
" Brengsek kau! "
Glenn mengumpat geram saat menyadari ternyata Aluna tengah menjebaknya. Ingin rasanya ia menghajar wanita itu, namun yang terpenting saat ini dirinya harus segera membersihkan diri. Jangan sampai virus itu menular padanya.
Aluna mencoba untuk bangkit dan memunguti pakaiannya. Paling tidak dirinya tidak ingin meninggal dalam keadaan yang begitu hina.
" Semoga saja kita bisa mati bersama-sama, pria bodoh! " ejeknya dengan suara yang sedikit memaksakan.
Lelaki itu mengeratkan rahangnya lantaran geram, ia keluar dari ruangan tersebut sambil membanting pintu karena kesal. Ia menuju kamarnya dan segera membasahi tubuhnya dengan guyuran shower, menggosok-gosok tubuh yang menurutnya begitu kotor setelah menyetubuhi wanita berpenyakit itu.
" Kurang ajar,, Aaargggghhh! "
Pria itu memukul dinding kamar mandi untuk melampiaskan kekesalannya. Setelah hampir setengah jam iapun mengakhiri sesi mandi lalu memakai jubah mandinya.
Tok...Tok...Tok...
Terdengar seseorang mengetuk pintu kamarnya.
" Masuk."
Salah satu anak buahnya masuk dengan tergesa-gesa.
" Tuan. Diluar kita dikepung oleh keluarga Pramudya beserta anak buahnya. Mereka mencari anda dan meminta anda untuk membebaskan Nona Aluna. "
Lagi dan lagi, hari ini merupakan hari paling sial untuk lelaki tersebut.
" Tahan mereka. Lengkapi diri kalian dengan senjata. Kita tidak tahu dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku harap bisa menghabisi mereka semua dikandangku sendiri. " tekadnya penuh amarah.
Pria itu segera mengganti pakaiannya, lalu turun menemui Arkana dan yang lainnya.
...----------------...
Arkana dan lainnya sedang menunggu dibawah. Yah, mereka ingin memberikan kesempatan agar Glenn mau menyerahkan dirinya secara baik-baik.
Tap...Tap..Tap...
Bunyi sepatu yang berbenturan dengan lantai menyita perhatian seluruh orang yang berada diruangan itu. Seorang Glenn Aryatama turun dengan langkah penuh wibawa dan pembawaan yang tenang seolah tak terjadi apa-apa.
Arkana mengepal geram, rasanya ia tak sabar untuk bisa menghabisi lelaki itu. Dirinya masih ingat betul pria itulah yang menyebabkan penderitaan yang dialaminya selama berbulan-bulan ini. Namun, seolah tanpa dosa pria itu turun dan berpura-pura menyambut dengan baik kedatangan mereka.
" Selamat datang di kediaman kami, Tuan Pramudya. Gerangan apa yang membuat anda semua sudi berkunjung ke rumahku ini? Saya sangat senang telah mendapatkan tamu kehormatan." sapa Glenn dengan ramah.
__ADS_1
Arkana tidak mampu menahan emosinya, ia benar-benar muak dengan pria bermuka dua tersebut.
" Tidak perlu berbasa-basi. Kedatanganku kesini adalah untuk memintamu menyerahkan diri kepada pihak yang berwajib dan membebaskan Aluna yang telah kau tawan. Aku masih berbaik hati dan berusah untuk tidak menggunakan kekerasan." ucap Arkana penuh penekanan.
Glenn menyeringai ke salah satu sudut bibirnya seolah tak peduli sama sekali dengan ancaman Arkana barusan.
" Kau pikir kau siapa bisa mengancamku seperti itu, hah! Aku bukan anak kecil yang bisa kau paksa semaumu. Ingat! Saat ini kau sedang berada di kandang macan. Hanya dengan sekali perintah, nyawa kalian akan melayang saat itu juga."
Pria itu menepukkan tangannya sekali, seketika dari penjuru atas tangga mansionnya seluruh anak buahnya telah bersiap siaga untuk menembak. Begitupun di mansion bagian bawah, merekapun telah dilengkapi persenjataan yang lengkap.
Arkana dan yang lain cukup terkejut dan bersiap waspada. Yah, Alvin telah melengkapi mereka dengan senjata pula. Biar bagaimanapun, ia cukup mengenal keluarga tersebut. Apalagi, saat tahu Glenn adalah seorang mafia. Tentu saja senjata menjadi andalannya.
Arkana kembali menyorot tajam kearahnya seperti elang yang siap memangsa.
" Kau pikir aku takut dengan gertakanmu? Kami adalah keluarga Pramudya, dan selamanya keluarga Aryatama tidak akan mampu mengalahkan keluarga Pramudya. Begitu juga denganmu." sindirnya kembali .
" Kurang ajar! Baiklah kalau itu maumu! "
Dor...Dor..Dor...
Dengan segera Arkana dan yang lainnya menghindar saat pria itu melepaskan tembakan secara tiba-tiba. Seluruh anak buahnya segera melindunginya dari serangan musuh. Pria itu naik keatas tangganya, dirinya berniat untuk melarikan diri dengan pesawat helikopter pribadi miliknya.
Arkana dan yang lainnya saling beradu jotos dengan anak buah Glenn dibawah yang mengepungnya.
Tendangan demi tendangan mereka layangkan. Satu persatu anak buah Glenn tumbang saat menghadapi keempatnya yang mahir dalam bela diri.
Dor..
Satu tembakan mengenai lengan Arzel dari arah atas atas. Pria itu memegangi sebelah lengannya sambil terus berusaha menumpas musuhnya yang ada dibawah.
Alvin segera melayangkan tembakan ke atas.
Dor...Dor...Dor..
Salah satu penembak diatas jatuh saat terlena tembakan, beberapa diantaranya ikut terluka karenanya.
" Darah harus dibalas dengan darah, nyawa harus dibalas dengan nyawa. Kalian benar-benar memaksaku untuk melakukan kekerasan." pekik Alvin yang mulai tersulut amarah.
Baku hantam kembali terjadi, para bodyguard kini telah sampai ke atas setelah memanjat dinding bagian luar mansion tersebut. Mereka berhasil melumpuhkan lawan-lawannya.
Arkana mulai menyadari bahwa Glenn sudah tidak ada ditengah-tengah mereka.
__ADS_1
" Pa,, pria itu sepertinya telah melarikan diri. Aku akan menyusulnya keatas. Siapa tahu juga Aluna disekap disana. " pinta Arkana pada Papa Alvin.
" Baiklah cepat. Yang disini biar jadi urusan Papa dan yang lainnya! " Perintah Alvin sembali terus melawan musuh-musuhnya.
Arkana segera berlari menuju tangga atas, ia memberi kode pada bodyguardnya yang telah berada disana untuk menggeledah seluruh kamar-kamar dan mencari keberadaan Aluna.
Mereka mendobrak seluruh pintu-pintu yang ada disana. Benar saja, Aluna mereka temukan tengah tergeletak tak sadarkan diri dengan luka-luka disekujur tubuhnya. Pakaiannya tampak terkoyak di beberapa bagian. Arkana begitu miris melihat keadaan mantan kekasihnya tersebut.
Mereka memeriksa nafas Aluna,
" Tuan, dia masih hidup. " ucap salah satu bodyguard.
" Bungkus tubuhnya dengan selimut, ingat jangan berbuat apapun padanya. Salah satu dari kalian bawa dia kerumah sakit. Yang lain, kita harus segera menemukan Glenn sebelum pria itu berhasil melarikan diri. " perintahnya tegas.
" Baik, Tuan. "
Semua segera melakukan pencarian Glenn kembali. Seluruh ruangan telah digeledah, namun hasilnya nihil pria itu tidak ditemukan di tempat manapun.
" Sial! Kemana perginya baji***n itu ! " umpat Arkana kesal.
Rrruuughhhh...Rruuuughhhh...Ruuughhhhh...
Terdengar deru mesin dari bagian atas mansion yang cukup bisa dirasakan getarannya. Glenn memang memiliki ruang rahasia yang tersembunyi dibalik dinding kamarnya dan menghubungkannya dengan bagian atas mansion.
Arkana segera menggeledah dan mencari pusat sumber suara yang berasal dari atas kamar Glenn. Dirinya menggeledah tempat itu, benar saja terdapat sebuah kotak bertuliskan kode yang tertanam disalah satu dinding kamar yang tertutup lemari.
" Rasanya akan terlalu lama jika harus menunggu kode ini dipecahkan." pikir Arkana.
Arkana segera mengajak anak buahnya untuk turun kebawah bersamanya.
" Pa, sepertinya pria itu kabur dengan menggunakan pesawat. Kita harus segera mengejarnya! "
" Cepat, jangan ditunda lagi sebelum kita kehilangan jejaknya." perintah Alvin, setelah itu dirinya melirik kearah Arzel.
" Arzel, lebih baik kau kembali dan segera obati lukamu. Sudah cukup banyak orang yang bergabung bersama kami.
" Baik, Paman."
Merekapun segera keluar dan mengejar helikopter tersebut dengan menggunakan mobil.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini ya. Kasih like koment rate lima dan vote seikhlasnya buat karya keduaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya...