
Para mahasiswa terlihat sibuk menyiapkan tendanya masing-masing. Begitupun dengan Arkana, pria itu sedang menyiapkan tendanya seorang diri dengan dibantu oleh istrinya.
" Aku heran, kenapa yang lain saling membantu mendirikan tendanya, sedangkan kita disini hanya berdua. Ini semua pasti gara-gara kau yang bertingkah tidak pada tempatnya. Mereka jadi sungkan untuk membantu kita." gerutunya sembari membantu sang suami memasang tendanya.
" Lihatlah posisi tenda kita saja agak jauh dari yang lainnya. Seharusnya aku ikut kelompok mahasiswi untuk mendirikan tenda bersama mereka. Aku malu jika hanya ikut numpang tidur, sedangkan mereka bersusah payah mendirikan tendanya." lanjutnya protes.
Arkana tersenyum mendengar istrinya yang sedari tadi mengomel tak karuan.
" Ya sudah, untuk apa kau tidur bersama mereka. Lebih baik kau tidur disini bersamaku. Kita sedang membuat tenda khusus untuk kita berdua. " jelasnya pada sang istri.
Netra Seroja membulat sempurna, mana ada hal seperti itu?
" Apa kau sudah gila? Tidak, tidak. Aku tidak mau semua orang bergunjing tentang kita. Ini kegiatan kampus, seharusnya kau tak boleh seenaknya sendiri." protesnya pada Arkana.
Mendapat perlakuan berlebih saja ia sudah malu, apalagi kali ini mereka tinggal berdua dalam satu tenda saat acara kampus. Mau ditaruh mana mukanya nanti?
" Sudah, jangan banyak protes. Aku sudah meminta izin pada pihak kampus. Aku bilang pada mereka kita belum ada waktu untuk berbulan madu. Jadi hitung-hitung kita sedang berbulan madu disini. Sepertinya enak sensasi bercinta di alam bebas." godanya kembali.
Seroja membuang kasar nafasnya, ia tak menyangka suaminya bisa segila itu. Mungkin begitulah enaknya jadi orang kaya dan punya kuasa. Pepatah mengatakan horang kaya mah bebas berbuat apa saja.
" Dasar tukang mesum. " cebiknya pada sang suami.
...----------------...
Malam hari, anak-anak berkumpul di tengah api unggun sambil bernyanyi dan bermain gitar bersama. Seroja senang, kali ini dirinya bisa terbebas dari suaminya yang over protektif itu. Pria itu terlihat sibuk sebagai panitia acara bersama rekan-rekannya yang lain.
" Seroja, tahu begini aku tidak perlu ikut. Ku pikir kau akan satu tenda bersamaku. Kau kan tahu, aku kurang begitu akrab dengan yang lain." keluhnya pada wanita yang tengah duduk disampingnya.
" Aku juga tidak tahu akan jadi seperti ini. Kau tahu? Kakakmu rasanya seperti menenggelamkanku ke dasar samudra. Kau tenang saja, nanti aku akan ikut tidur ditendamu saja. Biar dia tidur seorang diri bersama nyamuk di dalam sana." keduanya terkekeh membayangkan nasib Arkana kedepannya.
" Apa kau yakin? " goda Aulia.
" Tentu saja. Sudahlah, kita nikmati saja acara malam ini. Tidak perlu terlalu memikirkannya. " merekapun kembali bernyanyi dan bersenda gurau bersama teman-teman yang lainnya.
...----------------...
Pukul sepuluh malam, para mahasiswa sudah mulai membubarkan diri satu persatu ke dalam tendanya masing-masing. Seroja mengikuti Aulia menuju tenda tempatnya beristirahat.
Ternyata, sudah banyak mahasiswi yang membujur seperti ikan pindang didalam sana. Mereka ikut bergabung dan mencari posisi yang nyaman untuk keduanya. Sudah hal yang biasa saat camping, tidur berdesak-desakan seperti itu.
Saat Seroja sudah mulai terlelap, tiba-tiba saja salah satu mahasiswi membangunkannya.
" Seroja? Bisakah kau kembali ke tendamu? Aku tidak kebagian tempat tidur. Seroja! " panggil gadis itu membangunkannya berulang-ulang.
Seroja mulai mengerjapkan kedua matanya untuk meraih kesadaran. Ia memperhatikan sosok mahasiswi yang baru saja membangunkannya.
" Aku kehabisan tempat, bisakah kau kembali ke tendamu? " pinta gadis itu kembali.
__ADS_1
Seroja memperhatikan sekitar, ternyata tenda itu memang sudah penuh. Ia memperhatikan Aulia yang sedang terlelap di sampingnya. Rasanya ia tak tega untuk membangunkan gadis tersebut.
" Baiklah, kau bisa tidur disini. " iapun terpaksa beranjak dan kembali ke tenda suaminya.
Gadis itu terkekeh melihat kepergian Seroja, dirinya untung banyak kali ini. Yah, gadis itu sengaja dibayar Arkana untuk membohongi sang istri bahwa tenda disitu sudah penuh. Padahal, sebenarnya ia berasal dari tenda yang lain.
Arkana menyeringai senang menyadari pergerakan seseorang memasuki tendanya. Dirinya yakin jika itu adalah istrinya.
" Kenapa kau kembali kesini? Bukankah kau ingin tidur bersama mahasiswi yang lain?" sindirnya pada sang istri.
" Disana penuh, aku tak tega melihat yang lain tak kebagian tenda. Hooamm..." wanita itu menguap sembari membaringkan tubuhnya untuk kembali tidur.
Arkana kembali menyeringai penuh kemenangan, akhirnya rencananya kali ini berhasil juga. Ia menutup pintu resleting tendanya, kemudian mendekati sang istri sambil berbisik ke telinganya.
" Disini dingin, aku perlu kehangatan." desahnya ditelinga sang istri.
Seroja menyadari gelagat sang suami, tapi rasa ngantuk membuatnya malas meladeni pria tersebut.
" Pakai saja selimutnya. Jangan berbuat macam-macam, kau tahu bayang-bayang kita pasti terlihat dari luar." tolaknya beralasan.
Arkana tersenyum mendengar jawaban sang istri dengan segera ia mematikan lampu di dalam tendanya.
" Kalau begini sepertinya tidak akan kelihatan."
Tangan Arkana mulai menyusup dibalik kaos istrinya. Seroja yang tadinya ingin tertidur seakan terusik dengan pergerakan di dalam sana. Hawa dingin di pegunungan membuat sentuhan pria itu membangkitkan gairah yang ada dalam dirinya.
" Seroja, Seroja, apa kau sudah tidur?" panggil Aulia berkali-kali. Gadis itu tiba-tiba terbangun tengah malam lantaran ingin menunaikan hajatnya.
Netra Seroja terbelalak seketika, ia takut Aulia mendengar apa yang tengah mereka lakukan saat ini. Arkana segera membungkam mulut sang istri saat dirinya sudah tak mampu menahan puncaknya.
Yah, keduanya telah mendapatkan kenikmatan bersama-sama. Kini suara Auliapun sudah tak terdengar oleh keduanya.
" Sepertinya Aulia sedang membutuhkanku." batinnya merasa bersalah.
" Sudahlah, kau bisa membantunya besok." pria itu mendekap tubuh sang istri setelah mendapatkan jatahnya yang hampir setiap hari.
...----------------...
Aulia kebingungan, rasanya ia hampir tak dapat menahan hajatnya lagi. Akan tetali dirinya bingung harus meminta tolong pada siapa.
Dirinya mendengar seseorang sedang bernyanyi sambil bermain gitar. Suara itu sepertinya tak asing baginya.
" Arzel? ka,,u belum tidur? " benar saja ternyata pemuda itu yang sedang bermain gitar disana.
" Kenapa kau juga belum tidur? Apa yang kau lakukan disini. " pemuda itu heram.
" Sebenarnya aku ingin pup, tapi aku tidak tahu harus kemana. Aku membangunkan Seroja, tapi sepertinya dia sudah tidur." ucapnya terpaksa jujur lantaran keringat dingin membasahi keningnya.
__ADS_1
" Didekat sini ada sungai, aku akan mengantarmu kesana. " ajak Arzel.
Aulia sebenarnya takut, apalagi ini tengah malam. Tapi, mau bagaimana lagi? Dirinya tak memiliki pilihan lain.
" Baiklah. Tapi kau harus berjanji tidak akan berbuat macam-macam atau mengintipku. " dirinya memperingatkan.
Arzel terkekeh seketika, untuk keadaan darurat seperti ini dirinya tak mungkin mengambil kesempatan.
" Kau bisa percaya padaku."
Keduanya berjalan memasuki hutan, sesekali gadis itu memeluk erat lengan Arzel karena takut. Bagi Arzel hal seperti inilah yang ia tunggu-tunggu.
Keduanya telah tiba di tepi sungai. Aulia menelan ludahnya lantaran takut dengan suasana yang begitu sepi disana.
" Apa kau berani sendiri disana, kau bisa bersembunyi dibalik batu besar itu. " tunjuk Arzel.
" I,, iya aku berani. " jawabnya setengah hati. Mana mungkin ia meminta pemuda itu untuk menungguinya?
Iapun berjalan menuju batu tersebut, setelah memastikan tak terlihat, ia segera menuntaskan hajatnya. Arzel menunggunya dengan harap-harap cemas, ia tak tega sebenarnya melihat Aulia ketakutan seperti itu.
Gadis itu lega, akhirnya hajatnya tuntas sudah. Namun saat hendak beranjak, pergerakan ikan mengagetkannya.
" Aaarrghh.." Arzel ikut terkejut mendengar teriakan Aulia. Dirinya melihat gadis itu berlari ketakutan ke arahnya.
Bruuughhhh..
Aulia tiba-tib saja terjatuh dan terpeleset bebatuan. Dengan sigap Arzel segera menolongnya.
" Kau tidak apa-apa?" tanyanya pada Aulia.
Gadis itu tak menjawab, ia memegangi kakinya yang terluka akibat terbentur batu.
" Ini harus segera diobati. Ayo aku akan membantumu berdiri. "
Ia membantu memapah Aulia dalam berjalan, namun saat beberapa langkah gadis itu kembali merintih kesakitan.
" Cepat naik punggungku. Aku akan menggendongmu. " pria itu menurunkan posisi punggungnya.
" Apa kau tidak apa-apa. " tanya Aulia ragu.
" Tidak,, kau tenang saja. " pemuda itu meyakinkan.
Gadis itu mulai mengalungkan kedua tangannya di leher Arzel. Pemuda itu segera menyokong dan menggendongnya dari belakang. Sebuah senyum terukir di wajah tampannya.
" Aku tidak ingin kau terluka, tapi hal seperti ini membuatku berharap agar waktu tak cepat berlalu. Aulia aku sungguh mencintaimu." ungkapnya dalam hati.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya keduaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya...