlu diakui istrinya kelihatan cantik dengan dandanan seperti ini.
"Sayang, jangan dandan terlalu cantik begini." Tak mau istrinya terlihat cantik di mata orang. Son menyuruhnya untuk berganti baju yang lain.
"Ini pakaian terbaikku untuk ke kantor. Jangan membuat mood ku buruk!" Dia tak mau menuruti permintaan suaminya untuk mengganti baju.
Sesampainya di kantor, Son menggandeng istrinya untuk masuk ke dalam. Ini pertama kalinya Sania menginjakkan kakinya di kantor suaminya. Para karyawan tak hentinya memandangi pasangan suami istri tersebut. Mereka berbisik-bisik tentang istri bosnya yang cantik. Tapi mereka menyayangkan karna yang mereka tahu, suami istri tersebut belum diberi momongan.
"Selamat pagi, Tuan Son dan Nyonya Sania." Paman Leo sudah lebih dulu datang ke kantor. Sebagai sekretaris Son, Paman Leo banyak membantu pekerjaannya. Son sangat terbantu dengan adanya Paman Leo.
"Pagi juga, Paman. Sudah lama kita tidak berjumpa." Sania merindukan Paman Leo, karna sekarang mereka jarang bertemu. Paman Leo jarang sekali ke rumahnya, karna pekerjaannya lebih banyak di kantor.
Sania mendudukkan diri di sebuah sofa yang ada di ruangan suaminya. Ruangannya cukup luas dan rapi. Di atas meja kerja suaminya terdapat bingkai foto kecil yang bertengger di sana.
"Apa ini?" Sania terkejut melihat fotonya terpajang di sana.
"Kau bisa melihatnya sendiri." Son mendapatkan foto itu dari kamar Sania di rumah Paman Raul. Lalu ia membawanya ke kantor.
"Ini fotoku yang lama. Jelek sekali!" Dia mengambil bingkai foto tersebut tapi Son langsung menariknya kembali.
"Biarlah tetap disini! Istriku memang jelek, jadi biarkan saja!"
__ADS_1
Sania menghentakkan kakinya kesal. "Jika aku jelek, kenapa kau mau denganku?"
"Lah bagaimana aku mau menolak, pernikahan saja dilakukan disaat aku masih buta."
"Jadi, kau menyesal menikah denganku?"
"Hahaha .... Tidak sayang. Aku hanya bercanda." Son memeluk istrinya, meredamkan emosinya sesaat.
"Kau menyebalkan!" Sania memukuli suaminya, membuat Son mengaduh kesakitan.
"Hentikan sayang. Atau aku akan menghangatkan tubuhmu sekarang!" ancamnya. Mendengar ancaman suaminya, Sania lantas diam. Dia tak ingin bermain sekarang, apa jadinya dia sudah dandan rapi begini dan harus terkoyak dengan perbuatan suaminya itu.
Pekerjaan Son hari ini banyak, tapi untung saja tak ada jadwal untuk bertemu client atau pun meeting di luar. Dia menyelesaikan pekerjaannya hanya di dalam ruangan. Sesekali ada karyawan yang masuk untuk memberikan laporan. Dan saat ada karyawan wanita yang masuk, Sania memandanginya dengan sinis. Apalagi karyawan wanita yang memakai rok pendek. Menggelikan sekali.
"Kenapa kau mengijinkan karyawan wanita mu untuk berpakaian seksi ke kantor?" Setelah karyawan wanita tadi pergi, Sania langsung mengintrogasi suaminya.
"Apa sayang? Dia karyawan lama. Aku tidak mengurusi hal semacam itu," jawabnya santai.
"Aku tidak suka dengan karyawan seperti itu! Berikan SP sekarang!" perintahnya.
"Sayang, itu tugas HRD."
"Ya sudah, aku ke ruangan HRD sekarang. Dimana letaknya?" tanyanya menggebu.
Son menghela napasnya, dia tak mengijinkan Sania untuk pergi kemana-mana. Jadi ia memutuskan untuk memanggil HRD ke ruangannya.
Sania membuat aturan baru untuk karyawan di kantor suaminya. Yang paling utama adalah untuk karyawan wanita dilarang memakai rok pendek di atas lutut. Juga pakaiannya tak boleh ketat.
Son merasa gemas dengan istrinya ini, ingin rasanya menciuminya setiap saat.
"Aku lelah, aku ingin tidur."
Son menyulap sofanya menjadi tempatnya untuk tidur. Dia mengambil sebuah bantal dan selimut yang memang ada persediaan di ruangannya.
"Tidur yang nyenyak, sayang. Nanti aku bangunkan saat jam makan siang."
Die mengecup keningnya lama, sebelum wanita itu memejamkan matanya.
__ADS_1
Son kembali ke meja kerjanya, pekerjaannya belum selesai. Melihat wajah istrinya membuatnya semakin bersemangat untuk menyelesaikan pekerjaannya. Seperti ada sebuah semangat yang tertanam di hatinya. Dia harus bekerja keras demi istri dan juga calon anaknya. Son berjanji akan membahagiakan mereka.