Istriku Pengawalku (Menikahi Bodyguardku 2)

Istriku Pengawalku (Menikahi Bodyguardku 2)
MAHASISWA BARU DI KAMPUS


__ADS_3

Arkana telah memakai pakaian kerjanya, pria itu menyuruh Seroja untuk segera mandi sebab dirinya akan mengantar gadis itu ke kampus sebelum berangkat.


" Tunggu. " Seroja berbalik mendengar pria itu memanggilnya saat hendak masuk ke kamar mandi.


" Tolong kau sekalian mandi keramas pagi ini. " pintanya pada gadis itu.


Seroja menatap heran, " Memangnya kenapa? Perasaan rambutku belum bau." ia mencium rambut yang menurutnya masih wangi.


" Menurutmu wangi? Dari sini saja sudah tercium bau apeknya. Sudahlah menurut saja, kita harus cepat turun untuk sarapan. " Arkana beralasan.


Gadis itupun terpaksa menuruti suaminya, tak berselang lama ia keluar dari kamar mandi dengan handuk yang membungkus kepalanya. Dirinyapun sengaja memakai pakaiannya disana sekalian.


Arkana mengotak-atik ponselnya sambil sesekali mencuri-curi pandang tanpa sepengetahuan Seroja. Istrinya terlihat begitu segar apalagi disaat ia mulai membuka handuk yang menutupi kepalanya. Rambut panjangnya yang basah terlihat indah menjuntai hingga pangkal pinggangnya.


Yang membuat Arkana semakin kagum adalah istrinya itu memakai kaos oblong longgar dan celana yang tidak terlalu ketat, padahal sebenarnya gadis itu memiliki tubuh yang seksi dan kulit yang bagus. Ia jadi teringat kembali penampakan tubuh gadis itu dari belakang sewaktu di hotel.


" Astaga, pikiran macam apa ini. " ia sampai geleng-geleng kepala, bagaimna bisa bayangan gadis itu seolah tak mau hilang. Padahal, ia sering sekali melihat gadis seksi sebelumnya.


Seroja berkaca sambil menyisir rambut panjangnya yang masih agak basah. Sesekali ia memperhatikan Arkana dari pantulan kaca yang ada di depannya. Pria itu terlihat dewasa dan semakin tampan menurutnya dengan pakaian kerja seperti itu.


Tanpa sengaja netra mereka saling bertemu dari balik kaca, keduanya buru-buru mengalihkan pandangan lantaran malu. Seroja meletakkan sisirnya kembali ke meja, tanpa menggunakan make up gadis itu buru-buru mengambil jaketnya dan menghampiri Arkana.


" Ayo kita berangkat."


Pria itupun beranjak berdiri, keduanya berjalan beriringan meninggalkan kamar.


Seroja begitu terkejut melihat tangan pria itu telah bertengger dipinggangnya saat menuruni tangga menuju meja makan.


" Kita harus terlihat mesra dihadapan semua orang. " bisiknya ketelinga gadis itu. Serojapun mengangguk tanda mengerti.


" Maaf semuanya kami terlambat. " ucapnya pada seluruh orang yang sudah menunggu di meja makan. Semua mata terpana dengan kemesraan pasangan baru itu.


Sang Mama tersenyum melihat kedekatan keduanya, apalagi rambut menantunya yang masih agak basah menunjukkan bahwa kemungkinan keduanya sedang proses membuatkan cucu untuknya.


" Ayo Nak, mari bergabung. Kami semua menunggu kalian." ucapnya antusias.


Merekapun sarapan bersama- sama. Setelah menyelesaikan sarapannya, keduanya berpamitan untuk berangkat terlebih dahulu sebab Arkana harus mengantar sang istri ke tempat kuliahnya. Ia menawari Aulia untuk berangkat bersama.


" Apa kau mau berangkat sekalian bersama kakak? Menurutku kau sudah tidak perlu menutupi identitasmu, tidak akan ada yang mengganggumu lagi." ajaknya.


" Tidak perlu, Kak. Aku sudah terbiasa berangkat sendiri, kakak tidak perlu khawatir. Kalian berangkatlah duluan, kapan-kapan aku akan ikut bersama." tolaknya halus. Sebenarnya ia hanya sungkan, ia ingin keduanya semakin dekat lagi.


Dengan terpaksa Arkana dan Seroja berangkat terlebih dahulu. Aulia berpamitan pada orang tuanya setelah kepergian keduanya. Bianca sampai terlupa untuk menyampaikan sesuatu pada putrinya saat gadis itu telah jauh.


" Aku lupa mengatakan kalau Arzel sekarang berkuliah disana.Ya sudahlah, nanti dia juga akan tahu sendiri. " pikirnya.


...----------------...


Arkana dan Seroja telah tiba di kampus. Pria itu berniat membantu sang istri untuk membuka sabuk pengaman. Seroja yang mengetahui gelagatnya berniat membukanya sendiri.


" Tidak usah. Aku bisa membukanya sendiri." tolak Seroja seketika, tapi kini justru tangan keduanya saling menggenggam.


Deg...deg..deg...

__ADS_1


Lagi-lagi jantung Seroja berdetak tak karuan saat netra mereka bertemu. Arkana tak kalah gugupnya, tidak biasanya ia merasakan seperti ini. Buru-buru ia melepaskan genggaman tangannya.


" Maaf, aku hanya berusaha menjadi suami yang baik. Meskipun kita hanya menikah pura-pura, tapi aku menuntutmu menjalankan kewajiban sebagai istri yang baik. Jadi begitu pula sebaliknya. " ucapnya beralasan.


" I,, iya terima kasih. " jawab Seroja gugup. Arkana segera turun dan membukakan pintu untuknya. Pria itu segera melajukan mobilnya menuju kantor.


Seroja memandang kepergian sang suami,


" Kenapa rasanya jadi aneh seperti ini. " ia bingung, jantungnya selalu saja berdetak tak menentu saat berdekatan apalagi bertemu pandangan dengan pria itu.


...********...


Aulia kini juga telah tiba dikampus dengan mengendarai taksi online. Dirinya berhenti sesaat ketika menginjakkan kakinya di depan gerbang kampus. Akhir-akhir ini ia kurang bersemangat lantaran tidak ada lagi sosok Ardi yang sangat ia kagumi.


" Apa aku salah jika aku berniat mengejarnya? Sedangkan Seroja kini telah menjadi milik kakakku?"


Dalam hati ia masih berharap bisa mendapatkan cinta lelaki itu. Mungkin itu satu-satunya penyemangat baginya, ia harus bisa menyusul Ardi ke Australia.


Tit...Tit...Tik...


Bunyi klakson dari arah belakang begitu mengagetkannya. Aulia kesal, tapi saat hendak berbalik mobil itu justru hampir menyerempetnya jika ia tidak segera menghindar.


" Dasar pria gila! Hampir saja aku jantungan karenanya. " umpatnya kesal.


Ia memperhatikan mobil sport mewah itu dari belakang, dirinya seperti mengenal pria itu. Tapi siapa? Aulia enggan memikirkannya kembali, ia harus segera masuk karena mata kuliah akan segera dimulai.


Gadis itu berjalan menuju ruangannya, ia melambaikan tangan dengan semangat ketika melihat Seroja telah berada disana.


Iapun duduk dibangku dekat sahabatnya.


Seroja langsung mencubit pinggang sahabatnya karena gemas.


" Kau ini! Jangan memanggilku seperti itu, aku malu jika terdengar anak-anak yang lain. " gumamnya pelan. Dirinya memang sengaja tidak mengundang teman sekampusnya saat pesta pernikahannya kemarin.


Aulia mengangguk-menganggukkan kepala sambil tertawa,


" Baiklah aku mengerti. Tapi sekarang aku senang karena kau bisa kuliah dengan tenang dan bersamaku disini. Tidak seperti kemarin-kemarin, kau harus membuntuti kakakku terus-terusan. " curhatnya pada Seroja.


" Tenanglah adik ipar, setelah ini aku akan mengekorimu kemanapun kau pergi . Oke??"


Keduanya beradu tos tanda kekompakan.


Tiba-tiba perhatian mereka teralihkan oleh beberapa mahasiswi yang baru saja memasuki ruangannya. Mereka saling bergunjing tentang mahasiswa baru yang katanya sangat keren dan tampan.


" Aku tidak tahu dia ngambil jurusan apa, tapi yang jelas cowok itu cakep banget mirip oppa korea. Ntar kita ajak kenalan yuk. " ucap salah satu diantaranya.


" Iya. Kayaknya dia bakal jadi idola baru disini. " tambah yang lain.


Seroja dan Aulia saling bertatap penuh tanya. Keduanya sama-sama mengangkat bahu tanda tak mengerti. Namun, hal itu bukanlah hal yang penting bagi keduanya.


Perhatian keduanya kembali teralihkan ketika salah satu mahasiswi berlari sambil berteriak histeris.


" Hei, dengerin.Cowok itu arahnya kesini guys!!" ucapnya begitu heboh pada mahasiswa yang lain. Terutama geng mahasiswi gaul, mereka sampai melompt kegirangan karenanya.

__ADS_1


Arzel berjalan menuju ruangannya dengan wajah dingin namun semakin memancarkan aura ketampanannya. Setiap pasang mata menatap ke arahnya, terutama para kaum hawa. Mereka terpesona oleh ketampanan mahasiswa baru itu.


" Dia datang. " teriak mahasiswi yang tengah menunggunya di depan pintu ruangan. Beberapa diantaranya ikut menghampiri, mereka ingin sekali ikut berkenalan dengan pemuda itu.


Aulia dan Seroja ikut memperhatikan dari bangku, mereka penasaran dengan cowok baru yang saat ini dikelilingi segerombolan mahasiswi. Namun, wajahnya tak nampak oleh keduanya.


" Ada Dosen. " teriak salah satu mahasiswa lantaran mata kuliah akan segera dimulai. Satu persatu diantaranya mulai membubarkan diri.


Kini justru Aulia dan Seroja yang dibuat tercengang oleh pemuda yang saat ini berjalan ke arahnya.


" Aarzeeel??" ucap keduanya kompak.


Pria itu tampak cuek dan mengacuhkan keduanya. Ia duduk di bangku kosong tak jauh dari mereka. Aulia sesekali melirik pemuda itu.


" Bukankah seharusnya dia sudah lulus?" batinnya heran.


Pemuda itu menyeringai tipis,


" Sepertinya dia terkejut dengan keberadaanku disini. " batinnya senang.


Dosen telah memasuki ruangan, ia menatap Seroja.


" Seroja, tolong kau berpindah tempat duduk dengan mahasiswa baru itu. Namanya Arzel."


Seroja ingin protes, tapi sekarang dirinya harus belajar menjaga sikap. Dengan terpaksa iapun menuruti perintah dosennya tersebut.


Yah, Dinda kemarin datang ke kampus untuk mendaftarkan Arzel disana. Ia menceritakan masalah putranya itu yang sebenarnya. Dirinya meminta sang dosen untuk mendekatkan putranya dengan Aulia lantaran gadis itu sangat cerdas dan rajin, apalagi gadis itu adalah putri dari sahabat dekatnya yang merupakan donatur terbesar kampus tersebut.


Seroja mempersilahkan Arzel untuk duduk dibangkunya. Pria itu beranjak dan mendudukkan tubuhnya kasar di sebelah Aulia. Gadis itu jadi teringat, pantas saja ia seolah mengenal pria yang hampir menyerempetnya tadi.


Ia mendekatkan tubuhnya pada Arzel, " Aku punya feeling tidak enak dengan kehadiranmu disini. Awas saja kalau kau berani berulah, aku akan melaporkanmu pada Mama. " bisiknya pada pria itu.


Arzel mengangkat salah satu ujung bibirnya, pria itu tersenyum sinis.


" Silahkan saja. Mamamu berpesan agar kau menjagaku dan membantuku dalam belajar. Jadi bersiap-siaplah, aku akan membuat hidupmu tak tenang. Cupu. " pemuda itu tiba-tiba mencubit hidung Aulia hingga memerah.


Netra Aulia berkaca-kaca, seandainya tidak ada dosen disana ia pasti akan menimpuk pria itu dengan buku-bukunya.


Arzel puas melihat gadis itu begitu geram kepadanya,


" Ternyata kau masih saja cengeng seperti dulu. Si anak Mama yang suka mengadu." ejeknya kembali.


Seketika Aulia menggebrak bukunya yang ada di meja hingga membuat seluruh perhatian mahasiswa tertuju padanya.


" Aulia, jangan mengganggu konsentrasi belajar mahasiswa yang lain. " ucap sang dosen memperingatkan.


" Baik Pak. " jawabnya menunduk malu.


Ini kali pertama dirinya ditegur oleh dosen. Ia melirik Arzel, pemuda itu justru tersenyum puas melihat dirinya ditegur.


" Sungguh sial nasibku. Setelah kehilangan kak Ardi, kini aku harus berhadapan dengan pria tengil suka usil seperti ini. "rutuknya dalam hati.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya keduaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya....


__ADS_2