
" Sayang, kau jangan seperti ini. Kalau kau terus-terusan begini bagaimana aku bisa berangkat dengan tenang? "
Arkana tak kuasa melihat istrinya nampak murung dan tak mau melepaskan dekapannya. Mau bagaimana lagi? Dirinya harus tetap berangkat demi kepentingan perusahaan. Padahal ia sendiri begitu penasaran ingin memastikan istrinya benar-benar hamil atau tidak.
Sejak mendengar penuturan tetangga Pak Anwar semalam, rasanya ia sungguh tak sabar ingin membeli testpack dan membuktikannya sendiri. Namun, lagi-lagi Seroja mencegahnya lantaran sudah memasuki dini hari dan suaminya belum beristirahat. Ia berjanji akan membelinya sendiri dan memberitahu suaminya jika dirinya memang benar hamil.
Pria itu mencoba melonggarkan pelukan istrinya dan menenangkannya. Pak Anwar, Bu Eneng dan Intanpun ikut bersedih melihat Seroja yang terlihat begitu berat untuk melepas kepergian sang suami.
" Aku pasti akan segera kembali dan aku menunggu kabar istimewa darimu. " pria itu tersenyum dan mengecup puncak kepala sang istri sebelum naik ke pesawatnya.
" Bapak, Ibu dan kau Intan. Aku titip Seroja pada kalian. Tolong marahi dia jika masih susah untuk makan. Dan tolong kalian turuti saja jika dia menginginkan sesuatu karena dia sangat cengeng." kelakarnya.
Arkana dan Seroja sepakat untuk merahasiakan kemungkinan istrinya hamil sebelum terbukti kebenarannya. Perlahan pria itu mulai menaiki jet pribadi milik keluarganya.
Airmata Seroja tak mampu terbendung lagi. Rasanya sungguh berat melepas kepergian sang suami untuk pertama kalinya. Bu Eneng dan Intan menghampiri dan memeluknya untuk menenangkan.
" Sudah, kau jangan bersedih lagi. Suamimu pasti akan segera kembali.
Keempatnyapun akhirnya meninggalkan bandara setelah pesawat Arkana lepas landas meninggalkan bandara.
...-------------...
Setibanya di rumah, Seroja masih tampak bersedih lantaran berpisah dengan suaminya. Ia memutuskan beristirahat di kamar untuk menenangkan diri. Wanita itu duduk diatas ranjang sambil melamun. Entah mengapa perasaannya sungguh tidak enak kali ini.
Bu Eneng yang sedari tadi mencemaskan putrinya memutuskan untuk menemui wanita itu di kamarnya. Dari siang Seroja belum mau makan, ia takut putrinya tambah sakit akibat terlalu berlarut dalam kesedihan.
Wanita itu masuk ke kamar putrinya dan duduk ditepi ranjang Seroja. Ia memperhatikan putrinya yang masih duduk terpaku di atas sana.
" Sudah, jangan bersedih terus-terusan. Suamimu pergi hanya sebentar, dia pasti akan segera kembali setelah urusannya beres. Lebih baik kau makan sekarang, ibu pasti akan disalahkan Tuan Muda jika tidak menjagamu dengan baik." beliau menasehati putrinya.
__ADS_1
" Tapi aku sedang tidak ***** makan, Bu. Akhir-akhir ini kepalaku sedikit pusing dan perutku susah menerima makanan." ungkapnya pada sang ibu.
Netranya tertuju pada kantong kresek hitam yang berada di atas nakas. Yah, mangga mudanya semalam masih ada. Si Ibu pemilik mangga akhirnya memberikan satu kantong mangga muda untuknya karena mengira dirinya sedang hamil.
" Bu, aku mau rujak mangga muda saja sepertinya enak. " moodnya kembali membaik saat membayangkan makanan tersebut.
Bu Eneng mengernyitkan dahi karena heran,
" Mangga muda? Disini tidak ada mangga muda, sekarang belum musim mangga." Bu Eneng mulai curiga.
" Di kantong itu masih ada mangga muda. Semalam aku dan Arkana memintanya dari tetangga yang rumahnya tak jauh dari sini. Bisakah ibu membuatkan rujak untukku? " pintanya bersemangat.
Bu Eneng menatap dengan penuh penasaran pada putrinya.
" Seroja? Apa kau sedang hamil? " Bu Eneng yakin tebakannya kali ini tidak salah.
Seroja nampak kebingungan, dirinya tak tahu harus menjawab apa sebab iapun belum tahu kepastiannya.
" Kau ini, begitu saja tidak tahu. Harusnya setelah menikah kau mempelajari seluk beluk kewanitaan. Kapan terakhir kali dirimu menstruasi dan bagaimana ciri-ciri wanita hamil biasanya. Coba kau tanya Intan, adikmu sepertinya lebih pintar darimu."
Bu Eneng teringat putri keduanya yang hobby menonton sinetron. Jika pemeran utamanya muntah atau mual pasti itu lantaran dia sedang hamil. Berbeda dengan kakaknya yang hobinya nonton motor GP dan tinju.
Seroja menggaruk-garuk kepalanya mendengar omelan sang ibu.Tapi ada benarnya juga, sebab dua bulan kebelakang dirinya memang belum datang bulan sama sekali.
" Iya, Bu. Besok aku akan coba beli alat tes kehamilan sembari pulang ke mansion. Tapi?! Sekarang tolong bikinkan rujak mangga muda untukku ya Bu. Biar calon cucu ibu nanti nggak ileran. " rajuknya manja. Dia mendengar kata-kata itu dari ibu tetangga sebelah semalam, mana tahu dirinya tentang hal-hal seperti itu.
Bu Eneng tersenyum senang, akhirnya Seroja ceria kembali.
" Baiklah, demi calon cucu ibu. Akan ibu buatkan rujak spesial untukmu. Semoga kau dan keluarga kecilmu selalu bahagia, Nak. "
__ADS_1
Wanita itu memeluk putrinya. Dirinya begitu bersyukur, kebahagiaan Seroja pasti akan bertambah dengan hadirnya seorang putra diantara keduanya.
...----------------...
Sore hari, pesawat Arkana telah tiba di bandara internasional jepang. Ia dan beberapa staf perusahaan lainnya telah dijemput oleh pengawal Tuan Yamada dan dibawa menuju penginapan yang telah disediakan untuk mereka.
Pria itu segera membagikan kabarnya pada Seroja agar istrinya lebih tenang. Ia mengirimkan fotonya saat tiba dipenginapan milik Tuan Yamada.
" Sekarang aku sudah tiba dipenginapan. Tuan Yamada dan anak buahnya menyambut kami dengan baik. Apa hari ini kau sudah makan? Pokoknya aku tidak ingin mendengar kau sakit lagi." ucapnya dari balik telepon.
" Aku baru saja keluar dari kamar, Tuan muda. Sekarang kondisiku sudah lebih baik dan aku sudah selesai makan." lapornya pada sang suami.
Arkana mengembangkan senyumnya saat memandang wajah sang istri yang terlihat ceria. Baru berpisah sebentar saja dia sudah sangat rindu dengan istrinya.
" Kau semakin cantik, sayang. Aku sangat merindukanmu. Bagaimana apa kau sudah melakukakan tes kehamilan?" rasanya ia tak sabar mendengar kabar baik dari istrinya.
Wanita itu mencebikkan bibirnya lantaran kesal, " Kalau kau rindu, seharusnya kau mengajakku. Aku besok baru akan membelinya sekalian pulang ke mansion."
Lelaki itu kembali tersenyum, ingin sekali dirinya mengatakan jika setelah kepulangannya, ia akan mengajak Seroja bulan madu kesana. Tapi, ia menutup mulutnya rapat-rapat sebagai kejutan untuk istrinya nanti.
" Kapan- kapan aku pasti mengajakmu. Ingat, segera kabari aku jika kau telah melakukan tes. Aku tak sabar menunggu kabar baik darimu. Sudah dulu, aku harus segera menemui Tuan Yamada. "
Keduanya segera mengakhiri panggilannya. Seroja menatap foto yang baru saja dikirim Arkana kepadanya.
" Akupun sangat merindukanmu. " ia mengecup foto tersebut untuk mengobati kerinduannya.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya keduaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya..