
" Anda jangan berkata seperti itu, Nyonya. Kalau bukan karena kebaikan anda, mungkin hidup kami sudah menderita sedari dulu. " Eneng menyeka airmata yang tak luput membasahi wajahnya. Iapun membalas pelukan hangat Bianca terhadapnya.
" Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kau menjual rumahmu dikampung? Aku hampir berputus asa karena tidak mendapati petunjuk tentang keberadaanmu. " Bianca menceritakan saat dirinya berkunjung kekampung halaman Bi Irah.
" Suami saya terjebak hutang oleh rentenir, dia menjadikan putriku sebagai jaminan. Ia memaksa Seroja untuk dijadikan istri rentenir itu. Aku tidak terima, akhirnya aku dan putriku kabur dari rumah. Kebetulan putriku tadinya kuliah tidak jauh darisini, akhirnya kami memutuskan untuk tinggal dikontrakannya. " Eneng menceritakan secara singkat mengenai masalah yang dialaminya.
Bianca menatap heran ke arah Seroja.
" Kuliah didekat sini? Kebetulan putriku juga kuliah didekat sini. Kenapa kau berhenti kuliah? Padahal mungkin kau bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih layak jika kau menuntaskan kuliahmu. "
Seroja hanya tersenyum tipis menganggapi pertanyaan tersebut. Dalam hati dirinyapun ingin tetap berkuliah. Namun, biaya yang tidak sedikit , belum lagi ibunya yang sakit dan terbaring diatas ranjang membuatnya mengambil keputusan untuk berhenti kuliah begitu saja.
Bianca sudah dapat membaca dari raut wajah gadis itu, ia berusaha mengalihkan pembicaraan.
" Ya sudah, kalau kalian setuju aku sangat berharap kalian mau tinggal di kediamanku seperti permintaanku dulu. Disana ibumu pasti banyak yang mengurus, jadi kau mungkin bisa berkuliah kembali. Aku akan mencari Dokter terbaik untuk ibumu agar dia bisa sembuh seperti sedia kala. " Bianca mencoba menawari kembali.
" Tapi Nyonya, saya tidak ingin merepotkan keluarga anda. Anda sudah terlalu banyak menolong keluarga kami sebelumnya. " tolak Eneng merasa sungkan.
Bianca menggenggam jemari wanita itu untuk meyakinkan.
" Eneng,, aku akan lebih merasa bersalah kalau sampai terjadi sesuatu padamu. Kumohon jangan menolak keinginanku. Kau sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri. Kalau kau merasa malu, kau dan putrimu boleh bekerja denganku setelah kesembuhanmu nanti.
Eneng dan Seroja saling berpandangan, wanita itu mengangguk memberi kode pada putrinya agar menerima tawaran Bianca.
" Baiklah, Nyonya. Kami bersedia menerima tawaran anda. Tapi, tunggulah sebentar sampai adikku pulang. Akupun akan membereskan pakaian kami sebelumnya. " Seroja meminta izin untuk berkemas.
Senyum merekah diwajah cantik Bianca, ia begitu senang akhirnya dirinya bisa menjalankan kembali amanah Bi Irah kepadanya. Apalagi, ternyata cucu Bi Irah adalah gadis yang telah menyelamatkan sang suami waktu itu.
Ia segera menelpon Pak Kusno agar datang ke tempat tersebut untuk menjemput mereka. Setelah semua dirasa beres dan Intan telah kembali. Merekapun berangkat menuju mansion Bianca.
...----------------...
Mobil berhenti disebuah mansion yang begitu besar dan mewah. Seroja menatap takjub memandangi sekeliling mansion yang sudah seperti istana menurutnya.
Intan menarik perlahan sudut baju kakaknya,
" Kakak? Apa benar kita akan tinggal di istana ini? Ini sudah seperti istana negeri dongeng Kak. " tanyanya seakan tak percaya sambil memandang sekeliling mansion.
__ADS_1
Bianca yang mendengar obrolan kedua adik kakak itu tersenyum, ia senang sepertinya kedua gadis itu menyukai kediamannya.
" Benar, kalian semua akan tinggal disini bersamaku. Anggaplah rumah ini seperti kediaman kalian sendiri. Ayo silahkan turun dan masuk kedalam. Aku akan meminta tolong pada pelayan untuk membantu mengangkat ibu kalian. " ajak Bianca pada keduanya. Iapun segera turun bersama putrinya disusul oleh kedua adik kakak tersebut.
Ceklek...
Pintu dalam mansion terbuka, beberapa pelayan menyambut kedatangan sang majikan. Bi Yani dan mbak Sumi heran dengan kedua gadis yang ada dibelakang majikannya. Mereka merasa asing dengan keduanya.
" Nyonya, ini siapa to? Saudara Nyonya? " tanya Bi Sumi penasaran, ia menatap kedua gadis tersebut dari atas hingga bawah. Dari penampilannya, mereka lebih mirip orang biasa. Kedua bersaudara itu tersenyum ramah kearahnya.
" Mereka berdua adalah cucu Bi Irah, mbak Sumi. Sekian lama saya mencari, akhirnya saya menemukan Eneng dan putrinya. Tolong Bibi siapkan tiga kamar untuk mereka ya? Mereka akan tinggal disini bersama kita. " pinta Bianca.
Bi Yani yang mendengar hal itu segera menepuk bahu kedua gadis tersebut.
" Owalah,, ini cucu Bi Irah? Perkenalkan, Bibi ini sahabat Nenek kalian dulu. Anggap saja Bi Yani seperti nenek kalian sendiri. Mari saya antar menuju kamar kalian. Oh ya? Dimana Eneng apa dia tidak ikut bersama kalian? " tanyanya sambil melihat kesekeliling.
Yang ditanyakan akhirnya muncul, Eneng masuk bersama dua orang bodyguard yang memapahnya. Wanita itu terlihat begitu tak berdaya.
Bianca segera meminta bodyguard untuk membawa wanita itu menuju kamar yang telah disiapkan. Iapun segera menelpon Dokter pribadinya untuk memeriksa wanita tersebut.
Semuanya mengikuti kemana bodyguard membawa Eneng. Mereka menidurkan wanita itu diatas ranjangnya. Seroja segera menyelimuti sang ibu agar bisa beristirahat kembali.
" Memangnya apa yang terjadi dengan ibu kalian? Sepertinya dia sedang sakit? " tanya Bi Yani penasaran sekaligus iba melihat keadaan Eneng.
" Ibuku memang sedang sakit Bi, beliau terkena paru-paru dan lambung. Sudah beberapa bulan terakhir kondisinya melemah. Aku belum mampu memeriksakannya ke rumah sakit. " jawab Seroja jujur.
Bi Yani terkejut mendengar pengakuan gadis tersebut, ia tak tega melihat kondisi gadis itu.
" Kamu tenang saja, disini banyak orang yang akan membantumu merawat ibumu. Anggap saja ini rumah kalian sendiri. " ucapnya berusaha menyemangati.
" Makasih, Bi. " gadis itu lega, ternyata banyak orang baik dirumah tersebut.
...----------------...
Bianca mengajak Seroja dan Intan menuju kamar yang telah disiapkan untuk mereka. Namun, saat hendak menuju kamar, terdengar seseorang berjalan dari atas tangga.
" Mama? Mama darimana saja bersama Killa? Tumben sekali kalian pulang sesore ini. " terdengar seorang gadis memanggilnya dari atas.
__ADS_1
Ketiganya menengok, Seroja begitu terkejut saat tahu siapa yang dilihatnya saat ini.
" Aulia? " ucapnya heran. Ia tak menyangka sahabatnya itu adalah putri dari keluarga kaya raya sebab Aulia berpenampilan seperti orang biasa.
" Seroja? kau disini? " Aulia segera turun dan menghampiri ketiganya.
Biancapun tak kalah terkejut, ia tak menyangka putrinya dan Seroja sudah saling mengenal.
" Kalian saling kenal? " tanyanya penasaran.
Keduanya mengangguk bersamaan,
" Seroja ini dulu sahabatku di kampus, Ma. Dia sering membantuku saat teman-teman yang lain menjahiliku. Tadi siang kami baru saja bertemu, tadinya aku ingin meminta bantuan Mama dan Papa supaya membantunya agar dapat berkuliah kembali. " jelas Aulia pada sang Mama. Ia memeluk sahabat yang baru ditemuinya tadi siang.
Bianca tersenyum lega, dunia ternyata begitu sempit. Ia tak menyangka kedua gadis itu ternyata bersahabat, bahkan sangat dekat sepertinya.
" Kau tenang saja, Sayang. Mama pasti akan membantumu supaya sahabatmu ini bisa berkuliah kembali. Satu hal lagi, ia dan keluarganya akan tinggal disini bersama kita. Aku harap kau memperlakukan mereka dengan baik disini. " jawabnya pada Aulia.
Aulia sedikit heran, iapun tak menyangka Mamanya telah mengenal Seroja .
" Tinggal disini? Apa Mama juga mengenal Seroja sebelumnya? " tanyanya penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
" Ceritanya panjang, nanti Mama akan menceritakan semuanya padamu. Yang jelas, nenek Seroja ini adalah orang yang sangat berjasa pada keluarga kita. Dan Seroja juga adalah gadis yang telah menolong Papa kemarin. Sebaiknya kita membawa mereka terlebih dahulu ke kamarnya untuk beristirahat. " ajak Bianca pada putrinya.
Merekapun membawa Seroja dan Intan menuju kamar masing-masing. Seroja menatap seisi kamar yang telah disiapkan untuknya, kamar tersebut cukup besar, bersih dan rapi jika dibandingkan dengan kontrakannya yang sempit waktu itu.
" Nyonya, terima kasih banyak atas semuanya. Aku berjanji akan ikut bekerja dan bantu-bantu disini. Nyonya jangan sungkan untuk menyuruhku nanti. " ungkapnya pada Bianca.
" Kau ini bicara apa? Kau disini bukanlah pembantu. Aku harap kau betah tinggal disini. " jawab Bianca menenangkan.
" Tidak, Nyonya. Justru aku akan seperti orang tidak tahu diri jika hanya menumpang disini. Tolong, anggap saja aku bekerja pada anda sebagai balas budi atad kebaikan anda. " pintanya pada Bianca.
" Baiklah, jika itu maumu. Yang terpenting kau nyaman tinggal disini. " Bianca terpaksa menuruti kemauan gadis tersebut.
" Terima kasih, Nyonya. "
Bersambung,,
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini ya. Kasih like koment rate lima dan vote seikhlasnya buat karya keduaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya..