
Kakinya perlahan melangkah menuju pintu. Rumah yang tak ada perubahan sejak mereka berteman dulu.
Tok!
Tok!
Tok!
KRIEETTT!!!
Tak berapa lama pintu dibuka oleh seseorang. Seorang wanita dengan pakaian sederhana menampakkan ekspresi yang sangat terkejut.
"Sarah ...." Sania memanggil namanya, dia sedikit berubah dengan rambutnya yang panjang. Dulu Sarah suka sekali dengan rambut pendeknya.
"Sa-sania ...." Sania memeluknya, hanya Sarah yang mau berteman dengannya dulu. Tapi sayang sekali Sarah harus pindah sekolah waktu itu. "Kau masih ingat denganku?" Sarah tidak percaya bahwa Sania akan mendatangi rumahnya. Ia pikir Sania telah melupakannya. Dulu Sania tidak pernah main ke rumahnya, karna uang saku Sania tak pernah cukup untuk menaiki transportasi menuju ke sini. Uang sakunya selalu saja hanya cukup untuk makan di kantin dan pulang ke rumah.
Sarah mempersilahkan Sania untuk masuk, tak lupa juga Sarah membantu membawa barang-barang yang Sania bawa.
***
"Dimana Sania????" teriaknya menggema di seluruh penjuru ruangan. Bi Ranih langsung lari tergopoh-gopoh menghampiri Son.
"Nona Sania barusan pergi, Tuan," jawabnya.
BRAKKK!!!!!
Son menendang kursi yang ada di sampingnya. Baru saja ditinggal sebentar, Sania sudah pergi.
"Tapi katanya nona Sania ingin menginap di rumah pamannya, Tuan."
Son sedikit lega, memang tak ada lagi keluarga yang ia miliki kecuali Paman Raul dan Maria. Sudah jelas Sania ada di sana. Tak mungkin Sania ada di tempat lain. Dia adalah gadis ingusan, pengetahuannya tidak banyak.
"Pergi!" usirnya.
Son mendudukkan tubuhnya di kursi dan saat ia tak sengaja melirik ke arah samping, dia melihat Darien berjalan ke arahnya.
"Kau menyesal sekarang?" sindirnya. Darien tersenyum miring melihat Son yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
Son tak ingin menghiraukan kakaknya. Tapi pria yang lebih tua 3 tahun di atasnya itu tak hentinya berbicara.
"Dia telah pergi. Dan aku yakin kau tak bisa menemukannya. Iya benar, dia memang seorang gadis belia, tapi dia bahkan lebih cerdik darimu," ucapnya membuat Son menolehkan kepalanya. Kakaknya ini memang selalu tahu apa yang ada dipikirannya.
__ADS_1
Benar, Sania itu cerdik. Banyak hal tak terduga yang sering ia lakukan padanya. Diam-diam masuk ke dalam kamar mandi saat ia mandi, lalu diam-diam tidur di kamarnya tanpa mengeluarkan suara. Lalu menyamar sebagai suster saat dirinya sakit. Dia benar-benar punya seribu akal yang cerdik.
"Bagaimana? Ucapan ku benar, kan?" Darien tertawa, melihat adiknya yang semakin kacau pikirannya.
"Diam lah! Kau tidak tahu apa-apa!" Son bangkit dan menatapnya tajam.
"Kau yang tidak tahu apa-apa, adikku tersayang!" Darien mendorong tubuhnya, merasa kesal dengan keangkuhannya. Sudah jelas dia sering kali membuat istrinya sakit hati, tapi tidak pernah sadar diri.
"Pergi cari dia sekarang! Sebelum kau menyesal!" ucapnya terakhir kali sebelum Darien berlalu pergi. Darien menoleh ke belakang, dia masih melihat Son yang hanya diam. "Arggghhhhh!!!!!" Darien kesal sendiri.
***
Keesokan harinya, seperti biasa pelayan telah sibuk di dapur serta membersihkan halaman rumah. Pagi ini terasa sepi, tidak ada majikan yang berlalu lalang di dalam rumah.
"Tuan Darien pergi sedari malam tadi. Sedangkan nona Sania pergi dari sore hari." Pelayan merasa kesepian, tapi juga ketakutan karna di rumah hanya ada Tuan Son saja.
"Tuan Son belum bangun. Coba sana kamu bangunin," suruhnya pada pelayan muda lainnya. Semuanya menggeleng cepat, tidak ada yang berani membangunkannya.
