
Seminggu setelah meninggalnya Seroja, Arkana lebih menyibukkan dirinya untuk bekerja. Rasanya, mungkin hanya hal itulah yang mampu sedikit mengalihkan pikirannya dari rasa sedih akibat kepergian sang istri.
" Arkana?! Apa kau tidak ingin sarapan terlebih dahulu bersama kami? " bujuk Bianca saat melihat putranya telah rapi dan siap untuk berangkat kerja.
" Tidak, Ma. Aku harus segera berangkat ke kantor. Nanti aku akan sarapan disana." jawabnya tanpa melihat lawan bicaranya dan berlalu begitu saja meninggalkan mansion.
Seluruh anggota keluarga yang kebetulan ada disana merasa aneh dengan sikap Arkana. Semenjak kepergian Seroja, pria itu terlihat lebih dingin dan pendiam. Iapun lebih sering pulang larut akhir-akhir ini.
Bianca tampak bersedih lantaran tingkah Arkana yang mengacuhkannya. Hingga saat ini dirinya masih dihantui rasa bersalah pada putra dan almarhumah menantunya. Dalam hatinya selalu tertanam bahwa dirinyalah penyebab semua keadaan ini bisa terjadi.
Aulia tak tega menyaksikan sang mama yang selalu berwajah muram akhir-akhir ini. Ia berusaha menghibur wanita itu agar tidak terus larut dalam kesedihan.
" Sudahlah Ma, tidak perlu diambil hati. Mungkin saat ini kakak sedang butuh waktu untuk sendiri. Bagaimanapun pasti berat kehilangan orang yang kita sayangi. Nanti, lambat laun semua akan berjalan seperti sedia kala." ucapnya menenangkan.
Bianca memaksakan senyum untuk menutupi kesedihan yang ia rasakan. Iapun meminta anggota keluarga yang lain untuk melanjutkan sarapan pagi mereka.
" Semoga kata- kata Aulia benar adanya." batinnya berharap.
***********
Arkana kini tiba dikantornya. Pandangan pria itu lurus kedepan tanpa memperhatikan sapaan dari para bawahannya di kantor. Sikapnya dingin dan acuh, sungguh berbeda sekali dengan Arkana yang biasa terlihat ramah didepan para karyawan sebelumnya.
Pria itu berjalan menuju ruangannya. Sang sekertaris yang sadar bahwa atasannya kini telah single, ia berusaha mengambil simpati pemuda tersebut. Ia segera merapikan penampilan dan pakaiannya saat melihat Arkana datang.
" Selamat pagi, Tuan. Selamat bekerja kembali ke kantor." sapanya seraya menampilkan senyum termanisnya.
Bukannya balasan ramah yang ia dapatkan, justru pria itu menatap tajam penuh kekesalan kepadanya. Wanita itu menunduk ketakutan ketika menyadari tatapan pria itu menunjukkan rasa ketidaksenangannya.
" Mulai hari ini kau kupecat! Cepat kemasi barang-barangmu dan segera pergi dari sini! " bentaknya hingga membuat wanita tersebut kaget bukan kepalang.
Ketika berada di Jepang, pria itu telah menyelidiki dari mana Aluna bisa tahu lokasinya disana waktu itu. Ia mengakses lewat CCTV tersembunyi di kantornya. Ternyata wanita itu terlihat berbicara serius dengan sang sekertaris sambil memberikan sebuah amplop berisi uang.
__ADS_1
Dirinya begitu geram, ternyata sekertaris tersebut berani mengkhianatinya. Ia bertekad untuk memecat perempuan itu setelah kembali ke tanah air.
Sang sekertaris begitu terperanjat, tidak ada angin tidak ada hujan sang atasan tiba-tiba memecatnya tanpa alasan yang jelas. Netranya berkaca- kaca, padahal ia sangat membutuhkan pekerjaan .
" Ta,, tapi Tuan? Apa kesalahan saya? Kenapa anda memecat saya secara tiba-tiba. Saya mohon, Tuan. Saya sungguh membutuhkan pekerjaan ini." wanita itu menangis seketika.
" Kesalahanmu adalah membocorkan tempat keberadaanku di Jepang kepada Aluna. Kau pikir aku tidak tahu kalau kau menerima uang suap darinya. Penghianat sepertimu tidak pantas bekerja denganku. Sekarang cepat pergi dari sini! " Bentak pria itu kembali penuh amarah.
" Tuan, tolong Tuan. Jangan pecat saya. Saya berjanji tidak akan melakukannya kembali. Saya mohon! "
Wanita itu mencoba memelas. Akan tetapi, hati Arkana kini telah membatu. Iapun menyuruh para security untuk menyeret wanita itu dan membawanya ke tengah para karyawan lain.
Seluruh karyawan terkejut menyaksikan kejadian ini. Mereka segera memberi hormat saat Arkana berada di tengah-tengah mereka.
" Mulai hari ini, aku peringatkan kalian semua. Bekerjalah dengan baik dan jangan jadi pengkhianat seperti dia. Kalau kalian tidak mendengarkan peringatan dariku, maka bersiaplah mengalami nasib seperti wanita ini. Cepat seret dia keluar dari kantor! "
Para karyawan menunduk ketakutan, sang atasan terlihat begitu dingin dan tidak main-main dengan ancamannya. Mereka tak menyangka Arkana bisa setegas itu.
" Aku harus menyelidiki siapa pria ini sebenarnya. Aku yakin dirinya pasti ada hubungannya dengan kematian istriku." tekadnya dalam hati.
**************
Seroja duduk ditepi balkon kamarnya. Pikirannya menerawang jauh memikirkan keadaan sang suami sekarang. Ia begitu rindu dengan lelaki tersebut, ia khawatir Arkana akan melupakan dirinya dan sang buah hati.
Yah, Nyonya Almira telah menceritakan apa yang sebenarnya terjadi padanya. Dirinya kini sedang menjadi target pembunuhan oleh seseorang yang dia sendiri tidak mengenalnya. Dan yang lebih parahnya lagi, keluarganya memanggap dirinya telah meninggal akibat kecelakaan.
Wanita itu mengelus perutnya yang masih datar, tanpa terasa airmatanya bergulir. Dirinya begitu merindukan sang suami, harusnya saat ini mereka bersuka cita dengan kehadiran sang buah hati diantara keduanya.
Akan tetapi, dirinya tak boleh mengambil resiko. Untuk saat ini, ia akan kesulitan menjaga diri dan calon buah hatinya. Betul kata Nyonya Almira, sangat beresiko jika ia kembali tanpa mengetahui siapa musuhnya sebenarnya.
Ceklek....
__ADS_1
Seroja segera menghapus airmatanya saat menyadari seseorang masuk ke dalam kamarnya.
Ternyata, Nyonya Almira masuk dengan ditemani salah satu pelayan yang membawa makanan untuk Seroja. Ia meminta pelayan itu menaruh makanan tersebut di atas nakas terlebih dahulu, lalu menghampiri Seroja.
" Makanlah makananmu terlebih dahulu sebelum dingin. Ingatlah sekarang kau sedang berbadan dua. Jangan egois dengan memikirkan diri sendiri. " wanita itu menasehati.
Tiba-tiba saja airmata Seroja kembali bergulir.
" Aku sangat merindukan keluargaku, Nyonya. Aku takut mereka akan melupakanku karena berpikir diriku sudah meninggal. " jawabnya jujur.
Wanita tua itu mengembangkan senyumnya, ia paham akan perasaan Seroja saat ini.
" Jika seseorang benar-benar tulus menyayangimu. Maka dia tidak akan pernah melupakanmu begitu saja. Disaat seperti ini dirinya akan diuji. Apa dia benar-benar sayang atau hanya perasaan sesaat saja." nasehatnya kembali.
" Saat ini aku khawatir dengan keadaanmu, aku takut para penjahat itu mengenalimu dan kembali melakukan percobaan pembunuhan terhadapmu. Apa kau benar-benar tidak tahu mengenai mereka? Saat ini asistenku sedang menyelidiki kasus yang menimpamu kemarin." jelas Nyonya Almira.
Seroja hanya menggeleng, ia memang belum punya gambaran mengenai para penjahat tersebut. Selama ini ia merasa tidak memiliki seorang musuh, kecuali saingan terberatnya.
Siapa lagi kalau bukan Aluna? Dirinya jadi teringat pada wanita itu. Pasti saat ini dia senang mendengar berita kematiannya dan akan semakin gencar mendekati suaminya. Iapun kembali menatap wanita di depannya.
" Nyonya, bolehkah aku tahu kenapa anda begitu baik terhadapku? Padahal kita belum saling mengenal sebelumnya. Terima kasih telah menolong dan menampungku disini." ucapnya tulus.
Netra wanita tua itu tiba-tiba berkaca-kaca, dirinya hampir menitikkan airmata karenanya.
" Kau mengingatkanku pada seseorang. Dan aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama." wanita itu tersenyum tipis lalu segera pergi meninggalkan kamar Seroja.
Seroja merasa aneh dan heran dengan perilakunya, dirinya bertanya-tanya dalam hati.
" Apa yang terjadi dengan wanita itu sebenarnya? Sepertinya ia mengalami kesedihan yang cukup dalam."
Bersambung....
__ADS_1
Maaf untuk para readers karena author sering telat membalas koment dari kalian semua dikarenakan kesibukan akhir-akhir ini. Makasih untuk semuanya yang selalu mendukung. Author usahakan agar tetap bisa up setiap hari.