
Berhari-hari keadaan Math bertambah drop. Pria paruh baya itu bisa membuka mata tapi tak bisa selalu merespon keadaan sekitar. Son dengan sabar merawatnya sendirian di rumah sakit sejak kemarin. Karna Rico masih banyak pekerjaan kantor. Sedangkan Son ia sudah mempercayai Paman Leo untuk mengurus semuanya.
"Ayah ...." Son memanggil nama itu pelan. Ia berharap Math segera pulih. Ingin selalu mendengar nasehatnya juga mendengarnya tawanya.
Kedua mata Math terbuka, ia melirik kearah putranya yang ketiga. Mulutnya seakan kaku tak bisa digerakkan.
"Son .... Putraku ...." Ia menatap nanar putra ketiganya. Anak dari cinta pertamanya. Lagi-lagi ia meratapi nasib percintaannya. Jika berkata menyesal, tentu itu tidak pantas ia ucapkan karna dari istri-istrinya ia memiliki putra-putra yang hebat. Tapi mungkin caranya saja yang salah dari awal.
Mereka hanya bisa saling pandang. Son tahu kalau ayahnya ingin berbicara tapi kesulitan.
Perhatian mereka tiba-tiba teralihkan pada bunyi knop pintu yang akan dibuka. Ternyata yang datang Luzi. Terlihat raut wajah Math yang berubah menjadi sumringah. Dia menggerakkan kepalanya.
"Ibu, kenapa kesini? Bukankah aku suruh untuk istirahat saja ...." Semenjak Math dirawat di rumah sakit, Luzi juga jatuh sakit. Wanita paruh baya itu mungkin terlalu banyak pikiran. Apalagi melihat kondisi Math yang seperti ini. Terkadang Math bisa merespon keadaan sekitar, tapi terkadang diam saja seperti orang melamun panjang.
Luzi kemudian duduk di samping putranya, wajahnya masih terlihat pucat.
Disaat suasana sedang hening, pintu kembali terbuka. Sania menundukkan kepala seraya meminta maaf jika kedatangannya membuat mereka semua terkejut.
"Sayang, kau kesini juga?"
"Hmm, iya. Aku menyusul Ibu. Ibu kenapa pergi tidak bilang-bilang." Sania yang mengkhawatirkan keadaan Luzi langsung menyusulnya kemari. Karna yang ia tahu Luzi belum pulih sepenuhnya dari sakit.
Wanita paruh baya itu tidak bisa tenang jika belum melihat keadaan Math. Dia terus kepikiran di rumah. Saat dia ingin mengutarakan kembali perasaannya, tapi Math sudah seperti saat ini. Tak tahu apakah pria yang terbaring lemah ini bisa menangkap suaranya dengan jelas.
"Son, Sania .... Bisakah kalian keluar sebentar?" pinta Luzi membuat keduanya mengangguk. Lalu Son menggandeng istrinya untuk keluar.
"Sayang, apa yang ingin dibicarakan Ibu?" tanya Sania sesaat setelah mereka sudah di luar ruangan. Son hanya menghendikan bahu. Tidak tahu apa yang akan dibicarakan oleh Luzi.
"Kita doakan yang terbaik saja," jawabnya.
.
.
__ADS_1
.
Di tempat yang berbeda juga disebuah rumah sakit berbeda. Keyla dilarikan ke rumah sakit. Entah apa yang telah terjadi di rumah sehingga usia kehamilannya yang belum memasuki bulan ke sembilan harus buru-buru dibawa ke rumah sakit.
Keyla merintih kesakitan di atas ranjang yang sedang didorong oleh suster. Rico dengan setia menggenggam tangannya tak mau dilepaskan.
Tindakan yang selalu dipilih oleh dokter sebagai jalan pintas. Harus dioperasi segera agar bayi di dalam kandungan bisa selamat dengan terpaksa Keyla melahirkan secara prematur. Rico mengangguk menyetujui saran dari dokter. Sedangkan Keyla hanya bisa pasrah.
Berjam-jam Rico menunggu operasi selesai. Dia mengabaikan panggilan yang masuk di ponselnya, dia berjalan mondar-mandir sedari tadi.
"Permisi, Tuan." Terdengar suara pria dari belakang, ternyata ada pelayan rumah sakit bagian dapur yang sedang mendorong troli berisi makanan. Dia berdiri tepat di tengah-tengah jalan membuat orang kesusahan untuk lewat.
"Kenapa lama sekali!" keluhnya karna tak sabar menanti anaknya yang kedua.
"Kakak, bagaimana operasinya?" Rico tak memberi tahu siapa pun tentang Keyla di rumah sakit. Karna semua orang rumah sedang sibuk mengurus Math yang sakit. Tak mau semuanya bertambah beban pikiran.
"Darimana kau tahu?" Rico terkejut dengan kedatangan Darien. Adiknya ini menuntun Rico untuk duduk bersama. Ia tahu bahwa kakaknya sedang cemas.
Rico mengusap kasar wajahnya. Rasanya lebih cemas dibanding saat Keyla melahirkan Meysa dulu. Kali ini khawatirnya lebih-lebih.
Dan disaat dia sedang merapalkan doa, pintu ruang operasi akhirnya dibuka. Dokter keluar dengan wajah yang sulit ditebak. Para perawat pun terlihat menunduk.
"Dokter, bagaimana keadaan istri saya dan anak saya?" Dokter membuka kacamatanya sebentar lalu mengucek matanya yang terasa pedih.
"Mohon maaf, Tuan. Salah satu diantara yang Anda ucapkan tadi nyawanya tak bisa diselamatkan."
DEG.
Rico terjatuh ke bawah. Tubuhnya seakan dihantam bebatuan besar. Rasanya lebih dari kata menyakitkan. "Sa-sayang ...." Tak mau mendengarkan penjelasan dokter lagi, ia langsung lari masuk ke dalam. Hatinya benar-benar hancur. Walaupun ia tak tahu nyawa siapa yang tak bisa diselamatkan.
***
Masih di ruangan yang sama. Luzi dan Math masih terdiam di suasana yang sunyi. Mulutnya seakan terkatup rapat saat melihat kedua matanya Yang teduh.
__ADS_1
"Math ...." Luzi menarik napasnya perlahan. Ada hal yang ingin ia sampaikan pada Math. "Apa kau tahu? Kita belum benar-benar pisah. Yang soal aku katakan pada waktu itu bahwa pengadilan telah memutuskan perceraian kita, itu semua tidak benar. Aku berbohong," ujarnya.
Kedua matanya yang tajam terlihat memerah. "Dan aku juga berbohong soal perasaan aku padamu waktu itu. Aku tidak benar-benar melupakanmu. Lebih tepatnya tidak bisa." Air matanya sudah menggenang, ingin sekali lari dari tempatnya.
"Kita sudah tua, Math. Memalukan sekali jika kita saling mengutarakan perasaan. Tapi saat aku berjumpa pertama kali denganmu, aku sudah jatuh hati. Bahkan mungkin aku yang lebih dulu jatuh hati padamu dibanding Renata-sahabatku. Tapi takdir baik selalu berpihak pada sahabatku yang mempunyai segalanya. Dia sangat beruntung dibanding aku."
Kini Luzi tak dapat menahan rasa sedihnya. Dia menangis dihadapan Math. Rasanya sakit sekali mencintai sedalam ini.
Math juga mengeluarkan air matanya. Dia ingin ikut berbicara, tapi ia tak bisa.
"Jika Tuhan masih memberikan kita waktu untuk bersama. Aku mau kita menjalani kehidupan bersama lagi. Dengan rasa cinta yang sudah ada." Luzi menggenggam tangan Math. Dia menciumnya sebagai bukti cinta dan hormatnya pada sang suami.
.
.
.
Sedangkan di luar ruangan. Son tiba-tiba menyenderkan kepalanya pada bahu Sania. Wanita itu jelas saja merasa keberatan.
"Ihhh jangan seperti ini berat!" Sania bergeser hingga membuat kepalanya tak lagi bersender. Tapi lagi-lagi Son mencoba mendekat. Rasanya ingin selalu dekat dengan istrinya. Apalagi akhir-akhir ini mereka tak sering bertemu.
"Sayang, kau bisa diam tidak! Aku hanya ingin bermanjaan." Suaranya bikin Sania geli sendiri, bisa-bisanya suaminya ini mengatakan kata-kata yang terlalu menggelikan.
"Sssstttt, jangan keras-keras. Kau ini jangan bikin malu!" Ada beberapa orang yang lewat lalu memperhatikan keduanya. Membuat Sania malu sendiri.
CUP.
Son tiba-tiba mencium pipinya saat ada orang yang lewat. Sania terjingkat kaget melihat perilakunya yang tiba-tiba.
Dengan kesal ia memukuli suaminya. Tak ia hentikan sebelum ia puas melampiaskan kekesalannya.
"Sayang, stop! Aku mohon," pintanya kemudian.
__ADS_1