"Tuan Son belum sarapan, hari sudah semakin siang." Tak ada juga yang berani hingga akhirnya Bi Ranih yang turun tangan.
Tok!
Tok!
Tok!
Tanpa orang lain tahu, matanya masih terjaga hingga pagi hari menjelang. Son tidak tidur sedari tadi malam. Ia tak bisa tidur, dia banyak pikiran sekarang.
"Hoaammm ...." Dia baru merasakan kantuk. Tapi ia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 8 pagi.
"Aku tidak mau sarapan! Aku mau tidur!" sahutnya. Bi Ranih terheran-heran mendengar jawabannya.
"Tuan, Anda belum tidur?"
Tok!
Tok!
Lama sekali Bi Ranih menunggu jawabannya lagi, hingga akhirnya dia pergi.
***
__ADS_1
"Tante .... Main yuk." Tangan mungil dari anak kecil berusia 5 tahun itu menarik sisi bajunya dengan gemas. Wajahnya dipenuhi bedak, sangat lucu. Sania tertawa pelan, dan mencubit pipinya dengan gemas
"Tio .... Sini sayang. Jangan ganggu Tante Sania dulu ya."
Semalam Sarah bercerita banyak tentang hidupnya. Tentang dulu yang ia pikir Sarah beneran akan pindah sekolah nyatanya itu tidak benar. Sarah keluar dari sekolahnya yang dulu karna disuruh menikah. Sarah dijodohkan dengan seorang duda beranak satu. Dia ingin menolak, tapi waktu itu orang tuanya sakit keras. Hanya calon suaminya lah yang bisa membantu biaya pengobatan orang tuanya.
Cukup lama Sarah bisa membuka hati untuk suaminya, hingga tahun lalu dia benar-benar jatuh hati padanya. Dan kini dia sudah memiliki seorang anak, darah dagingnya sendiri. Sarah terlihat lihai menggendong bayi yang masih berumur beberapa bulan itu.
"Sania, sebaiknya kau pikir-pikir lagi. Bukankah kasus kita sama? Sama aja kita semacam dijodohkan."
Sarah masih membujuknya untuk kembali dengan Son. Tapi Sania yang sudah terlanjur kecewa, sudah tidak mau lagi bersamanya. Son selalu saja bersikap kasar padanya.
"Sarah, aku sudah bertahan lama dengan pernikahan ini. Dan aku juga tidak mau menjadi orang yang ingkar janji. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, bahwa aku akan pergi saat dia sudah melihat lagi. Dan ini waktunya."
Rasanya ia benar-benar sudah lelah. Dan ia ingin rasa lelahnya kali ini akan jadi terakhir kalinya ia rasakan.
"Sarah, aku pergi dulu. Aku akan kembali nanti sore mungkin," pamitnya. Sarah mengangguk dan mendoakan yang terbaik untuk temannya.
"Hubungi saja suamiku, dia pasti akan membantumu," ucapnya mengingatkan Sania.
***
Wajahnya yang tampan, tak ia perlihatkan hari ini. Dia berpenampilan kusut dengan rambut yang tak ia sisir rapi. Dia merasa kacau hari ini.
"Tuan, ini ada sebuah titipan untuk Anda." Baru saja kakinya sampai di meja makan, seorang pelayan menyodorkan sebuah amplop besar padanya.
"Dari siapa?" tanyanya dengan suara lemas.
"Tidak tahu, Tuan. Ini dari tukang paket."
Amplop besar yang bagian depannya kosong. Tak ada nama pengirim, hanya ada nama penerimanya saja.
Tangannya bergetar membaca lembaran kertas dengan tulisan tersusun rapi itu. Membaca dengan mata membuka lebar, dadanya seketika sesak.
"Sialllllll!!!!!!!!!"
Son melempar kertas itu hingga terbang ke udara dan jatuh ke atas lantai.
"Dia sudah berani! Darimana dia tahu mengurus surat perpisahan ini! Arrggghhhhh!!!!!!"
CRANGGGG!!!!!!!!!!
__ADS_1
Dia membanting semua gelas yang ada di atas meja. Meluapkan amarahnya yang berapi-api. Dia tidak menyangka bahwa Sania benar-benar ingin berpisah dengannya. Bahkan dia dengan tangannya sendiri mengurus perpisahan itu.