
Lampu-lampu di sepanjang jalan terlihat terang. Lebih terang dari sinar bulan di langit yang gelap. Jalanan begitu lengah, hanya ada beberapa pengendara yang melintasi jalan raya ini. Gedung-gedung bertingkat tak tampak di sekitar sini, hanya ada bangunan-bangunan rumah kuno yang menghiasi sepanjang jalan. Sania bergidik ngeri, saat matanya melihat ke luar jendela mobil. Begitu menakutkan, suasana pada malam hari.
Dari siang hingga malam hari, Sania hanya berputar mengelilingi kota. Sejenak melepas penat.
"Berhenti di depan, Pak," ucapnya pada Sopir Taxi.
"Baik, Nona." Taxi berhenti tepat di sebuah rumah. Rumah itu tampak sepi dari bagian depan. Tapi lampu di dalam rumah menyala dengan sempurna, yang berarti ada orang di dalam.
Sania membuka gerbang perlahan. Ini tidak terlalu sulit, karna gerbang itu hanya berukuran kecil. Kakinya melangkah pasti ke depan pintu. Tangannya yang mungil perlahan mengetok pintu beberapa kali. Harusnya dia bisa memencet bel yang berada, tapi sayang sekali bel itu tidak lagi berfungsi.
"Iya sebentar." Suara yang sangat familiar. Sania tersenyum, dia tidak sabar bertemu dengan sang pemilik rumah. Udara dingin begitu menusuk kulitnya. Tidak sabar untuk masuk ke dalam rumah.
"Sania ...." Pintu berhasil dibuka. Sania tersenyum dan menyalaminya dengan sopan.
"Paman, maaf Sania datang malam-malam begini." Paman Raul mempersilahkan keponakannya untuk masuk. Dia terkejut dengan kedatangan Sania yang tiba-tiba. Ternyata di sana sudah ada Maria. Sepupunya itu menatapnya dengan heran juga.
"Duduk lah, Sania. Paman akan buatkan minum terlebih dahulu."
"Tidak usah, Paman. Sania mau bicara sebentar." Raul akhirnya duduk kembali. Dia duduk di sebelah keponakannya. Sedangkan Maria, berada di hadapannya.
"Apa yang ingin kau bicarakan? Oh ya, kau kesini dengan siapa? Apa Son ada di luar?" tanyanya sambil kepalanya menengok ke arah depan.
"Tidak. Sania tidak bersama siapa-siapa. Sania datang naik taxi," ujarnya. Maria masih menyimak, dia begitu canggung bertemu dengan Sania lagi. Mereka tak banyak bicara walaupun lama tidak bertemu.
"Oh begitu. Apa kau kesini sudah ijin dengan suami mu?" Paman Raul tidak mau jika keponakannya ini pergi tanpa ijin dari suaminya. Bagaimana pun Sania sudah menjadi tanggung jawab suaminya bukan dirinya lagi.
Dia bingung untuk menjawab itu. Dan dia memilih untuk mengatakan apa yang ingin dikatakan. "Paman .... Bolehkah Sania menginap di sini?" Sania langsung berterus terang apa maksud tujuannya ke sini. Bisa dilihat raut wajah Pamannya berubah begitu pun Maria. Bukan karna tidak memperbolehkan tapi Paman Raul mencium sesuatu yang aneh dari sikap Sania.
"Kenapa ingin menginap di sini? Apa ada masalah di rumah suamimu?" Kali ini Maria yang bertanya.
__ADS_1
"Aku hanya rindu tidur di sini. Paman, bolehkah Sania menginap di sini? Satu malam saja." Paman Raul akhirnya mengangguk. Dia tidak melarang Sania untuk menginap di sini. Hanya saja, Raul mengkhawatirkan satu hal. Soal Son, apakah mereka sedang bertengkar?
"Paman tidak pernah melarang mu untuk tidur di sini, Sania. Hanya saja, Paman takut jika kedatangan mu ke sini Son tidak mengetahuinya."
"Paman tenang saja, Son sudah tahu," jawab Sania meyakinkan. Walaupun sebenarnya Son tidak tahu dirinya ada di mana, tapi sudah pasti saat mengetahui kalau dirinya tidak pulang ke rumah sudah tentu mereka akan tahu berada di mana Sania saat ini. Karna hanya keluarga ini lah yang Sania miliki.
"Ya sudah. Berisitirahat lah. Kamar kamu selalu bersih setiap saat." Melihat senyuman Paman Raul membuat hatinya terenyuh. Sudah lama sekali Paman Raul tak memberikan senyuman hangatnya pada Sania. Semuanya berubah dengan cepat. Tuhan menjawab semua doa-doanya.
TOK!
TOK!
TOK!
Baru saja ingin memejamkan mata, pintunya diketok oleh seseorang. Dengan langkah malasnya dia berjalan menuju pintu dan membukanya.
"Ada apa, Maria?" tanya Sania. Sepupunya itu menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Mereka itu seperti tom and jerry, tak ada hari tanpa keributan. Tapi kali ini, Maria si gadis sombong dengan sopannya mengetok pintu kamar Sania. Padahal dulu, Maria selalu saja menyelonong masuk ke dalam kamarnya tanpa permisi.
"Tidak. Aku belum mengantuk. Katakan saja." Mereka duduk bersama. Maria tiba-tiba menyentuh tangannya dan ia genggam perlahan.
"Sania, tolong aku. Hanya kau yang aku percayai bisa menolongku," ujarnya dengan mata sendu. Sania menolehkan kepalanya, melihat lebih dekat wajah sepupunya. Dia sedang bersedih.
"Tolong apa? Kau kenapa? Ada masalah di kampus?" Sania mencoba menebak. Tapi gadis itu malah menggelengkan kepalanya cepat.
"Bukan. Bukan itu. Aku ingin meminta bantuan mu untuk mencari ibu. Aku merindukan ibu. Walaupun ibu telah meninggalkan aku dan ayah, tapi aku masih sangat menyayanginya. Aku ingin dengar penjelasannya langsung, kenapa ibu meninggalkan kita." Sosok Maria sebenarnya sangat manja, hanya dengan Lotus dia bisa bertingkah manja. Tapi sekarang, sosok yang sering memanjakannya entah di mana.
"Sania, kau bisa menemukan ayah yang tinggal di daerah terpencil. Jadi aku pikir kau juga bisa mencari ibu. Aku yakin ibu masih ada di kota ini." Dia berharap penuh dengan Sania. Lihat lah sekarang, Sania tampak berbeda. Dari segi pakaian dan juga pembawaannya. Dia tidak seperti anak remaja, dia telah menjelma menjadi wanita yang dewasa.
"Soal itu bukan aku yang mencarinya. Tapi, ayah mertuaku yang punya andil untuk semuanya. Dia menyerahkan bawahannya untuk mencari keberadaan paman Raul. Dan soal bibi Lotus ...." Sania tampak berpikir, dia malu jika harus bertemu dengan Math dan meminta bantuan lagi. Begitu banyak hal yang telah Math lakukan padanya.
__ADS_1
"Kau bisa kan meminta tolong pada ayah mertuamu?" Maria berusaha membujuk. Dia ingin dengar jawaban iya dari bibir Sania.
"Sania .... Tolong aku, please!" ucapnya masih memohon. Dia semakin erat menggenggam tangannya.
"Baik lah, Maria. Nanti aku akan coba bicarakan dengan ayah mertuaku."
"Ahhh .... Terima kasih, Sania." Maria tiba-tiba memeluknya. Ini pertama kalinya mereka berpelukan.
"Terima kasih," ucapnya sekali lagi dengan senyuman yang lebar. Sania hanya mengangguk dan tersenyum dengan manis.
"Tidur lah. Aku tidak akan mengganggumu." Maria menutup kamar Sania. Setelah Maria pergi, gadis itu mencoba memejamkan matanya. Tapi sangat sulit. Permintaan yang diucapkan Maria barusan, terngiang-ngiang terus di kepalanya.
"Bagaimana aku mengatakannya pada ayah? Aku sering merepotkannya."
Belum juga selesai memikirkan bagaimana caranya berbicara dengan Math, ponselnya mendadak berbunyi. Setelah beberapa menit yang lalu, ponselnya dia hidupkan.
"Hallo ...." Sania mengangkat panggilan itu. Panggilan dari Paman Leo.
"Nona, Anda sekarang ada di mana? Kenapa ponselnya baru aktif. Tuan Son saat ini sedang berada di rumah sakit."
"Hah???" Sania terperanjat kaget bukan main. Kenapa saat dirinya pergi, pasti ada aja kejadian di rumah. Dia melirik jam dinding di kamarnya, sudah pukul 9 malam.
"Nona, Anda tenang saja. Saya tahu Anda ada di rumah paman Raul. Istirahat saja, Nona. Saya yang akan menemani tuan Son di sini. Besok pagi Anda silahkan ke sini. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa tuan Son berada di rumah sakit itu saja. Selamat beristirahat," ucap Paman Leo.
"Bagaimana bisa tenang, suamiku se—" Dia menutup mulutnya, saat mengatakan suami. Begitu khawatirnya Sania terhadap Son.
"Hmm, baik lah. Besok pagi aku akan ke sana," jawabnya.
.
__ADS_1
.
.