
Son memohon ampun dan tersenyum lebar. Lalu dia mengacungkan kedua jarinya menginginkan untuk berdamai.
Selesai dari acara perayaan kelahiran Meysa, mereka berniat untuk menjenguk ayah Math. Son melajukan mobilnya menuju kediaman rumah utama.
Rumah yang megah nan mewah. Ukurannya besar dan sangat luas. Son tidak menyangka bahwa waktu akan secepat ini. Dia sudah menikah dan sebentar lagi akan memiliki anak. Math begitu berjasa untuk hidupnya. Ayahnya yang telah membawa seorang gadis untuk masuk ke dalam hidupnya. Son harus berterima kasih padanya.
"Dulu apa yang kau rasakan saat pertama kali menginjakkan kaki disini?" Selama ini, Son belum pernah sekalipun menanyakan awal mula Sania yang tiba-tiba mau menikah dengan pria buta seperti dirinya.
"Perasaanku?" Sania mengingat momen itu. Dimana dia dengan keberanian bercampur keraguan masuk ke dalam rumah megah ini. Berbekal dari alamat yang diberikan Math, Sania berharap di rumah ini dia menemukan jalan baru untuk hidupnya. Bukan pekerjaan yang dia dapat ternyata, tapi sebuah tawaran. Tawaran untuk mau menikah dengan seorang pria tampan tapi buta. "Perasaanku waktu itu campur aduk," jawabnya.
"Apa yang ayah katakan padamu waktu itu?" Mereka berbicara sambil berjalan.
"Aku kira, aku disini akan diberikan pekerjaan. Tapi ayah malah menawarkan sebuah pilihan hidup. Yang dimana waktu itu aku tidak bisa menolak."
"Kenapa?" tanyanya cepat.
"Aku tidak nyaman di rumah. Dan yang aku inginkan waktu itu adalah bagaimana caranya aku dengan secepatnya pergi dari rumah itu."
"Kenapa?" tanyanya lagi. "Memangnya ada apa di rumah? Bukankah paman Raul sangat menyayangimu?"
Sania tersenyum. "Iya sekarang. Paman yang dulu sikapnya tidak seperti ini," jawabnya membuat Son heran.
"Oh ya, sepertinya kau belum menceritakan semuanya. Ada yang masih kau tutup-tutupi."
"Itu sudah masa lalu jadi tidak usah dibahas." Kini mereka sudah sampai di depan kamar Math. Pintunya tidak ditutup, ini memang sengaja tidak ditutup untuk mempermudah pelayan mengecek keadaan Math.
"Ayah ...." Son tersenyum lalu memeluk Ayahnya. Tubuhnya kaku tak banyak respon darinya. Hanya ada senyuman dan anggukan kecil. Tangannya juga terbatas untuk bergerak.
"Apa Ayah sudah makan?" tanya Son.
__ADS_1
Math mengangguk. "Apa Ayah juga sudah minum obat?"
Cukup lama Math merespon, hingga akhirnya dia mengangguk kecil. Sania merasa iba melihat keadaan Math sekarang. Rasanya dia ingin mempertemukan Math dengan Luzi, tapi itu sangat sulit sekali. Luzi tetap teguh dalam pendiriannya, tak mau menemui suaminya lagi.
Mata Math mengarah pada perut Sania yang membuncit, membuat gadis itu akhirnya mendekat dan meraih tangan ayah mertuanya untuk mengelus perutnya. "Cucu Ayah sebentar lagi akan bertambah," kata Sania sambil tertawa kecil.
Matanya berkaca-kaca, Math ingin menangis setiap melihat putra dan menantunya yang hidup bahagia.
***
Hari-hari pun berlalu. Luzi saat ini sedang asyik menikmati perannya menjadi seorang Nenek. Harinya ia habiskan untuk mengurus Meysa. Seperti pagi ini, Luzi sudah lebih dulu bangun dibanding Keyla. Wanita itu masih tertidur pulas, bahkan suara tangis Meysa tak membuatnya bangun. Seakan terlena dengan mimpi indahnya.
"Meysa sayang, cup cup. Sini Nenek gendong ya. Ibumu masih tidur, sayang." Luzi segera menggendong Meysa dan mencoba menenangkannya. Tapi Meysa tetap saja menangis, lalu ia mencari botol susu asi yang biasanya sudah Keyla persiapkan di dalam lemari es. Tapi sayang sekali, ternyata stocknya sudah habis.
Melihat Keyla yang masih tertidur, dia tak tega membangunkannya. Lalu ia melihat Rico yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Rico, Meysa nangis terus. Sepertinya dia haus dan di lemari es tak ada stock asi untuknya," ujarnya sambil melirik ke arah Keyla yang masih tertidur.
Mata Keyla pun mengerjab, lalu ia menyipitkan mata. Suara tangis Meysa membuatnya pusing. "Aduh, aku masih mengantuk," keluhnya sambil berdecak sebal.
"Meysa dari tadi menangis, sayang. Dia kehausan," katanya memberitahu.
"Iya, Keyla. Tadi Ibu ke lemari es tapi stock di sana sudah habis."
Keyla pun akhirnya bangun dengan malasnya, lalu mengambil Keyla dalam gendongan ibu mertuanya. Dengan wajah cemberut ditambah mengantuk, ia menyusui Meysa.
Luzi terdiam melihat tingkah Keyla yang seakan tidak begitu ekspresif dalam mengurus Meysa.
"Keyla, apa kau lelah?" tanya Luzi pelan. Dia mendudukkan bokongnya disebelah menantunya.
__ADS_1
"Jelas, Bu. Semalam aku tidur hanya sebentar-sebentar saja, Meysa tiap satu jam sekali bangun." Terlihat jelas raut wajahnya yang lelah, Luzi menyadari itu.
"Ya sudah, nanti malam Ibu tidur disini ya. Jadi kalau Meysa bangun bisa gantian sama Ibu."
Rico yang mendengar percakapan mereka langsung saja menoleh. "Tidak usah, Bu. Kan ada Rico disini. Ibu istirahat saja di kamar."
"Sayang, tidak apa-apa. Lagi pula kau juga pasti lelah. Jika Meysa bangun lalu menangis, kau juga tak mau bangun." Keyla tersenyum senang, karna ibu mertuanya sangat pengertian sekali.
"Ibu nanti sakit jika tidurnya tidak cukup." Rico tak ingin menyusahkan ibunya. Apalagi sampai membuatnya kelelahan.
"Lalu bagaimana denganku? Setiap malam aku tidak pernah bisa tidur nyenyak." Keyla menjadi kesal, suaminya ini tidak pengertian sekali. "Sudahlah, pokoknya Ibu temenin Keyla tidur di sini ya. Keyla lelah jika setiap malam bangun terus menerus."
Luzi mengangguk, dia paham bagaimana seorang ibu yang habis melahirkan akan merasakan tidurnya yang tidak cukup. Dia teringat dengan sosok Yasmine, saat wanita itu sehabis melahirkan Darien. Luzi lah yang setia menemani Yasmine setiap malam. Math yang kala itu sibuk dengan kerjaannya dan sering ke luar kota.
Rico akhirnya hanya bisa pasrah. Padahal dari awal dia sudah menawarkan untuk menyewa baby sitter, tapi Keyla menolak. Dengan alasan dia tidak mau, putrinya dipegang oleh orang lain.
"Oh ya, besok kita ke rumah ayah. Ayah kan belum melihat Meysa." Rico sudah berjanji akan ke rumah utama. Dia akan memperkenalkan Meysa pada kakeknya.
"Baiklah, besok kita kesana," jawab Keyla.
"Ibu ikut ya," ajak Rico kemudian.
Luzi memalingkan wajahnya, putra-putranya masih saja membujuknya. "Tidak," jawabnya cuek.
"Berbaikan lah dengan ayah, Bu. Walaupun kalian bukan suami istri lagi. Setidaknya kalian harus menjalin hubungan yang baik," tuturnya.
"Jangan menasehati Ibu, Rico." Luzi yang tidak suka dengan perkataan Rico, ia pun memilih pergi. Rasa kesalnya tak pernah hilang setiap kali membahas Math.
Mendengar Math yang sekarang jatuh sakit, Luzi sebenarnya merasa kasihan. "Seperti apa keadaannya sekarang?"
__ADS_1
"Ibu, tangan dan kaki ayah sulit untuk digerakkan. Mulutnya juga kaku, tak bebas untuk berbicara."
Kata-kata Son waktu itu membuatnya tak lantas percaya. Mana mungkin Math jatuh sakit sampai separah itu dengan hitungan hari. Padahal Math baru saja pulang dari rumah sakit kala itu.