ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 52 TINGGAL BERSAMA


__ADS_3

Semua telah duduk di tempatnya masing-masing. Di ruang tengah yang luas. Paman Leo memilih duduk di sebelah Sania dan Rico bersama Keyla di depan mereka. Son tidak mau bergabung, dia memilih tetap di dalam kamar.


"Sania, Kakak akan tinggal di sini untuk beberapa waktu. Apakah kamu tidak keberatan?" Kak Rico memandang Sania lekat.


"Jelas tidak lah. Ini kan bukan rumahnya!" Keyla tiba-tiba yang menyerobot untuk menjawab. Rico melirik istrinya dengan tatapan tidak suka. Istrinya hanya memutar bola matanya jengah.


"Sania, apa kamu tidak keberatan?" tanya Rico kembali.


"Tidak, Kak. Tinggal lah di sini. Sania merasa senang." Di dekat Rico sekarang, rasanya tidak senyaman saat dekat dengan Darien. Sania dan Rico jarang bertemu juga berinteraksi. Membuat keduanya serasa canggung.


"Untuk beberapa waktu ke depan, Kakak akan sering pergi ke luar kota. Dan Kakak tidak bisa mengajak Keyla. Kakak harap kamu bisa mengawasi Keyla jika dia diam-diam melakukan hal yang berat atau memakan makanan yang membahayakan janinnya. Maaf jika merepotkan mu." Sekilas Sania menatap Keyla yang sedari tadi membuang muka. Wanita cantik itu memperlihatkan sekali jika tidak suka padanya. Padahal dulu saat pertama kali bertemu, Keyla sangat ramah padanya.


"Tidak, Kak. Sania sama sekali tidak merasa direpotkan."


"Sayang! Ayo ke kamar. Aku lelah." Tiba-tiba Keyla merengek. Dia menarik sisi baju suaminya meminta untuk ke kamar. Dia mencebikkan bibirnya kesal karna suaminya tak menghentikan pembicaraannya dengan Sania. Padahal menurutnya tak perlu minta ijin dengannya. Tidak lah penting.


"Ke kamar duluan aja sayang. Aku mau bertemu Son terlebih dahulu." Rico meminta tolong Paman Leo untuk mengantarkan istrinya ke kamar. Pria paruh baya itu dengan sigap mengangguk dan membantu membawa barang bawaannya juga.


Suara pintu terbuka. Son menegakkan tubuhnya yang semula bersender.


"Untuk apa kau kemari?" Tampaknya Son mengetahui siapa yang datang. Dia bisa mencium bau parfum yang berbeda.


"Kakak akan tinggal di sini untuk beberapa waktu ke depan, Son. Karna ayah dan ibu akan ke luar negeri. Jadi, Kakak tidak bisa meninggalkan Keyla sendirian di rumah hanya bersama pelayan. Apalagi akhir-akhir ini Kakak akan sering ke luar kota," ujarnya menjelaskan.


"Dia masih punya orang tua yang lengkap," jawab Son.


"Son, Keyla adalah tanggung jawab Kakak. Lagi pula, Keyla yang meminta untuk tinggal di sini. Dan di sini juga ada Sania, dia bisa menjadi teman wanita untuk Keyla."


"Menyusahkan!" seru Son.

__ADS_1


"Son! Kakak tidak suka kau berkata seperti itu. Dia adalah kakak ipar mu. Kau harus menghormatinya." Son memilih berbaring. Menutup tubuhnya dengan selimut dan terpejam. Dia malas berdebat dengan Rico. Walaupun sosok Rico adalah yang paling dewasa dan yang paling sering mengalah di antara mereka.


Malam hari. Darien yang baru saja pulang dari kantor dikejutkan oleh Keyla yang tiba-tiba berada di kamarnya. Wanita hamil itu memakai kamar mandinya. Dia yang sudah terlanjur membuka bajunya langsung menyahut selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Darien!" Keyla berteriak.


"Kenapa kau ada di sini!" Darien berdecak kesal. Tidak tahu juga jika Keyla datang ke rumah ini.


"Kamar mandi di kamar sedang dipakai Rico. Dan aku tidak tahan buang air kecil sedari tadi. Dari pada aku ke kamar mandi di bawah, itu sangat membuang waktu," ujarnya menjelaskan.


"Pergi lah. Cepat!" usirnya kemudian. Perlu diketahui, Darien sebenarnya tidak suka dengan hubungan Rico dengan Keyla. Dia tidak merestui keduanya. Tapi kakaknya itu seakan sudah cinta mati pada wanita itu. Darien akan bersikap baik kepada Keyla jika di hadapan keluarganya saja.


"Terima kasih," ucap Keyla sebelum pergi dari kamarnya. Dia berhenti sejenak, melihat ke sekeliling kamar adik iparnya. Kamarnya bernuansa monochrome. Sangat unik.


"Tutup pintunya!" seru Darien mengagetkan Keyla yang sedang memandangi seisi kamar.


Setelah selesai membersihkan diri, Darien berjalan menuju meja makan. Setelah pelayan memberitahunya untuk segera makan malam bersama.


"Darien, duduk lah." Rico menyambut Darien dengan hangat.


"Kakak ke sini dari kapan?" tanyanya ingin tahu.


"Baru tadi siang. Kau jangan terlalu sibuk bekerja, Darien. Jam segini baru pulang. Kau harus segera mencari pasangan. Agar ada yang mengurusi mu," ucap Rico menasehati.


Darien meletakkan gelas kosong dengan kasar, setelah meminumnya sampai habis. Dia menatap Rico seakan membunuh. "Jangan campuri urusan pribadiku, Kak!" Darien memperingati Rico. Dia tidak suka jika orang lain seperti ikut campur dengan kehidupannya.


"Kakak hanya memberitahu saja. Dan—"


"Sayang, kita makan dulu saja. Kenapa malah berdebat!" keluh Keyla memandangi mereka bergantian.

__ADS_1


"Di mana, Sania? Dia tidak ikut makan bersama?" Darien mencari keberadaan Sania. Dan Rico menjawab bahwa Sania dan Son makan malam di kamar.


"Tidak bisa seperti. Mereka harus makan malam bersama kita di sini. Kita kan keluarga." Darien beranjak bangun ingin memanggil mereka berdua.


"Darien, duduk!" Rico berteriak membuat langkah Darien terhenti lalu menoleh ke belakang. Rico pun akhirnya berdiri. "Duduk lah! Kita makan bertiga saja. Jangan membuat masalah!" Rico tahu kalau akhirnya akan sia-sia saja membujuk Son untuk makan malam bersama. Bukannya bisa makan malam bersama, malah nantinya akan jadi pertengkaran yang hebat.


Darien dengan terpaksa duduk kembali. Walaupun dirinya sebenarnya ingin mengajak Sania makan malam bersama. Tidak peduli jika Son tidak mau. Dia hanya berharap pada Sania.


"Darien, Kakak beberapa waktu ke depan akan sering pergi ke luar kota. Jadi Kakak mohon, kamu harus sering di rumah jika Kakak tidak ada. Keyla sedang hamil, Kakak ingin di sini ada yang bisa Kakak andalkan. Jangan sering pulang malam. Ayah dan ibu akan ke luar negeri, maka dari itu kita tinggal di sini untuk sementara waktu." Darien sudah tahu tentang orang tuanya yang akan pergi ke luar negeri. Sebenarnya dia merasa heran, karna tidak biasanya Ibu ikut Ayah jika ada perjalanan bisnis apalagi ke luar negeri.


Beberapa koper berjejer rapi di dalam kamar. Semuanya telah disi penuh oleh Luzi. Wanita paruh baya itu sibuk sedari tadi sore. Dia mempersiapkan segala keperluan dirinya dan juga suaminya selama di luar negeri nanti.


"Kenapa aku harus ikut!" keluhnya. Ini pertama kalinya Math mengajaknya pergi ke luar negeri. Entah apa yang menjadi alasan suaminya itu.


"Kau tidak mau jalan-jalan ke luar negeri?" Math melirik istrinya yang sedang menyusun pakaian di dalam lemari. Setelah mengambil beberapa pakaian untuk dimasukkan ke dalam koper.


"Sudah sering. Apa kau lupa? Aku sering menemani Rico ke luar negeri." Benar juga, Luzi memang sering menemani Rico setiap perjalanan bisnis ke luar negeri maupun luar kota. Tapi setelah menikah, Rico tidak pernah meminta Luzi menemaninya. Dia merasa malu mungkin.


"Kau bisa memilih apa pun yang ingin kau beli! Semuanya yang kau inginkan!" ujar Math.


Math meletakkan ponselnya di atas nakas dan memilih membaringkan tubuhnya. Sekilas melirik Luzi yang sedang berhias di depan cermin. Dia selalu memperbaiki penampilannya. Sudah menjadi ritual setiap malam sebelum tidur.


.


.


.


Maaf hari ini update-nya malam.. 🤗

__ADS_1


__ADS_2